Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 59. Tanding



Jaga Saksena maju satu langkah,


"Jika hanya mengangkat batu kerikil ke udara, Gusti Alloh mengangkat langit sepanjang masa!"


Bash!


Jaga Saksena sapukan tangan kanan melepas tenaga dalam untuk mengikat beberapa batu yang lebih besar lalu menyentaknya.


Whett!


Therr!


Lima batu melesat menghantam pecah lima kerikil.


"Hoyaaa!" Para warga berseru gembira, karena ternyata Jaga Saksena mampu menandingi keajaiban yang dibuat anak buah Juragan Sujiwala.


Panas hati akibat para warga menyoraki, Baija emosi, memaki,


"Keparat! Rasakan ini!"


Lelaki bergelang akar bahar di lengan itu mengeluarkan sebuah boneka jerami kecil serta jarum yang terbuat dari bambu wulung.


"Owesowesowesowesowes ...!" komat-kamit Baija membaca mantra lalu menyebul keras boneka dengan jigong busuknya,


"Byuhhh!"


Dan,


Cleb!Cleb!Cleb!


Jarum dari bambu wulung ia tusuk-tusukkan ke boneka dengan cepat berkali-kali.


Saat itu juga, Jaga Saksena mendelik mata, merasakan tubuhnya bagai ditusuk-tusuk paku.


'Laa haula walaa quwwata illa billahil'aliyyil'adhiiim ....'


Membaca hauqolah dalam hati, Jaga Saksena hentikan napasnya lalu pusatkan seluruh kesadaran untuk meminta perlindungan pada Yang Maha Kuasa dengan membaca ta'awwudz disusul membaca ayat 163 dari surat Al-Baqarah kemudian disambung ayat kursi.


Pada kalimah 'Walaa yauduhuu hifdhuhumaa wahuwal'aliyyul 'adhiim' Jaga Saksena mengulang tujuh belas kali, dan ....


Bulll!


"Arghh!! Siaal!"


Boneka jerami di tangan Baija seketika terbakar hingga terpaksa harus ia campakkan ke tanah.


Gagal dengan ilmu hitamnya, Baija memandang Juragan Sujiwala yang tampak kecewa.


"Serang!" perintah Sujiwala garang.


"Heaa!"


Baija menerjang dengan sebuah tendangan mengarah dada Jaga Saksena.


Tendangan telapak kaki kanan berlambar tenaga dalam. Jika mengenai dada bisa membuat jantung dan paru-paru terluka.


Tak ingin membuang waktu untuk bertarung, Jaga hantamkan tinju kanannya.


Wuut!


Bugkh!


Tinju Jaga Saksena bertumbukan dengan telapak kaki Baija. Dan,


Wedd!


Tubuh Baija terlempar kuat ke belakang.


Untung saja, salah satu kawan Baija menyambar tubuhnya. Jika tidak, mungkin Baija akan menghempas pohon di belakang sana.


"Kakiku!" Baija tidak bisa berdiri dengan dua kaki sebab kaki kanan yang barusan terhantam tinju terasa kesemutan yang sangat mencucuk. Tak hanya itu, pergelangan kaki Baija berasa nyeri seperti tertusuk-tusuk.


Melihat Baija dipecundangi dan terluka, Juraga Sujiwala tak tinggal diam.


"Serang!" suruh Sujiwala pada tiga anak buahnya.


Serentak, tiga lelaki bertelanjang dada itu merangsek memperpendek jarak guna melancarkan serangan pada Jaga Saksena. Sementara Ki Lurah dan yang lain telah mundur untuk memberi ruang gerak pertarungan lebih leluasa.


"Hiaaa!"


Tep!


Jaga Saksena menangkap kaki penyerang pertama yang melayangkan tendangan ke arah lambung. Dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, Jaga melemparkan penyerang tersebut hingga nyangsang di pohon tinggi.


Penyerang kedua tak jauh beda, Jaga menangkap tangannya lalu membanting ke tanah sekaligus menyarangkan totokan ke pangkal leher.


Tersisa satu anak buah Juragan Sujiwala. Memanfaatkan posisi Jaga ketika merunduk untuk menotok, lelaki yang memakai gelang akar bahar di lengannya itu tendangkan kaki ke pantat Jaga. Jelas tujuannya untuk mempermalukan.


Namun, sedetik lagi tendangan itu menghajar telak pantatnya, Jaga Saksena putar tubuh ke samping guna melancarkan sentilan pada testis lawan.


Stakk!


"Waddoh Beyoouuung ...!"


Lelaki kekar itu menjerit keras seraya jingkrak-jingkrak kesakitan, kedua tangannya memegangi kantong menjan yang terasa pecah sudah.


Para warga yang menonton pun menutup mulut tak lagi kuat menahan tawa.


'Ingin tertawa tetapi takut dosa!' batin mereka dalam hati.


Melihat empat anak buahnya dipecundangi, Juragan Sujiwala tak berani gegabah. Sebab jika dirinya kalah oleh pemuda yang ia anggap masih ingusan itu, bisa-bisa nama baiknya hancur. Maka, Juragan Sujiwala pun berkata,


"Baik, Anak Muda. Kau memang cukup punya kemampuan. Semuanya! Cepat kita pulang!"


"Huuuu ...!"


Juragan Sujiwala memalingkan badan lalu bergegas pergi diiringi oleh suara sorakan para warga.


Baija menyusul sang juragan, melangkah dengan menyeret satu kaki diikuti lelaki yang masih memegangi kantong menjan dengan dua tangan. Keduanya tak hiraukan kawan yang terkena totokan dan yang nyangsang di atas pohon.


*⁰0⁰*


Tiga hari berlalu dengan cepat. Hingga tibalah waktunya Jaga melanjutkan perjalanan. Hampir seluruh warga Desa Debogsari berkumpul untuk melepas kepergian Jaga Saksena. Mereka sedih sebab belum bisa menghapal seluruh bacaan untuk menyembah Yang Maha Kuasa. Meski Jaga Saksena telah meninggalkan tulisan untuk dibaca, itu tak banyak membantu.


Satu-satunya yang menenangkan mereka adalah akan datang saudara dari seberang yang bakal membimbing mereka belajar lebih dalam dan kemungkinan juga akan mengajarkan olah kanuragan.


"Aku akan mengibarkan kain ini," Jaga menunjukkan selembar kain putih. "Akan kukibarkan di puncak pohon tertinggi di atas bukit sana sebagai tanda agar saudara kita dari seberang bisa menemukan desa ini."


Berkata demikian Jaga berpamitan.


"Jaga dirimu baik-baik, Den Jaga. Kapan pun kau hendak kembali, sungguh pintu kami selalu terbuka untukmu," ucap Ki Lurah Danuranda, ada kesedihan perpisahan di ucapannya.


Jaga Saksena mengangguk. Usai mengucapkan salam, pemuda itu melesat bagai anak panah menuju ke bukit Tulangula.


"Andai Den Jaga mau mengajarkan ilmu larinya ...." gumam warga setelah menjawab salam.


***


Pasar di bagian utara Kerajaan Saindara Gumilang siang ini sangat ramai terutama di bagian utara di mana terdapat sebuah tempat terbuka untuk lelang bu dak. Orang-orang berjubel untuk ikut lelang atau hanya sekedar menonton, ingin tahu harga jual para bu dak belian.


Itu karena sejak kemarin hari telah tersiar kabar, bahwa para Pemburu Bu dak Gunung _yang baru kembali dari perburuan mereka_ akan mengadakan lelang hari ini.


Dan benar saja, dari pagi hari woro-woro lelang bu dak telah disebar luaskan. Panggung lelang pun telah dipersiapkan. Para bu dak dijejer rapi di atas panggung dengan tangan dan kaki terbelenggu.


Di bagian belakang penonton, seorang pemuda berpakaian serba merah berdiri di antara orang-orang tampak sesekali menggaruk kepalanya yang berambut gondrong.


"Ada yang aneh ...." gumamnya mengamati para bu dak di atas panggung.


"Lelang dibuka!!"


Teriakan lelaki juru lelang di atas panggung tidak membuat si pemuda berpakaian serba merah menghentikan analisa dalam pikiran. Ia lanjut mengamati gerak-gerik para bu dak terutama yang telah dewasa.


Juru lelang terus memandu jalannya penjualan bu dak. Di tengah-tengah kesibukannya, seperti biasa ia juga memberitahukan layanan purna jual yang akan diberikan oleh Kelompok Pemburu Bu dak Gunung pada para pembeli.


Di antaranya, jika bu dak kabur dan tidak bisa ditemukan, maka Kelompok Pemburu Bu dak Gunung akan memberi ganti bu dak baru.


Atau jika bu dak berbuat ulah, maka para pembeli bisa menghubungi Balai Kelompok Pemburu Bu dak Gunung yang terletak di utara tembok keraton.


Kerajaan Saindara Gumilang sebagaimana kerajaan lain mempunyai dua tembok. Tembok pertama adalah tembok yang dibangun sedemikian rupa untuk mengelilingi bangunan keraton.


Dan tembok kedua adalah dinding dari batu bata tebal nan tinggi yang mengelilingi kerajaan. Susunan tembok ini sangat kokoh, berfungsi melindungi kerajaan dan rakyatnya dari serangan luar. Terutama dari serangan kaum di balik barisan pegunungan di sebelah barat kerajaan.


Cukup jauh di sebelah barat kerajaan terdapat barisan pegunungan menghijau yang disebut Gugusan Gunung Bumati. Di ambil dari kata mlebu mati yang artinya siapa pun yang masuk akan tewas.


Di balik gugusan Gunung Bumati inilah hidup masyarakat primitif tetapi sangat kuat. Mereka bisa menyerang kapan saja, terutama jika sumberdaya makanan mereka habis.


Tetapi kini tembok kokoh itu juga akan sangat bermanfaat andai pasukan Kerajaan Gumara benar-benar terus meluaskan kekuasaannya.


Kerajaan Gumara sendiri terletak lebih jauh lagi. Butuh perjalanan empat hari berkuda tanpa henti untuk mencapai perbatasannya.


Lelang terus berjalan lancar, dan si pemuda berpakaian serba merah hanya menyaksikan hingga semua bu dak pun terjual.