
Di atas panggung, Patih Sepuh Labda Lawana mengumumkan kemenangan Surakala.
Sesuai aturan main, Surakala akan beristirahat. Tidak bisa ditantang hingga dua kali pertarungan pendekar lain di atas panggung. Maka lelaki gundul gendut itu turun menuju tempat khusus yang telah disediakan, terpisah dari peserta lain.
"Selanjutnya, siapa yang akan menunjukkan kemampuannya!" Sang patih sepuh kembali mempersilah salah satu peserta untuk naik ke panggung.
Tak dinyana, serempak, dua orang peserta melompat ke udara, bersalto beberapa kali sebelum mendarat mulus di atas panggung arena.
"Dua orang naik bersamaan maka secara langsung kalian menjadi lawan! Kenalkan diri kalian berdua!"
Selaku penengah yang tidak bisa diganggu gugat, Patih Sepuh Labda Lawana menentukan dua pendekar tersebut sebagai lawan.
"Namaku?" Dua lelaki berpenampilan sangar berseru bersamaan.
Yang satu bercodet memanjang miring membelah mata kirinya dan yang satu kerempeng, bertelanjang dada, codet bekas luka menyilang di dadanya.
"Silahkan kau duluan," ujar lelaki kerempeng bertelanjang dada, di pinggangnya terselip dua buah tongkat pendek berwarna hitam mengkilap. Rambutnya yang keriting jarang-jarang menambah angker penampialannya.
"Perkanalkan, namaku Graskot. Luka codet di mata kiriku ini adalah kenangan pembunuhan ke seratus orang yang telah kulakukan! Akulah Pendekar Codet Seratus Nyawa!"
Perkenalan yang panjang, banyak pendengar yang merasa takut tetapi banyak pula yang mencibir dalam hati,
'Baru membunuh seratus orang saja dijadikan gelar, cih!'
"Lupija namaku!" sahut lelaki kerempeng bercodet silang di dada. "Gelarku Pendekar Seribu Tinju!"
Segera bisik-bisik ribuan penonton ramai menggaung, Pendekar Seribu Tinju cukup terkenal. Tetapi sudah tiga tahun menghilang dari dunia persilatan. Namun tiba-tiba kini muncul kembali dengan penampilan sangar!
"Baiklah! Pertarungan mulai!" seru Patih Sepuh Labda Lawana.
"Tinju Menggebu-gebu ...!" teriak Lupija langsung menyerang lawan tanpa ba bi bu!
"Singa Menyeret Bangkai ...!" gembor Grascot tak mau kalah keras sembari menyambut serangan lawan.
Pertarungan pun segera berlangsung sengit, saling baku hantam bertubi-tubi, membuat penonton ramai bersorak-sorai dan segera saling bertaruh satu sama lain.
Waktu terus berjalan cepat, seiring pertarungan makin menggila. Ribuan pertukaran serangan pun berlalu dan masih belum tampak siapa yang akan memenangkan pertarungan.
"Pendekar Codet Seratus Nyawa! Cepat selesaikan hari akan segera malam!" teriak para pendukung Graskot.
Tak mau kalah, para pendukung Lupija meneriakkan hal senada,
"Pendekar Seribu Tinju cepat! Lawan sudah kewalahan! Hari sebentar lagi malam!"
Sebenarnya, pertarungan baru akan dihentikan ketika tengah malam tepat. Hanya saja, setelah matahari tenggelam, keluarga keraton akan turun dari panggung untuk beristirahat di kediaman masing-masing.
"Aku tidak akan kecewakan kalian! Seribu Tinju Menggila!" teriak Lupija.
"Kelabang Hitam Meliuk Gunung!" gembor Graskot tak mau kalah.
*
Di kediaman Ki Ranawela.
Jakala yang tengah duduk menunggu cukup kaget kala Ki Ranawela memasuki ruangan tamu dengan membawa setumpuk lembaran di tangan.
"Ce-cepat sekali, Ki?! Ini luar biasa! Ternyata kemampuan juru tulis kerajaan yang kondang kaonang onang itu benar adanya!" puji Jakala kagum. Sementara dua kawan Takil hanya diam sembari sesekali berusaha melihat apa yang tertera di atas lembaran selain gambar.
"Untuk itulah aku di sini, di dalam tembok keraton."
Ki Ranawela bermaksud mengatakan bahwa dirinya lebih tinggi kedudukannya daripada kerabat keraton yang tinggal di luar tembok keraton. Akan tetapi Jakala tidak paham, tukang pukul Raden Bakintal itu hanya mengangguk saja lalu membaca tulisan di lembaran.
"Dicari! Bocah dalit." Jakala berhenti membaca sebab merasa janggal karena sebelumnya tidak ada kata dalit. "Kenapa kau tambahkan kata dalit, Ki?"
"Jika penampilannya seperti yang diceritakan oleh dua bocah di sampingmu itu, bukankah dia seorang dalit?"
"Oh ... bener juga ...."
"Lagi, itu akan menggerakkan seluruh lapisan masyarakat untuk memburunya!" tambah Ki Ranawela yang segera dijawab anggukan setuju oleh Jakala.
Sudah diketahui luas bahwa dalit adalah varna atau kasta yang dianggap paling hina dina sehingga diperlakukan lebih rendah dari hewan. Bahkan hewan tertentu jauh lebih mulia dari dalit, sebab ada hewan yang dipuja sebagai penjelmaan dewa atau dihuni oleh roh leluhur.
Kendati ajaran ini telah menyebar luas, tidak seluruh rakyat menerima konsep pengkastaan tersebut. Terutama lapisan masyarakat yang disebut sudra dan dalit. Mereka merasa ajaran yang membawa konsep ini tidak adil, karena secara nalar sangat terang bahwa manusia punya kedudukan lebih tinggi dari hewan, manusia memiliki akal pikiran sehingga bisa tahu mana perkara salah mana yang benar sedangkan hewan tidak, dan manusia bisa berkarya melebihi hewan.
Belum lagi manusia lahir tanpa bisa meminta, tanpa bisa memesan harus lahir dari gua garba (******_pen) perempuan yang mana, sehingga sanubari mereka tidak terima jika digolongkan kepada kaum yang hina hanya berdasar kelahiran semata.
Sementara menurut para pembawa ajaran ini, manusia yang terlahir sebagai sudra atau dalit disebabkan karena di kehidupan yang sebelumnya mereka berlaku jahat sehingga terlahir kembali menjadi manusia rendah.
Penolakan yang dilakukan oleh rakyat bawah jelas saja tidak berpengaruh banyak. Apalagi raja dan keluarganya menerima ajaran ini dan menjadikannya sebagai legitimasi kekuasaan mereka, bahwa mereka sebagai kesatria berhak mendapatkan kedudukan mulia, berhak melakukan apa saja pada kasta di bawahnya.
Intinya, para kesatria ini akan menerima ajaran yang menguntungkan dan meninggalkan bahkan menolaknya jika ajaran itu dianggap merugikan.
Jakala membaca lembaran dengan cepat. Semuanya sudah pas, dia pun puas dan pamit undur diri.
"Kalian berdua pulanglah!" suruh Jakala pada dua kawan Takil. "Aku masih banyak pekerjaan," lanjutnya.
"Baik, Paman!"
Sepeninggal dua kawan Takil, Jakala segera bergegas menuju tempat-tempat yang biasanya ramai dilalui orang-orang.
Di tempat-tempat tersebut Jakala menempelkan lembaran-lembaran yang ia bawa, pada batang pohon dan sebagainya.
Jakala menggunakan ranting sebagai pasak agar lembaran menempel kuat. Dengan pengerahan tenaga dalam cukup mudah bagi Jakala untuk melakukannya.
"Dengan begini orang-orang yang pulang dari alun-alun akan mudah membacanya!" gumam Jakala memandang hasil kerjanya dalam menempelkan lembaran sebelum berlalu menuju tempat lainnya.
Waktu terus berlalu dengan cepat. Kala matahari hampir tenggelam Jakala telah banyak menempelkan lembaran.
"Waktunya melapor pada Ndoro!"
Jakala berlari cepat menuju kediaman Raden Bakintal sembari membawa satu lembaran untuk melaporkan hasil kerjanya.
Sampai di kediaman Raden Bakintal, Jakala dengan anggah-ungguhnya menghadap dan melapor secara singkat nan padat.
"Bagus, Jakala! Tapi kau juga tidak boleh berpangku tangan!" ucap Raden Bakintal menanggapi laporan Jakala.
Sementara itu, istri Raden Bakintal masih meratapi kepergian Takil, putra satu-satunya. Ia masih belum terima jika putranya harus mati dalam usia semuda ini.
"Takil putraku ... Hu hu hu ...!"