
Kemasyhuran Ajian Gumbolo Wojo telah terdengar ke seantero jagat dunia persilatan. Dengan ajian ini pula Pradana Nararya memenangkan sayembara pencarian senopati ing ngalaga tujuh tahun yang lalu.
Lawan Pradana Nararya yang terkena ajian ini mati mengenaskan setelah tertabrak bayangan hitam tinggi besar sang perewangan. Organ dalamnya seakan meledak, terlihat dari semua lubang di tubuh mengeluarkan darah segar.
Jaga Saksena yang tak mau gegabah sebab bisa merasakan pekatnya energi lawan mengerahkan kekuatan ruhnya. Kesadaran luar berganti kesadaran hakiki, maka Jaga bisa melihat dengan jelas bayangan hitam berwajah mengerikan melesat ke arahnya.
Sigap, Jaga putar kedua tangan, satukan dua pangkal telapak sembari menarik ke belakang memasang kuda-kuda serang.
"Ya Hayyu, Ya 'Aliyyu ...." sangat cepat Jaga lafalkan asma sembilan.
Asma 9, sebuah ajian yang diturunkan langsung oleh orang yang memilikinya. Tidak ada ritual tertentu untuk mendapatkannya. Akan tetapi tidak sembarang orang bisa memiliki ajian ini. Karena syarat awal untuk dapat diturunkan ajian ini, selain harus seorang yang bersih, juga harus mempunyai pondasi kekuatan ruh yang kuat.
Busssh ...!
Jaga Saksena dorongkan dua tangannya ke depan atas mengarah sosok bayangan hitam.
Seberkas cahaya terang tetiba memancar. Tetapi bukan itu yang dilihat oleh Senopati Pradana Nararya.
Senopati Pradana Nararya melihat api yang sangat besar menggulung sosok hitam yang hendak menabrak tubuh Jaga Saksena. Sangat cepat, api berkobar-kobar itu meringkus sekaligus memakan seluruh tubuh sosok hitam hingga tak tersisa sedikit pun.
Bau gosong benda terbakar merebak ke segala arah. Berbarengan dengan bau ini, angin yang bertiup kencang berhenti.
"**-tidak mungkin!" Pradana Nararya tergagap, mata melotot dengan mulut terbuka, tak percaya akan apa yang dilihat mata.
Tak sia-siakan kesempatan, Jaga Saksena yang berhasil membakar hangus sosok bayangan hitam melesat ke depan untuk menyarangkan totokan langsung berenergi tinggi agar sang senopati tidak bisa membebaskan diri.
Stak!
Pradana Nararya yang telah lemas akibat perewangannya terbunuh kini harus kaku mengejang tubuh, terkena totokan di pangkal urat leher.
Berhasil mengalahkan lawannya, Jaga Saksena berkelebat membantu para prajurit.
Wess! Wess!
Stak!Stak!
Dua prajurit musuh kaku,
Crakk!Crakk!
Tak ayal, mereka menjadi makanan empuk senjata lawannya.
Jaga Saksena terus bergerak maka setiap langkahnya adalah bencana bagi pasukan musuh. Jika tidak menotok maka tangan dan kaki Jaga menghantam pingsan lawan.
Jebag! Jebug!
Hingga tak disadari oleh Jaga, kini dirinya berada di garis paling depan menghadapi pasukan penyerang.
"Lumpuhkan pendekar itu!!" teriak salah satu perwira di bawah Senopati Asta Brajadaka memberi perintah.
Namun, para prajurit yang telah melihat sepak terjang Jaga Saksena harus keder, ciut nyali. Hanya ditotok dan kaku bukan masalah besar bagi mereka. Akan tetapi mereka kena mental oleh beberapa prajurit lingkar istana yang mengekor di belakang Jaga Saksena.
Para prajurit lingkar istana yang mengekor di belakang Jaga Saksena dengan santainya membunuhi para prajurit musuh yang telah kaku oleh totokan sang pemuda.
Jaga Saksena bukan tidak tahu kelakuan para prajurit yang mengekor di belakangnya ini. Tetapi inilah perang, bukan majelis pemberian wejangan.
Maka darah pun makin menggenangi halaman. Menebarkan bau anyir yang menyengat hidung.
*
Kekalahan Pradana Nararya tidak membuat para prajurit penyerang berhenti. Karena para tentara kesenopatian telah memiliki pemimpin atau kepala regu masing-masing. Mereka telah dididik bertempur hingga darah penghabisan, kecuali jika pemimpin puncak memerintahkan untuk menyerah. Sialnya, Pradana Nararya tertotok penuh sehingga tidak bisa berkata-kata.
Dan kesialan yang dialami oleh Pradana Nararya belum berhenti sampai di situ saja, sebab beberapa serangan jarak jauh seperti pukulan dan lemparan senjata nyasar mengenai tubuhnya.
Pelan tapi pasti, Pradana Nararya bersimbah darah hingga akhirnya seseorang prajurit lingkar istana mendatanginya,
"Dasar pengkhianat!"
Memaki prajurit itu ayunkan golok ke kepala Pradana Nararya.
Crakk!
Usai membacok, prajurit itu menendang tubuh Pradana Nararya di bagian perut,
Jasad senopati itu mencelat terbang hingga beberapa tombak jauhnya.
*
Sementara itu, pertarungan antara Sungsang melawan Gandara yang bergeser ke sisi utara makin sengit.
Kabut merah dari ajian Halimun Petak Abang milik Sungsang telah melingkupi medan pertarungan. Pisau terbang berseliweran. Tetapi Gandara menunjukkan ketangguhannya. Kabut merah tak sedikit pun menyurutkan dirinya untuk terus menyerang.
Jurus Pedang Angin Kesepian yang dimainkan oleh Gandara benar-benar menemukan puncaknya ketika dimainkan dalam kabut. Pedang Gandara benar-benar seperti hilang.
Hingga dalam satu kesempatan,
Srat!
Andai tidak cepat membuang diri dengan mendorong tubuh jauh kebelakang, tamat sudah riwayat Sungsang tertebas di bawah perut. Ya jika tidak tamat riwayat hidup, maka tamat riwayat kelelakiannya.
Mengusap pakaian di bagian perut yang terkoyak, Sungsang Gumilang menyeringai.
"Kau! Sungguh bedebah! Ini pakaian merah satu-satunya milikku. Dan sesuatu di baliknya belum pernah kugunakan untuk enak-enak malah mau kau potong begitu saja!"
"Banyak Bacot! Mampuslah kau! Hiaaa ...!" Tak ingin melepas musuh yang telah membunuh kawannya, Gandara langsung mengejar.
"Bacot Petai kau! Makan ini!"
Wuss!Wuss!
Sungsang menghujani lawan dengan lemparan pisau terbang. Sebuah serangan yang sangat mudah ditepis oleh Gandara. Bahkan tak sedikit pun laju Gandara berkurang oleh serangan pisau terbang yang bertubi-tubi ini.
"Sampah takkan bisa menghentikanku! Tebasan Sepi!"
"Tapak Matahari Merah!"
Dalam jarak yang makin dekat dua pendekar itu mengadu ajian.
BLARRDDSSS!
Gelombang kejut dari dua tumbukan energi yang dilepas menghempaskan apa saja yang ada di sekitar pertarungan termasuk tubuh Sungsang dan Gandara. Masing-masing terdorong jauh hingga puluhan tombak.
Sungsang jatuh pada tumpukan mayat sementara Gandara kurang beruntung sebab punggungnya harus melabrak tembok istana.
Mengusap punggungnya yang sakit, Gandara bangkit. Ada lelehan darah di sudut bibirnya.
Berbarengan dengan bangkitnya Gandara, Sungsang telah berdiri mengulas senyum sembari menyeka darah yang menetes dari hidung. Ajian yang ia kerahkan memang tidak menggunakan banyak tenaga dalam akibat ia keluarkan secara mendadak.
"Kali ini, kau akan tahu kekuatanku!" gumam Sungsang.
Seg!Seg!
Sungsang melakukan gerakan tangan kilat, saat itu pula tangan kanan sepanjang lengannya berubah merah membara. Rupanya Sungsang kali ini benar-benar siapkan pukulan mautnya.
"Tapak Matahari Merah!"
Hantamkan tapak tangan kanan, Sungsang lepaskan energi pukulan tapak berwarna merah membara yang cukup besar.
Untuk beberapa saat, udara halaman istana di mana perang tengah berlangsung berubah menjadi merah.
Saat yang sama, sadar lawan akan menggunakan ajian pamungkas, Gandara lakukan mantra pedang.
Set!Set!
"Cohh! Burhhh! Gelombang Sepi!"
Usai semburkan napas naga pada bilang pedangnya, Gandara memutar cepat pedang sebelum tusukkan kuat-kuat ke depan.
Wunggg ...!
Pusaran energi membentuk selongsong runcing menerjang bagai bor, menyambut tapak merah besar. Dan,
GLLLAAAARRDDD ...!!
Tanah berguncang hebat ... hingga pertarungan sempat terhenti sesaat.