Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 8. Dikabulkan Ataukah Kebetulan



Ketua Suku Smito mendekat ke belakang Jaga Saksena, menempelkan ujung tombak runcing ke anus si bocah.


"Whoi ...! Apa yang kau lakukan?!" teriak Jaga Saksena ketar ketir membayangkan benda itu memasuki perutnya lewat jalan belakang.


Sang Kepala Suku bergeming, otot tangannya terlihat mencuat menandakan dia siap menusuk kapan saja sesuai perintah Sang Baghala.


"Bagaimana, Bocah?! Apakah kau sudah merelakan anusmu jebol? Apakah kau juga sudah merelakan ususmu robek-robek hingga paru-paru di dadamu, kemudian tenggorokanmu?!"


Perkataan yang sangat mengintimidasi dikeluarkan di saat kekhawatiran melanda. Sangat sempurna untuk menjatuhkan mental Jaga Saksena.


Sosok hitam _Sang Baghala_ sudah tersenyum meski tidak kelihatan jelas sebab rupa yang kelam.


Tak ada jawaban dari si bocah, ia malah terpejam mata seakan telah pasrah.


"Kau diam, itu pertanda hatimu mulai bimbang. Hehehe! Untuk memantapkan pilihanmu, ada baiknya aku bantu."


Usai berkata, Sang Baghala memberi perintah pada sang kepala suku untuk menusukkan ujung tongkat ke anus Jaga Saksena sedalam setengah jengkal.


"Arghhh ...!"


Bocah itu berteriak kesakitan, bisa dipastikan sepekan dirinya tidak akan bisa buang air besar.


Saat yang sama, Sang Baghala tertawa terbahak-bahak. Puas rasanya menyiksa manusia yang tidak mau menyembahnya.


"Tertawalah sepuasmu, Belis Dungu!" menahan rasa sakitnya Jaga Saksena berkata dengan suara keras. "Aku Jaga Saksena tidak akan pernah menyembah belis dungu sepertimu! Langit, matahari, bintang, bumi dan semua yang di antara kedunya bukanlah kau yang mencipta. Lalu bagaimana kau memaksaku menyembahmu?!"


Ajaran dari sang Byung telah merasuk dalam keyakinan Jaga Saksena. Tidak mudah baginya untuk mengikuti apa yang menurutnya tidak benar.


"Tidak penting siapa yang menciptakan apa yang kau sebutkan tadi, yang terpenting adalah keselamatanmu ada di tanganku! Sembahlah aku atau kau akan mati mengenaskan!"


"Keselamatan dan kematian itu hak Yang Maha Kuasa semata! Jika waktunya tiba, tanpa ditusuk olehmu pun kematian akan menjemputku. Dan aku, akan senang karenanya!"


Ada seulas senyuman di bibir Jaga Saksena. Itu karena dirinya meyakini betul kata sang Byung bahwa kematian adalah gerbang menuju kebahagiaan yang kekal.


"Jika kematian ada di tangan Sang Maha Kuasa maka akulah yang maha kuasa padamu sekarang ini. Hahaha!"


"Tidak! Tidak kemarin, tidak sekarang dan tidak pula nanti!" sinis Jaga Saksena.


"Jika apa yang kau ucapkan kebenaran, maka mintalah pada Yang Maha Kuasamu itu untuk menyelamatkanmu dari siksaanku!"


Berkata begitu Sang Baghala memerintah Kepala Suku Smito untuk menambah kedalaman tusukan sekira setengah jengkal lagi.


Segera, Kepala Suku Smito melaksanakan apa yang diperintahkan.


Mendapat siksaan yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya, Jaga Saksena hendak berteriak kesakitan. Akan tetapi itu urung ia lakukan.


Agar tidak berteriak, Jaga Saksena menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah.


Saat yang sama batin Jaga Saksena memanjatkan harap,


'Dengan sakitnya penderitaan yang kutahan karena keyakinanku padaMu, dan demi kebesaranMu di hadapan setiap makhlukMu, kirimkan pertolonganMU duhai Yang Maha Kuasa ....'


Bersamaan dengan itu, tetiba langit malam bertambah pekat menambah suasana makin pekat. Mendung yang dari sore telah nampak bergelayut seakan hampir runtuh.


Sebab kepekatan ini, maka ritual makin syahdu. Seti dan para warganya menganggap bertambah kelamnya keadaan adalah kuasa Sang Baghala, Dewa Kegelapan. Semakin gelap maka semakin kuat dan berkuasa sesembahan mereka.


'Demi keagunganmu ...!'


Jaga yang terus meminta pertolongan dalam diam tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit, sehingga,


"Puffftt ...!"


Bersama Jaga Saksena yang melepas gigitan bibir sebab tidak kuat menahan rasa sakit itulah, sebuah petir besar menyambar pohon tertinggi yang ada di belakang tiang penyalib.


Suasana untuk sesaat terang benderang.


Pohon yang tersambar pecah berantakan.


Sontak semua orang kaget bukan alang kepalang bahkan beberapa di antara mereka sampai terlonjak.


Sama halnya, Sang Baghala tampak terkejut hingga terpundur.


Melihat ini, Jaga Saksena segera mengambil kesempatan untuk menggertak. Dengan suara penuh keyakinan, si bocah berkata,


"Aku diam barusan itu karena tengah meminta Yang Maha Kuasa mengirimkan pertolongan. Dan kau bisa melihat bukan?! Cepat lepaskan aku atau kuminta Yang Maha Kuasa untuk mengirimkan petir guna menyambarmu!!"


'Bocah ini cerdik sekali, dia mencoba menggertakku dengan kebetulan yang terjadi. Padahal aku tahu, tak semudah itu meminta langsung terkabul. Dasar bocah! Kadal mau mengakali buaya!'


Membatin demikian, Sang Baghala tersenyum lalu berkata keras,


"Kau mungkin bocah cerdas, akan tetapi tipuanmu hanya mempan bagi sesama bocah, tidak bagiku!"


"Kau menantang Sang Maha Kuasa?!"


"Kalau aku menantang kenapa?! Hahahaha!" Mendongak ke langit, Sang Baghala tertawa keras hingga suaranya menggema di angkasa. "Buktikan jika Yang Maha Kuasamu itu mempunyai kua—"


Jduarrrtttt!


Kembali jagat terang benderang disusul halilintar menyambar ke arah kepala Baghala. Untung saja makhluk hitam tinggi besar itu menundukkan kepalanya secara spontan sehingga petir hanya mengenai punggung.


"Uaghrrrr ...!"


Menggelegar teriakan Baghala. Bau sangit benda terbakar gosong menyebar ke segala penjuru.


Warga langsung panik hingga ngesod mundur. Saat yang sama, tetiba hujan mengguyur, sangat deras. Sehingga api pembakaran yang berkobar-kobar dengan cepat mengecil.


Orang-orang yang tadinya hanya mundur kini berlarian untuk berteduh sekaligus bersembunyi, takut jika petir kembali menyambar. Sekarang hanya ada tiga orang yang bertahan, Kepala Suku Smito, putranya dan Nenek Seti.


Dalam situasi yang sangat menegangkan itu, Jaga Saksena berseru,


"Belis Bodoh! Lepaskan aku sekarang juga atau—"


"Cepas lepaskan dia!!" seru Sang Baghala memberi perintah pada Kepala Suku Smito.


Sang Baghala jelas ketakutan sebab pikirannya melintaskan banyak hal secara cepat. Pertama, kemarin malam sihir-sihirnya tidak berlaku pada si bocah. Kedua petir menyambar pohon sebagai peringatan. Dan puncaknya ketika dirinya menantang, petir benar-benar menyambar tubuhnya.


Sang Baghala memang mampu bertahan dari sambarannya, sebab hanya terkena punggung, tetapi tidak jika terkena kepala. Itu saja sudah membuat tubuhnya mengepul, panas sekujur tubuh.


"Tapi—" Kepala Suku Smito hendak mempertanyakan. Namun cepat dipotong oleh Sang Baghala,


"Cepaaat!!"


Tak berani membantah, Kepala Suku Smito lekas mencabut tombak yang kini telah berlumuran darah. Lalu dibantu putranya, ia menurunkan tubuh Jaga Saksena.


"Seharusnya kau melakukan ini dari awal!" ketus Jaga Saksena sembari meringis menahan sakit.


"Harap ampuni diri ini, Tuan Kecil." Sang Baghala memelas.


"Ya, jangan lagi kau mengaku-aku sebagai sesembahan dan perintahkan pada mereka untuk mengobati lukaku juga menyediakan makanan untukku. Setelah itu pergilah sebelum pikiranku berubah!"


Jaga Saksena tidak bisa berbuat banyak, sebenarnya ia sangat geram ingin membunuh si belis hitam besar, tapi apa daya karena bisa saja apa yang terjadi barusan adalah kebetulan yang tetap akan terjadi meski dirinya tidak memintanya pada Yang Maha Kuasa. Maka, Jaga Saksena tidak mau bertaruh, yang penting amankan diri sendiri dulu.