
Cukup lama Raja Basukamba menanyai semua keluarga Asta Brajadaka satu persatu. Dan keluarga itu beruntung sebab tidak ada yang dieksekusi mati saat itu juga.
"Mengingat Asta Brajadaka telah mengabdi padaku sekian lama, sekarang kalian tentukan hukuman untuk kalian sendiri!"
"Ampuni kami, Yang Mulia!" Sriwerdani mencium kaki Raja Basukamba.
"Dengan tidak menghukum mati kalian semua apakah itu bukan sebuah pengampunan?! Tentukan hukuman kalian sendiri!"
Isak tangis keluarga Asta Brajadaka pun pecah. Hingga akhirnya dengan berat hati Sriwerdani memutuskan hukumannya sendiri yaitu pergi dari kerajaan Saindara Gumilang saat ini juga dengan hanya membawa pakaian yang menempel di badan. Ini adalah hukuman teringan pada keluarga pemberontak yang berlaku di Kerajaan Saindara Gumilang.
Dengan isak dan berderai air mata, keluarga besar mendiang Senopati Asta Brajadaka yang tak kurang dari tiga puluh orang berjalan ngesod keluar ke halaman.
Jdart!
Wsssss!
Petir menggelegar, dan hembusan angin kencang disertai hujan menyambut mereka.
"Mohon maaf Yang Mulia Raja, apakah ini tidak menanam bibit musuh di kemudian hari?!" tanya Tumenggung Wiryateja sedikit menyayangkan keputusan sang Raja yang tidak membunuh mereka semua.
"Mereka sudah seperti keluargaku sendiri. Kuharap ini bukan keputusan yang salah ...." desah Raja Basukamba.
Tumenggung Wiryateja hanya diam. Tentu tak berani lagi mempertanyakan keputusan sang raja.
Sesaat kemudian,
"Bawa semua harta selain bahan makanan dan perabotan ke istana raja!" Raja Basukamba memerintah sebelum kembali bergegas untuk melanjutkan pembersihan pemberontakan.
Raja Basukamba dan rombongan langsung menuju istana kesenopatian Pradana Nararya, atas permintaan Putri Anesha Sari, pasukan kesenopatian Asta Brajadaka dilewatkan karena telah dijanjikan pengampunan sepenuhnya.
Tiba di istana kesenopatian Pradana Nararya semua anggota keluarga besar dikumpulkan.
Mendiang Senopati Pradana Nararya memiliki satu istri utama dan lima orang selir. Anak-anak mereka masih kecil. Yang tertua baru berumur lima atau enam tahun.
Tak bertanya apa pun setelah semua keluarga tersebut dikumpulkan, Raja Basukamba langsung memberi titah,
"Bunuh mereka semua!"
Crass! Crass! Crass!
Prajurit lingkar istana membunuh dengan cepat dengan memenggal kepala. Meski hati mereka tidak tega tapi memang ini harus dilakukan karena jika tidak, sama saja menebar bibit pemberontakan kembali di masa depan.
****
Hari telah sangat gelap padahal jika tidak hujan badai, sebenarnya matahari baru masuk ke dalam peraduannya.
Raja Basukamba tiba di istana raja dengan membawa banyak sekali harta bahkan juga budak-budak wanita. Ini membuat Permaisuri Mahiswari dan para selir gelisah.
Sebelum ada budak-budak wanita saja mereka mendapat jatah enak-enak hanya sepekan sekali, apalagi jika banyak budak. Mereka tak bisa bayangkan, mungkin jatah akan molor menjadi sebulan sekali.
"Bagaimana ini, Permaisuri?!" tanya salah satu selir dengan suara gelisah.
Antara selir dan Permaisuri memang dekat, itu karena sifat Permaisuri Mahiswari yang sangat baik hati, menganggap para selir sebagai saudara sendiri.
Setelah berdiam diri beberapa lama, Permaisuri Mahiswari berkata lembut, "Adinda Saraswati, kau suruh putramu untuk menemui Begawan Teja Surendra. Kuharap begawan yang cerdik pandai itu bisa memberi jalan keluar permasalahan ini."
Kabar Begawan Teja Surendra yang tinggal di istana memang telah menyebar luas, dan tentu anggota keluarga raja senang hati mendengarnya. Dan terbukti, mereka segera menemukan manfaat atas keberadaan sang begawan.
***
Glarr ...! Ctarrr ...!
Perwira itu membawa payung kain besar yang sesekali hampir terhempas oleh kencangnya tiupan angin.
"Urusan begini ... sebenarnya aku malu untuk bertanya, tetapi bagaimana lagi. Kemaluanku kalah oleh rasa baktiku!" gumam si pemuda sembari terus berjalan cepat tidak pedulikan payung yang tak lagi menaunginya.
'Sial! Kencang sekali anginnya!' gerutu hati si perwira kerahkan tenaga dalam untuk menahan agar payung tidak terlontar.
Berjalan beberapa lama pemuda dan pengiringnya tersebut berhenti di depan sebuah rumah panggung.
Naik ke emper, si pemuda hendak mengetuk pintu ketika tetiba daun pintu terbuka dari dalam.
Pemuda itu terkesiap, 'Sakti sekali, dia tahu ada yang akan datang!' batin si pemuda.
Saat yang sama, pembuka pintu yang tak lain adalah Begawan Teja Surendra membatin,
'Siapa pemuda ini? Mengganggu saja. Ini waktunya aku untuk menuntut ilmu!'
Meski tidak suka, Begawan Teja Surendra tak urung mempersilahkan masuk dan duduk.
"Namaku Yoga Mandala, Begawan. Aku putra Selir Saraswati." Si pemuda memperkenalkan diri dan dijawab anggukan.
Bagi Begawan Teja Surendra putra mahkota sekali pun tidak terlalu penting. Sehingga ia menyikapi biasa saja sebagaimana menyikapi orang lain.
"Kedatanganku ...."
Sedikit menahan malu Yoga Mandala mengutarakan keperluannya dengan singkat tetapi sangat jelas.
Begawan Teja Surendra menghela napas, membatin,
'Aku saja belum punya istri, malah disuruh kasih jalan keluar masalah ruwet begini!'
Melihat Begawan Menghela napas, Yoga Mandala mengambil kesimpulan masalah ini memang benar-benar pelik. Sehingga Begawan Teja Surendra menghela napas panjang akibat berat memikirkan jalan keluarnya.
Menurut kebiasaan leluhur yang diketahui Begawan Teja Surendra, tidak masalah seorang raja memiliki banyak selir atau budak. Itu suatu hal yang wajar. Justru menjadi masalah adalah jika tidak memperbolehkan seorang raja punya selir atau budak wanita banyak.
Tidak menemukan jalan keluar yang sekira pas, akhirnya Begawan Teja Surendra bangkit sembari berkata,
"Begini saja, sebaiknya kalian ikut denganku."
Yoga Mandala mengerut dahi tetapi tidak berani membantah. Seorang cendekiawan memang kadang nyeleneh, berlaku tidak wajar dan sulit ditebak, sehingga mungkin saja jalan keluar akan diberikan di tempat lain atau dengan cara lain.
"Baiklah Begawan. Aku akan mengikutimu."
Tak lagi berkata apa pun, Begawan Teja Surendra membawa Yoga Mandala dan ajudannya menemui Jaga Saksena.
Jaga Saksena yang sudah menunggu kedatangan Begawan Teja Surendra segera mempersilahkan lelaki tua itu masuk.
Di dalam rumah tidak ada orang lain kecuali Sungsang yang sedang rebahan merem-melik di atas dipan di sudut ruangan, tidur ayam. Sedangkan putri Anesha Sari telah pulang ke kediamannya sejak sore hari. Hujan deras baginya bukanlah halangan. Dengan kekuatannya, Anesha Sari mampu menyingkirkan air hujan agar tidak mengenai pakaian dan tubuhnya.
Memasuki ruangan tamu lalu duduk di kursi, Yoga Mandala tidak habis pikir kenapa Begawan Teja Surendra mengajak dirinya menemui Jaga Saksena.
'Kenapa kami malah di bawa menemui Jaga Saksena? Sungguh perbuatan Begawan Teja Surendra sulit ditebak! Lagi, Jaga Saksena masih muda belum pernah berumah tangga. Meski dia pahlawan yang mampu membunuh Sundara Watu, tahu apa dia masalah begini?!'
Yoga Mandala tidak habis pikir, tetapi bagaimana pun dirinya hanya berani mempertanyakan dalam hati saja.
*
To be continued