
Untuk mengetahui warta yang berkembang di masyarakat tentang kejadian semalam, Jaga Saksena dan Sungsang sengaja sarapan di sebuah kedai yang ramai. Tetapi apa yang mereka dengar malah membuat emosi hati. Para wanita yang mereka selamatkan ternyata belum terselamatkan sebab kembali masuk ke perbudakan lingkaran istana.
Jika Jaga Saksena dan Sungsang ingin kembali membebaskan mereka, maka akan lebih sulit dan bakal menghadapi kekuatan yang lebih besar.
Menimbang ini, akhirnya keduanya akan memberesi permasalahan yang kecil dulu yakni memberantas Kelompok Pemburu Budak Gunung hingga ke akar-akarnya.
"Yang terpenting untuk saat ini, kita habisi kepala ular beludaknya terlebih dahulu, Jaga!" ujar Sungsang sebelum mengajak meninggalkan kedai, sebab dari awal mencuri dengar perbincangan orang, belum terdengar nama ketua Kelompok Pemburu Budak Gunung disebut.
"Kawan, kau mau ke mana?!" tanya Srakal ketika Jaga dan Sungsang meninggalkan meja mereka. "Apa kau benar-benar tidak berminat dengan tawaranku?!" lanjut Srakal padahal pertanyaan pertama belum dijawab.
Sedikit jengah, Jaga menjawab juga, "Kami ada perlu lain, aku akan mencarimu jika telah berminat. Sesekali mungkin aku harus mencobanya."
"Ha! Ha! Ha! Aku suka dengan gayamu, Kawan. Aku akan menunggumu! Oh iya dengan apa aku memanggilmu?"
"Jaga, aku Jaga Saksena!"
"Srakal Bawana!"
*
Saat cukup jauh meningalkan kedai,
"Sepertinya Srakal sangat menginginkanmu untuk mengunjungi omah kajaliran. Apa kau sungguh-sungguh akan ke sana satu saat nanti, Jaga?" tanya Sungsang.
"Tentu!"
"Hah? Bukankah itu terlarang di semua ajaran atau pun agama?" Wajah Sungsang menunjukkan mimik tak percaya.
"Betul!"
"Lalu kenapa kau akan ke sana?"
"Aku tahu semalam kau belum puas menghajar para biadab."
"Ahha ha ...!" Mata Sungsang membesar, "Aku suka gayamu, Kawan!"
Menirukan ucapan Srakal, Sungsang tersenyum lebar, sepertinya ia mulai terjangkiti perasaan senang membunuhi para bangsat-bangsat sejak melihat aksi Jaga Saksena semalam.
***
Senopati Sundul Mega mengepalkan tinjunya lalu menghantamkan kuat pada telapak tangannya.
Entah berapa lama senopati berpenampilan gagah perkasa siap menaklukkan para wanita itu telah menelaah, menyelidik, mengamati setiap hal di dalam Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung. Akan tetapi ia tak menemukan banyak petunjuk.
'Pelakunya dua orang! Tapi siapa? Pekerjaan mereka sungguh rapi, tidak ada senjata yang tertinggal tidak pula saksi mata melihat. Pelaku pertama pendekar pengguna pisau yang jelas tak ingin menyiksa lawannya sehingga langsung menusuk titik kematian korban. Dan satu lagi, seorang yang sangat kejam. Dengan apa dia memecah kepala-kepala korban sehingga bagai diledakkan dari dalam?'
Masih memukul-mukulkan tinju kanan ke telapak tangan kiri, Senopati Sundul Mega terus berpikir siapa gerangan pelaku mengingat begitu banyak pendekar di Kerajaan Saindara Gumilang.
Tak menemukan titik terang, akhirnya Senopati Sundul Mega hendak memerintah para prajurit untuk membereskan mayat-mayat yang bergelimpangan ketika tetiba seorang berperawakan kokoh menghampirinya,
"Bagaimana Senopati, Sundul Mega? Apa yang kau temukan?"
"Senopati Asta Brajadaka?"
"Aku punya hubungan baik dengan balai ini. Jadi hanya ingin tahu saja," ujar lelaki bertubuh kokoh.
"Aku tidak menemukan petunjuk berarti sehingga mau kembali ke keraton. Satu yang kutemukan, pelaku ada dua orang yang salah satunya pengguna pisau."
"Pengguna pisau?"
"Ya, jika kau ingin ikut membantu menyelidiki, sungguh aku akan merasa terbantu. Tetapi aku masih ada keperluan sehingga harus kembali."
"Tentu! Tentu, aku akan membantu sebisaku!"
Sepeninggal Senopati Sundul Mega, Asta Brajadaka bergerak cepat memeriksa semua ruang tempat pembunuhan.
"Peristiwa cukup langka, Senopati Asta Brajadaka membantu tanpa diminta," bisik prajurit pada kawannya.
Para prajurit memang tetap tinggal untuk menunggu perintah mengebumikan mayat-mayat.
"Ap kau tidak dengar tadi, bukankah Senopati mengaku punya hubungan baik dengan balai ini?" balas prajurit kedua ikut berbisik pula.
"Semua senopati diberi hadiah budak oleh balai ini, itukah yang dimaksud?"
"Aku tidak tahu. Sudahlah daripada kita kena gampar nantinya!"
*
'Siapa pun kau pasti akan kutemukan dan pembalasanku akan jauh jauh lebih pedih!'
Usai membatin, Asta Brajadaka memberi perintah pada para prajurit untuk mengebumikan semua mayat lalu kembali ke istana kesenopatian.
Tiba di ruang depan kediamannya, Asta Brajadaka segera berseru pada seorang yang tengah menunggunya,
"Gujerat! Kau panggil Gandara dan Bamatara!"
"Sendiko dawuh, Senopati!"
Tak berapa lama, Gujerat kembali bersama dua lelaki memakai ikat kepala rapi. Mirip belangkon hanya memiliki dua ekor terjuntai di belakang. Keduanya menyandang pedang di pinggang.
"Kami menghadap Senopati."
"Kalian berdua, cari di seluruh sudut kerajaan pendekar yang menggunakan senjata pisau. Bunuh mereka semua dengan senyap."
"Sendiko dawuh, Senopati!"
Gandara dan Bamatara undur diri sebelum melesat bagai burung alap-alap.
Sebagai dua tangan kanan Senopati Asta Brajadaka, Gandara dan Bamantara memiliki kesaktian yang sulit dicari tandingannya. Disebut-sebut keduanya bahkan mampu membunuh seorang senopati dengan mudah. Membuat pihak kerajaan sangat senang dengan bergabungnya dua pendekar tersebut di bawah kesenopatian Asta Brajadaka.
"Kemana kita, Bamantara?!" seru Gandara.
"Ke tempat di mana banyak jawara berkumpul!"
Yang dimaksud Bamantara adalah Sasana Lingga Perkasa yang terletak di sudut pasar Galahtiga. Di sana setiap harinya digelar tarung antar pendekar yang dibuat taruhan.
Tidak butuh lama, keduanya tiba dan disambut pengelola, Ki Jarot. Sebagaimana namanya, lelaki separuh baya yang bertelanjang dada itu terlihat berotot.
"Ada apa gerangan sentana berdua berkunjung? Bukankah baru beberapa hari kemarin aku mengirim upeti?"
Sentana adalah sebuah pangkat bagi tangan kanan senopati.
"Tidak ada apa-apa, Ki Jarot. Kami berdua ingin melihat jalannya perjudian sekaligus mengamankan. Apa kau tidak mendengar warta tentang Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung?"
Yang menjawab adalah Bamantara, dia memiliki otak lebih encer daripada Gandara. Tak heran ia mampu menutupi tujuan kedatangannya dengan apik.
"Oh tentu, sungguh kebanggaan tersendiri bagi kami. Silahkan silahkan."
Meski Ki Jarot tak perlu khawatir sasananya akan diserang orang, ia tetap senang atas perhatian dari dua sentana.
Sasana Lingga Perkasa adalah sebuah bangunan yang semuanya terbuat dari galih kayu pilihan. Langit-langitnya tinggi dan ruangan depan sangat luas. Di tengah ruangan ini terdapat sebuah panggung di mana para petarung berlaga.
Di belakang ruangan depan masih banyak ruangan yang digunakan sebagai kediaman oleh Ki Jarot dan anak buahnya.
Bamantara dan Gandara ikut berdiri menyaksikan dua petarung tangan kosong yang hendak berlaga. Tetapi itu hanya sementara, selanjutnya keduanya mengamati para penonton untuk mencari siapa saja di antara mereka yang bersenjatakan pisau.
Pengguna pisau biasanya menyimpan pisau di balik bajunya, sehingga mereka akan menggunakan pakaian yang ukurannya lebih besar. Tetapi ada juga yang menyimpan pisau di paha.
"Ki Jarot!" panggil Bamantara cukup keras sebab pertarungan dua jagoan di atas panggung telah dimulai sehingga sorak-sorai dan pekik dukungan penonton terdengar memenuhi ruangan.
"Ada yang bisa kubantu, Sentana?!"
"Ya, kita ke sana!"
Bamantara mengajak Jarot mundur ke belakang.
"Kau lihat pendekar di sana, Ki Jarot?" tanya Bamantara menunjuk.
"Oh, tentu sebagian pendekar di sini pernah menjadi petarung setidaknya petaruh. Dia Sungging Petaka."
"Di mana dia tinggal?"
"Kebanyakan pendekar setelah menang judi akan ke omah kajaliran dekat sini, Sentana. Mereka menghabiskan malam mereka di sana!"
"Oh ... aku jadi penasaran."
"Berkunjunglah ke sana, Sentana. Kalian perlu sedikit bersantai untuk melepas penat kerja."
"Tentu ... tentu ...!"
Bamantara tersenyum penuh arti, sebab ternyata sangat mudah menemukan mereka malam nanti.