Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 2. Setelah Keluar Pulau



"Ghhhhrrr ...!"


'Apa pun itu, sebaiknya aku menghindarinya!'


Si bocah membelok arah ke barat, bermaksud berjalan seratus langkah sebelum kembali menuju utara.


Namun, tiba-tiba dari balik semak _di mana suara geraman berasal_ mencuat seekor hewan buas besar bergigi dan berkuku tajam yang langsung meloncat tinggi hendak menerkam.


"Babiiii ...!"


Jaga Saksena berlari kencang. Semak yang tumbuh di antara pepohonan yang terkadang berduri tidak ia hiraukan lagi.


Tentu saja hewan yang sebenarnya jenis harimau _sebab memiliki warna loreng khas di bulunya_ itu tidak ingin melepas mangsanya begitu saja sehingga langsung mengejar.


Kejar-kejaran pun terjadi. Hebatnya si bocah mampu melaju dengan cepat, menelusupi lebatnya tetumbuhan sehingga sang harimau belum mampu menjamahnya.


Terus berlari, si bocah melupakan arah. Karena yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara untuk lolos dari buruan hewan pemangsa tersebut.


"Hosh ...! Hosh ...!"


Napas si bocah mulai memburu ngos-ngosan.


'Padahal aku sudah melatih tubuhku untuk hal seperti ini! Tapi sepertinya aku kurang bekerja kerass! Aku harus bisaa!' batin Jaga Saksena memompa semangat dan tenaga.


Entah berapa lama waktu berlalu. Entah berapa jauh jarak ditempuh.


Pakaian si bocah telah robek di sana sini. Hanya baju usang yang telah sekian lama tidak pernah ganti tentu saja lapuk dimakan usia.


Pun pembalut kaki si bocah yang terbuat dari kulit ular, tidak cukup kuat menahan gesekan berlebih kala berlari kencang.


Darah dari luka akibat terkena duri tetumbuhan yang merambat di antara pepohonan mulai memenuhi sekujur tubuh Jaga Saksena.


'Babi itu terus mengejarku! Eh babi atau kucing ya?! Ah peduli!'


Jaga Saksena memang telah diajarkan nama-nama hewan. Hanya saja karena tidak pernah melihatnya sehingga lupa. Sebab di pulau kecil yang selama ini ia huni bersama byung, hewan besar yang ada paling ular.


Dalam larinya sampailah Jaga Saksena di tempat sedikit bersih dari semak perdu sebab tanah di daerah tersebut berbatu.


Saat itulah, di depan sana, Jaga Saksena melihat pohon cukup besar yang tumbuh miring.


Tidak pikir panjang, bocah itu berlari menuju pohon tersebut lalu memanjatnya dengan berlari hingga ketika makin tinggi, si bocah harus menjatuhkan diri memeluk pokok batang pohon.


Saat yang sama ketika Jaga Saksena memeluk pohon, harimau pengejar sampai di pangkal pohon. Dan ternyata, dengan mudah si raja rimba tersebut ikut memanjat.


'Kau tidak akan bisa mengejarku!'


Jaga Saksena menyeringai lalu memanjat ke sebuah cabang kecil tinggi yang tumbuh lurus ke atas.


Benar saja, ketika sampai di cabang pohon di mana Jaga Saksena memanjat, si raja rimba harus menggeram-geram marah karena tak bisa memanjat cabang yang kecil.


"Kejar aku kalau kau bisa!" teriak Jaga Saksena dengan terlebih dahulu mengatur napasnya yang ngos-ngosannya. Kemudian, "hahahaha!" ia tertawa puas sebab berhasil mempecundangi si hewan buas.


Si raja rimba mendongak, sembari mengeluarkan suara geraman marah, menatap dendam pada mangsa kecilnya seolah ingin berkata,


"Tunggulah pembalasanku. Akan kucabik-cabik tubuhmu sebelum kumasukkan dalam perutku!!"


"Sudahlah! Pergi saja kau sana! Cari mangsa lain yang lebih enak dagingnya. Dagingku pahit!"


Jaga Saksena berseru sembari mengibas-ngibaskan tangan kanan yang memegang kampak batu.


Alih-alih pergi, si raja rimba malah merendahkan pantat, dan,


"Whoi whoi! Kenapa kau malah duduk!! Ah dasar babi sialan!"


Jaga Saksena tidak memperhitungkan bahwa sang pengejar bisa saja akan menungguinya.


'Terpaksa aku harus melemparkan kapakku! Ini satu-satunya harapanku!'


Menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan, Jaga Saksena mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Kemudian ia memposisikan diri sebaik mungkin guna membidik kepala si raja rimba yang sesekali mendongak ke atas.


Meyakinkan diri pasti berhasil, Jaga Saksena berteriak,


"Pergilah kau babi!"


Jaga Saksena menahan tubuh dengan dua kaki dan satu tangan kiri, kemudian melemparkan kuat-kuat kapak batu menggunakan tangan kanan ke bawah.


Saat yang sama sebab teriakan Jaga, sang harimau mendongak. Dan ....


Bletak! Tepat sekali, bagian tajam kapak menghajar tepat bagian pangkal hidung harimau. Meski tidak menancap, luka yang ditimbulkan cukup dalam.


Si raja rimba bangkit dari duduknya, menggeram keras, membuat luka yang diderita mengeluarkan darah deras.


Panik melihat darahnya sendiri, harimau besar itu ngacir turun kemudian pergi.


"Huffftt ...."


Bernapas lega, Jaga Saksena mulai turun perlahan. Sampai di pokok pohon yang miring, si bocah memeriksa keadaan sekitar. Memastikan hewan buas pengejarnya tidak bersembunyi di balik sesuatu di bawah sana. Sekaligus mencari di mana tadi kapaknya jatuh.


'Di sana rupanya.'


Kapak jatuh cukup jauh, mungkin sebab terpental setelah menghajar kepala sang macan.


'Sebaiknya aku turun sekarang dan mencari tempat aman untuk mengobati luka-lukaku!'


***


"Auhh!!"


Jaga Saksena yang telah berada di atas pohon besar tinggi bercabang-cabang tengah membubuhi lukanya dengan dedaunan yang telah ia hancurkan dengan cara mengunyahnya. Sebuah pengobatan yang diajarkan byung.


Luka terparah ada di kaki kanan. Alas kulit yang membalut kaki robek besar. Mungkin sebab terkena batu tajam kala Jaga Saksena lari.


Semua luka telah dibalur, kini si bocah memperhatikan sekitar.


"Aku tadi berlari ke mana? Jangan-jangan aku ke arah barat!" ucap Jaga Saksena sembari menatap silau matahari yang mulai berwarna jingga di ufuk barat.


'Ya sudahlah, besok aku lanjutkan ke arah utara. Sebaiknya sekarang aku beristirahat.'


Bekerja keras sepanjang hari _dari menggali liang lahat hingga berlari dari kejaran harimau_ membuat tubuh bocah berusia 10 an tahun itu berasa lelah. Belum lagi perut yang mulai bernyanyi minta diisi.


Jaga Saksena membuka kantong dari kulit ular yang ia selempangkan di punggungnya.


'Perbekalan ikan asapku hanya lima ekor. Sebaiknya aku makan besok pagi saja. Untuk sekarang aku akan tidur untuk menahan lapar.'


Jaga Saksena merapatkan kembali kantong kulit ularnya, urung mengambil ikan asap.


Selama di pulau kecil, makanan sehari-hari Jaga Saksena dan byung adalah ikan yang di dapat dari sungai besar di sekitar. Terutama di pertemuan aliran sungai. Ikan sangat melimpah di sana.


Ikan-ikan yang diambil kemudian diawetkan dengan cara diasapi.


Ikan yang telah diasapi cukup tahan lama, hingga satu purnama.


Ketika Byung mulai sakit panas menggigil hingga mengantarkan pada kematian, Jaga Saksena tidak sempat mencari ikan. Sepanjang siang dan malam bocah itu menungguinya. Sehingga persediaan makanan hanya tinggal beberapa ekor ikan saja.


Ikan yang tidak terlalu besar, hanya sebesar lengan anak seusia 6 tahun-an.


Bocah yang telah memejamkan mata sembari duduk menyandar pada pokok pohon besar itu tidak menyadari. Seekor hewan _sebesar pohon pinang, sepanjang empat tombak_ yang membelit pokok pohon tengah mengawasinya dari atas sana.