
Kama Kumara membersihkan tangannya menggunakan kain penutup ranjang lalu keluar dari kamar raja hanya dengan membuka daun pintu sedikit saja kemudian menutupnya kembali dengan tenang seolah tidak pernah melakukan apa pun.
Mendekati Perwira Sadajiwa, Kama Kumara berbisik,
"Rajamu sedang tidak enak badan, kebetulan pengawalku itu seorang tukang pijat. Biarkan dia masuk untuk membantu!"
Perwira Sadajiwa mengangguk, kendati dengan rasa janggal hati, curiga mengapa orang asing disuruh masuk.
Usai membisiki Sadajiwa, Kama Kumara melangkah ke sisi Damodar yang menunggu tiga tombak dari sang perwira. Mendekatkan mulutnya ke telinga lelaki pembawa celurit, Kama Kumara lirih berbisik,
"Damodar! Masuklah ke kamar dan lakukan sesukamu. Aku hanya perlu tahu wanita itu segera mati. Dan jangan keluar hingga pintu dibuka!"
"Siap, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"
"Tinggalkan senjatamu pada perwira itu!" kembali Kama Kumara berbisik.
"Siap, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"
Damodar menyerahkan senjatanya pada Perwira Sadajiwa sebelum masuk dan menutup rapat daun pintu.
"He he he!" Pergi meninggalkan Perwira Sadajiwa, Kama Kumara terkekeh lirih. 'Sempurna!" batinnya.
Sepeninggal Kama Kumara, Perwira Sadajiwa kebingungan. Hendak membuka pintu kamar raja, jelas itu melanggar aturan kecuali ada perintah raja atau ada hal yang membahayakan. Tetapi membiarkan orang asing masuk begitu saja, hati Sadajiwa merasa was-was penuh curiga.
'Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?!' Perwira Sadajiwa berpikir keras.
Sementara itu di dalam kamar, Damodar memaki-maki tak henti dalam hati ketika melihat sosok sang raja yang tergeletak di tanah dengan jeroan (organ dalam tubuh) telah berburaian.
'Bangsat anak durhaka itu, bagaimana bisa dia membunuh ramandanya sendiri! Terkutuk hina! Dia pasti mau menjadikanku sebagai kambing hitam! Sial! Sial! Sial! Hitungan hari biadab!'
Tak hanya memaki Kama Kumara, Damodar juga memaki hitungan hari sembari berjalan mondar-mandir. Tak lama kemudian ia duduk di tepi pembaringan yang empuk. Matanya menatap wanita yang tergeletak di lantai kamar.
'Benar-benar maju kena, mundur kena! Jika kau tidak membunuh perempuan itu, aku akan dibunuh oleh anaknya yang durhaka! Jika aku membunuhnya pun aku akan mati dihukum pancung!'
Damodar menarik napas panjang lalu membaringkan tubuh. "Ah ... empuk sekali pembaringan raja ini!" gumamnya sesaat melupakan masalah kematian yang akan menjemputnya.
Saat itulah tiba-tiba nafsu Damodar menghembuskan bisikan, 'Sebelum aku mati, bukankah lebih baik aku menikmati malam ini sebagai seorang raja di pembaringannya?!'
Damodar bangkit, mendekati Permaisuri Maheswari lalu menotok urat bicara dan geraknya kemudian mengangkatnya ke atas ranjang.
'Tubuh wanita ini masih kencang. Wajahnya juga terawat dengan baik. Sebelum kubunuh dia, aku akan menikmatinya sampai pagi menjelang! He he he!'
Damodar pun mulai beraksi. Yakin esok hari akan mati membuat dirinya melampiaskan segenap hasrat dengan bringas. Dan tentu goyangannya itu membuat ranjang berderit menjerit. Jeritan yang mewakili Permaisuri Maheswari yang sempat tersadar tetapi tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya melelehkan air mata sebelum pingsan kembali akibat tak kuat menghadapi kenyataan.
Di luar kamar, Perwira Sadajiwa sayup-sayup mendengar suara tempat tidur. 'Apakah memijat raja sekencang itu sehingga ranjang berbunyi?' batinnya merasa curiga. 'Sial! Perasaanku makin buruk saja!'
"Suiit!" Perwira Sadajiwa bersuit pelan memanggil dua prajurit lingkar istana yang berpatroli.
"Ada apa perwira?!" tanya salah satu prajurit yang menghampiri.
"Cepat kau lapor pada Tumenggung Wiryateja untuk segera datang ke mari. Sangat penting!"
"Siap, Perwira!"
Prajurit itu lekas berlari menuju kediaman Tumenggung Wiryateja. Kediaman Tumenggung sendiri masih di dalam komplek istana raja, hanya terpisah bangunan saja.
***
"Ada apa Perwira Sadajiwa?!" Tumenggung Wiryateja datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Seorang diri sebab prajurit yang melapor tertingal oleh kecepatan larinya.
"Begini Tumenggung ...."
Sadajiwa menceritakan kedatangan Kama Kumara bersama seorang yang dikatakan sebagai tukang pijat dengan singkat dan padat.
"Dan Tumenggung dengar suara kriet itu?!" tutup Sadajiwa.
Tumenggung Wiryateja tempelkan telapak tangannya pada daun pintu kamar raja. Alirkan tenaga dalam, Wiryateja menggebah daun pintu tersebut.
Braggh!
Tumenggung Wiryateja mendobrak daun pintu dengan hanya merusak penahannya saja. Dan betapa kaget keduanya kala melihat mayat Raja Basukamba tergeletak di lantai dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Sementara seorang tak dikenal itu tengah memakai pakaiannya dengan cepat.
Ketika pintu didobrak Damador yang masih menggoyang keranjang segera mematahkan leher permaisuri lalu dengan cepat melompat untuk mengenakan pakaian.
"Biadab!" teriak Tumenggung Wiryateja cabut keris pusakanya, melesat memburu ke arah Damodar.
Saat yang sama, Perwira Sadajiwa menyambar kentong yang menggantung di sudut ruangan.
Thong!Thong!Thong!
Para prajurit lingkar istana yang masih terjaga segera berlarian, menuju kamar raja.
Sementara itu, Damodar yang diserang habis-habisan oleh Tumenggung Wiryateja sudah menderita luka di sana sini. Tanpa celuritnya, Damador bukan lah tandingan Tumenggung Wiryateja.
Crass! Crass!
Tubuh Damodar bersimbah darah, luka telah menyobek kedua lengannya, kedua kakinya juga perutnya, hingga akhirnya Damodar terjatuh dalam posisi berlutut.
"Bukan aku yang membunuh raja! Bukan aku!"
Clebb!
"Arghh!"
Keris di tangan Tumenggung Wiryateja menembus dada bagian atas Damodar. Luka yang tidak akan membunuh dengan cepat tetapi bisa dipastikan Damodar akan tewas oleh racun yang terkandung di dalam keris.
"Jelas-jelas kau yang berada di ruangan ini! Tidak ada orang lain lagi selain kau. Biadab keparat!" Suara bentakan Tumenggung Wiryateja benar-benar menggelegar dipenuhi kemarahan akan tetapi tindakannya tetap terukur.
"Bukan aku, bukan aku pelakunya ...!"
"Katakan siapa pelakunya, cepaaaaaat!!"
"D-dia—"
Crakk!
Belum pun Damodar menyebutkan sebuah nama, sebuah golok telah berkelebat membabat tepat di manik-manik lehernya.
"Ghorrrr! Ghorrrr!" Suara kematian keluar dari mulut Damodar bersama semburan darah dari tenggorokannya yang hampir putus, menambah aroma anyir ruangan.
Tumenggung Wiryateja memandang pada pelaku pembacokan yang ternyata adalah Putra Mahkota Kama Kumara.
Sebelumnya, Kama Kumara pulang dengan cepat untuk mandi dan berganti pakaian lalu kembali lagi mengintai perkembangan. Dan sesuai rencananya, Perwira Sadajiwa yang tidak berani membuka pintu kamar raja memanggil atasannya, Tumenggung Wiryateja. Kama Kumara hanya perlu menunggu untuk masuk diwaktu yang tepat guna membungkam Damodar selamanya.
***⁰***
Pagi harinya, upacara ritual pengebumian Raja Basukamba bersama Permaisuri Maheswari pun digelar di bawah pimpinan Patih Sepuh Labda Lawana.
Mendung kesedihan menaungi kerajaan Saindara Gumilang. Seluruh rakyat berduka, memuji-muji kebaikan sang raja sekaligus mencaci maki pembunuhnya, Damodar.
Bangkai Damodar sendiri tidak dikebumikan tetapi dipancang pada sebuah tiang kayu setinggi tiga tombak. Tiang kayu tersebut didirikan di tengah alun-alun untuk memberi peringatan, siapa saja yang melakukan pemberontakan maka akan mengalami nasib yang sama.
Sore hari menjelang matahari terbenam, ritual pengebumian telah sempurna dan selesai dilaksanakan. Semua sesepuh, pembesar, rakyan serta perwira Kerajaan Saindara Gumilang berkumpul di pendopo pasowanan agung untuk menobatkan Putra Mahkota Kama Kumara menjadi raja baru menggantikan ramandanya.
Tidak ada kesedihan di wajah Kama Kumara sebagaimana kesedihan itu tampak jelas di raut muka para keluarganya. Bahkan, mata putra-putri dari Permaisuri Maheswari masih melelehkan air mata meski kelopak mata mereka tampak bengkak.
***⁰0⁰***