
Menyadari dirinya lemah dalam pertarungan jarak dekat sebab lawan gunakan racun, Jaga Saksena berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk tetap menjaga jarak sembari terus luncurkan pukulan jarak jauh berlambar ajian Rasaning Rasa. Baik dari darat mau pun ketinggian dengan terlebih dahulu mencelat ke udara.
Lubang-lubang akibat hantaman ajian terus sambung menyambung dan terisi air. Kini sungai perlahan berubah menjadi danau.
Meski begitu, Raden Bakintal masih bugar. Ia bisa menghindar setiap serangan dengan berkelebatan cepat memanfaatkan muncratan tanah dan air yang menutupi pandangan.
Jika Jaga Saksena punya strategi maka demikian pula Raden Bakintal. Raden itu berpikir untuk terus memancing Jaga Saksena melepaskan serangan ajian agar lama-kelamaan kehabisan tenaga dan lemas. Kemudian Raden Bakintal akan menyergapnya.
Raden Bakintal memang tidak tahu bahwa Jaga Saksena bisa terus mengeluarkan ajian tanpa akan kehabisan energi sebagaimana ketika Jaga melawan Sundara Watu. Ketika kejadian itu Raden Bakintal sedang pergi ke Padepokan Sanca Hitam, dan tatkala pulang ia sudah tidak lagi mau mendengar kisah kepahlawanan karena meyakini sepenuhnya bahwa dirinyalah pahlawan perkasa yang sebenarnya. Tak terkalahkan di ranjang, tak terkalahkan di medan pertempuran.
'Ini tidak sangkil!' seru Jaga Saksena dalam hati karena serangannya masih terus bisa dihindari.
Jaga Saksena pun melesat di atas pucuk pepohonan lalu melesat ke pucuk pepohonan lain. Bergerak menjauh sambil berpikir cara yang jitu untuk mengalahkan lawan. Saat itulah ia mendapat ide untuk mengadu ajian.
'Aku harus pancing dia menyerang dengan ajian jarak jauh!'
Jaga Saksena terus melesat hingga ketika dirasa telah jauh meninggalkan medan pertarungan, Jaga Saksena menoleh untuk memastikan apakah lawan mengejarnya atau tidak.
'Sesuai rencana, dia mengejarku!' Jaga Saksena tersenyum kecil sebelum tiba-tiba membelok ke kiri untuk memutari lawan sembari kerahkan pukulan Rasaning Rasa bertubi-tubi.
Apa yang dilakukan Jaga Saksena berhasil membuat Raden Bakintal kaget. Ia tak menduga musuh akan berlari memutarinya.
Masih dalam lajunya, Raden Bakintal lakukan gerakan tangan rumit sebelum dorongkannya ke depan.
"Semburan Cinta Malam Pertama!"
Swooongg ...!
Ajian Semburan Cinta Malam Pertama adalah ajian yang lebih kuat satu tingkat di atas ajian Semburan Cinta Gila yang pernah digunakan oleh Nyai Kinasih (lihat bab 165_pen).
Energi tipis mirip seperti riak air transparan tetapi berwarna hitam membentuk kepala ular menganga menunjukkan taringnya melesat, menyongsong serangan Jaga Saksena.
Brassss!
Betapa kaget Raden Bakintal sehingga buru-buru buang badan masuk ke dalam hutan sebab ternyata tak terjadi tumbukan energi. Serangan Jaga Saksena bablas menembus kepala ular jadi-jadian dari ajiannya.
Di ujung sana, Jaga Saksena yang tengah berlesatan memutar juga terkaget. Bukan sebab akan terkena serangan, karena posisinya yang terus berlari melingkari Raden Bakintal menjadikannya aman. Jaga Saksena terkaget oleh serangan ajian Raden Bakintal yang mengingatkan Jaga pada wanita yang hendak membunuhnya di kerajaan beberapa hari lalu.
'Raden Bakintal dan wanita itu pasti memiliki keterkaitan, ajiannya mereka berdua ada kemiripan. Aku akan menyelidikinya nanti!' batin Jaga Saksena untuk menepis pikirannya agar bisa kosentrasi menghadapi lawan. 'Ulet sekali orang ini, dia masuk ke dalam hutan!'
Jaga Saksena terus melaju dengan kecepatan tinggi kali ini lurus ke selatan mencari tempat terbuka untuk memancing Raden Bakintal.
Dalam larinya Jaga Saksena bisa melihat area luas yang pepohonannya mati mengering. Itulah area yang diamuk oleh Raden Bakintal tadi malam.
Tak sia-sia, ketika Jaga berhasil melewati hutan, di hadapannya kini terbentang padang rumput ilalang luas. Akibat musim kemarau yang cukup panjang, rerumputan mulai mengering. Hanya rumput kuat yang masih bertahan.
***
Matahari tepat di atas kepala ketika Jaga Saksena berdiri di tengah padang rumput yang luas. Semilir angin siang menerbangkan rambut panjangnya. Demikian juga baju yang telah lama kering oleh terpaan angin dan panasnya matahari.
Tak lama menanti, yang ditunggu pun muncul dengan kecepatan penuh menuju Jaga Saksena.
'Saatnya mencoba kekuatan petir, akan kugabungkan dengan Rasaning Rasa!'
Jaga Saksena menyiapkan diri. Kali ini Jaga berencana menyerang ketika Raden Bakintal cukup dekat sehingga serangannya tidak mudah dihindari.
Raden Bakintal dalam larinya tersenyum, mengira Jaga Saksena menantangnya baku hantam jarak dekat.
Hanya tinggal lima belas tombak Raden Bakintal lentingkan tubuh ke udara hendak menyerang dengan jurus andalannya,
"Amukan Seribu Ular!"
"Rasaning Rasa!" Jaga Saksena juga teriakkan ajiannya.
"Curang!" teriak Raden Bakintal memancal udara untuk membuang diri. Namun ....
Jdarrt!
"Arghh ...!"
Raden Bakintal bisa menghindari energi pukulan tetapi tidak dengan lidah petir yang menjulur menyambar tubuhnya.
Raden Bakintal menjerit kesakitan. Elemen petir ternyata cukup ampuh menghajar seorang yang memiliki energi dari kegelapan.
Melihat serangannya berhasil, Jaga Saksena membeliak mata tak percaya. Tapi ini bukan waktunya untuk tidak percaya.
Jaga Saksena mencelat ke udara.
"Hea ya ya ya ya ...!"
Berteriak, Jaga Saksena membombardir Raden Bakintal dengan ajian Rasaning Rasa bertubi-tubi. Maka terjadilah ledakan-ledakan berturut-turut diiringi sambaran petir terus menerus disertai suara lolongan kesakitan.
Getaran ledakan menjalar sampai jauh. Kepulan tanah, debu dan rumput membumbung tinggi bagai jamur raksasa menjulang ke angkasa.
Ketika Jaga Saksena mendarat kaki, seketika itu pula ia mencelat ke udara untuk kembali lancarkan serangan bertubi-tubi. Jaga Saksena benar-benar tak ingin musuhnya bisa selamat kali ini.
Tak terasa, Jaga Saksena terus terdorong ke belakang akibat daya kejut ledakan, dan seluas itu pula ia menciptakan lubang cekung nan dalam.
Hingga akhirnya, ketika energi petirnya telah habis terkuras habis, Jaga Saksena hentikan serangan.
"Huffh ...."
Jaga Saksena mengusap peluh yang menetes dari kening.
"Semoga malaikat Izrail telah mencabut nyawanya," gumam Jaga Saksena sambil menunggu kepulan debu luruh ke tanah karena dirinya harus memastikan apakah Raden Bakintal sudah tewas atau belum.
Sekitar seperempat jam lamanya Jaga Saksena menunggu, akhirnya semua tanah, debu dan rumput kering telah lereb ke tanah seluruhnya.
Jaga Saksena berlari menuruni lubang cekung besar nan dalam untuk mencari potongan atau apa pun dari tubuh Raden Bakintal.
'Jika pun ada jasadnya, mungkin akan tertimbun oleh luruhan tanah dan debu!' batin Jaga Saksena ketika tak melihat mayat Raden Bakintal.
Jaga Saksena terus mencari. Menggunakan ujung kaki ia mengais gundukan-gundukan yang mencurigakan.
Hingga Jaga Saksena menemukan satu gundukan yang sangat mencurigakan.
Gunakan ujung kaki kanannya Jaga menyingkirkan tanah. Tiba-tiba ....
Tep!!
Brall!
Sebuah tangan mencekal kuat pergelangan kaki Jaga Saksena diiringi keluarnya sosok Raden Bakintal yang telah gosong sepenuhnya, pakaiannya juga telah menjadi debu hingga lelaki itu telanjang bulat!
Kaget dan tidak mau menggunakan tangannya, refleks Jaga Saksena menyambar kapak batu di pinggang. Alirkan kekuatan ruh ke kapak, sebelum tubuhnya terjatuh akibat kaki diangkat, Jaga babatkan kuat kapak di tangan.
Craks!
"Arghh ... Ghorrrr ...!"
Bilah kapak batu menyambar leher, tepat di bawah jakun Raden Bakintal. Lolongannya pun berubah menjadi dengkuran kematian bersama darah yang menyembur dari tenggorokan.
Bersamaan dengan itu, Jaga Saksena yang terjatuh berguling-guling menjauh.
***