Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 119. Duel Dua Saudara



Tak menemukan apa pun, Kama Kumara segera melesat turun untuk menemui para prajurit yang berjaga di gerbang kediaman Selir Saraswati.


"Kalian semua! Cari keberadaan Saraswati dan Yoga Mandala! Seret mereka ke hadapanku!"


Meski terkejut dan tidak mengerti apa yang tengah terjadi, para prajurit menjawab patuh,


"Sendiko dawuh Yang Mulia Maha Raja!"


"Tungu! Tunggu!" bentak Kama Kumara ketika para prajurit hendak pergi, "Langsung bunuh dan penggal kepala mereka! Satu kepala 500 keping emas untuk kalian yang berhasil membawanya kepadaku! Sampaikan juga pada prajurit lain! Cepaaaaaat!!"


"Sendiko dawuh Yang Mulia Maha Raja!"


Kama Kumara memandang para prajurit yang pergi menyebar ke segala arah lalu berkata sendiri, "Sekarang sebaiknya aku mencari Trengginas. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri! He he he he!"


***


Trengginas yang kabur ketika dua kakangdanya dibunuh di depan mata kepalanya tidak tahu harus berlindung pada siapa kecuali pada sang adik, Anesha Sari.


Meski paling bontot, Anesha Sari dianggap paling sakti dan pasti dia akan berani melindungi saudara kandungnya.


Trengginas terus berlari bahkan menerabas para penjaga gerbang kediaman Anesha Sari dan sekarang terengah-engah ia berdiri di depan pintu utama kediaman adiknya.


"Host ... Host ...!"


Thok!Thok!Thok!


Tak kuasa memanggil Trengginas hanya mengetuk pintu.


"Pangeran!"


"Hwoseso!" kaget Trengginas kala ada suara memanggil dari belakang, rupanya seorang prajurit jaga yang menghampirinya.


"Pangeran kenapa?!"


Masih terengah-engah, Trengginas memberi isyarat untuk masuk.


"Oh baik, Pangeran!"


Prajurit itu membantu mengetuk pintu sembari memanggil Putri Anesha Sari. Tak lama terdengar langkah kaki mendekat lalu membukakan pintu. Seorang pelayan wanita mempersilahkan masuk,


"Silahkan Pangeran, Tuan Putri tengah bersiap—"


Wusd!


Tak mau menunggu ucapan pelayan selesai, Trengginas langsung berlari masuk.


"Ada apa dengan Pangeran Trengginas?!" Pelayan wanita itu menggaruk jidatnya sendiri.


"Mana kutahu, Mbok ...." Prajurit menjawab sebelum membalik badan kembali ke gerbang.


Di dalam kamarnya Anesha Sari yang mendengar suara kaki berlari mendekat segera bangkit menuju pintu dan membukanya.


"Kakangda Trengginas?! Ada apa?!"


"Hosst ... Hosst ...!"


Pertanyaannya hanya dijawab suara ngos-ngosan, Anesha Sari memperhatikan raut wajah Trengginas yang ketakutan juga memutih pucat pasi.


"Mbook ...! Ambilkan air minum!" teriak Anesha Sari pada pelayan wanita yang terlihat di ujung ruangan sana.


"Njih Tuan Putri ...!"


"Kakangda, atur napasmu dan tenangkan dirimu. Lalu ceritakan apa yang terjadi."


"Uuuff ...!" Trengginas menarik napas panjang lalu duduk di lantai menyandarkan tubuh pada dinding dan selonjorkan kakinya yang terasa pegal.


Anesha Sari hanya memperhatikan kelakuan Trengginas. Ia tidak mempermasalahkan seorang anak raja duduk di lantai.


Sedikit reda, Trengginas kemudian berkata, "Kakangda ... Kama Kumara ...."


"Iya, kenapa dengan Kakangda Raja?"


"D-dia ... Uuffff ...!" Trengginas kembali menghirup udara panjang. "Dia mau membunuhku!"


"Hah?!"


Trengginas menyambar kendi hitam itu lalu menenggaknya langsung.


Glek! Glek! Glek!


Jarak istana raja ke kaputren kediaman Anesha Sari memang cukup jauh. Bagi seorang Trengginas yang belum menguasai tenaga dalam, dan berlari dalam keadaan takut serta tidak menyangka kakangdanya akan sebegitu tega, itu adalah jarak yang sangat jauh hingga membuat tenggorokannya kering kerontang serta dada serasa mau pecah.


***


Malam terus merayap, Anesha Sari yang telah mendengar cerita lengkap dari Kakangdanya, Trengginas, bahwa Kama Kumara telah membunuh Tama Wijaya dan Taha Tusta harus masuk ke kamarnya untuk bersiap. Kesedihan, kemarahan, ketidak percayaan harus dikesampingkan. Karena ini adalah perang! Perang melawan orang yang telah membunuh orang tuanya dan juga dua kakang kandungnya.


Ya, saat ini, Anesha Sari tidak lagi memandang Kama Kumara selain sebagai seorang belis yang harus dimusnahkan!


"Dia telah benar-benar menjelma menjadi sosok belis jahat nan bejat. Aku harus persiapkan diri!"


Dengan mata berkilat, Anesha Sari mengenakan pakaian tempurnya. Pakaian ringkas tebal dipadu celana panjang dengan alas kaki kulit kerbau hitam.


Pisau bukan hanya terselip di dua lengan Anesha Sari, tetapi juga pada dua kaki serta berderet pada sabuk kain tebal di pinggang. Rambutnya terikat ringkas ke belakang tidak lagi tergerai lepas.


Ketika Anesha Sari keluar dari kamar, Trengginas segera menyambut,


"Adinda! Setelah kupikir-pikir, apakah tidak sebaiknya kita lari saja?! Kalah atau menang pertarungan antar saudara hanya akan membuat nama keluarga kita makin buruk di mata rakyat."


"Tak ada tempat untuk lari. Lagi, aku sudah bersumpah untuk membalas kematian ramanda dan byungda!" Anesha Sari menjawab sambil berjalan ke ruang depan.


"Maksudmu?!" tanya Trengginas membuntuti.


"Aku sudah menyelidiki siapa dalang pembunuh ramanda dan byungda."


"Lalu?!"


"Kakangda Kama Kumara bukan lagi yang kita kenal, dialah dalangnya!"


"A-apa?!"


Kaget bukan main Trengginas hingga hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Ketika keduanya tiba di ruangan depan,


Brruakk!


Daun pintu utama kediaman Anesha Sari melayang oleh sebuah tendangan sebelum menghempas meja dan kursi di tengah ruangan.


"Sudah kuduga kau bersembunyi di sini Trengginas! Ha ha ha ha!"


Melihat siapa yang berdiri berkacak pinggang di depan pintu sambil tertawa bergelak, Anesha Sari segera berkata pada Trengginas,


"Kakangda, cepatlah cari tempat aman. Aku tidak ingin kau mati sia-sia di sini. Kerajaan ini harus ada penerus!"


"Tapi, bagaimana aku akan meninggalkanmu seorang diri?!"


"Cepatlah sebelum terlambat!!" bentak Anesha Sari sembari maju ke depan beberapa langkah lalu berkata lantang,


"Kama Kumara! Kau bukan lagi saudaraku. Kau hanyalah belis biadab yang harus dimusnahkan dari muka bumi!"


Dibentak, Kama Kumara melangkah masuk dengan tenang sembari berkata tanpa beban,


"Tadinya aku hanya ingin membunuh Trengginas. Tetapi sepertinya sekarang aku juga harus membunuhmu, Anesha Sari!"


"Mari kita bertarung di luar!" tantang Anesha Sari mencoba mengulur waktu agar Trengginas bisa kabur.


"Oh tentu! Biar mereka menyaksikan san tahu bahwa aku bukanlah Kama Kumara yang dulu!"


Kama Kumara terpancing, ia melesat keluar menuju tengah halaman. Sebagai seorang yang baru memiliki kekuatan, Kama Kumara ingin pamer, menunjukkan bahwa dirinya bukan lagi seorang Kama Kumara yang lemah.


Di tengah halaman, di bawah cahaya obor yang ditancapkan di sudut-sudutnya, Kama Kumara berdiri membusung dada, berkacak pinggang dengan kepala sedikit mendongak dan berteriak lantang.


"Hwoii kalian para prajurit! Malam ini aku akan memberi pertunjukan untuk kalian ceritakan besok pagi. Lihatlah betapa hebat dan kuatnya Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"


Para prajurit jaga dan beberapa yang kebetulan lewat untuk meronda segera mendekat. Tetapi langkah mereka segera terhenti ketika melihat sesosok manusia berkelebat dan berhenti, berdiri sepuluh tombak di hadapan sang Raja.


Dan para prajurit itu harus mundur untuk menjaga jarak aman ketika menyadari bahwa sosok itu adalah Putri Anesha Sari yang kini telah berpenampilan sebagai seorang petarung sejati!