Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 120. Sengit



"Malam ini akan menjadi malam bersejarah! Putra putri mendiang Raja Basukamba saling menjajal kekuatan!"


"Aku sudah tidak sabar melihat pertarungan mereka berdua! Karena kabarnya Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara telah menjelma menjadi seorang pendekar tanpa tanding!"


"Apakah kita akan bertaruh siapa yang lebih kuat?!"


"Satu keping emas untuk Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"


"Dua keping emas untuk Putri Anesha Sari!"


"Aku tidak punya keping emas, tetapi aku akan menjagokan seorang pria untuk menang!"


"Tetap Sang Putri Andara Anesha Sari'lah yang terrrrbaikkk!" pekik tertahan prajurit paling muda dengan mata berbinar-binar.


"Hasss kau kira ini sayembara kecantikan!"


Para prajurit itu terus berkomentar dengan santainya bahkan bertaruh. Mereka mengira duel Kama Kumara dan Anesha Sari hanya tarung persahabatan.


Di tengah halaman, Kama Kumara tersenyum sinis. Di matanya, kemenangan sudah di depan mata. Karena tak ada lagi yang ditakutkan dari adik kandungnya itu sebab Kama Kumara tahu dirinya kebal segala senjata.


Tak pedulikan ekpresi wajah lawan yang meremehkan, Anesha Sari pasang kuda-kuda kaki sembari rentangkan dua tangan. Sekonyong-konyong, enam pisau tercabut dari penyimpannya dan kini melayang rebah di depan Anesha Sari dengan ujung runcing menghadap ke depan.


"Belis biadab mampuslah kau, hiaaaaaas ...!"


Swesssh!


Anesha Sari hentakkan dua tangan ke depan, enam pisau pun mendesing lebih cepat dari anak panah, merobek hawa dingin malam, menuju enam titik kematian lawan.


Meski tubuhnya kebal, Kama Kumara tak tinggal diam. Ia ingin unjuk kebolehan terlebih dahulu pada para penonton yang kini mulai bertambah banyak.


"Tak ada perkembangan! Hiaahh ...!"


Terlebih dulu menghina kemampuan Anesha Sari, Kama Kumara melenting rendah ke belakang lalu hantamkan dua telapak tangan.


Swosssh!


Angin menggebubu disertai kobaran api tiba-tiba meluncur dari arah dua telapak tangan Kama Kumara.


Suasana malam remang sontak terang benderang.


"Wooh! Luar biasa!!" pekik para penonton. Saat yang sama, Anesha Sari waspada karena jelas api tak akan mampu ditahan oleh pisau miliknya.


Swiishh!


Dan benar, enam pisau menerjang api dan terus bablas. Sama halnya, sambaran api pun terus melaju hendak membakar tubuh Anesha Sari.


Bagai laju angin musim kemarau, Anesha Sari lesatkan tubuh ke samping. Sambaran api hanya mengenai udara kosong. Meski begitu, panasnya cukup menyengat kulit.


Di sebrang sana, Kama Kumara ternyata tak bergeming, membiarkan enam pisau menghantam telak tubuhnya.


Nyud!


Enam pisau hanya mampu menembus pakaian kebesaran Kama Kumara tanpa mampu menggores luka sedikit pun di kulitnya.


"Mainan bocah!" ejek Kama Kumara lalu dengan cepatnya, ia mencekal satu persatu pisau untuk ia kumpulkan di tangan kirinya.


Hal ini sungguh membuat Anesha Sari kaget. Tetapi para prajurit malah bersorak.


"Luar biasa!"


"Mengagumkan!"


Dan, pertunjukan belum berakhir karena tiba-tiba Kama Kumara mengangkat enam pisau dengan dua tangan lalu meremasnya kuat. Maka berubahlah enam pisau menjadi sebuah bola besi dengan permukaan kasar.


"Lihat senjatamu ini, Anesha Sari. Tidak lebih keras dari tanah liat!" seru Kama Kumara menunjukkan hasil karyanya.


Sorak dan pujian dari para penonton pun kembali terdengar. Sungguh mereka mengira ini hanya pertunjukan semata.


Blugh!


Kama Kumara membanting bola besi di tangan ke tanah. Sebagai bentuk hinaan, ia ingin menginjak benda itu dengan telapak kakinya. Namun,


Sweshh!


Blashh!


Bola besi amblas menghunjam dalam ke tanah. Sebab sasarannya _Kama Kumara_ telah terlebih dahulu mencelat satu tombak ke belakang.


Raja gundul bermahkota emas itu mencibir, "Permainan anak kec—"


Bruall!


Ucapan mencibir Kama Kumara harus terputus oleh lesatan bola besi dari dalam tanah menuju selangkangannya.


Kesal, kali ini Kama Kumara hantamkan tangan kanan kanan ke depan bawah menyambut lesatan bola besi.


Klangg! Benda itu terpental jauh.


Bersamaan dengan terpentalnya bola besi, Kama Kumara genjot kakinya melesat ke depan hendak menyerang Anesha Sari dari dekat. Namun,


Swess!Swess!


Dua pisau kembali melesat, kali ini mengancam ulu hati dan jantung Kama Kumara.


"Kau tidak pernah belajar pada pengalaman!" teriak Kama Kumara hentikan lajunya dan berkelit untuk menangkap dua pisau.


Saat yang sama, di depan sana, Anesha mundur rentangkan dua tangannya ke sampaing.


"Hiaaaaaas ...!"


Dua pohon sebesar dekapan manusia dewasa tercabut se akar-akarnya. Ketika Anesha Sari hentakkan dua tangan ke depan, dua pohon besar itu melesat bagai anak panah.


Kama Kumara memang berhasil menangkap dua pisau, tetapi ternyata itu hanya pengalihan dari serangan yang lebih besar.


"Keparat!" memaki kencang Kama Kumara melenting ke udara untuk melompati dua pohon besar.


Akan tetapi Anesha Sari sudah perhitungkan itu, ia kembali mengirim serangan dengan mencabut pohon lain dan melesatkannya.


Mau tak mau, Kama Kumara pompa energi panas dalam pusar lalu putar dua telapak tangan sebelum dorongkan ke depan.


Wusssssh!


Kobaran bola api merah tiba-tiba melesat dari antara dua telapak tangan Kama Kumara menyongsong pohon yang mengarah padanya.


Brashhh!


Ledakan bercampur suara benda terbakar memenuhi udara malam. Untuk seketika malam di halaman kaputren kembali terang benderang. Hancur dan terbakarnya pohon memancar ke segala arah bagai ledakan kembang api.


Para prajurit yang makin bertambah banyak serentak mundur. Kini mereka mulai sadar ini bukan sekedar tarung penjajagan atau persahabatan akan tetapi pertarungan hidup dan mati!


Semakin larut, duel dua saudara itu makin menjadi-jadi. Sekebal dan sekuat apa pun Kama Kumara nyatanya tidak mudah untuk mendekati Anesha Sari. Putri cantik nan berkulit bening itu terus saja melakukan trik-trik cerdik yang selalu membuat Kama Kumara kewalahan.


Imbasnya, pohon-pohon di halaman, semuanya, porak poranda akibat digunakan oleh Anesha Sari untuk menyerang. Bukan hanya pohon, bahkan pagar dari galih kayu jati yang mengelilingi halaman juga menjadi korban.


Sementara itu, para penonton _yang kini bukan hanya para prajurit tetapi juga perwira bahkan Tumenggung Wiryateja_ harus kembali mundur makin menjauh. Sebab halaman kaputren begitu terasa penuh sesak oleh benda-benda beterbangan yang lama kelamaan membentuk bulatan raksasa.


Ya, Anesha Sari telah mengeluarkan teknik yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya. Teknik yang ia sebuat sebagai Kerangkeng Ragabumi!


Andai Kama Kumara tidak kebal, bisa dipastikan ia telah meregang nyawa akibat hantaman benda-benda yang bertubi-tubi menderanya.


Serpihan-serpihan pagar runcing itu sudah tak terhitung lagi berapa banyak yang mengenai tubuh Kama Kumara tetapi raja itu masih bisa mengamuk untuk membakar benda-benda yang mengitarinya sekaligus terus berusaha mendekat ke arah Anesha Sari.


"Benda-benda sampahmu ini tak akan bisa melukaiku! Ha Ha Ha! Hiaaaa!"


Tak ingin didekati, Anesha Sari terus berpindah tempat dan kini telah berada di wuwungan atap kaputren. Para penonton pun sudah bisa menerka,


"Celaka! Tuan Putri akan menggunakan bangunan kaputren untuk menyerang Raja!"


"Ini tidak seperti yang kita duga!!"


"Akan ada yang terbunuh!"


Sementara itu Tumenggung Wiryateja diam lalu mundur sembari memberi isyarat pada sembilan perwira yang telah tiba dilokasi pertempuran untuk mengikutinya.


***⁰0⁰***