Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 73. Pengkhianatan



Ketika semua benda di ruangan mulai bergerak, dan dua putri Raja Basukamba hendak beranjak pergi, Patih Sepuh Labda Lawana tiba-tiba menghadap memberi laporan,


"Yang Mulia Raja Basukamba, tembok barat diserang pasukan suku pedalaman!"


"Apa?!" Terkejut, Raja Basukamba langsung bangkit. "Berapa kekuatan mereka?"


"Sekitar tiga ribu, Yang Mulia!"


"Selama ini mereka kubiarkan, tetapi malah ngelunjak! Patih, perintahkan semua senopati untuk membawa kekuatan penuh. Tunpas bersih! Jangan biarkan satu pun dari mereka selamat! Aku akan segera menyusul!"


"Siap Yang Mulia Raja!" sahut Patih Sepuh Labda Lawana lalu undur diri.


"Kama Kumara!" Sang Raja kembali memberikan titah, "Jika keadaan memburuk, kau lindungi permaisuri dan adik-adikmu! Andara Anesha Sari, kendalikan kemarahanmu. Pembahasan ini kita lanjutkan nanti setelah keadaan aman!"


"Ijinkan ananda ikut berperang, Ramanda!" sahut Putri Andara.


"Apa kau sudah bisa mengendalikan seranganmu? Aku tak ingin kau malah mencelakai para prajurit kerajaan!"


"Tapi, Ramanda—"


"Putriku, tetaplah di sini." Permaisuri Mahiswari berkata lembut, "Kau boleh saja pergi berperang, tapi nanti jika kau benar-benar telah bisa menguasai kekuatanmu."


"Byungda, aku sudah bisa menguasai kekuatanku!"


Jawaban Anesha Sari membuat para saudaranya menatap curiga. Karena jika Anesha Sari telah benar-benar mampu mengendalikan kekuatannya, itu berarti barusan Anesha Sari mengangkat benda-benda dengan kesadaran penuh. Akan tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk ribut antar keluarga, pikir mereka.


"Jika begitu, kau lindungi istana! Jangan biarkan musuh menerobos masuk!" Dengan bijak, Raja Basukamba memberi tugas khusus pada Putri Andara. Karena sejatinya, Raja Basukamba lebih suka putri yang kuat dari pada yang lemah.


Usai memberi titah, Raja Basukamba diikuti oleh Permaisuri Mahiswari beranjak menuju kamar pribadinya untuk berganti pakaian tempur sekaligus menyandang keris pusaka.


Sementara itu, Kama Kumara dan empat saudaranya tampak tegang duduk di kursinya masing-masing. Wajar, sebab baru kali ini mereka mengalami kerajaan diserang pasukan sebesar ini. Tiga ribu penyerang, bukan jumlah yang sedikit.


"Jaga, mari kita laksanakan tugas Raja." Andara Anesha Sari bangkit, mengajak Jaga Saksena yang sedari tadi hanya diam.


Bukan tanpa alasan Jaga terdiam, sebenarnya pemuda itu bertanya-tanya dalam hati, menerka, jangan-jangan penyerang adalah suku yang sama, yang semalam ia temui di pemukiman barat pegunungan.


"Dalit! Awas kau jika mengambil kesempatan dalam kesempitan!" hardik Kama Kumara kala Jaga Saksena bangkit mengikuti Putri Anesha Sari.


Membalik badan, Jaga Saksena tersenyum ramah sembari berkata, "Tiga ribu orang bukanlah jumlah yang sedikit, sebaiknya siapkan senjatamu!"


"Sialan!" maki Kama Kumara. Putra mahkota itu ingin memaki lebih panjang dan banyak, akan tetapi apa yang dikatakan oleh Jaga Saksena adalah sesuatu yang benar sehingga hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


***


Tembok barat Kerajaan Saindara Gumilang.


"Bugu Wunu Kalu! Sadu Hina Be Dutsu Kalaaa ...!" Raja Draleka menggemuruhkan teriakan peperangan diiringi suara genderang bertalu-talu.


"Bugu Wunu Kalu! Sadu Hina Be Dutsu Kala!"


Pekik perjuangan sahut menyahut, menggidikkan para prajurit kerajaan yang belum pernah menghadapi peperangan.


"Wega buwa taraaa ...!" Raja Draleka kembali berteriak menggema ke angkasa.


Itu adalah teriakan perintah Raja Draleka pada pasukan gelombang pertama. Pasukan pendobrak!


"Sadu Hina Be Dutsu Kala!"


Sekitar seribu manusia berpakaian kulit tebal berlapis-lapis berlari kencang menuju tembok kerajaan.


Senopati Ragnala Raksa membawahi seribu prajurit. Ia menjadi senopati pertama yang menyambut kedatangan pasukan penyerang. Karena secara pembagian wilayah tugas, Ragnala Raksa menguasai wilayah barat kerajaan.


Pasukan pemanah kerajaan yang berada di atas tembok membidikkan anak panah.


Wuss!Wuss!


Bagai hujan, ratusan anak panah beterbangan ke angkasa sebelum menukik ke bawah.


Trak! Trak! Tak!


Banyak anak panah bisa ditangkis, ada juga yang mengenai sasaran, tetapi anak panah itu tidak terlalu kuat untuk menembus pakaian tebal para penyerang.


Serangan anak panah tak mampu mengurangi kegigihan pasukan Suku Lembah Kenabala untuk terus berlari hingga mencapai tembok lalu memanjat.


Dan hasil tak berkhianat pada usaha, mereka sukses memanjat hingga ke atas tembok dengan mudah.


Rupanya Raja Draleka telah benar-benar mempersiapkan pasukan pendobrak dengan baik.


Pertarungan jarak dekat di atas tembok kerajaan pun tak terelakkan lagi. Dan, tidak butuh lama pertarungan menjalar ke dalam tembok.


***


Semua senopati telah diperintahkan untuk membantu pertempuran di tembok barat. Tetapi ternyata tidak semua senopati bergegas.


Dua senopati, Senopati Asta Brajadaka bersama Senopati Pradana Nararya malah sengaja memperlama persiapan.


Di dalam ruangan khusus, kedua senopati ini tengah berembug dengan seseorang bertubuh kekar nan keras. Bahkan jika diperhatikan dengan seksama susunan daging orang tersebut bagai sebuah batu.


"Ini waktu yang tepat, untuk mengambil kekuasaan." Lelaki bertubuh laksana batu berkata pelan saja, tetapi ada ambisi berapi-api di suaranya.


"Raden Sundara Watu, apakah ini tidak terlalu tergesa-gesa?"


"Tidak, Senopati Asta Brajadaka. Semua sudah matang."


"Bagaimana dengan para rakyan mantri?" Senopati Pradana Nararya bertanya.


Senopati Pradana Nararya adalah senopati paling muda dalam menjabat. Ia diangkat menjadi senopati sebab telah memenangkan sayembara tujuh tahun yang lalu.


"Semua sudah di bawah kendaliku!" Sundara Watu tersenyum penuh arti.


Awal Sundara Watu datang ke Kerajaan Saindara Gumilang adalah untuk meluaskan perdagangan budak. Tetapi tujuannya segera berubah ketika mengetahui bahwa Sang Raja Basukamba ternyata adalah cicit dari adik kandung kakek buyutnya.


Dahulu kala, dalam sebuah intrik gelap, kekek buyut Sundara Watu di singkirkan sehingga harus mengembara ke timur dan tidak pernah kembali. Padahal seharusnya sang buyut Sundara Watu lah yang menjadi pewaris utama Saindara Gumilang.


Atas dasar inilah, Sundara Watu diam-diam menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Ia berhasil menjalin sekutu dengan Senopati Asta Brajadaka dan Senopati Pradana Nararya.


Demi menutupi keberadaannya dan memperlancar rencana, Sundara Watu tidak tinggal di Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung tetapi di istana kesenopatian Asta Brajadaka.


Sundara Watu juga menempatkan orang-orangnya di berbagai tempat termasuk di rumah para rakyan mantri. Rakyan mantri adalah jabatan bagi orang-orang yang akan ikut andil menentukan kebijakan pemerintahan.


Hanya dengan satu pertanda khusus, orang-orang Sundara Watu _yang telah ditempatkan diberbagai rumah rakyan mantri ini_ akan bergerak untuk membunuh para rakyan mantri yang tidak mau membelot.


"Jika begitu, mari kita laksanakan, Raden! Lebih cepat lebih baik! Aku sudah tidak tahan untuk segera menjabat Patih Sepuh dan menaklukkan kerajaan lain!" Senopati Asta Brajadaka berkata menimpali ucapan Sundara Watu dengan penuh bara api semangat.


Salah satu penyebab membelotnya Asta Brajadaka adalah karena Raja Basukamba tidak punya ambisi penaklukan. Bagi Asta Brajadaka, sang raja kurang greget, lemah. Selain itu, Raja juga terlalu pelit dalam berbagi harta dan wanita.


Berbeda dengan Sundara Watu yang berapi-api dalam ambisi. Ia berencana menaklukkan seluruh daratan. Selain itu, Sundara Watu juga jor-joran dalam hal harta dan wanita. "Milikku adalah milikmu!" Demikian ikrar Sundara Watu pada Asta Brajadaka.