Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 102. Tulul Amal



"Apa? Bisakah kau ulang pertanyaan?!" Jaga Saksena yang fokus memperhatikan jalan dan membaca dzikir dalam hati cukup kaget mendapat pertanyaan gadis cantik di sampingnya.


"Andai kau jadi seorang raja, apakah kau ingin memperluas wilayah kekuasaan?" Anesha Sari mengulangi pertanyaannya.


"Hemm ... beri aku waktu sebentar saja untuk menghayalkannya."


"Apaa?!" Giliran Anesha Sari yang sekarang kaget, "Kau tidak pernah menghayal jadi raja?"


"Tidak pernah. Jadi raja, makanan apa itu?" canda Jaga Saksena.


Empat wanita muda yang berada di dalam gerobak tertawa lirih. Sekat antara tempat kusir dan ruangan gerobak memang hanya setinggi pundak orang duduk sehingga para wanita di dalam gerobak bisa mendengar percakapan Jaga Saksena dan Anesha Sari.


"Raja itu jabatan atau kedudukan, Jaga ... Bukan makanan. Tapi sungguh aku heran, biasanya orang-orang akan menghayal tinggi dalam kesendiriannya. Tapi kau, apa yang kau hayalkan? Hayo jangan ... jangan ...?!" Wajah Anesha Sari menyiratkan tuduhan.


"Tidak ada, aku tidak punya waktu untuk menghayal. Lagi pula hayalan atau keinginan jauh seperti itu namanya tulul amal atau panjang angan. Dan itu sifat tercela."


"O ...." Bibir merah indah Anesha Sari membulat dan sedikit maju. Putri itu segera berpikir mencari pertanyaan lain yang jawabannya akan sama.


"Begini saja, apa yang harus dilakukan seorang raja jika meluaskan wilayah kekuasaan adalah cara terbaik untuk menyebarkan kebaikan?"


"Ya harus dilakukan. Perang memang memilukan, tetapi jika itu diperlukan maka harus ditempuh."


"Bagaimana kalau kita mendirikan kerajaan sendiri?!" Anesha Sari kembali bertanya yang terkesan random.


"Kau ingin jadi Ratu?! Ha ha ha ha ha!" Jaga Saksena tertawa karena tidak melihat ada sifat ambisius di wajah Anesha Sari.


"Tidak, justru aku ingin kau yang jadi raja!"


Jaga Saksena hanya tersenyum, baginya hidup cuma sementara dan hanya perlu menjalankan yang penting-penting saja. Seperti misinya membuka jalan untuk masuknya islam. Dan dirinya yakin, setelah menikahi Anesha Sari ia bisa mengirim pesan ke sang guru untuk mendatangkan para pengajar agama islam ke Kerajaan Saindara Gumilang. Jadi tidak harus menjadi raja untuk keberhasilan misinya.


Karena Jaga Saksena hanya tersenyum, Anesha Sari akhirnya mengalihkan pembicaraan ke hal-hal ringan hingga tak terasa, beberapa orang yang mencegat jalan di depan sana telah tampak di pelupuk mata.


Dan benar saja, ketika gerobak yang dikendalikan Jaga Saksena sampai, orang-orang berpenampilan garang mencekal tali kepala kuda hingga mau tak mau gerobak terhenti.


Berhentinya gerobak Jaga Saksena diikuti oleh empat gerobak yang ada di belakang. Sebenarnya Sungsang sudah geregetan ingin menghajar para pemalak jalan itu, tetapi mengingat pemimpin perjalanan adalah Jaga Saksena, maka ia nurut saja. Lagi, beberapa keping emas kecil baginya.


Seorang yang tampak sebagai pemimpin mereka membentak Jaga Saksena,


"Ini daerah kekuasaan kami! Setiap satu gerobak yang lewat, satu keping emas!"


"Bagaimana jika lima gerobak, satu keping emas?!" Jaga Saksena berusaha menawar.


Jaga Saksena mempunyai keping emas pemberian Anesha Sari yang diambil dari pakaian Nyai Kinasih. Dan ternyata isinya cukup banyak, lima puluh keping emas!


"Apa kau pikir kau berada dalam posisi bisa menawar, HAH!!"


Bentakan pemimpin pemalak jalan itu makin keras bahkan ada semprotan air dari mulutnya kala ia keluarkan suara.


Anesha Sari yang dari awal diam saja mulai menghitung para pemalak jalan, 'Hanya sepuluh orang!' batinnya sembari berpikir akan menghabisi mereka semua. Namun,


"Baiklah-baiklah, lima keping emas. Biarkan kami lewat." Jaga Saksena memutuskan untuk membayar lima keping emas.


"Hahahaha!" Pemimpin pemalak jalan tertawa puas. "Tetapi dengan satu syarat, kau tinggalkan gadis di sampingmu itu! Akan kujadikan dia sebagai istri kesayangan yang akan kugenjot sepanjang siang dan malam. Aku tahu dia masih perawan! Ha ha ha ha!!"


Pemimpin pemalak jalan masih tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mendongak. Bayangan indah bahwa dirinya akan segera meniduri gadis perawan luar biasa cantik telah menggambar jelas di benak kepalanya. Kenikmatan surgawi tiada tara! Ini membuat tawa lelaki bertampang garang itu makin panjang.


Di tambah lagi, dalam penilaiannya, si pemuda yakni Jaga Saksena takut padanya. Sehingga pemuda itu mau saja membayar lima keping emas. 'Sempurna sudah, semua akan indah!' pikirnya sembari masih tertawa lebar.


Namun, sesuatu yang tak pernah ia bayangkan tiba-tiba terjadi.


Swess!


Slebb! Corr!


Sebuah pisau terbang menghunjam masuk ke dalam mulutnya hingga tembus dan bablas melewati leher bagian belakang. Darah pun mengucur deras.


Kini, suara tawa pemimpin pemalak jalan itu berubah menjadi dengkur kesakitan. Ia memegangi lehernya berusaha menghentikan pendarahan tetapi yang terjadi malah tubuhnya terjengkang tumbang ke belakang.


Melihat pemimpinnya diserang sedemikian rupa, sembilan pemalak jalan hunus golok dari pinggang.


"Seraaang!"


Pemalak jalan yang terdekat dari Jaga Saksena ayunkan golok hendak membabat tubuh si pemuda. Tetapi jelas, gerakan Jaga Saksena lebih cepat. Pemuda itu hantamkan kaki kanan terlebih dahulu ke arah pergelangan tangan penyerang. Membuat goloknya terpental ke udara. Dan, betapa kaget si penyerang ketika golok miliknya seakan hidup lalu membalik dengan kecepatan tinggi menghujam lehernya yang sedikit mendongak.


Grokhh! Penyerang itu harus terkapar meregang nyawa dengan golok menancap masuk ke dalam mulutnya.


Saat yang sama ketika Jaga diserang, pemalak lain mencoba menyambar tangan Anesha Sari. Bermaksud membawanya pergi. Ia sama sekali tak menduga, bahwa yang membunuh pemimpinnya adalah gadis yang hendak ia sambar tangannya.


Sejengkal lagi pemalak itu berhasil menggapai tangan Anesha Sari,


Slebb!


Sebuah pisau menancap tepat di jantungnya.


Kematian pemimpin dan dua orang anggota kawanan, ternyata mampu membuat tujuh orang pemalak tersisa berpikir ulang. Mereka menjadi ragu untuk menyerang.


Saling pandang sesaat, akhirnya mereka mengangguk kompak sebelum berteriak,


"Kabuuur!"


"Bromocorah seperti kalian harus dilenyapkan dari muka bumi!" gumam lirih Anesha Sari.


Dan sekejap mata kemudian, teriakan-teriakan kematian susul menyusul bersamaan dengan tujuh lelaki pemalak yang bertumbangan, tubuh mereka berkelojotan di tanah sebelum diam selamanya.


Jaga Saksena yang melihat pembantaian di hadapannya tidak mencegah tidak pula mendukungnya, pemuda itu hanya diam membatu dengan berkali-kali berucap istighfar dalam hati.


***⁰0⁰***


Kama Kumara telah berhari-hari duduk di atas sebuah batu yang menjorok ke laut selatan. Kulitnya telah menghitam akibat terpaan terik matahari siang.


Rasa lemas, perut perih dan lengket tubuh akibat berhari-hari tidak mandi sekuat tenaga Kama Kumara tahan. Semua ini demi menjalankan bisikan suara tanpa rupa yang menyuruhnya bertapa tujuh hari tujuh malam guna mengosongkan tubuhnya dari segala kotoran.


Kotoran yang menurut suara tanpa rupa tersebut bisa menjadi penghalang masuknya kekuatan maha dasyat. Kekuatan yang mampu merubah Kama Kumara menjadi seorang manusia sakti tak tertandingi di kolong langit mayapada ini.