Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 78. Membalik Arus



'Gila serangan macam apa ini?!' jerit hati Asta Brajadaka yang terus dihujani serangan jarak jauh beruntun tak henti oleh Jaga Saksena.


Tumenggung Wiryateja yang tertolong oleh serangan Jaga Saksena untuk sesaat bergeming. Jika tidak tengah terdesak mungkin dirinya akan marah sebab telah diganggu dalam pertarungan. Tetapi ini benar-benar pas waktunya, sehingga Tumenggung Wiryateja menarik napas lega.


Diam-diam Wiryateja memperhatikan Jaga Saksena dan mengagumi kekuatannya padahal usianya begitu masih muda. Hingga tetiba ia tersadar untuk segera merampungi sang pemberontak.


Tumenggung Wiryateja dirikan keris di depan muka lalu komat-kamit membaca mantra sebelum ayunkan tangan melepas keris.


Wusss!


Keris pusaka di tangan Tumenggung Wiryateja melesat terbang dengan kecepatan luar biasa dan,


Celb!


Keris menghunjam tepat di bawah ketiak Senopati Asta Brajadaka hingga tembus. Posisi Wiryateja yang berada di samping cukup jauh membuat serangannya tidak diketahui oleh Asta Brajadaka. Ditambah sang senopati tengah sibuk menahan serangan Jaga Saksena.


Berbarengan dengan itu, serangan Jaga Saksena menghantam telak tubuh Senopati Asta Brajadaka.


Glarrtt!


Asta Brajadaka terpental jauh ke belakang. Tubuhnya tak kuat lagi bertahan sebab keris Tumenggung Wiryateja telah mengenai jantungnya.


Sang gembong pemberontak itu pun tewas mengenaskan akibat ambisi duniawinya sendiri.


"Anak muda, terimakasih atas bantuanmu!" Tumenggung Wiryateja yang berwajah garang itu ternyata tahu berterima kasih, ia menangkupkan dua tangan di depan dada lalu membungkuk sedikit pada Jaga Saksena.


Jaga Saksena turut melakukan hal yang sama sebelum berkelebat kembali ke samping Putri Anesha Sari.


Kerahkan tenaga dalamnya, Jaga Saksena berseru,


"Lihatlah oleh kalian! Pemimpin kalian telah tewas. Belum terlambat untuk menjalankan apa yang Putri tawarkan!"


"Apakah yang Putri ucapkan bisa kami jadikan jaminan di kemudian hari?!" sahut salah satu kepala prajurit kesenopatian.


"Apa yang aku ucapkan bisa kalian jadikan pegangan sekaligus jaminan. Kalian akan diampuni dengan syarat berjuang bersama kami!" tegas Putri Anesha Sari berkata lantang.


Para tentara kesenopatian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengambil keputusan,


"Baiklah Tuan Putri! Kami menyatakan diri kembali setia. Kami akan berjuang bersama Tuan Putri!"


"Jika begitu, mari kita berangkat!" seru Anesha Sari bersemangat lalu memberi perintah pada Tumenggung Wiryateja dan para prajurit lingkar istana untuk tetap tinggal guna mengobati para prajurit yang terluka sekaligus menjaga istana.


"Aku juga ikut!"


Sungsang yang telah memulihkan diri tak mau ketinggalan.


Di pimpin tiga orang muda-mudi, pasukan kesenopatian yang berjumlah lebih dari seribu orang itu bergerak ke arah barat.


Pergerakan pasukan tersebut menarik perhatian warga yang berkumpul di tempat-tempat tertentu.


Tiga pemimpin yang masih muda dan tampak berkobar semangat membuat beberapa warga yang memiliki kemampuan kanuragan memutuskan bergabung.


Tiba di medan perang,


"Hancuuurkaaaaaan ...!" teriakan Sungsang yang dilambari tenaga dalam tinggi menggelegar.


Serempak, para prajurit kesenopatian di belakang Sungsang berlarian.


"Putri, harap kendalikan seranganmu. Ingat hanya serang musuh!" ucap Jaga Saksena sebelum melesat membantu prajurit kerajaan yang dirasa tengah memerlukan bantuan.


Meski tidak menjawab, Putri Anesha Sari melakukan apa yang dikatakan Jaga Saksena.


Dua golok tiba-tiba terangkat sebelum melesat!


***


Tak mau kalah dengan sang putri, Sungsang lesatkan pisau terbang.


Wuss!Wuss!


Dua pisau terbang berdesing membeset udara.


Dua manusia Suku Lembah Kenabala terjengkang akibat terhunjam pisau terbang tepat di jantung mereka.


Ini membuat manusia Suku Lembah Kenabala lainnya terkaget sebab ternyata mantel kulit tebal mereka bisa ditembus dengan mudah.


Dan apa yang mengagetkan mereka itu baru permulaan. Sebab Sungsang Gumilang terus berkelebatan bagai banteng mengamuk, menyasar lawan dengan pisau terbang. Sepertinya Sungsang tengah melampiaskan kekesalannya karena tahu para penyerang ternyata adalah orang-orang yang sama, orang-orang yang menyerang dirinya dan Jaga Saksena kemarin malam.


Mayat-mayat makin bergelimpangan, darah menggenang menyebarkan bau anyir yang terbawa oleh semilir angin sore.


Tak jauh dari Sungsang, Jaga Saksena yang mengkhususkan diri menolong para prajurit yang butuh bantuan membawanya bergerak ke utara, memisah hingga akhirnya tiba di sayap kanan peperangan.


Di sayap kanan inilah Jaga Saksena mendapati sang Raja Basukamba tengah bertarung dengan seseorang yang tampak berbeda dari pasukan penyerang.


"Siapa dia? Apakah dia pemimpin perang suku ini?!" gumam Jaga Saksena sembari menghantam pingsan musuh untuk terus mendekat ke pertarungan sang raja yang kini tampak hendak memasuki adu kekuatan ajian.


Sebelumnya Sundara Watu yang pergi ke tembok barat untuk mencari keberadaan Raja Basukamba akhirnya berhasil menemukannya.


Percaya pada kesaktian yang ia miliki, dengan terang-terangan, Sundara Watu menantang duel sang raja. Tentu dengan terlebih dahulu perkenalkan diri.


Hal ini membuat Raja Basukamba marah karena bukan saat yang tepat untuk membahas hal warisan kekuasaan. Apalagi urusan ini telah lewat begitu lama.


Keduanya pun berduel baku hantam dengan hebatnya hingga para prajurit dan suku Lembah Kenabala minggir. Memberi ruang lebih untuk medan gelut keduanya.


Dari baku hantam tangan kosong sampai akhirnya, ketika keduanya sama-sama ambil jarak, Sang Raja cabut keris pusaka Samber Nyawa.


"Aku tidak lagi bisa menemanimu lebih lama, Sundara. Ada musuh yang harus kumusnahkan dengan segera! Jika kau tidak menyingkir sekarang juga, maka jangan salahkan keris pusaka ini yang bicara!"


"Hahaha!" Sundara Watu terbahak-bahak. "Pusaka tak berguna! Hanya terbuat dari besi rongsokan untuk apa kau banggakan?!"


"Aku sudah peringatkanmu! Hiaa!"


Meranngsek ke depan, Raja Basukamba menyerang titik-titik kematian Sundara Watu.


Keris Samber Nyawa seolah hilang saking cepat gerakan serangan sang raja.


Meski diserang tak henti, Sundara Watu masih bertahan dengan tangan kosong. Sepertinya ia masih ingin bersenang-senang menunjukkan kesaktiannya sebelum benar-benar menghabisi sang raja.


Srat!Srat!


Dalam satu kesempatan, Raja Basukamba berhasil mendaratkan keris ke tubuh lawan. Suara gesekan dua benda terdengar cukup keras. Namun, tidak terjadi satu apa pada Sundara. Bahkan lecet pun tidak!


Ini membuat Raja Basukamba terpana untuk sesaat. Kendati hanya sesaat, ini sudah cukup bagi Sundara Watu untuk sarangkan tendangan.


Duossh!


"Ughh!"


Tubuh Raja Basukamba terlempar beberapa tombak sebelum berhenti sebab menabrak batang pohon cukup besar.


Bangkit, Raja Basukamba tempatkan keris dikening. Mulut komat-kamit membaca mantra sebelum tangannya melakukan gerakan rumit dan,


"Samber Nyawa!"


Tlarap!


Seberkas sinar melejit keluar menyambar ke arah Sundara Watu ketika Raja Basukamba tusukkan keris ke depan.


Tidak tinggal diam, Sundara Watu benturkan keras dua telapak tangan lurus ke depan, melepas ajian.


"Gugur Watu Gunung!"


Wusss!


Blaarrtt!


Gelombang kejut tumbukan dua energi menghempas apa pun yang berada di sekitar pertarungan. Tanah terasa bergetar. Rerumputan kering tercerabut beterbangan.


**