Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 86. Meja Makan Dan Kebencian



'Jika aku yang menjadi raja, Jaga Saksena cukup diberikan hadiah keping emas dan beberapa budak wanita!'


"Kama Kumara! Seharusnya kau memang telah menjadi raja!"


Kama Kumara yang diam larut dalam kecamuk pikirannya sendiri tiba-tiba mendengar bisikan.


Bisikan yang sangat jelas dengan suara besar sedikit serak. Pemuda itu pun celingukan mencari sumber suara. Tetapi tidak ada orang yang bisa ia tuduh berbisik padanya.


'Ah, mungkin aku salah dengar!' batin Kama Kumara.


"Kau tidak salah dengar! Kau juga bisa menjadi pendekar tanpa tanding!"


Bisikan kembali terdengar membuat Kama Kumara menekankan kedua tangan pada dua telinganya. 'Jangan-jangan aku sudah gila!'


"Kau tidak gila Kama Kumara! Aku bisa membantumu mewujudkan semua keinginanmu!"


Kama Kumara mendiamkan diri, berusaha tidak berpikir, tidak pula membatin. Ia pernah mendengar dari guru yang didatangkan oleh ramandanya, bahwa ada sejenis penyakit gila yang penderitanya mendapat bisikan-bisikan.


Para putra-putri raja, mereka harus mengikuti pelajaran dari resi atau cendekiawan yang didatangkan oleh sang raja untuk mengajar. Sebab itulah putra-putri raja terpelajar, bisa baca tulis dan memiliki pengetahuan luas.


"Kama Kumara, kau kenapa, Putraku?" tegur Permaisuri Mahiswari saat melihat gelagat anaknya yang sedikit aneh.


"Oh tidak Byungda, hanya sedikit pening kepala." Kama Kumara berkilah, jelas saja ia tidak ingin dicap sebagai orang tidak waras dengan berkata jujur.


Saat Permaisuri Mahiswari hendak kembali berkata sesuatu, terdengar seruan penjaga bahwa Patih Sepuh Labda Lawana, Senopati Sundul Mega, Begawan Teja Surendra dan Jaga Saksena akan memasuki ruangan. Permaisuri tidak jadi berkata, beralih bangkit untuk memberi hormat pada orang-orang yang telah berjasa menyelamatkan kerajaan.


Di pimpin Sang Patih Sepuh, orang-orang yang baru masuk memberi hormat sebelum duduk pada tempat yang telah disediakan.


Tak berapa lama, para perwira juga pendekar yang berjasa juga tiba. Mereka menempati tempat duduk yang juga telah disediakan.


Sembari menunggu Raja Basukamba mereka menikmati suguhan teh pahit. Permaisuri Mahiswari meminta satu persatu untuk bercerita tentang perjuangan mereka kemarin dalam peperangan.


Ketika dalah satu mereka selesai bererita, dengan luwes, sang permaisuri mengucapkan terimakasih atas perjuangan pencerita.


Meski hanya ucapan terimakasih dan diundang makan bersama itu sudah cukup, mereka merasa dihargai.


Tibalah giliran Sungsang.


Berapi-api dengan sesekali melihat ke arah puteri yang mencuri hatinya, Sungsang mulai mengenalkan diri sebagai Pendekar Merah. Lalu menceritakan alasan dirinya ikut berperang yakni karena mengikuti pangerannya yakni Jaga Saksena.


Sontak Jaga Saksena melotot ke arah Sungsang. Tetapi Sungsang tidak peduli, ia terus bercerita hingga berhasil membunuh pemimpin pasukan suku penyerang.


Mendengar cerita Sungsang yang terdengar seperti bualan, Kama Kumara bertanya pada para perwira apakah benar yang diceritakannya bahwa Pendekar Merah berhasil membunuh musuh bahkan pemimpinnya?


Jawaban mengagetkan didapat Kama Kumara.


"Betul, Pangeran Mahkota. Bahkan yang sebenarnya terjadi lebih dari yang Pendekar Merah ceritakan. Ratusan musuh ia bunuh, sehingga sangat menolong para prajurit kerajaan."


Kama Kumara terdiam.


Di kursi lain, di bagian para putri raja berada, saat Pendekar Merah menyebut Pangeran Jaga Saksena, Lembayung Adiningrum mengerut dahi. Selir Kama Kumara itu seperti mengingat sesuatu tapi ia belum yakin sepenuhnya. Diam-diam ia mengamati Jaga Saksena.


Sungsang Gumilang melanjutkan ceritanya,


"Teriakan seperti apa yang bisa mengobarkan semangat juangmu, Pendekar Merah?" Permaisuri Mahiswari bertanya, mewakili rasa penasaran para keluarga raja kecuali Anesha Sari.


"Dengan lantang, Senopati Ragnala Raksa berteriak: Bunuh lelaki bertubuh besar itu! Seribu keping emas bagi yang berhasil membunuhnya!"


Jawaban jujur nan apa adanya dari Pendekar Merah membuat Permaisuri Mahiswari tutupkan telapak tangan kanan ke mulut. Dari sudut matanya yang menyipit bisa ditebak sang permaisuri menahan tawanya.


Akhirnya tiba giliran Jaga Saksena diminta oleh Permaisuri Maheswari untuk bercerita. Tetapi sungguh di luar dugaan. Jaga Saksena malah berkata,


"Sebenarnya, Yang Mulia Permaisuri ... Pahlawan kita Pendekar Merah yang telah berjasa membunuh pemimpin pasukan penyerang telah lama menunggu kapan acara makan ini dimulai."


Ketika makanan sudah terhidang maka anjurannya segera disantap. Bahkan, ketika waktunya sembahyang tiba tetapi makanan sudah dihidangkan, maka dianjurkan makan terlebih dahulu.


Semua orang menolehkan muka ke arah Sungsang, dan pemuda berusia matang itu nyengir berkata, "Betul Yang Mulia Permaisuri, sudah lapar ini."


Permaisuri Mahiswari tersenyum, lalu memanggil pengawal pribadinya, bertanya apakah sudah ada kabar dari sang raja.


"Belum Yang Mulia, menumpas pemberontakan hingga ke akar-akarnya sepertinya akan butuh waktu tidak sebentar."


Mendapat jawaban itu acara makan bersama pun segera dibuka dan dipimpin oleh Permaisuri Maheswari.


Selama makan, Putri Lembayung Adiningrum yang penasaran pada Jaga Saksena ingin angkat bicara untuk sekedar memastikan, apakah Pangeran Jaga Saksena adalah bocah yang ia kenal tujuh tahun yang lalu. Akan tetapi Lembayung Adiningrum urung, sebab ia merasa khawatir suaminya akan cemburu. Karena Lembayung tahu, Kama Kumara seorang yang sangat pencemburu. Pernah Kama Kumara menyembelih seorang prajurit karena kedapatan bercakap dengan Lembayung Adiningrum.


Akhirnya Lembayung Adiningrum hanya melihat beberapa kali ke arah Jaga Saksena, berharap pemuda itu mengenalinya.


Lembayung Adiningrum tidak sadar, gerak-geriknya telah diperhatikan oleh sang suami.


Kama Kumara memandang arah mata Lembayung Adiningrum yang ternyata menuju kepada Jaga Saksena. Maka makin bencilah hati Kama Kumara pada pemuda itu.


'Tunggu saja, kupastikan kau tidak akan lagi bisa dilihat oleh istriku. Dan kupastikan kau tidak akan pernah menjalin hubungan apa pun dengan keluargaku!'


Baru selesai Kama Kumara membatin tiba-toba suara tanpa rupa kembali ia dengar,


"Kau bisa mencapai tujuanmu, Kama Kumara. Aku bisa menolongmu!"


'Diam!' bentak Kama Kumara dalam benak.


"Hahaha! Kau membutuhkanku. Hanya aku yang bisa mewujudkan keinginanmu. Harta!? Tahta?! Kekuatan?! Wanita?! Semua akan kau dapatkan dengan mudah!"


Suara berat sedikit serak kembali terdengar jelas di pendengaran Kama Kumara. Membuat putra mahkota itu makin gelisah hingga akhirnya memutuskan untuk undur diri dengan beralasan kepala pening serta tidak enak badan.


"Suamiku, kau sakit? Apakah kau ingin aku mengerok punggungmu?!" Lembayung Adiningrum yang ikut undur diri menawarkan bantuan sembari berjalan mengiringi suaminya.


"Tidak, tidak! Aku ingin sendiri." Kama Kumara menepis tangan istrinya dengan kasar.


Lembayung Adiningrum hentikan langkahnya lalu menghela napas panjang. "Hufhhh ... Ada apa dengannya?"


Lembayung terdiam sesaat, ia tahu benar sifat suaminya, jikala Kama Kumara berkata ingin sendiri maka harus dibiarkan sendiri. Jika tidak maka akan murka besar.


'Sebaiknya aku memastikan apakah dia Jaga Saksena yang kukenal. Tapi mengapa ia tidak mengenalku? Bukankah aku masih secantik tujuh tahun yang lalu?'


Lembayung Adingrum tersenyum tipis, entah mengapa ada rasa gembira menyeruak batin ketika membayangkan wajah Jaga Saksena.