
Wushhhh ....!
Kobaran api kebiruan bagai bola api raksasa menukik tajam dari angkasa tinggi. Saking tingginya, tubuh kobaran api bulat itu kini memiliki ekor sehingga dikira bintang jatuh oleh orang-orang kerajaan Saindara Gumilang yang menyaksikan dari kejauhan.
Jaga Saksena mendongak ke angkasa. Matanya membulat lebar,
'Duh Gusti, ini serangan terakhirku. Jika aku kalah maka sesungguhnya aku adalah hambaMu yang hanya bisa berharap kepadaMu semata.'
Membatin dengan cepat, Jaga Saksena kini komat kamit satukan pikiran hati dan lisan untuk merapal Asma Sembilan dengan cepat,
"Ya Hayyu, Ya 'Aliyyu ...."
Menggabungkan Asma Sembilan dengan Rasaning Rasa Jaga dorongkan dua tangan ke atas.
Wwwuuuonngg ...!
Namun sesaat sebelum Jaga lepaskan serangan pamungkas, sekelebat bayang putih melesat sangat cepat melemparkan sebuah kendi besar ke angkasa.
Kendi meluncur ke angkasa menyongsong kobaran api berekor disusul oleh cahaya terang energi serangan Jaga Saksena.
Prakk! BUMMMMMMMMMM ...!
Ledakan luar biasa dasyat dan besar menerangi langit. Untuk sesaat mayapada terang benderang bagai siang.
Percikan api meluas seakan ingin membakar langit dan apa pun yang ada di bawahnya.
Udara bergetar hingga terasa ke kerajaan Saindara Gumilang, membuat semua orang yang masih terjaga tercengang.
"Jangan-jangan itu pertarungan Jaga Saksena!" seru seorang perwira yang masih berjaga di tembok barat.
"Jaga Saksena! Luar biasaaa!" sambar yang lain.
"Kau pasti menang Jaga!!" ada yang menyemangati meski tahu tak akan terdengar, setidaknya dia bermaksud baik, memberi dukungan pada orang yang berjuang demi kerajaan mereka.
Nama Jaga Saksena menjadi begitu sangat terkenal setelah beberapa kali Sungsang Gumilang mengenalkannya pada orang-orang.
Jauh di barat sana,
"Apa yang terjadi ....?!" Jaga Saksena bertanya pada diri sendiri sembari mendongak memperhatikan bekas tumbukan. Jaga merasakan keganjilan; tidak ada perlawanan berarti dari energi lawan.
"Percikan kembang api itu adalah Sundara Watu yang hancur berkeping-keping."
Jaga Saksena melihat ke sumber suara. Di sana, belasan tombak di sebelah kiri, sesosok berpakain juga berselempang putih tengah berdiri memperhatikan Jaga Saksena dengan seksama.
Menajamkan pandangan sebab malam kembali remang oleh sinar bulan yang tak utuh, Jaga bisa melihat sosok di sana adalah seorang lelaki tua.
"Alhamdulillah." Jaga Saksena mengucap syukur dengan sepenuh hati dan rasa, lalu berjalan menghampiri orang tua tersebut.
"Kakek yang melempar benda ke langit beberapa saat yang lalu?" tanya Jaga Saksena sopan setelah tiba di depan lelaki tua.
"Seharusnya dia," jawab lelaki tua menunjuk ke orang yang mendekat ke arah mereka berdua dengan cepat.
"Patih Sepuh?" Jaga Saksena mengenali lelaki tua yang datang.
"Benar, Den. Terimakasih telah berjuang untuk kami, untuk kerajaan kami. Jasamu akan kami kenang selamanya."
"Hahaha!" Lelaki tua berpakaian putih tertawa.
"Tentu, kami juga mengucapkan terimakasih luar biasa untukmu, Begawan."
"Siapa yang butuh ucapan terimakasih? Apalagi dia seorang anak muda," sindir lelaki tua berpakaian serba putih yang tak lain adalah Begawan Teja Surendra.
"Tentu ... tentu ... untuk hadiah, raja yang akan memberikannya." Ada senyum kecut di bibir Patih Sepuh Labda Lawana.
***
Sebelumnya, melihat keadaan yang telah genting, Begawan Teja Surendra menyambar kendi besar yang dibawa oleh Patih Sepuh Labda Lawana.
Untuk kekuatan, Begawan Teja Surendra memang jauh di atas sang patih.
Benar saja, di waktu yang tepat sekali, kendi besar yang dilemparkan oleh Begawan Teja Surendra menabrak tubuh Sundara Watu sehingga kekuatan kebal yang dimilikinya lenyap seketika. Daun tawa benar-benar membuat tawar kekebalan Sundara Watu sekaligus melemahkan ajiannya.
Maka ketika tumbukan dua energi terjadi, Sundara Watu harus kehilangan nyawanya. Tubuh hancur lebur oleh energi serangan gabungan milik Jaga Saksena.
*
Begawan Teja Surendra mendekat dua langkah ke hadapan Jaga Saksena. Matanya yang tajam telah melihat ciri-ciri yang ada pada pemuda tersebut dan sesuai.
Lelaki tua itu ulurkan tangan sembari berkata,
"Orang-orang memanggilku Begawan Teja Surendra."
"Hormat pada Begawan. Namaku Jaga Saksena." Menjabat hangat, Jaga turut kenalkan namanya.
"Begini, Sanak Jaga ...."
Melepas jabat tangannya, Begawan Teja Surendra menceritakan wisik yang ia dapat ketika menyepi di dalam tempat tinggalnya. Bahwa akan datang seorang pemuda dengan ciri-ciri yang persis terdapat pada Jaga Saksena.
"Jika aku ingin selamat sebelum dan sesudah kematian menjemputku, maka aku disuruh mengambil apa yang diberikan olehmu Sanak Jaga. Akan tetapi setelah aku mengamatimu dengan seksama, kau tidak mungkin akan memberikanku sesuatu berupa benda."
Jaga Saksena mendengarkan dengan seksama tak sedikit pun menyela perkataan sang begawan. Hingga ketika lelaki tua itu selesai bicara, Jaga tersenyum ramah berkata,
"Dengan senang hati, Begawan. Aku memang membawa sesuatu untukmu."
Terkesiap Begawan Teja Surendra, sama halnya dengan Patih Sepuh Labda Lawana.
"Jika Begawan berkenan, sekarang juga akan kusampaikan. Silahkan duduk."
Jaga Saksena mendahului duduk bersila di tempat itu juga diikuti oleh sang begawan. Sementara Patih Sepuh Labda Lawana mengernyit dahi sebelum dipersilahkan duduk oleh Jaga Saksena.
"Aku boleh mendengar percakapan kalian?" tanya sang patih setelah duduk. Pertanyaan yang telat tentunya.
"Kau sudah duduk baru bertanya!" dengus Begawan Teja Surendra sebelum melanjutkan, "Tentu saja boleh, aku tidak akan mengungkungi jalan keselamatan untukku seorang."
Mengawali dengan basmalah yang terasa asing di telinga dua orang tua tersebut, Jaga Saksena menyampaikan ketauhidan dalam islam.
"Sang Hyang Taya?!" tanya Begawan Teja Surendra ketika Jaga selesai menerangkan.
"Sang Hyang Taya, Sang Awang Uwung tan kena kinaya apa adalah Gusti Alloh Ta'ala. Laisa kamislihi Syai-un, tidak ada sesuatu pun yang serupa atau pun semisal Dia. Hanya saja, Gusti Alloh mengutus seorang manusia pilihan untuk menyampaikan tata cara bagaimana kita menyembahNya."
"Tata cara sembah Dia?!"
"Betul Begawan. Tata cara menyembah yang sumerambah untuk seluruh makhluk berakal di alam semesta."
"Jika begitu, ajari aku Sanak Jaga!"
"Jika boleh, aku juga Den Jaga." Patih Sepuh Labda Lawana turut meminta.
Pada dasarnya banyak sekali masyarakat Jawadwipa yang masih menyewijikan Sang Maha Pencipta (monoteism). Mereka mengenal bahwa Sang Pencipta yang mengatur segala kehidupan ini sebagai Sang Hyang Taya, atau ada juga yang menyebut dengan Sang Hyang Widi.
Akan tetapi bagi mereka Sang Hyang Taya ini tidak tersentuh baik oleh indra maupun pikiran. Sehingga mereka meminta pertolongan padaNya melewati sarana-sarana yang dianggap memiliki atau dititipi kekuatan olehNya, seperti leluhur, makhluk gaib dan lain sebagainya. Maka jika mereka memiliki tujuan bedar, biasanya akan meminta bantuan leluhur yang sudah mati sejak lama bahkan meminta bantuan jin merkayangan yang bersemayam di batu atau pun patung juga pohon-pohon besar.
Dari sinilah kegelapan Jawadwipa terbentuk. Sehingga kekuatan jin merkayangan begitu kuat, mampu membunuh manusia dengan mudah. Tak sedikit dari manusia yang menjalin persekutuan dengan jin merkayangan demi memperoleh kesaktian, kekayaan, kedudukan ataupun untuk memperoleh wanita.