Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 60. Penyelidikan



Menindaklanjuti kecurigaannya pada bu dak dewasa yang dilelang. Malam harinya, pemuda berpakaian serba merah mengendap-endap di atas atap sirap sebuah bangunan.


Atap sirap terbuat dari galih kayu pilihan, biasanya kayu besi. Kayu yang tahan atas terpaan oanas dan air hujan sehingga awet hingga puluhan bahkan ratusan tahun.


'Aku tidak tahu apakah aku akan mendapat petunjuk berarti, yang jelas daripada aku menyelidik ke Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung,' batin pemuda serba merah sembari mendekam di atas atap. Sebab kali ini, ia akan mengintai sepanjang malam untuk membuktikan apakah kecurigaannya benar atau hanya sebatas dugaan tak beralasan.


Si pemuda serba merah alias Pendekar Merah mencurigai sebagian bu dak yang dijual adalah para pendekar rekrutan yang sengaja ditempatkan di berbagai rumah-rumah orang kaya. Mungkin saja untuk menggasak harta mereka atau ada tujuan lain yang lebih besar.


Pendekar Merah mengaitkan langkah menyusupkan para pendekar ini dengan rencana Ketua Kelompok Pemburu Bu dak Gunung yang sempat disebutkan _telah mencapai lima bagian dari sepuluh_ oleh anak buahnya di kedai beberapa hari lalu.


Waktu terus berjalan, malam pun makin larut.


Dini hari akhirnya datang menyelimutkan dingin ke mayapada, membuat Pendekar Merah mengerahkan tenaga dalam untuk mengusir dingin serta kantuk yang menyerang.


'Ah ... sebentar lagi ayam jago berkokok tetapi tidak ada satu apa. Bisa jadi aku terlalu dini mengintai. Mungkin harusnya kulakukan besok malam. Eh ... apa itu?!'


Ekor mata Pendekar Merah menangkap sekelebat bayangan keluar dari dalam rumah.


Tak berpikir dua kali, Pendekar Merah segera mengikuti sosok tersebut.


Lama mengikuti, Pendekar Merah mendapati sosok itu masuk ke dalam gerbang Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung.


Pendekar Merah pun berhenti di bawah sebuah pohon cukup besar dekat gerbang.


'Benar dugaanku, itu bu dak yang kemarin diperjualbelikan. Apa sebenarnya yang tengah mereka rencanakan?'


Tengah bertanya-tanya dalam hati, Pendekar Merah tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah bentakan,


"Siapa itu!!"


"Kuuciing ...! Ups ...!"


Pendekar Merah tidak tahu jika malam, Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung memiliki tambahan penjaga yang mengintai di beberapa titik di atas pohon.


"Keparat! Ada penyusup!!" memaki, penjaga tersebut berteriak memberitahu kawan-kawannya.


Serentak para penjaga yang ada di gerbang berlari untuk mengepung. Demikian juga yang berada di atas pohon, mereka segera turun.


Tak ingin membuat keributan, Pendekar Merah kebutkan dua tangannya.


"Petak Halimun Abang!"


Bushh!


Kabut merah tetiba muncul dan meluas dengan cepat menutupi pandangan orang-orang yang hendak mengepungnya.


"Tahan napas! Mungkin ini asap beracun!" teriak salah satu penjaga memperingatkan sambil mundur menjauh.


Tetapi tidak dengan para penjaga lain, mereka menahan napas tetapi tetap mencari keberadaan penyusup dengan golok terhunus.


"Sial! Ke mana orang itu?!"


Hingga kabut merah menipis dan akhirnya hilang, mereka tak menemukan sosok yang mereka cari. Penyusup itu bagai hilang ditelan bumi.


"Aku akan lapor pada Ketua!"


Tak bisa menemukan yang mereka cari, salah satu di antara penjaga bergegas masuk ke dalam untuk melapor.


***


Dua hari melakukan perjalan, Jaga Saksena siang ini tiba di depan gerbang Kerajaan Saindara Gumilang.


Pemuda itu mendongak, menatap tingginya tembok. Namun pikirannya mengenang peristiwa tujuh tahunan yang lalu di mana untuk masuk ia harus membayar dengan sebuah kuda. Belum lagi, setelah masuk ternyata di dalam sana yang ada hanyalah permasalahan.


Kini pikiran Jaga menampilkan sosok dua orang yang demi menolongnya, mereka berdua rela mati.


'Paman Rawal, Paman Balkhi Supekok, aku takkan pernah melupakan kebaikan kalian berdua. Dan semoga kalian termasuk orang-orang yang mendapat pengampunan dan rahmat kasih sayang dari Gusti Alloh di akhirat kelak ....'


Jaga berharap dalam hati, karena sesuai yang diajarkan oleh sang guru. Bahwa orang-orang yang masih memegang teguh tauhid dalam kepercayaan lama dan belum mendapat pembaharuan Islam akan mendapat ampunan serta rahmat dari Gusti Alloh ta'ala.


"Hwoi, Kisanak Muda! Kau sedang apa?!"


Terlalu lama berdiri sembari mendongak, Jaga Saksena diteriaki oleh seorang penjaga gerbang bagian bawah.


Saat-saat damai seperti ini pintu gerbang kerajaan selalu dibuka, kecuali jika malam hari pintu gerbang baru'lah ditutup. Meski dalam keadaan damai, penjaga gerbang selalu lebih dari enam orang. Beberapa berjaga di bawah dan sebagian di atas.


"Tunjukkan tanda pengenalmu!" perintah prajurit penjaga.


"Tanda pengenal?!" tanya Jaga tak mengerti.


"Ya, seperti ini."


Prajurit itu menunjukkan sebuah lencana keprajuritan.


"Atau semacamnya!" lanjut sang prajurit.


"Hahaha kau pasti tidak punya?!" sergah prajurit lain karena Jaga Saksena hanya diam.


"Benar, Paman. Aku tidak punya tanda pengenal. Tetapi aku ingin masuk ke dalam kerajaan. Aku hendak mencari seseorang."


"Ah itu urusanmu mencari apa atau siapa. Urusan kami adalah harus memeriksamu."


Dua orang prajurit mendekat lalu memeriksa tubuh Jaga Saksena.


Tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, dua prajurit yang memeriksa saling pandang lalu mengangguk.


"Kau boleh masuk, hanya saja kau harus berikan dua keping emas pada kami!" ujar salah satu prajurit tegas.


"Dua?!" Jaga Saksena cukup kaget.


"Betul. Dan itu sangat murah. Karena kau bisa jadi adalah mata-mata yang dikirim untuk mengawasi kerajaan ini."


"Mata-mata?"


"Ya, teliksandi!"


Jaga Saksena menggaruk kepalanya yang tak gatal sebelum berkata dengan menunjukkan mimik wajah bodoh,


"Lihat, Paman. Apakah ada raut muka seorang teliksandi diwajahku ini?! Bagaimana kalau satu keping emas saja, Paman?"


Jaga Saksena mengacungkan satu keping emas sembari tersenyum mempersilahkan untuk diambil.


"Dasar pemuda kere! Cepat masuk sana!" bentak salah satu prajurit sembari menyambar keping emas di tangan Jaga Saksena.


"Terimakasih, Paman!"


"Ingat! Jangan buat onar! Jika tidak ingin di penjara!"


"Siap, Paman!"


Jaga Saksena menjura hormat sebelum berjalan memasuki gerbang.


Sepeninggal Jaga,


"Adi Parna, apa kau tidak mengingat sesuatu?" tanya prajurit yang menyambar keping emas Jaga Saksena.


"Apa, Kakang Kadang?"


"Senjata yang dibawa anak muda itu!"


Mendengar pembicaraan Parna dan Kadang beberapa prajurit lain ikut nimbrung.


"Kapak batu!?"


"Enam atau tujuh tahun lalu, bukankah pernah menjadi buron?!"


"Iya betul!"


Segera mereka teringat peristiwa lama tersebut. Di mana seorang bocah dalit telah menggegerkan seisi kerajaan.


Mereka memang bukanlah penjaga gerbang yang dulu menerima kuda dari Jaga Saksena. Karena para prajurit yang berjaga di gerbang biasanya adalah prajurit kelas rendah. Sementara setiap setahun atau dua tahun akan ada kenaikan pangkat keprajuritan.


"Sungguh hebat! Ternyata dia bisa lolos kala itu, padahal kudengar dia telah tertangkap. Tapi sungguh, kenapa dia begitu bodoh? Seharusnya dia membuang senjatanya itu agar tidak mudah dikenali!"


"Kasihan dia, jika Raden Bakintal atau para pendekar bayarannya tahu, pasti dia akan diburu lagi seperti dahulu."


Mereka terus membicarakan Jaga Saksena meski sosok Jaga telah hilang di ujung jalan sana.