Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 131. Malam Pertama (Tamat)



"Demikian ritual pernikahan yang bisa kita saksikan bersama, semoga Pangeran Jaga Saksena dan Tuan Putri Andara Anesha Sari langgeng bahagia selamanya! Acara selanjutnya adalah penobatan yang akan dipimpin oleh Patih Sepuh Labda Lawana!" seru Tumenggung Wiryateja.


Dua mempelai bangkit ke atas singgasana, duduk bersebelahan dengan wajah bersinar ceria.


Patih Sepuh Labda Lawana bangkit, maju untuk berdiri di bibir panggung.


"Saudara semuanya, hari ini adalah hari yang akan tercatat sebagai sejarah baru. Di mana kita akan menobatkan Putri Anesha Sari sebagai ratu yang akan memegang puncak kekuasaan tertinggi di negeri ini. Itu karena ...."


Patih Sepuh Labda Lawana mulai membuka prosesi penobatan dengan bicara kepada rakyat. Ia menerangkan mengapa sang putri yang menjadi ratu, bukan Pangeran Trengginas.


Sebenarnya, rakyat sudah mendengar hanya saja perlu pernyataan resmi dari pihak kerajaan.


Usai berbicara di depan semua rakyat, Patih Sepuh Labda memberi isyarat agar pembawa mahkota mendekat.


Dengan dua tangan Patih Sepuh Labda Lawana mengambil mahkota.


"Dengan ini kami nobatkan Putri Andara Anesha Sari menjadi Ratu Andara Anesha Sari. Pemegang kekuasaan tertinggi Kerajaan Saindara Gumilang!"


Perlahan Patih Sepuh Labda Lawana meletakkan mahkota di kepala Anesha Sari.


"Berikan penghormatan!"


Semua orang menjatuhkan diri berlutut lalu serentak manggaungkan ucapan penghormatan.


"Bangkitlah! Kuterima hormat kalian semua!" seru Anesha Sari sembari mengangkat dua tangannya ke depan.


"Tiga cobaan menerpa kerajaan ini berturut-turut." Anesha berkata dengan kekuatan yang mampu didengar hingga ke seluruh penjuru alun-alun bahkan ke atap-atap bangunan di mana para pendekar berada, "Yang pertama serangan suku dari balik Gunung Bumati, kemudian terbunuhnya raja dan permaisuri, dilanjut pembunuhan dua kakangdaku. Dan semua itu bisa diatasi dengan bantuan suamiku Jaga Saksena. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, jika tidak ada suamiku Jaga Saksena, apakah aku dan kakangku serta semua punggawa kerajaan masih hidup saat ini."


Anesha Sari menarik napas dalam seolah apa yang ia ucapkan begitu berat. Sementara semua yang hadir mendengarkan ucapan sang ratu dengan seksama dan menunggu kelanjutannya.


"Dan, benar apa yang kalian dengar. Pembunuh mendiang Ramanda Raja Basukamba, Pangeran Tama Wijaya, Pangeran Taha Tusta dan juga dalang di balik pembunuhan Permaisuri Maheswari adalah Kama Kumara! Dia terlalu sakti dan keji! Aku pun hampir saja terbunuh olehnya. Dan seperti yang kalian dengar, suamikulah yang berhasil membunuhnya."


"Hidup Pangeran Jaga Saksena!" Pendekar Merah berteriak keras hingga disambut gemuruh dari seluruh orang,


"HIDUP PANGERAN JAGA SAKSENA ...!"


Setelah semua kembali terdiam, Ratu Andara Anesha Sari kembali berkata dengan perbawa,


"Oleh karena itu, aku selaku Ratu penguasa tertinggi Kerajaan Saindara Gumilang akan mengeluarkan titah!"


Anesha Sari kembali memberi jeda pada ucapannya, sehingga membuat semua orang menanti kelanjutannya dengan rasa penasaran.


"Dengarkan titahku! Sejak saat ini kunobatkan Jaga Saksena sebagai Raja Kerajaan Saindara Gumilang dan aku menjadi permaisuri!"


Titah yang membuat semua orang terkejut, banyak yang membuka mulut melongo tak mengerti akan tindakan sang ratu. Bahkan Jaga Saksena tampak bergerak ke samping sedikit menjauh dari Anesha Sari lalu menatap wajahnya dengan penuh tanda tanya.


Ketika semua orang masih terdiam berusaha memahami titah, Anesha Sari berdiri melepas mahkotanya. Tak pedulikan sang suami yang menatapnya dengan mata penuh tanya. Anesha Sari mengangkat mahkota itu ke atas kepala Jaga Saksena.


"Suamiku!" Lirih Anesha Sari memberi isyarat mata agar Jaga membuka kupluknya.


"Tapi—"


Jaga Saksena hendak berkata, akan tetapi Anesha Sari langsung memotong,


"Ini titah sekaligus amanah! Bukankah kau pernah berkata harus menerima amanah tanpa mengecewakan pemberi amanah?!"


Jaga Saksena tak mampu mengelak lagi, karena memang dirinya pernah mengatakan hal tersebut. Maka Jaga Saksena pun melepas kupluk hitam dari kepalanya.


Tanpa membuang waktu, Anesha Sari memasang mahkota pada kepala suaminya.


"Sedikit kekecilan, pertanda kerajaan ini terlalu kecil untukmu, Suamiku. Aku percaya di bawah kepemimpinanmu kerajaan ini akan besar dan makmur!" ucap Anesha Sari cukup keras sehingga terdengar oleh para punggawa.


Menarik napas dalam, Jaga Saksena menjawab,


"Bismillah, kuterima amanah ini. Hanya kepada Gusti Alloh Ta'ala semata kita meminta pertolongan."


Patih Sepuh Labda Lawana tersenyum, demikian juga Begawan Teja Surendra dan Pangeran Trengginas.


Ketika Anesha Sari telah kembali duduk, Jaga Saksena berdiri dan langsung maju ke bibir panggung. Saat itulah pemilik kedai yang kemarin membeli rusa dari Jaga Saksena memicing mata. Dari tempatnya berdiri yakni tengah alun-alun, ia melihat dengan seksama,


"Bukankah itu pemuda yang kemarin menjual rusa kepadaku?!" ucap pemilik kedai tak percaya tetapi matanya cukup jelas melihat bahwa Raja Jaga Saksena adalah orang yang sama dengan pemuda penjual rusa.


"Kau jangan mengada-ada, Kang!" balas seorang lelaki di samping pemilik kedai.


"Mataku masih tajam! Aku percaya dengan penglihatanku!"


"Mungkin matamu benar, tetapi tidak dengan otakmu, Kang!"


"Sialan kau!"


"Kenyataannya—"


Pembicaraan keduanya terhenti sebab sang raja baru mulai bersabda,


"Selaku raja, mulai hari ini aku nyatakan semua swarna tidak lagi ada. Tidak ada dalit! Tidak ada sudra! Aku," Jaga Saksena menunjuk dadanya, "Dan kalian semua," Jaga menunjuk semua orang, "Adalah sama!"


Mengangkat kepalan tangan kanannya ke udara Jaga Saksena berteriak lantang,


"Kita semua adalah kesatria yang akan memperjuangkan keadilan! Kita semua adalah kesatria yang akan menghapus kelaliman!"


"Hidup Raja Jaga Saksena!" Kembali Pendekar Merah berteriak.


"Hidup Raja Jaga Saksena ...!" suara sambutan segenap rakyat membahana mengisi udara.


Lelaki separuh baya pemilik kedai berseru sambil berkaca-kaca, "D-dia benar-benar menjalankan apa yang ia katakan padaku ... Hidup Raja Jaga Saksenaaaa ...!"


"Terimakasih atas dukungan kalian semua! Pererat persaudaraan maka kita akan kuat. Dan, mungkin kalian semua bertanya-tanya mengapa ritual perkawinan kami berbeda dari yang pernah kalian lihat sebelumnya. Itu karena kami menganut agama Islam. Agama yang menebarkan kasih dan sayang, agama yang mempererat persaudaraan. Jika kalian ingin menjadi saudaraku, menjadi saudara raja, menjadi saudara permaisuri, menjadi saudara patih sepuh, menjadi saudara Pangeran Trengginas, menjadi saudara Begawan Teja Surendra, maka masuklah agama islam. Karena sesama pemeluk islam adalah saudara!"


Pidato Jaga Saksena membuat gempar terutama rakyat jelata,


"Apakah raja bersungguh-sungguh?!"


"Apakah telingaku tidak salah dengar?!"


"Apakah hembusan angin tidak sedang menipu pendengaranku?!"


Jaga Saksena yang memiliki pendengaran tajam berdiam diri, ia ingin mendengarkan ucapan rakyatnya secara langsung.


Setelah dirasa cukup, Jaga Saksena mengangkat dua tangannya lalu menekan ke bawah memberi isyarat untuk mengendapkan suara.


Lereb, semua tiba-tiba tenang, maka Jaga Saksena kembali berkata dengan mengalirkan tenaga dalam tinggi agar terdengar dengan jelas oleh semua pasang telinga.


"Apa yang aku katakan benar! Kalian tidak salah dengar. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadap sesama muslim dan tidak boleh pula menjerumuskannya. Maka dari itu, kalian semua jadilah muslim dengan cara masuk islam seperti aku, seperti permaisuri, seperti patih sepuh, seperti Begawan Teja Surendra!"


"Bagaimana tata cara kami masuk islam, Yang Mulia raja?!" teriak beberapa orang bersamaan.


"Siapa yang ingin masuk islam angkat tangan kanan kalian!?" tanya Jaga Saksena.


Tak diduga, hampir semua yang hadir bahkan semua orang yang di atas panggung ikut angkat tangan. Pendekar Merah yang melihat fenomena menakjubkan ini pun tergerak untuk turut serta angkat tangannya.


"Ikuti ucapanku maka kalian menjadi muslim! Asyhadu!"


"Asyhadu!"


Serentak, semua yang mengangkat tangan menirukan ucapan Jaga Saksena.


Bukan hanya menuntun bersyahadat, Jaga Saksena juga memutuskan akan menjalankan hukum islam secara bertahap. Dimulai dari pembagian sedekah wajib (zakat) kepada para warga melarat, dan membuka pendopo utama untuk pengaduan sengketa maupun kejahatan. Siapa pun boleh mengadu tanpa lagi ada batasan. Perekrutan prajurit baru yang sempat terhenti juga akan dilanjutkan.


Sontak saja, Jaga Saksena langsung dieluk-elukan. Terlebih ketika Jaga Saksena menyatakan akan menghukum berat hingga hukum mati bagi yang berani menilep (mengkorupsi_pen) harta kerajaan yang sedianya akan digunakan untuk kemaslahatan.


Belum berhenti, Jaga Saksena juga mengundangkan,


"Bebaskan semua budak! Siapa pun yang mempekerjakan seseorang maka harus membayar upahnya! Semua minuman memabukkan juga harus dimusnahkan! Demikian pula omah jalir dan penghuninya akan kita ubah, tak boleh lagi ada orang menjual diri!"


Sebagian besar menerima semua perundangan sang raja baru dengan haru biru, terutama para rakyat jelata.


***⁰0⁰***


Sebelumnya, Jaga Saksena tidak langsung kembali ke Kerajaan Saindara Gumilang disebabkan oleh luka parah yang dideritanya akibat ledakan dasyat tubuh Kama Kumara.


Luka dalam tidak seberapa karena ia sempat membuat tabir pelindung diri. Tetapi panasnya ledakan bisa menembus tabir pelindung tersebut, sehingga semua celana dan rambut Jaga Saksena terbakar, demikian juga kulitnya. Dalam keadaan tak memakai sehelai benang pun Jaga Saksena melesat ke timur. Menyambar daun lebar untuk menutupi aurat utama lalu mencari gua kecil untuk bermunajat.


Sebelum bermunajat, Jaga Saksena membuat baju seadanya menggunakan kapak.


Bermunajat siang malam juga membubuhi seluruh tubuh dengan dedaunan yang ia kunyah, Jaga Saksena akhirnya mendapat karunia. Jaga Saksena pulih atas Kuasa Gusti Alloh Ta'ala bahkan kulitnya menjadi lebih halus dan lebih cerah dari semula.


Setelah sujud syukur dan sholat seribu roka'at sebagai ungkapan terimakasih pada Gusti Alloh Ta'ala, Jaga Saksena baru keluar dari gua untuk kembali ke kerajaan Saindara Gumilang.


Di perjalanan Jaga Saksena menangkap satu rusa besar lalu ia sembelih.


****⁰0⁰****


Malam hari, setelah upacara pernikahan sekaligus penobatan raja, Jaga Saksena dan Anesha Sari memasuki kamar yang telah dihias begitu indah.


Bunga betebaran di lantai.


Ranjang yang luas dan semua berwarna putih begitu mewangi dengan aroma menggunggah rasa.


Breg!


Anesha Sari merebahkan punggungnya ke kasur yang begitu empuk nan lembut.


"Suamiku, kenapa kau hanya berdiri di situ? Bukankah kita sekarang bebas melakukan apa saja?" tanya Anesha Sari ketika melihat Jaga Saksena malah mematung di tengah ruangan antara ranjang dan pintu yang sudah terkunci rapat.


"Sebenarnya hatiku masih sibuk bersyukur, aku tak menyangka akan secepat ini mendirikan ...." Jaga Saksena hendak berkata mendirikan kerajaan Islam tetapi yang terjadi malah anunya yang berdiri oleh sebuah sentuhan halus.


"Oh maaf, aku merasa ada sesuatu yang mengelus perabotanku ...." Jaga Saksena menangkupkan dua tangannya di depan ***********.


"Mendekatlah, Suamiku ...."


Tubuh Jaga Saksena perlahan terangkat lalu menuju ke atas tubuh Anesha Sari yang tengah tersenyum manja.


"A-apa ini? Sungguh ini bukan aku yang melakukannya ... Tu-tubuhku melayang sendiri ...!"


Jaga Saksena makin gelagapan ketika badannya turun perlahan dan makin dekat dengan tubuh Anesha Sari.


Dag!Dug! Dag!Dug! Berdebar jantung Jaga Saksena. Apalagi jarak keduanya kini makin dekat. Bahkan Jaga Saksena mampu menghirup napas segar istrinya ...


"Bukankah kau masih berhutang cerita padaku, Suamiku?" Bertanya, Anesha Sari menggeser sedikit kepalanya sehingga dua hidung mereka berdua tidak lagi menjadi penghalang, dua pasang bibir mereka pun saling bertemu ....


Karya lain penulis di sebelah (sikuning) berbayar jadi skip aja skip, jaman susah malah suruh bayar:



Pendekar Slengean


Nawa Segara Legenda Penakluk 9 Daratan


Wusena Sang Penakluk



NAH Karya baru dan bisa anda baca GGRRAATIS bahkan anda membaca dibayar lho! Hanya di f*zz* dengan judul: Para Legenda


Kalau bingung caranya bagaimana bisa membaca malah dibayar? Bisa hubungi ig saya di bawah ya ....


S E L E S A I