
3 perwira _yang berjaga di jalur masuk kolam pemandian dari pemukiman sekitar omah kajaliran_ tengah direpotkan oleh beberapa emak-emak yang ngeyel, memaksa tetap masuk.
Sekumpulan emak-emak itu beralasan sudah tiga hari tidak mandi, bahkan mereka menciumkan bau ketek mereka pada para perwira.
Tidak mau berdebat dengan emak-emak, dan tidak tahan akan bau ketek mereka, salah satu perwira akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas dengan berkata,
"Raja ada di dalam sana! Mohon bantulah kami yang hanya menjalankan tugas ini!"
Seketika para makhluk penyebar gosip paling cepat sedunia itu membungkam mulutnya sendiri.
"Maafkan kami, seandainya perwira berkata sejak mula pasti kami memahami! Hiks! Hiks! Hiks!"
Sambil tertawa kecil mereka pergi karena telah mendapat amunisi untuk bergosip ria. Dan,
Bummm!
Meledaklah kabar keberadaan sang raja yang tengah berada di kolam pemandian omah kajaliran Bulan Perak.
Beberapa pendekar yang tidak percaya berita tersebut tidak tinggal diam. Mereka membeli teropong tunggal untuk mengintai dari jauh dengan terlebih dahulu memanjat pohon tinggi.
Penjual teropong pun tertawa bergelak karena barang dagangannya ludes terjual padahal harganya sangat mahal mengingat itu hanya benda untuk melihat sesuatu yang jauh, tidak lebih.
"Sepertinya Yang Mulai Raja harus sering-sering melakukan kunjungannya! Ha ha ha ha!" Penjual teropong menimang kepingan-kepingan emas di kantong sembari terus tertawa gembira.
Di sisi lain dua pendekar pengintai dari golongan putih memaki,
"Tak kusangka, teropong tunggal seharga lima keping emas ini kubeli hanya untuk melihat babi senggama! Siall!!"
Kawan yang bertengger di dahan lain menyahuti, "Keping bisa dicari lagi kapan-kapan, tetapi raja seperti itu sungguh harus segera dimusnahkan. Jika tidak, maka akan hancur negeri ini!"
"Berhati-hatilah dengan ucapanmu! Mulutmu harimaumu!"
"Jika bukan kita yang menginginkan perubahan, siapa lagi?!"
"Kau benar tetapi sebaiknya kita rencanakan dengan baik. Mari kita hubungi kawan-kawan!"
***
Di kediaman Perwira Aswangga.
"Perwira, kau harus dengar berita ini!" Perwira Bentar Buana melesat menghampiri Aswangga dan Sadajiwa. Saking penting berita yang ia bawa, Bentar Buana sampai lupa akan keberadaan Sadajiwa yang sudah bebas.
"Ada apa? Perwira Bentar?!" sambut Aswangga antusias.
"Oh maaf, aku sampai lupa." Bentar Buana ulurkan tangan pada Sadajiwa, "Selamat atas kepercayaan Tuan Putri padamu, Perwira Sadajiwa."
"Terimakasih, Perwira Bentar. Tapi sebaiknya kau lekas memberi tahu kabar apa yang kau bawa," balas Sadajiwa menyambut jabat tangan Bentar.
"Seorang kawan dari pendekar aliran putih baru saja memberitahuku ...."
Duduk, Bentar Buana menceritakan kelakuan Raja Kama Kumara yang diintai oleh para pendekar dengan lugas, membuat Sadajiwa benar-benar jengah mengingat dirinya masih perjaka.
"Tetapi bukan itu yang hendak kusampaikan!" lanjut Bentar Buana, ia perwira yang pandai membuat orang lain penasaran.
"Lalu apa? Ada yang lebih bejat lagi dari itu?!" sergah Perwira Aswangga, ada ke-muak-an di wajahnya.
"Di dalam tembok kolam pemandian, ada mayat wanita dengan kepala pecah!"
"Kita harus lapor ini pada Tuan Putri!"
"Tunggu-tunggu maksud kalian apakah hal semacam ini pantas diceritakan pada Tuan Putri?! Sungguh aku yang seorang lelaki saja tidak ingin mendengarnya." Sadajiwa yang sedikit telat mikir tidak mengerti.
"Kau bisa menebak pelaku pembunuhan Yang Mulia Raja dengan mengolah tempat kejadian perkara tapi tidak dengan ini?" tanya Bentar Buana.
"Jangan salah, aku memikirkan itu sejak kejadian hingga kalian datang!"
"Haohhh ... kukira kau sudah menjelma menjadi seorang cendekia," ledek Bentar Buana.
"Aihh bahasamu, ***!" maki Bentar Buana sebelum akhirnya menerangkan singkat dan gamblang apa yang akan dilaporkan pada Putri Anesha Sari.
"Ohkhh ...! Akhirnya!" seru Perwira Sadajiwa.
*
Tak buang waktu Bentar Buana ditemani Aswangga serta Sadajiwa bergegas melapor pada Putri Anesha Sari.
"Apa kawanmu sudah memastikan tidak ada pendekar lain di dalam pemandian itu, Perwira Bentar?" tanya Anesha Sari usai Bentar Buana melaporkan semua.
"Tidak, Tuan Putri."
Putri Anesha Sari terdiam. 'Pelaku makin mengerucut ke Kakangda Kama Kumara. Sungguh aku tidak bisa memahami jika dia sekejam itu hanya demi kekuasaan ....'
Hening. Mereka masuk ke alam pikiran masing-masing, karena memang sulit dipercaya Kama Kumara akan melakukan itu semua.
Waktu terus berjalan, tak ada yang mereka bicarakan untuk kelanjutan rencana hingga akhirnya Anesha Sari berkata,
"Aku akan memikirkan langkah selanjutnya sembari menunggu kedatangan Jaga Saksena. Dan aku minta tolong pada kalian, hubungi para perwira yang masih setia pada mendiang Yang Mulia Raja Basukamba. Setidaknya mereka tidak akan ikut campur ketika terjadi pertikaian antar anggota keluarga."
"Siap, Tuan Putri! Kami undur diri dulu."
**
Matahari baru saja tenggelam. Kabar kedatangan Kama Kumara ke omah kajaliran Bulan Perak untuk bersenang-senang telah menyebar ke seluruh kerajaan.
Di ruang tengah kediaman Saraswati, selir paling sepuh di antara 3 selir mendiang Raja Basukamba, dan merupakan satu-satunya selir yang memiliki anak laki-laki,
"Yoga Mandala Putraku, ini waktu yang tepat untuk menjadikanmu sebagai raja. Karena kini semua orang pasti muak pada kelakuan Kama Kumara. Dia melakukan kesalahan parah!"
"Tapi Byungda, Ramanda baru saja dikebumikan. Apa tidak sebaiknya menunggu seratus hari?"
Yoga Mandala putra tunggal Selir Saraswati berusia 7 tahun lebih muda dari Kama Kumara, tetapi dalam tingkah dan pemikiran, dia lebih memiliki tata krama.
"Byungda hanya memberitahumu, agar kau bersiap, Putraku! Bukan minta pendapatmu!"
Yoga Mandala terdiam, jauh-jauh hari ia telah menolak rencana byungdanya yang menghendaki dirinya menjadi raja. Bukan hanya karena Yoga Mandala sadar diri pada kedudukannya yang hanya seorang putra selir, akan tetapi juga karena terlalu banyak yang akan disingkirkan. Karena secara peraturan adat, jika Kama Kumara tidak ada atau terbunuh yang akan menjadi raja adalah adiknya yaitu Tama Wijaya lalu Taha Tusta kemudian Trengginas.
Tetapi ketidak setujuan Yoga Mandala selalu berakhir ucapan yang sama dari byungdanya, "Byungda hanya memberitahumu agar kau bersiap, Putraku! Bukan minta pendapatmu!"
Maka sejak saat itu Yoga Mandala hanya bisa patuh dan diam-diam mulai belajar ketatanegaraan agar layak menjadi seorang raja.
***
Entah apa yang merasuki Kama Kumara. Raja yang baru dilantik itu benar-benar menyuruh Tumenggung Wiryateja dan sembilan anak buahnya untuk membawa jalir-jalir tercantik kemudian ditempatkan di kamar khusus di dalam komplek istana raja. Sementara Lembayung Adiningrum tetap tingal di kediaman lama.
Usai menempatkan semua jalir, mereka berkumpul untuk mendapatkan arahan Raja Kama Kumara.
"Kerja kalian sungguh sangat bagus! Malam ini, kalian beristirahatlah semua. Tak usah ada perwira yang menjagaku."
Sampai di sini Tumenggung Wiryateja dan 9 lainnya merasa lega. Tetapi tidak ketika Kama Kumara melanjutkan,
"Karena besok, kalian harus kembali ke sini untuk mengikutiku berburu wanita kembali!"
Meski berat dan terpaksa, semua kompak menerima perintah lalu undur diri.
Ketika mereka sampai di jalan di mana mereka akan berpisah, Wiryateja tiba-tiba berhenti untuk berkata pada 9 perwiranya.
"Besok pagi kalian kembalilah berkumpul tanpa harus kupanggil, tabah adalah jalan satunya-satunya, semoga Yang Maha Kuasa mendengar jeritan hati kita!"
"Sendiko Tumenggung!"
Meski berpenampilan garang, Tumenggung Wiryateja seorang yang pengertian pada bawahannya. Tak segan membantu jika mereka dalam masalah. Namun kali ini mereka semua dalam masalah yang sama dan Wiryateja tidak bisa berbuat apa-apa.