Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 83. Serangan Pamungkas Sundara Watu



Pada akhirnya tenaga dalam Jaga Saksena telah habis terkuras. Sebab entah telah berapa kali pemuda itu melepas tembakan energi. Dan selalu sama, Sundara Watu kembali lagi dan lagi. Jaga Saksena serasa mau muntah sayur ketewel dibuatnya!


Kini yang menopang Jaga Saksena hanya kekuatan ruh yang seperti tiada habisnya. Jaga pun dibuat penasaran, ingin tahu sampai mana batas kekuatan ruhnya sendiri.


Woshh!Woshh!


Jaga hantamkan dua tinju berturut lepaskan pukulan jarak jauh.


BLAMMMMM! BLAMMMMM!


Kemampuan Jaga yang tiada habisnya Ini membuat heran semua orang yang masih menunggu hasil pertarungan dari jauh. Meski pukulannya tidak sedasyat di awal-awal serangan tetapi Jaga Saksena masih terus menghajar manusia batu hingga terlontar, lagi dan lagi!


"Ketahuilah oleh kalian, pemuda yang bertarung itu namanya Jaga Saksena. Dia temanku!"


Teriakan ini entah telah berapa kali terdengar keluar dari mulut Sungsang Gumilang, Sang Pendekar Merah.


Ketika orang-orang menanggapi,


"Harusnya kau bantu dia!"


Sungsang pun bermuka masam lalu pindah ke tempat lain di mana masih banyak orang berkumpul untuk kembali memperkenalkan Jaga Saksena.


Bagi Sungsang, Jaga Saksena tidak perlu dibantu sebab akan sia-sia. Kini yang diharapkan adalah adanya satu keajaiban karena menurut Putri Anesha Sari _ketika Sungsang menanyakan Senopati Ragnala Raksa berada_, para senopati dan patih sepuh tengah mencari keterangan tentang kelemahan Sundara Watu.


"Gawat! Temanmu bisa kehabisan tenaga!" seru seorang yang tampaknya seorang perwira pada Sungsang.


Saat itulah Sungsang tersadar, 'Iya juga. Ini hampir tengah malam! Jaga tidak akan bertahan sampai pagi. Dia terus mengeluarkan kekuatan besar untuk menghantam si batu ngeyel itu!'


Sungsang Gumilang akhirnya mencari tempat untuk duduk memulihkan diri sepenuhnya, mengisi kembali tenaga dalam yang sempat terkuras dalam pertempuran.


Para perwira menengah pun berjaga-jaga. Mengantisipasi kemungkinan buruk jika Jaga Saksena kehabisan tenaga.


Dentuman demi dentuman terus terdengar. Sungguh malam yang terasa panjang.


***⁰0⁰***


Dua sosok lelaki berpakaian serba putih dan berpakaian serba hitam berkelabatan di antara pepohonan dengan cepat, tak berapa lama mereka berdua memasuki kerajaan.


Di satu tempat lelaki berpakaian serba hitam menghentikan lajunya di depan sebuah pohon cukup besar.


Sosok berpakaian putih turut hentikan larinya.


"Ini dia, Begawan. Tunggulah aku akan memetik seratus daunnya."


Yang dipanggil Begawan, lelaki berpakaian serba putih berselempang _Begawan Teja Surendra_ mengangguk.


Tidak butuh lama, lelaki berpakian hitam yang tak lain adalah Patih Sepuh Labda Lawana turun membawa seratus lembar daun.


"Mari Begawan, kita ke rumah terdekat."


Keduanya bergegas ke rumah terdekat yang sekira besar dan tentu akan memiliki kendi besar untuk memasak air.


Kehadiran sang patih meski tengah malam disambut baik. Apalagi pemilik rumah belum tidur sebab dentuman-dentuman dari arah barat terus terdengar, menakutkan.


Singkat dan padat, Patih Sepuh Labda Lawana meminta ijin pada tuan rumah untuk menyediakan sebuah kendi besar dan air serta tungku untuk memasak.


Penghuni rumah, seorang lelaki setengah baya dengan tangkas menyediakan semua yang diminta di dapurnya.


Menunggu air mendidih, Patih Sepuh Labda Lawana berkata, "Sungguh bukan lancang, tapi aku sangat penasaran. Bagaimana seorang Begawan Teja Surendra tiba-tiba ingin menemui seorang pemuda."


"Hehehe!" Begawan Teja Surendra terkekeh. "Kau akan tahu nanti setelah kupastikan apakah dia orangnya."


"Tidak pernah berubah, kau senang membuat orang menunggu dalam penasaran."


Alih-alih menanggapi omongan orang, Begawan Teja Surendra malah memajukan kayu bakar agar air cepat mendidih.


***


Waktu terus merambat cepat, udara makin dingin menyelebungi. Pertanda tengah malam telah terlewati.


"Hiaaaa ya! Ya! Ya! Ya! Ya!"


Menggembor, Jaga luncurkan serangan ajian Rasaning Rasa bertubi-tubi sembari ikut melesat ke arah barat.


Jaga berpikir sederhana, jika tidak bisa membunuh si manusia batu yang kebal akan segala serangan, maka ia harus menggiringnya jauh meninggalkan kerajaan.


Maka, pertarungan terus bergeser ke arah barat hingga memasuki deretan pegunungan Bumati bahkan melewatinya.


"Hanya segini kemampuanmuuu?! Hahahaha! Yo-assss!!"


Sundara Watu kembali datang tapi kali ini didahului oleh sebuah cahaya biru pekat, rupanya Sundara Watu merasa ini waktunya menghabisi Jaga sebab tenaganya pasti telah terkuras.


Wosh!


Jaga pun hantamkan tinjunya melepas serangan jarak jauh Rasaning Rasa.


GLENGGGGGGG!


Tumbukan dua energi serangan bertemu getarkan malam.


"Huakh!"


Diterbangkan oleh daya kejut ledakan dan benturan energi lawan, Jaga Saksena muntahkan darah kental. Dada terasa sesak sekaligus nyeri mencucuk.


Mendarat di atas tanah dengan sedikit gontai, Jaga meletakkan telapak tangan kanan di dada sembari membaca surat Alam Nasroh. Berkat kekuatan ruhnya, dengat cepat, dada Jaga berangsur membaik.


Meski begitu kuat, kekuatan ruh Jaga ternyata belumlah cukup untuk membobol kekebalan tubuh Sundara Watu.


Jaga Saksena tidak tahu, Sundara Watu kebal bukan sebab bertapa atau belajar tetapi sudah gawan bayi. Yakni kekuatan anugerah dari Sang Maha Pencipta sejak lahir. Akankah anugerah kekuatan itu digunakan untuk kebaikan atau malah akan membawa Sundara Watu ke dalam kesesatan.


Dan ternyata, Sundara Watu termakan oleh bujuk rayu nafsu.


Saat masih kecil, Sundara Watu menjadi murid sebuah padepokan di Jawadwipa timur. Murid yang jenius sehingga mampu dengan cepat menyerap segala ilmu kadigdayan.


Sundara Watu dewasa pun digadang-gadang akan menjadi penerus sang maha guru padepokan. Namun, Sundara Watu tidak tertarik menjadi guru. Ia memilih untuk berpetualang.


Dalam petualangan, Sundara Watu menggunakan kekuatannya untuk menebar teror. Bahkan dia membentuk sebuah kelompok Pemburu Budak. Membunuh, memperkosa, menjarah, membakar desa, menganiaya adalah pekerjaan tiap harinya.


Tak ada yang mampu hentikan Sundara Watu.


Para pendekar telah berusaha menghentikannya, akan tetapi malah tewas menjadi korban kekejiannya.


*


'Gusti Alloh Yang Maha Perkasa, Raja Segala Raja Alam Semesta! Dengan segala kekuatanMu dan segala kelemahanku, berilah hambaMu ini pertolongan ....'


Dalam berdirinya, Jaga Saksena bermunajat, berbisik hati memohon dan berdoa pada Yang Maha Kuasa karena sudah tidak lagi merasa mampu melawan Sundara Watu.


Saat yang sama, Sundara Watu ingin akhiri pertarungan. Maka ia pun tidak langsung menyerang, duduk bersila kerahkan segala kekuatan untuk melakukan serangan pamungkas. Serangan yang belum pernah ia gunakan sebelumnya untuk melawan musuh.


"Tak kusangka untuk membunuh bocah ingusan, aku harus keluarkan ajian ini!" gumam Sundara Watu lirih sebelum komat-kamit membaca mantra, tangan menangkup di depan dada.


Angin malam tetiba bertiup kencang, gemerisik dedaunan yang bergesekan kini berubah menjadi goyangan ke sana ke mari.


Saat itulah, tubuh Sundara Watu tiba-tiba berubah memerah dan terus mengelam merah sebelum benar-benar,


Bushhh!


Menyala! Tubuh Sundara Watu berkobar-kobar api merah kebiruan.


"Batuuu A-piiiii ...!"


Wusssss!


Bagai meteor yang menembak langit, tubuh Sundara Watu melejit ke angkasa tinggi lalu membelok ke arah timur. Arah di mana Jaga Saksena berada.


***⁰0⁰***