Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 23. Gadis Kecil Itu



Lama berjalan, Jaga berpikir ingin istirahat. Pas di saat itulah, Jaga melihat sebuah pohon di pinggir jalan yang sepertinya dibiarkan tumbuh untuk mengurangi panasnya matahari siang hari.


Jaga Saksena memutuskan untuk duduk di bawah pohon tersebut sembari mengamati orang-orang yang melintas.


Cukup lama duduk, tetiba.


Klutak!


Ada orang yang menjatuhkan keping kecil.


Jaga Saksena mengambil keping tersebut.


'Apa ini? Apakah ini yang namanya emas atau perak?' Jaga Saksena mengamati keping kecil berlubang tengah di bawah cahaya obor yang tak jauh darinya.


Klutak!


Kembali keping dilemparkan ke arahnya.


"Wow! Terimakasih, Paman!" seru Jaga Saksena lalu mengambil keping.


'Ternyata orang-orang di kerajaan ini sangat baik! Mereka memberiku keping emas!'


Baru saja Jaga membatin demikian, kembali ada orang melemparkan keping.


Tiga, empat, lima .... Keping demi keping dilemparkan oleh orang yang lewat. Meski tidak semua orang, itu sudah sangat banyak menurut Jaga.


Hingga malam larut, dan orang-orang yang berlalu lalang mulai sepi, Jaga menghitung keping yang ia dapatkan.


"Seratus!" pekik Jaga Saksena.


Bocah itu segera mengambil bekal ikan pepes yang ia bawa, tak lagi risau akan makan apa besok sebab telah merasa kaya raya.


'Aku punya seratus keping emass! Aku bisa makan nasi sepuasnya besok pagi!' pikirnya.


*⁰*


Pagi tiba, matahari mulai merambati cakrawala.


Akibat kegirangan memiliki banyak keping emas, Jaga Saksena kesulitan untuk tidur sehingga bangun kesiangan.


'Ada apa orang-orang berbondong-bondong ke sana?! Ah peduli belis, pagi ... eh menjelang siang ini aku akan makan nasi!'


Jaga membersihkan kotoran di sudut matanya lalu bangkit menuju ke kedai terdekat.


"Woi! Woi! Pengemis kecil, kau mau apa?!" seorang lelaki dewasa berkumis tipis bertanya kasar sambil menghadang Jaga Saksena di luar kedai.


"Aku bukan pengemis, Paman!"


"Masih kecil berani berbohong ya?! Aku melihatmu semalam di bawah pohon sana!"


"Aku pendatang, Paman. Jadi tidak punya rumah maka istirahat di sana."


"Oh jadi kau juga gelandangan baru? Sini, sini!"


Lelaki itu menyeret Jaga Saksena ke sisi dapur kedai di mana orang di dalam kedai tidak melihat.


"Bocah Cilik! Kau harus hati-hati!"


"Kenapa, Paman?"


"Gelandangan ...."


Lelaki itu mulai menerangkan bahwa gelandangan apalagi yang baru sangat rawan hilang. Biasanya mereka akan diculik untuk dijual sebagai budak yang dipekerjakan siang dan malam tanpa dibayar.


Budak yang dipekerjakan seperti ini adalah budak paling beruntung. Banyak yang mengenaskan, diperlakukan tidak manusiawi. Dari dimutilasi untuk ritual tertentu hingga dijadikan pelampiasan napsu lelaki bejat.


"Tapi, Paman aku seorang anak laki?!"


"Apakah lelaki tidak punya lubang?"


"Maksud, Paman?"


"Kau punya lubang buat buang air besar. Di situlah mereka akan menyodokkan tongkat pendek mereka!"


Spontan, Jaga Saksena terpundur memegangi pantatnya. Bayangan rasa sakit akibat di tusuk tongkat kala di hutan membuatnya merinding, ngeri.


"Aku belum selesai!" sambung si lelaki. "Sini, kuberitahu kau lagi!"


Jaga Saksena mendekat dengan mengambil jarak dua langkah.


"Ada sebagian pendekar pria yang kekuatannya bersumber dari budak anak-anak lelaki. Mereka menjadikan bocah-bocah kecil sebagai istri simpanannya. Dan itu dianggap wajar, pihak kerajaan atau pendekar lain tidak peduli."


"Apa?!"


"Ya, tetapi kau harus lega dalam hal ini karena kulitmu tidak kuning langsat putih bersih. Mereka tidak akan suka padamu!"


"Untung saja aku sering berenang dikali sehingga klewus!" Jaga Saksena sedikit lega.


"Tapi, ...."


Lelaki berkumis tipis itu kembali menambahkan, jika para pendekar golongan ini tengah kesepian bisa saja melampiaskan pada bocah seperti Jaga Saksena karena meski klewus (kulitnya tidak cerah_pen) wajah Jaga Saksena termasuk tampan.


"Kau menakutiku, Paman!?"


"Apa untungnya menakutimu? Bahkan kau hanya seorang pengemis yang mungkin akan meminta sesuap nasi di kedai ramandaku!"


"Aku punya banyak keping emas, lihatlah!" Jaga Saksena membuka kantong lorengnya menunjukkan kepingan-kepingan di sana.


"Hahahahaha!"


"Kenapa tertawa, Paman?!"


"Bocil ... bocil ...! Itu ketip bukan keping apalagi keping emas?"


"Dalam kerajaan ini ada tiga alat pembayaran ...."


Anak pemilik kedai itu menerangkan, di Kerajaan Saindara Gumilang berlaku tiga alat tukar selain bisa saling tukar barang dengan barang. Yaitu;


Yang pertama adalah keping emas, kedua adalah keping perak. Satu keping emas setara dengan seratus keping perak. Kemudian yang ketiga ketip terbuat dari bahan seperti besi tetapi lebih lunak. Satu keping perak setara dengan dua ratus ketip.


Jaga Saksena harus menunduk lesu, seratus ketip miliknya ternyata hanya memperoleh sebungkus nasi tanpa lauk. Itu pun di dapat tanpa masuk ke dalam kedai alias lewat samping.


"Kau jangan bersedih begitu! Ini kuberikan cuma-cuma!"


Lelaki berkumis tipis yang mengaku bernama Kudayana mengulurkan sesuatu.


Menerima dan mengamati Jaga Saksena bertanya, "Ini seperti kepala burung."


"Iya, itu kepala ayam jago. Kau bisa memakannya untuk lauk."


"Terimakasih, Paman Kuda!" ucap Jaga Saksena membalik badan dengan wajah sedikit semringah.


Plokk!


Kudayana menepok jidat, ia mulai menyesal telah memberi tahukan namanya pada bocah kecil pembawa kapak batu tersebut.


"Kudayana! Bukan Kuda!" seru Kudayana selagi Jaga Saksena belum pergi jauh.


**


Cukup lama mencari tempat sepi untuk makan, akhirnya Jaga Saksena melihat sebuah tembok rendah yang memanjang.


"Ahha, di sana sepi." Jaga bergegas.


Ketika sampai, ternyata tembok panjang itu hanya setinggi leher Jaga Saksena.


Bocah itu pun melongokkan kepala.


"Luar biasa! Bagus sekali!"


Jaga Saksena melihat telaga kecil yang dikelilingi pepohonan tidak terlalu besar dan tinggi. Di sepanjang telaga ditanami berbagai macam bunga berwarna-warni.


Di ujung telaga sana, ada sebuah perahu kayu tertambat di sebuah pemancang.


"Sepi sekali, aku bisa makan di dekat telaga sana!"


Jaga Saksena melompat menaiki tembok lalu terjun mendarat di dalam. Bukan hal yang sulit bagi Jaga sebab tinggi tembok hanya selehernya.


Berlari, Jaga Saksena memilih tempat berumput yang teduh di dekat air telaga untuk segera menyantap makanan yang ia beli dengan seluruh ketipnya.


"Kepala ayam jago ini enak, gurih! Sayang kenapa nasi ini rasanya hambar, hanya sedikit manis ya? Sangat jauh berbeda dari nasi Kakek Pandu!"


Jaga Saksena tidak mengerti bahwa ada nasi biasa dan ada pula nasi berbumbu.


Meski menilai rasanya hambar, satu bungkus nasi dan satu kepala ayam ia lahap dengan cepat.


Usai makan,


'Aku akan duduk-duduk dulu sebelum berenang!' pikir Jaga Saksena hendak rebahan menikmati kenyamanan perut kenyang.


Namun,


"Usai makan!"


Makjegagik!


Jaga Saksena terperanjat bangkit, kaget bukan alang kepalang hingga hampir saja terperosok masuk ke dalam air telaga.


"Usai makan, janganlah tidur! Itu perbuatan ular!" ujar seorang gadis kecil seusia Jaga Saksena yang sudah berada satu tombak di belakang si bocah.


"K-kau ... sejak kapan?"


"Sejak sebelum kau mengomentari makananmu." Gadis kecil itu tersenyum menunjukkan barisan gigi kecil sedikit runcing tidak rata.


"Kenapa aku tidak mendengar kedatanganmu?"


"Iya karena aku sakti, bisa melangkah seperti angin! Hikshikshikshiks!" Gadis kecil tersebut tertawa renyah hingga pangkal gigi serinya terlihat.


"Malam hari saja aku tidak takut dengan medi, belis dan sejenisnya. Apalagi siang. Kau salah orang jika ingin menakutiku!" Jaga Saksena berkata santai sambil kembali duduk menghadap air telaga.


"Hikshikshikshiks!" Kembali gadis itu tertawa, tetapi kali ini sembari mendekat dan duduk di samping Jaga Saksena.


"Mengharukan! Akhirnya aku berteman dengan medi (hantu_pen)." Jaga Saksena berkata dengan sedikit ada kesedihan.


"Medi? Akhirnya kau berteman dengan medi?! Mana-mana sosok penampakan medi-nya?" tanya si gadis kecil antusias tidak tahu yang dimaksud jaga adalah dirinya.


"Sudahlah, bukan satu masalah. Daerah ini ramai tapi sepi."


"Kotaraja ini maksudmu?!"


"Iya, daerah kotaraja ini. Sangat ramai tapi sepi."


"Hikshikshikshiks!" Kembali gadis kecil itu tertawa. "Justru aku suka tempat sepi. Jika kau ingin keramaian, pergilah ke utara. Di alun-alun sana, siang ini akan sangat ramai."


"Oh, pagelaran pertarungan terbuka itukah?"


"Betul sekali. Akan dimulai setelah matahari tepat di atas kepala!"


"Aneh sekali, kenapa tidak dari pagi?"


"Karena ...."


Gadis kecil itu menerangkan kebiasan buruk warga kotaraja, bahkan pendatang yang baru datang ke kotaraja. Mereka mabuk-mabukan hingga malam bahkan pagi hari. Jadi jika sayembara dimulai pagi-pagi benar akan banyak peserta yang terlewat.


Kedua bocah itu terus berbincang tanpa menanyakan nama masing-masing. Bagi Jaga Saksena tidak penting menanyakan nama sesosok medi.