Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 110. Kemunculan Jaga



Raden Bakintal terus mengamuk dengan beranggapan,


'Dalit itu pasti bersembunyi di satu tempat, tidak mungkin dia hilang begitu saja!'


Maka amukan Raden Bakintal melebar ke segala arah bermaksud menyapu bersih area hutan. Ia tidak peduli jika semua pepohonan di hutan harus mampus, pun dengan hewan-hewannya.


Matahari tepat di atas kepala, Raden Bakintal mulai merasa galau.


'Jangan-jangan dalit itu benar-benar pergi. Atau dia bersembunyi di lubang bawah tanah?!'


Semakin Raden Bakintal menduga, semakin kesal nan dongkol hatinya. Hingga akhirnya,


'Sebaiknya aku mengintai tempat ini. Jika dalit itu bersembunyi pasti akan muncul nanti!'


Memutus demikian, Raden Bakintal melesat mencari pohon tertinggi. Bertengger di sana untuk mengawasi keadaan sekitar menggunakan teropong tunggalnya.


Matahari terus berjalan tak peduli pada apa pun jua yang terjadi di bumi. Kini dia telah sampai pada ufuk barat dan mulai berubah berwarna jingga bersiap memasuki tempat peraduannya.


Di bawah pohon besar yang akar-akarnya membentuk gua kecil, Jaga Saksena masih bertapa. Pemuda itu larut dalam perang di dalam tubuhnya sendiri. Menghancurkan racun dengan cara menggempurnya dengan tenaga dalam dan berusaha mendorong keluar lewat pori-pori.


Keringat berbau tak sedap cenderung busuk mengucur deras dari pori-pori Jaga Saksena. Terutama di kening, leher, tangan, punggung dan dada.


Jaga Saksena tidak kebal racun. Hanya saja dia diajarkan cara mengeluarkan racun dari jaringan dalam tubuh. Itu pun sangat memerlukan kosentrasi, tenaga dalam besar selain juga membutuhkan waktu lama.


Dan jika disaat proses penyembuhan diri Jaga ketahuan musuh, tamat sudah riwayatnya. Untung saja, Sang Guru mengajarkan sebuah ayat yang jika dibaca akan membutakan mata musuh terhadapnya. Membuat musuh tidak bisa melihat Jaga Saksena. Dan ini hanya bisa digunakan di waktu genting, di saat darurat. Maka tak heran Raden Bakintal tak bisa menemukan Jaga, bahkan saat Raden itu melesat di atas pohon di mana Jaga Saksena bersembunyi.


Malam pun merangkak melingkupi mayapada. Bulan tersenyum menggantikan tugas matahari menyinari bumi.


Malam yang tenang. Atau mungkin karena semua hewan di sekitar telah mati oleh racun ajian Raden Bakintal.


Tetapi tidak dengan pikiran dan hati Raden Bakintal yang terus gelisah. Sudah beberapa hari ia tidak melampiaskan nafsu bejatnya pada wanita. Ini membuat batang kemalu-annya terus saja berdiri tegak tak mau tidur.


Apalagi ketika dini hari tiba dan hawa udara mulai dingin menyergap, burung yang bersarang di ************ Raden Bakintal makin meronta-ronta.


'Dalit Keparat! Sampai kapan aku harus menunggunya!' gerutu hati Raden Bakintal masih duduk berdiam diri di atas pohon tertinggi.


'Atau jangan-jangan dalit hina itu sudah mampus?! Sebaiknya aku tunggu sampai matahari meninggi besok. Jika masih tidak muncul juga, aku akan pergi mencari wanita desa. Anuku bisa kesemutan jika terus berdiri sepanjang siang malam begini!'


Raden Bakintal akhirnya memutuskan untuk bertahan sampai pagi dengan terus mengawasi sekitar. Tak ada satu pun pergerakan yang ia lewatkan bahkan meskipun hanya ujung dahan kering bergoyang diterpa angin malam.


***


Pagi pun datang. Dengan seringai sinarnya, matahari menyapa permukaan bumi.


Jaga Saksena membuka mata, ia telah berhasil mengeluarkan semua racun dari dalam tubuhnya hingga tak tersisa. Kulit tangannya telah pulih, dadanya juga sudah plong, lega.


Sedikit lemas dan lesu segera menyergap Jaga akibat badan kotor dan seluruh tenaga dalamnya habis untuk membersihkan racun. Kini yang tersisa adalah kekuatan ruh.


Kekuatan ruh, selama pemiliknya terus berdzikir dalam hati maka tiada akan ada habisnya.


'Sudah pagi ternyata ... Dhuhur, 'Asar, Maghrib, 'Isya dan subuh. Celaka! Aku meninggalkan lima sholat fardhu! Ukh, bau sekali tubuhku! Aku harus lekas mandi dan ambil wudhu!'


Hal pertama yang diingat Jaga Saksena adalah kewajiban ritual hariannya. Segera ia merangkak untuk keluar dari gua kecil akar pohon, bermaksud hendak mencari air untuk mandi dan ambil wudhu untuk mengqodho sholat yang ia tinggalkan. Saat itulah Jaga teringat sesuatu,


'Raden Bakintal! Orang itu benar-benar tidak bisa menemukanku. Alhamdulillah. Semoga ia sudah pergi.'


Tiba di luar, Jaga Saksena segera berdiri mengedarkan pandangan mengawasi sekitar. Tidak ada yang aneh karena tempat di mana Jaga Saksena bersembunyi tidak teramuk oleh Raden Bakintal. Sebab ketika Raden itu mengejar Jaga Saksena, ia malah terus ke selatan sehingga melewatkan tempat persembunyian Jaga.


Jaga Saksena melenting ke atas ujung dedaunan pohon lalu melesat menuju ke arah sungai.


Di waktu yang sama. Jauh di selatan, Raden Bakintal yang hampir beranjak pergi menangkap pergerakan Jaga Saksena yang berlesatan di atas puncak dedaunan pepohonan hutan.


Nafsu birahi yang sudah di ubun-ubun, membuat Raden Bakintal benar-benar gelap mata gelap hati.


Wuss!


Raden Bakintal melesat.


*


Tiba di pinggir sungai, tanpa menanggalkan bajunya, Jaga Saksena langsung menceburkan diri menyelam ke dalam air yang cukup jernih.


'Alhamdulillah! Segaaarrrr!'


Jaga Saksena teringat masa-masa kecilnya kala dulu suka menyelam lama dalam air. Iseng Jaga Saksena mengulanginya sekaligus bernostalgia. Menyelam sambil menggosok daki.


Keisengan yang membawa keberuntungan, sebab membuat Raden Bakintal yang kemudian sampai di tepi sungai harus kembali kehilangan Jaga Saksena.


"Dalit Sontoloyo! Kemana lagi bangsat itu!" maki Raden Bakintal lalu hantamkan tangan ke arah sebuah batu besar di pinggir sungai.


Darrt!


Batu itu pecah berkeping-keping.


Keributan yang diperbuat Raden Bakintal membuat Jaga Saksena menyadari kedatangannya.


'Orang itu benar-benar keras kepala! Terpaksa aku harus menyingkirkannya, jika tidak dia akan menjadi pengganggu tugasku di kemudian hari.'


Memutuskan untuk menghabisi Raden Bakintal Jaga Saksena genjot kaki lesatkan tubuh ke udara.


"Rasaning Rasa!"


Jaga Saksena langsung hantamkan dua tinju hanya dengan menggunakan kekuatan ruh sebab tenaga dalamnya sudah habis terasa untuk mengeluarkan racun. Akan tetapi, ketika ia melepas ajian rasaning rasa,


'Kekuatan ini!' Jaga Saksena merasakan ada kekuatan lain di dalam pusat penyimpanan energi dan siap digunakan. 'Kekuatan petir yang kuserap! Aku akan mencoba menggunakannya nanti jika terdesak!'


Jaga Saksena cukup kaget sekaligus senang, sebab ia mengira energi petir yang ia serap lebur menjadi tenaga dalam. Pantas saja ia merasa tidak ada tambahan energi tenaga dalam waktu itu. Ternyata, energi petir tersimpan terpisah tersendiri.


GLARRTT! GLAARRR!


Dua energi pukulan Jaga Saksena menghancurkan tepian sungai. Sementara Raden Bakintal telah melesat menjauh sebelum terhantam ajian.


Sadar serangannya tidak mengenai sasaran, Jaga Saksena yang masih di udara kembali hantamkan dua tinjunya bertubi-tubi.


Wusss! Wusss! Wusssssh!


GLARRTT! GLARRTT! GLARRTT!


Pemandangan di area ledakan tertutup, akibat tanah berhamburan menyebar ke segala arah. Tepian sungai makin hancur menyisakan lubang yang segera teraliri air.


Jaga Saksena yang meluncur turun pancalkan telapak kaki ke air. Menggunakannya menjadi tumpuan untuk kembali melesat ke udara. Hanya saja kali ini melesat menjauh sembari mencari keberadaan Raden Bakintal.


"Di sana!"


Menemukan kelebatan musuh, Jaga Saksena kembali hantamkan tinju dan tapak bertubi-tubi melepas serangan Rasaning Rasa.


Pemuda itu benar-benar membombardir lawannya.


***