
Kama Kumara berdiam diri di dalam kamar. Meringkuk di atas tempat tidur sembari menutupi dua telinga dengan bantal.
Tetapi tetap saja suara tanpa rupa itu terdengar di kepalanya.
Pada akhirnya Kama Kumara mencoba berdamai dengan suara tersebut dengan bertanya,
"Siapa kau sebenarnya?"
"Akulah penguasa mayapada ini. Kau orang yang terpilih sebagai utusanku!"
"Buktikan! Jangan hanya membual!"
"Kau minta bukti apa, Kama Kumara?"
"Bunuh si dalit Jaga Saksena!"
"Ha ha ha ha! Bukankah yang akan membunuh dia adalah dirimu? Aku akan membantumu menjadi manusia paling sakti di daratan ini sehingga semudah membalik telapak tangan untuk kau membunuh dia!"
Kama Kumara terdiam sesaat memikirkan sesuatu yang lain. Beberapa saat kemudian,
"Jika begitu, turunkan hujan sekarang juga sebagai bukti!"
"Ha ha ha ha! Keciiiil! Itu sesuatu yang mudah bagiku, lihatlah keluar!"
Kama Kumara segera menyingkirkan bantal dan mencelat bangkit dari ranjang. Bergegas menuju halaman samping.
Benar saja, tetiba udara di luar meredup, awan yang semula putih menghitam sebelum benar-benar hitam pekat.
"Aku akan tunjukkan kekuatanku! Bukan hanya hujan tetapi kuberi tambahan badai petir!"
Suara tanpa rupa itu kembali terdengar di kepala Kama Kumara membuat putra mahkota itu makin penasaran apakah yang ia dengar akan menjadi kenyataan.
Tiba-tiba,
Glarrtt!
Cahaya terang merobek awang-awang menjalar seakan ingin menghajar bangunan-bangunan tinggi di kerajaan Saindara Gumilang.
Bersamaan dengan gelegar halilintar pertama di angkasa, rintik hujan turun dari awan kelam. Hanya butuh beberapa kejap mata bagi rintik hujan berubah menjadi hantaman tetesan air bagai kerikil menghujani bumi, pun masih diiringi tiupan angin yang menggebubu.
Pohon-pohon meliuk-liuk seakan akan tumbang akibat tiupan angin yang begitu kencang. Daun-daun kering rontok beterbangan bergelut dengan air hujan yang tercurahkan.
"I-ini ...." Kama Kumara tak bisa berkata-kata lagi. Hati yang terpana mulai merasakan keyakinan yang membuncah hingga pecah mencuat sebagai senyuman di bibir.
Di sisi lain, di luar sana ketika halilintar menyambar diiringi hujan dan angin.
"Saratauuuun!"
Orang-orang yang semula berkumpul di tempat terbuka berlarian menyelamatkan diri dari petir yang seolah mengamuk.
"Gila, hitungan pranata mangsa tidak lagi berlaku. Seharusnya ini masih masa ke-empat bagaimana bisa turun hujan badai sarataun!!" desis seorang yang tampak terpelajar di sebuah kedai.
Gledeg!Gledeg!Gledeg!
Suara bagai roda pedati raksasa terdengar di angkasa sebelum berubah menjadi sambaran.
Bldaarr!
"Gemblung! Bledege ngamuk!! (Gila! Halilintarnya mengamuk!)" Orang-orang yang berteduh memaki sekaligus takut.
"Hujan yang sangat deras. Semoga ini tidak berlangsung lama."
"Hujan yang aneh! Datang bukan pada musimnya!"
"Pertanda buruk apa ini?!"
"Duh Gusti Kang Murbengwasesa Jagat ... Lindungi kami, lindungi kerajaan Saindara Gumilang ...."
Orang-orang mulai khawatir, sebab memang seharusnya dalam ilmu perhitungan musim yang diketahui masyakarat, ini belum masuk musim hujan.
Di istana karakyanan, Raja Basukamba yang tengah mengorek keterangan pada seorang budak lelaki yang telah membunuh salah satu rakyan menghentikan pertanyaannya. Raja itu keluar rumah lalu melihat ke angkasa.
"Sarataun Bledeg?! (Hujan badai petir)?!" gumamnya.
"Ada apa Yang Mulia Raja?" Tumenggung Wiryateja yang mengiring Raja bertanya.
"Ada yang tidak biasa, anggai hatiku buruk," jawab Raja Basukamba sebab merasakan kegelapan yang pekat menyesakkan rasa.
"Apakah karena Yang Mulia Raja tidak bisa menghadiri jamuan makan?"
"Bukan, jamuan makan bisa diadakan kembali kapan saja. Sudahlah, sebaiknya kita selesaikan masalah para budak keparat itu?"
Sang Raja masuk kembali ke dalam rumah lalu bertitah, "Penggal dia!"
Sebelumnya, Raja Basukamba yang mendapat laporan para rakyan terbunuh segera bergerak cepat. Orang-orang yang dicurigainya segera ditangkap.
Yang melawan, langsung dibunuh dengan dihujani anak panah di bawah komando Tumenggung Wiryateja.
Mereka yang menyerah langsung interogasi dengan siksaan kejam. Maka bagi yang mengakui telah membunuh atas perintah Sundara Watu langsung dieksekusi di tempat, penggal kepala.
Bukan hanya yang mengaku, yang tidak mengaku pun sama, "Penggal!"
Sabda raja adalah hukum itu sendiri, apalagi sang raja selalu yakin keputusannya pasti selalu benar. Klop sudah.
Hingga, ketika petir merobek angkasa disertai hujan lebat dan angin, Raja Basukamba telah membunuh taknkurang dari tujuh puluh orang, terdiri dari para budak atau yang dianggap budak dan orang-orang asing yang ditemui di sekitar istana karakyanan.
Langkah cepat ini dilakukan karena Raja Basukamba menargetkan menyapu bersih pemberontak sampai ke akar-akarnya hanya dalam satu hari. Sesuatu yang masuk akal dicapai karena para pemimpin pemberontak telah terbunuh semuanya.
"Apakah akan kita lanjut, Yang Mulia Raja?" tanya Tumenggung Wiryateja sebab hujan di luar begitu lebat.
"Lanjut! Kau siapkan sesuatu yang bisa melindungiku dari hujan!" titah Raja Basukamba tetap pada target pencapaian yang telah ditetapkan.
Tumenggung Wiryateja memerintah anak buahnya untuk mencari payung. Tak berapa lama anak buah tersebut telah kembali membawa payung dari kain yang cukup lebar.
Dinaungi payung besar, Raja Basukamba bergegeas menuju istana kesenopatian Asta Brajadaka.
Tujuannya jelas, menanyai semua anggota keluarga Senopati Asta Brajadaka. Dan bagi yang tidak beruntung maka sudah bisa diketahui akhir kisah hidupnya, terpenggal kepala!
"Kumpulkan semua anggota keluargamu!" titah Raja Basukamba pada istri utama Senopati Asta Brajadaka.
Mata sembab Sriwerdani _istri mendiang Senopati Asta Brajadaka_ dan mendung di wajahnya tak membuat Raja Basukamba menaruh rasa kasihan. Keluarga pemberontak adalah pemberontak. Itu yang ada dalam pikiran sang raja.
Telah berkumpul Raja Basukamba mulai bertanya pada putra sulung sang senopati, Narengga. Tetapi sebelum bertanya, sang raja memerintahkan prajurit lingkar istana yang mengikutinya untuk menggeledah semua ruangan dan mengumpulkan seluruh harta yang ada karena akan disita oleh sang raja.
"Kau sebagai putra sulung Asta Brajadaka. Apakah kau tahu ramandamu akan memberontak?!"
Suara tanya Basukamba tak kalah keras dengan badai petir di luar sana. Raja itu bertanya dengan mata mendelik mengamati raut wajah Narengga.
"Sungguh, hamba tidak pernah tahu, Yang Mulia. Hamba tahu setelah ramanda terbunuh."
"Sejak kapan kau mengenal Sundara Watu?!"
Derrr!
Di bawah badai petir yang terus menggelegar di angkasa pertanyaan Raja Basukamba masih mampu mengagetkan Narengga.
Pertanyaan yang bisa berakibat fatal jika salah jawab. Karena Narengga dan semua orang telah tahu, momok di balik pemberontakan adalah Sundara Watu.
"S-sudah lama, Yang Mulia. Hanya saja kami tidak pernah saling bicara."
"Kau tahu bajingan itu akan memberontak?!"
"Tidak sama sekali, Yang Mulia!"
"Hmmm ....!" Raja Basukamba menelisik wajah Narengga yang tertunduk. Saat itulah seorang perwira di bawah Tumenggung Wiryateja melapor,
"Yang Mulia Raja, ijin melapor. Kami menemukan banyak para wanita budak di bangunan belakang!"
"Ulangi! Yang keras kalau melapor!!" bentak Raja Basukamba menyaingi gelegar petir di angkasa.
Menarik napas dalam, sang perwira kembali melapor dengan suara lantang.
"Oh ... para wanita ya? Siapa mereka Narengga?!!" Raja Basukamba berteriak di telinga Narengga. Sungguh memekakkan telinga. Meski begitu Narengga tetap menunduk.
"Me-mereka para budak Sundara Watu."
"Bagaimana bisa di sini?!!!"
Narengga menerangkan bahwa para budak wanita dipindahkan dari Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung yang telah diserang oleh pendekar misterius beberapa hari yang lalu. Karena semua anak buah Sundara Watu terbunuh dalam penyerangan itu maka para budak dipindahkan.
Usai mendengar keterangan dari Narengga, Raja Basukamba memanggil,
"Tumenggung!"
"Hamba, Yang Mulia!"
"Siapa pelaku penyerangan Balai Kelompok Pemburu Budak?!"
"Kasus tersebut ditangani Senopati Sundul Mega. Tetapi belum berhasil diungkap, Yang Mulia."
Raja Basukamba mengangguk pelan, berkata dalam hati,
'Seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan tidak mau diketahui. Membunuh semua pengikut Sundara Watu. Penyerang musuhku adalah kawanku!'