Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 114. Polah Sang Raja Baru



Anesha Sari belum menemukan cara untuk mencari tahu kekuatan Kama Kumara ketika rasa lelah dan kantuk keburu menyergapnya dalam buaian lelap.


Tak terasa pagi pun tiba. Kicauan burung dan suara para abdi dalem yang bekerja mengusik telinga Anesha Sari hingga membangunkannya.


"Aku ketiduran ternyata!"


Anesha Sari bangun untuk bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian lalu menuju kamar di mana Sadajiwa ia sekap.


Membuka daun pintu, Anesha Sari masuk dan berkata,


"Aku memutuskan untuk percaya padamu."


Stakk! Stakk!


Anesha Sari membebaskan Sadajiwa lalu menunggu reaksinya.


"Terimakasih, Tuan Putri. Hamba akan mencari tahu tentang kecurigaanku. Jika ada perkembangan, hamba akan melaporkannya pada Tuan Putri."


"Untuk saat ini tidak perlu, sebab akan mencurigakan karena kau sedang libur sementara."


"Tapi Tuan Putri, hamba ingin membantu."


"Jika saatnya tiba nanti. Untuk sekarang pergilah. Jangan dulu muncul di hadapan Kakangda Kama Kumara."


"Sendiko Tuan Putri."


Sadajiwa bergegas pergi bukan ke rumahnya tetapi ke kediaman Perwira Aswangga untuk menanyakan kenapa mereka kembali dan bagaimana dengan Jaga Saksena, Begawan Teja Surendra dan Pendekar Merah.


Aswangga yang tengah menikmati teh pagi tersenyum menyambut kedatangan Sadajiwa. Mempersilahkan duduk dan menjawab semua pertanyaan tanpa menutupinya.


"Andai ada Begawan Teja Surendra, mungkin kasus ini segera bisa terkuak," gumam Sadajiwa, ada harapan pada suaranya.


"Begawan masih akan lama kembali. Yang bisa kita harapkan adalah Pangeran Jaga Saksena."


"Lalu apa yang akan kita perbuat selama menunggu?"


"Tidak ada. Nikmati hari selagi masih sempat."


"Bagaimana kau bisa sesantai ini, Perwira?" tanya Sadajiwa sedikit heran.


Keduanya pun terlibat pembicaraan pribadi sambil menikmati hari santai yang kemungkinan akan berganti dengan kekacauan oleh perang dingin antar saudara atau malah benar-benar perang dalam arti sebenarnya. Tetapi keduanya berharap itu tidak akan terjadi karena perang hanya akan membawa kesengsaraan bagi kedua belah pihak. Akan tetapi jika itu harus terjadi, mereka tidak akan mundur barang sejengkal pun!


**


Di pagi hari yang sama, Kama Kumara memerintahkan Tumenggung Wiryateja untuk mengikutinya.


"Ajak para perwiramu, Tumenggung!"


Tumenggung Wiryateja membawahi sepuluh perwira dalam kendalinya.


Sepuluh perwira ini membawahi tiga puluh prajurit lingkar istana. Setiap ada perwira yang gugur maka akan diangkat perwira yang baru, maka jumlahnya akan selalu akan sama. Demikian juga prajurit lingkar istana, jika ada yang gugur atau mengundurkan diri maka akan diganti sehingga jumlahnya tetap; tiga ratus.


Dikarenakan Sadajiwa sedang cuti maka Tumenggung Wiryateja membawa 9 perwira. Dan sungguh Wiryateja tak menduga _sehingga wajah garangnya harus memerah_ ternyata Kama Kumara mengajak mereka ke omah kajaliran (lokalisasi, prostitusi_pen) Bulan Perak.


Sama halnya 9 perwira, mereka saling pandang sebelum tersenyum pahit. Karena baru kali ini mereka akan menginjakkan kaki di omah kajaliran.


Satuan prajurit lingkar istana diambil dari prajurit-prajurit pilihan, selain mumpuni dalam olah kanuragan juga berjiwa bersih. Karena tugas mereka adalah menjaga keluarga raja sehingga akan sering melihat para istri raja serta putri-putrinya yang cantik-cantik.


Berdiri di depan gerbang Omah Kajaliran Bulan Perak, Kama Kumara memanggil,


"Tumenggung!"


"Hamba, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!" Panggilan yang panjang bagi sang raja baru, tetapi itulah yang diperintahkan oleh Kama Kumara.


"Kita akan membawa para wanita cantik di bangunan ini. Bunuh siapa pun yang menghalangi!"


Meski kaget, Tumenggung Wiryateja hanya mampu menjawab, "Siap menjalankan perintah, Yang Mulia Raja Kama Kumara!"


Para wanita muda yang biasanya masih tidur sampai siang segera bangun dan bergegas membersihkan diri di kolam pemandian.


Kepala omah kajaliran Bulan Perak _Candrawati_ yang diberitahu kehadiran raja tergopoh menyambut di pintu masuk.


"Silahkan Yang Mulia Raja!"


"Panggil aku, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!" ketus Kama Kumara dengan wajah tidak senang.


"Silahkan Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara, duduklah terlebih dahulu untuk menikmati teh terbaik kami. Dan mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi. Sepagi ini mereka biasanya masih tidur, tetapi kedatangan Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara membuat mereka harus bangun dan segera mandi."


"Begitu ya?!" Kama Kumara menuruti untuk duduk sementara yang lain tetap berdiri termasuk Tumenggung Wiryateja.


Teh semerbak dihidangkan.


Sruput!


"Pahit, aku tidak suka. Tambahkan gula aren!"


"Mohon ditunggu Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara."


Saat Kama Kumara menikmati tehnya, Tumenggung Wiryateja harus berkali-kali menarik napas dalam. Memenuhi seluruh rongga dada agar beban malu sedikit sirna dari sana.


Peristiwa kedatangan Raja Kama Kumara ke omah kajaliran Bulan Perak segera tersebar dan sampai ke omah kajaliran Jiwa Husada.


"Apa kau melihat sendiri, Kasap?!" tanya wanita separuh baya berpakaian bagus, wajahnya masih terlihat cantik bahkan tidak ada guratan usia di wajahnya.


"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Nyai Kencana!" jawab lelaki berusia sekitar 55 tahun bernama Kasap. Sehari-hari ia menjadi pesuruh di omah kajaliran Jiwa Husada. Setiap pagi ia akan belanja di pasar dan melewati omah kajaliran Bulan Perak.


Nyai Kencana Wangi merupakan kepala pengelola omah kajaliran Jiwa Husada. Ia mempekerjakan para jalir yang sebagian merupakan budak titipan, dan sebagian lagi datang sukarela untuk menjadi jalir.


"Kemajuan untuk perjaliran!" ucap Nyai Kencana Wangi. "Tetapi ini aneh, bukankah raja dan permaisuri baru saja dikebumikan kemarin hari! Bagaimana putranya akan bersenang-senang hari ini? Di siang hari pula ...!"


"Mungkin karena peristiwa itulah, maka Raja Kama Kumara ingin menghibur diri, Nyai."


"Hiks! Hiks! Hiks!" Nyai Kencana Wangi tertawa renyah sebelum berkata, "Itu jika kau yang jadi raja, Kasap! Masukkan barang belanjaan itu dan ini untukmu!"


Nyai Kencana Wangi memberikan beberap keping perak.


"Hehehe! Nyai memang dermawan ...."


"Itu untuk tugas barumu! Kembalilah ke sana! Awasi apa yang diperbuat raja dan pasukan kecilnya lalu cepat laporkan padaku!"


**


Di omah kajaliran Bulan Perak.


"Lama sekali mereka membersihkan diri?!"


Kama Kumara gelisah, sudah satu cangkir teh ia habiskan tetapi para perempuan muda itu belum juga datang padahal ia sudah berpesan pada Candrawati untuk segera memerintahkan para perempuan menghadapnya.


"Hamba sudah sampaikan titah Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara. Sebentar lagi mereka pasti selesai, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara," tutur Candrawati berusaha menenangkan.


Alih-alih tenang, Kama Kumara malah bangkit dari tempat duduknya, "Kau tunjukkan padaku di mana mereka mandi!"


"T-tapi—"


"Apa kau ingin kuhukum mati?!"


Mau tak mau, Candrawati mempersilahkan Kama Kumara menuju kolam pemandian.


Tumenggung Wiryateja menggeleng kepala pelan, tetapi mau bagaimana lagi. Meski kakinya terasa sangat berat untuk dilangkahkan, ia dan 9 perwira tetap harus mengikuti sang raja menuju kolam pemandian.


***