Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 80. Nyali Mereka Menciut



Diserang secara senyap tak membuat Sungsang kecolongan. Sigap, pemuda yang telah berusia matang itu membombardir musuh dengan lemparan pisau terbang beruntun.


Gretala _yang telah melihat pakaian kulit sukunya tidak mampu menahan tajamnya bilah pisau si pemuda_ kibaskan kapak dengan cepat, menangkis pisau-pisau terbang yang berdesingan.


Trang ! Trang! Trang!


Pisau-pisau bermentalan. Tak ada satu pun yang berhasil lolos dari halau-an dua kapak besar Gretala.


Namun, itu bukan berarti Gretala telah lolos sebab bersama makin dekat tubuhnya ke arah Sungsang,


"Petak Halimun Abang!"


Bashh!


Sekejap kabut merah mengepul ke segala arah. Saat itu pula tubuh Sungsang berkelabat cepat, hilang dalam pekatnya kabut.


Gretala terpaksa mendarat di tengah kabut merah dengan tanpa hasil. Dan, belum pun ia mengetahui di mana keberadaan musuh,


Sleb!


Sebuah pisau menembus lehernya, tepat di bagian depan yang tidak terlindungi oleh pakaian kulit tebalnya.


"Ghorrrr!"


Suara kematian Gretala mengiringi tubuh tinggi besarnya yang tumbang.


Ketika kabut merah menghilang tertiup angin, kematian Gretala pun segera diketahui oleh para bawahannya.


Bagai anak ayam kehilangan induk, para anggota Suku Lembah Kenabala di bawah pimpinan Gretala mulai kocar-kacir. Mental mereka jatuh. Disaat itulah, Sungsang berteriak kerahkan tenaga dalamnya.


"Bantai mereka semua!!"


Suara Sungsang menggelegar.


Tak hanya berteriak, Sungsang berkelebat sembari lemparkan pisaunya.


Melihat pasukannya makin terpuruk, kocar-kacir dan yang tumbang makin banyak, Raja Draleka putuskan untuk mundur.


"Baleeek! Baleeek! Baleeek kabeeeh ...!"


Teriakan Raja Draleka segera dipatuhi. Sembari menyerang, para manusia Suku Lembah Kenabala mundur.


Saat yang sama, semangat pasukan kerajaan Saindara Gumilang makin membara.


Bahkan Senopati Ragnala Raksa yang tengah terluka akibat melawan salah satu pemimpin perang Suku Lembah Kenabala berteriak keras,


"Bunuh lelaki bertubuh besar itu! Seribu keping emas bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya!"


Ragnala Raksa jelas memaksud pada lelaki yang tengah memberi perintah, "Baleeek! Baleeek! Baleeek kabeeeh!" sembari menghajar para prajurit kerajaan yang berusaha mengejar.


"Apa?! Seribu keping emas?!"


Sungsang yang telah kempis kantong akibat beberapa hari terus menyewa penginapan bersama Jaga Saksena dibuat berbinar mata.


Semula Sungsang tidak tahu pasti tujuan hatinya ikut berperang, tapi kini jelas sudah apa yang harus ia tuju: Mendapatkan hadiah!


Tak lagi pedulikan rencana semula yakni membunuh tentara musuh sebanyak-banyaknya, Sungsang melesat mengejar Raja Draleka.


"Kalian semua, minggiiiir!" teriak Sungsang kala melihat banyak prajurit yang memburu Raja Draleka malah menjadi korban.


Swash! Swash! Swash!


Alirkan tenaga dalam tinggi, Sungsang Gumilang tembakkan lima pisau terbang beruntun.


Tak hanya menunggu hasil dari lima pisau terbangnya, Sungsang seakan mengadu kecepatan dengan laju pisau terbang. Pemuda matang itu ikut melesat menuju Raja Draleka guna sarangkan serangan jarak dekat.


Trang!Trang!Trang!


Sangat cepat, Raja Draleka gerakkan dua parang hitam pendek di kedua tangan, menepis semua pisau terbang yang mengarah lima titik kematiannya. Namun, saat ia selesai.


Bashh!


Trang!Trang!Trang!


Serangan jarak dekat Sungsang rupanya juga mampu ditangkis sepenuhnya oleh Raja Draleka. Pekatnya kabut merah tak membuat sang raja terhalang. Garizah bertarung yang sangat hebat!


Baku hantam pun terjadi. Percikan kembang api dari benturan-benturan empat senjata di masing-masing tangan memberi warna kabut yang berbeda.


Kaki ini Sungsang Gumilang benar-benar kerahkan semua kecepatannya. Ini menurutnya lebih hemat tenaga daripada harus menggunakan ajian yang pemborosan.


Namun, hingga kabut merah menghilang tersingkir oleh tiupan angin sore ditambah hiruk-pikuk angin pertarungan, Sungsang belum berhasil menggoreskan satu pun luka pada tubuh sang Raja Draleka.


Sementara itu, tampak para pendekar pemburu hadiah juga telah bersiap-siap mencuri kesempatan. Mereka bersiaga, tidak jauh dari area pertarungan Sungsang.


'Sialan! Sungguh seribu keping membuat para bedebah itu kicep! Ngiler! Dasar para bedebah mudah tergiur receh!'


Sungsang hanya bisa memaki dalam hati, mengata-ngatai para pendekar sambil terus menyerang Raja Draleka. Padahal dirinya juga kesengsem pada hadiah tersebut.


Hingga, ketika serangannya tidak juga membuahkan hasil, Sungsang melenting tinggi ke belakang.


"Sial! Kalian yang memaksaku!"


Mendarat, Sungsang yang tak mau kehilangan kesempatan mendapatkan kepingan emas salurkan tenaga dalam ke tangan kanannya yang kini terangkat tinggi.


Seketika hawa panas di sekitar Sungsang meningkat dengan sangat cepat.


"Tapaaak Matahari Meeeraaaah ...!"


Tangan Sungsang yang telah berubah keluarkan cahaya merah hingga siku mendorong ke depan. Saat itulah, sinar merah terang meluncur.


Di waktu yang sama, sembari silangkan dua parang hitam pendek di depan dada, Raja Draleka komat-kamit dengan sangat cepat hingga ujung mulutnya berbusa. Rupanya ia telah tahu akan diserang dengan ajian dan bermaksud menandinginya.


"Dharr Khotek Caaaaaak!"


Crang!


Berteriak entah apa, Raja Draleka benturkan dua parang hitam. Saat itu pula mencelat keluar darinya cahaya kekuningan membentuk kepala ular sanca raksasa menyongsong sinar merah terang ajian lawan.


GLENGGGGGGG ...!


Tumbukan dua kekuatan ajian pun terjadi. Tanah radius tiga ratus tombak bergetar hebat.


Daya kejut ledakan menciptakan kekacauan yang memporak-porandakan semua benda sejauh seratus tombak.


Mayat-mayat beterbangan. Rerumputan bercerabutan disertai tanah dan debu yang bermuncratan ke udara.


Untung saja, para prajurit telah berlarian terlebih dahulu ketika tahu akan ada adu ajian, sehingga mereka tidaklah menjadi korban. Berbeda dengan para pendekar yang mengincar hadiah. Mereka bertahan dengan membuat perlindungan diri menggunakan tenaga dalam.


Ketika semua kekacauan mulai mereda, rerumputan yang beterbangan luruh, maka pandangan mulai kembali seperti semula.


Di sana, di bawah terjadinya tumbukan dua kekuatan ajian dasyat kini tercipta kawah kering yang cukup lebar. Asap masih mengepul pertanda hawa panas luar biasa masih tertinggal.


Sungsang Gumilang berdiri gontai, ada sirip dalam nan panjang di depan kakinya. Rupanya pemuda itu sempat terdorong jauh ke belakang.


Sementara itu, di ujung sana, tubuh Raja Draleka tidak lagi terlihat. Lelaki tinggi besar itu tergeletak di atas tanah, jauh dari tempat semula ia berdiri. Tubuh gosongnya tak bergerak sama sekali. Tak ada tanda-tanda dadanya masih bernapas.


Ya, Raja Draleka tewas. Dan Sungsang tidak perlu memastikan itu karena ia telah yakin sepenuhnya. Sebab hampir seluruh tenaga dalam miliknya telah ia kerahkan untuk melakukan serangan barusan, sebuah taruhan besar demi seribu keping emas!


"Tak sia-sia aku berlatih keras selama tujuh tahun ini! Seribu keping emas! He he he!"


Sungsang Gumilang tersenyum tipis, bayangan seribu keping emas telah menggelayuti hayal dalam benak di kepalanya.


Makanan enak, minuman segar, pakaian baru, senjata canggih, penginapan yang lebih baik .... Bayangan kesenangan menyerbu nafsu Sungsang Gumilang.


*


To be continued