
"Apa yang tidak mungkin, Paman?!"
"Usiamu!"
"Iya, Paman. Usiaku sekitar tiga ribu enam ratus atau tujuh ratus hari!"
Plokk!
Rawal dan Balkhi menepuk jidat masing-masing, sak wasangka langsung hilang.
"Artinya kau baru berusia 10 tahun, Jaga! Ya sudahlah, lupakan. Ayo kita berangkat sekarang juga agar bisa sampai di desa sebelum malam!"
Jaga Saksena mengangguk lalu mengangklek kembali kantong kulit loreknya.
"Kalau kita berlari tak akan kemalaman, Kakang."
"Kau mau meggendong dia, Adi Balkhi?!"
"Aku juga bisa berlari, Paman!" Jaga Saksena menyela dengan semangat.
Rawal dan Balkhi saling pandang,
"Jangan-jangan dia bisa meringankan tubuh. Kita coba lari saja?" Rawal berkata lirih.
"Setuju, Kakang."
"Jaga! Kau ikuti kami!"
"Siap Pam ...."
Jaga Saksena tidak melanjutkan ucapannya sebab Rawal dan Pekok telah berlari sekencang kuda balap dikejar belis.
"Tungguuu!"
Pontang-panting Jaga Saksena berlari sekuat tenaga mengejar Dua Pendekar Golok Buntung yang tidak lagi menoleh ke belakang.
*
Lama berlari,
"Loh! Loh! Loh!"
Balkhi yang menengok ke belakang memelankan larinya hingga berhenti.
"Ada apa, Adi Balkhi?!" tanya Rawal.
"Bocah itu?!"
"Eh iya ...!"
Rawal dan Balkhi kehilangan Jaga Saksena.
"Bocah itu, katanya bisa berlari." Pekok menggaruk kepalanya. "Tapi kok malah hilang!"
"Kita tunggu saja Adi, mungkin lari kita yang terlalu kencang!"
**
Lama menunggu, Rawal dan Balkhi menggaruk kepala hampir bersamaan,
"Sudah cukup lama kita menunggu, kemana itu bocah?!"
"Apa kita susul, Kakang?!"
"Ah, kurang kerjaan aja kau!"
"Kasihan juga dia kalau tersesat atau diterkam hewan buas!"
"Adi Balkhi Supekok ...! Adi Balkhi Supekok ...!" Rawal memanggil nama panjang kawannya dengan nada menyayangkan. "Kau lupa? Dia mengaku datang dari hutan? Bisa jadi hewan buas yang menjadi mangsa dia, bukan sebaliknya!"
"Oh iya juga ya ... hihihihi!" Balkhi tertawa kecil.
"Sudah kita tinggalkan saja dia." Rawal malas untuk menunggu lagi.
"Bukankah kita mau jual dia nanti? Lumayan laku satu atau dua keping emas," sergah Balkhi mengingatkan tujuan awal mereka berdua.
"Eh iya juga, baiklah kita tunggu sebentar lagi!"
Keduanya pun mengambil tempat duduk di bawah pohon rindang sembari menunggu.
Tak sia-sia, ketika Rawal dan Balkhi mulai mengantuk sebab terbuai semilir angin,
"Hosh ...! Hosh ...!"
"Hahahaha! Anak zaman batu akhirnya kau datang juga. Kami hampir menjamur di sini menunggumu!" Balkhi menyambut senang kedatangan si kecil _Jaga Saksena_ yang terengah-engah hampir pecat nyawa.
"Host ...! Host ...!" Jaga Saksena hendak menjawab tetapi napasnya terlalu memburu hingga tubuhnya menekuk, tangan memegang kedua lutut.
"Sudah atur napasmu dulu, Jaga!" Rawal mengarahkan. "Duduk istirahatlah dulu! Jangan lupa selonjorkan kakimu agar darah tetap mengalir lancar dan tidak menggumpal!"
Tak menjawab, Jaga Saksena melakukan apa yang dikatakan Rawal.
Saat yang sama, Balkhi memperhatikan dengan penuh iba. Sebab, bukan hanya megap-megap, keringat bercucuran keluar dari dahi si bocah. Dan pakaian lusuhnya basah kuyup hingga menetes. Selain karena belum kering sudah dipakai kembali, basah pakaian Jaga Saksena tertambahi oleh keringat yang bercucuran.
"Paman berdua lari kencang sekali! Aku tidak mampu mengejar. Ini melebihi dikejar babi!"
"Celeng?!" tanya Rawal sebab yang larinya kencang bukan babi tapi celeng.
"Iya, Paman. Hewan berbulu seperti kantong yang kugendong ini."
"Hahahaha!" Rawal dan Pekok tertawa terbahak-bahak hingga tubuh mereka terguncang.
"Ada apa, Paman?!" tanya Jaga Saksena setelah cukup lama tawa dua orang itu tidak kunjung reda.
"Itu bukan babi ataupun celeng!" Rawal menahan tawanya untuk menjawab.
"Maksud, Paman?"
"Iya, itu bukan celeng tapi macan alias harimau!"
"Oh ... Harimau ...." Jaga Saksena mengangguk. "Ya, maksudku lari Paman berdua melebihi lari harimau!"
"Tentu saja, Jaga! Karena kami menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk berlari cepat."
"Ilmu meringankan tubuh?!" tanya si bocah _Jaga Saksena_ tidak paham.
Melihat wajah Jaga Saksena yang benar-benar menunjukkan ketidak tahuan, Rawal pun menerangkan,
"Itu adalah sebuah cara untuk membuat tubuhmu ringan seiring naiknya kekuatanmu. Kau harus memiliki tenaga dalam terlebih dahulu untuk bisa melakukannya."
"Tenaga dalam?!" Kembali Jaga Saksena bertanya tak mengerti.
"Ada dua jenis tenaga ...."
Rawal kembali menerangkan bahwa tenaga ada dua jenis. Tenaga luar dan tenaga dalam. Tenaga luar dimiliki oleh tubuh luar. Sementara tenaga dalam adalah tenaga yang dibangkitkan dengan cara ber-tapa. Orang-orang juga menyebutnya dengan semedi atau pun meditasi.
Jaga Saksena mengangguk-angguk seperti memahami. Namun,
"Kau paham, Jaga?!" Balkhi yang bertanya.
"Tidak, Paman," jawab lugu Jaga.
"Hassshhah sudah kuduga!" Balkhi mengalihkan pandangannya ke langit di atas depan sana.
"Perlahan saja, lama-lama kau juga akan paham," ujar Rawal "Mari kita lanjutkan perjalanan!"
Ketiganya bangkit,
"Kita ke arah sana!" Rawal menunjuk arah barat laut. "Kau berlarilah di depan biar kami akan mengimbangi larimu!"
"Baik, Paman."
Jaga Saksena menarik napas panjang lalu menghembus pelan. Menarik napas lagi kemudian baru berlari.
"Tidak cukup buruk bagi seorang yang tidak mengenal tenaga dalam." Rawal memuji.
"Benar Kakang, gerakan larinya juga lincah!" tambah Balkhi.
Keduanya segera menyusul Jaga Saksena, menyamakan kecepatan lari.
Cukup lama berlari, kini mereka bertiga memasuki padang rumput luas. Setelah padang rumput luas, mereka akan memasuki sebuah desa. Itu yang diketahui oleh Rawal dan Balkhi sebab telah beberapa kali ke Kerajaan Saindara Gumilang melalui jalur ini.
"Paman! Sepertinya di depan sana ada keributan!" seru Jaga Saksena.
'Gila! Mengingat bocah ini tidak memiliki tenaga dalam, bagaimana bisa melihat sejauh itu?!' batin Rawal yang harus mengalirkan tenaga dalam guna melihat jauh ke depan.
Sama halnya, Balkhi juga harus melakukan hal yang sama barulah ia bisa melihat, jauh di sana orang-orang tengah bertarung.
"Kita akan melewati mereka! Tetapi kau jangan cari masalah, Jaga! Paham?!"
"Baik, Paman!"
Jauh di barat daya sana, ternyata merupakan jalan yang membentang dari timur ke barat. Jalan yang tidak besar, akan tetapi cukup untuk dilalui oleh kereta kuda.
Trang! Trang!
Pertarungan dua pihak tengah berlangsung sengit di sekitar kereta kuda yang terlihat mewah.
Jika diamati dengan seksama, sepertinya orang-orang yang tengah bertarung itu adalah para pengawal kereta kuda tersebut melawan para pembegal jalan atau mungkin penjahat.
Itu bisa dilihat dari se-ragam-nya penampilan salah satu pihak. Semua memakai pakaian berwarna hitam dengan lengan terbuka. Rambut mereka digelung rapih ke atas. Gelang akar bahar menghias lengan. Sementara pihak lain mengenakan topeng dengan pakaian yang berbeda-beda. Ada yang berwarna biru gelap, coklat tanah dan merah.
Saat semua orang bertarung antara hidup dan mati, sang kusir kereta hanya memperhatikan dengan tenang.
Kusir itu _seorang lelaki separuh baya berkumis tipis dengan ikat kepala yang melingkari kepalanya_ bahkan bergeming, tak bergerak sedikit pun ketika seorang pengawal terlempar dalam keadaan bersimbah darah di samping kakinya.
Pertarungan secara kasat mata jelas tidak berimbang.
Sebenarnya, dalam segi kekuatan perorangan, kedua belah pihak sama kuat. Akan tetapi jumlah pihak penyerang _yakni orang-orang bertopeng_ dua kali lipat lebih banyak.
Maka tak ayal, pihak pengawal terus bertumbangan. Ada yang sekarat dengan luka mengerikan, ada pula yang tewas.
Saat itulah, Jaga Saksena, Rawal dan Balkhi tiba. Mereka berhenti sepuluh tombak dari medan pertempuran.