Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 26. Kabur Menghindari Masalah



Jaga Saksena terpundur, panik sekaligus bingung harus berbuat apa. Saat yang sama, dua kawan Takil terus berteriak minta tolong akibat belum ada orang yang datang.


Ya, pertarungan Surakala dari Padepokan Kasengsem Arak bergelar Pendekar Bumbung Wulung melawan Sangrama dari Padepokan Waringin Putih membius para penonton dalam ketegangan. Apalagi mereka telah mulai memasang taruhan.


Bertaruh dengan kawan di kanan kiri, sesuatu yang sangat mengasyikkan, bahkan untuk sesaat mereka lupa segalanya.


Sorak-sorai memberi semangat juga teriakan kekecewaan terus mereka kumandangkan. Sehingga teriakan dua kawan Takil tenggelam, hilang.


Jaga Saksena masih terdiam, belum tahu apa yang harus ia lakukan. Hingga, sebuah wejangan Byung tetiba melintas di ingatannya.


"Ilmu bela diri terbaik saat bahaya adalah lari menyelamatkan diri."


'Betul!' teriak hati Jaga membenarkan, maka tanpa ba bi bu, Jaga Saksena langsung lari sekencang yang ia mampu.


"Pe-pembunuh itu kabur!!"


Salah satu kawan Takil yang menyadari Jaga kabur segera bangkit. Ia berlari ke alun-alun menghampiri orang dewasa terdekat.


"Paman! Tolong paman!"


"Tolong apa?! Kau mengganggu saja!" enggan lelaki dewasa tersebut.


"Paman! Tolong! Ada pembunuhan!"


"Hah apa?!"


Segera saja, alun-alun bagian ujung selatan terjadi kehebohan.


*⁰0⁰*


"Host ... Host ...!"


Jaga Saksena yang terus berlari ke arah barat terengah-engah. Ia baru berhenti ketika sampai di sebuah gerbang rumah besar yang tampak samun (gelap, angker, lama tak dihuni_pen).


Gerbangnya usang, halaman dipenuhi rumput liar, bangunannya dadi tembok batu hitam yang sudah jebol di beberapa tempat dengan atap yang sebagian sudah runtuh. Bangunan tua yang benar-benar menyeramkan bagi anak kecil, tapi tidak bagi Jaga Saksena saat ini.


'Sebaiknya aku sembunyi di sana!'


Jaga Saksena kembali berlari memasuki halaman rumah, lalu menerobos masuk melalui lubang di tembok yang telah jebol.


"Hosst ...! Hosst ...!" Jaga berdiri menyandar dinding yang telah juga ditumbuhi rumput liar merambat.


'Terpaksa aku harus kabur. Karena jika terus di sana, pasti aku akan dituduh sebagai pembunuh. Sial sekali bocah itu! Mau mencelakakan orang malah mati sendiri! Mbokyaha kalau mati jangan repotkan orang lain! Lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya ....'


Jaga Saksena terdiam mengatur napasnya yang ngos-ngosan, tetapi pikirannya terus saja bergerak memikirkan kejadian barusan, memikirkan keluarga si bocah yang tewas dan seterusnya.


Lama pikirannya terbang, Jaga Saksena akhirnya memutuskan,


'Itu kesalahannya sendiri, bukan kesalahanku! Sebaiknya aku lupakan saja peristiwa tadi. Ah ... andai aku bisa seperti para pendekar itu. Aku tidak perlu lari begini! Aku bisa mengatakan yang sebenarnya tanpa khawatir mereka tidak percaya!'


Kini hayalan Jaga Saksena mulai melayang, mengandaikan dirinya memiliki kemampuan pendekar. Hingga tak disadari, Jaga mulai menirukan gerakan menendang dan memukul lalu berguling ke depan ke belakang kemudian menekuk tubuh ke belakang bermaksud hendak melakukan gerakan salto.


"Ukh ... ternyata sulit!" gumam Jaga Saksena. "Sebaiknya aku melakukan gerakan yang mudah dulu!"


Jaga Saksena kembali mengulang gerakan secara acak sekehendaknya.


*⁰0⁰*


Rumah tersebut adalah kediaman Raden Bakintal.


Disebut raden karena masih memiliki kekerabatan dengan raja. Meski kerabat jauh sehingga tidak tinggal di keraton yang ada di utara alun-alun.


Kerabat jauh raja ini mendapatkan perlakuan khusus dan masih sangat dihormati oleh masyarakat.


Di ruang tamu yang luas.


"Uuuuu hu hu huu ...!"


Seorang perempuan berusia sekitar 30 an tahun menangis sedu sedan. Di hadapannya terbujur kaku tubuh seorang anak lelaki.


Itu adalah mayat Takil yang telah diantar oleh warga dan dua kawannya. Tetapi mereka segera kembali ke alun-alun untuk menyaksikan pertarungan yang sedang seru-serunya. Lagi entah kapan jasad Takil akan dikebumikan atau pun diperabukan.


Hanya tiga orang yang tinggal, dua kawan Takil dan satu orang dewasa yang ternyata adalah tukang pukul kepercayaan keluarga Juragan Bakintal.


Saat yang sama, ketika perempuan itu terus saja menangis.


"Aku bersumpah! Siapa pun yang melakukan ini harus mati!"


Lelaki gemuk berperut bulat bak kendil air dengan kumis melintang itu berteriak keras. Dari pagi dia telah melarang putra semata wayangnya itu untuk tidak berkeliaran sebab akan banyak orang yang datang.


Pada awalnya Takil menurut, tidak setelah mendekati sayembara, diam-diam Takil pergi bersama dua kawannya.


Sebab terlambat _tidak datang dari pagi_ Takil hanya mendapat tempat paling belakang. Saat dia menemukan ide memanjat pohon ternyata Jaga Saksena mendahuluinya.


Sebenarnya Takil bisa mencari pohon lain. Tapi karena ia merasa lebih mulia, ia menghardik Jaga Saksena yang ia anggap manusia rendahan, dalit. Maka terjadilah apa yang terjadi.


"Ndoro ... maafkan kelalaian hamba bodoh ini!" Tukang pukul kepercayaan Juragan Bakintal, Jakala berlutut. "Andai hamba tidak ijin libur hari ini, semua ini tidak akan terjadi."


Jakala, seorang lelaki berbadan besar, otot berguratan bagai cacing merambat, bertelanjang dada dengan rambut keriting terkelabang itu benar-benar menyesal. Bukan sebab karena dirinya ijin untuk tidak menjaga rumah, tetapi karena saat kejadian sebenarnya ia berada tidak terlalu jauh. Hanya saja akibat terlalu semangat taruhan dia tidak memperhatikan sekitar apalagi bagian belakang.


"Jakala! Ini juga karena kesalahanmu. Jika kau tetap menjaga rumah, niscaya putraku tak bisa kabur!"


"Hamba siap menerima hukuman, Ndoro ...."


"Hukumanmu setelah kau berhasil membunuh pelakunya. Apa kau sudah tahu siapa pelaku pembunuh anakku?!"


"Untuk nama belum, Ndoro. Tetapi untuk ciri-cirinya, dua teman Den Bagus Takil masih mengingatnya, Ndoro."


"Cepat kau ke rumah Ki Ranawela, ajak dua teman putraku untuk menggambarkan sosok pelaku. Lalu kau sebarkan ke seluruh kerajaan. Woro-worokan siapa pun yang bisa menangkapnya hidup atau mati akan kuberikan dua ribu keping emas!"


"Baik, Ndoro ...."


Raden Bakintal memberikan sekantong kecil keping emas untuk membayar jasa Ki Ranawela nantinya.


Jakala menerimanya dengan sopan lalu mundur dalam posisi jongkok. Lelaki itu baru bangkit setelah dekat pintu keluar. Sama halnya dengan dua kawan Takil.


Ki Ranawela merupakan salah satu juru tulis keraton. Kediamannya pun berada di dalam tembok keraton.


Setelah meminta ijin pada penjaga gerbang keraton, Jakala dan dua kawan Takil langsung bergegas masuk menuju kediaman yang terletak jauh di bagian barat dalam tembok.


Rumah cukup besar dan megah yang adem sebab terbuat dari galih (inti_pen) kayu jati.


Tepat apa yang diperintahkan oleh Raden Bakintal, karena Ki Ranawela ada di kediaman. Lelaki tua itu tidak ikut menyaksikan berlangsungnya sayembara. Selain karena sudah merasa tua, yang bertugas mencatat hasil sayembara adalah juru tulis lain yang masih muda.