
"Werkadal! Sebelum mulutnya membuat telingaku budeg, cepat kau bunuh dia!"
"Serahkan padaku, Kakang Gumbala!"
Werkadal berjalan medekat dengan langkah lebar, perutnya yang sedikit gendut mendahului dadanya. Menunjukkan betapa ia sangat percaya diri. Sebab di dalam benak Werkadal, membunuh seorang bocah semudah membalik telapak tangan. Apalagi anak lelaki di hadapannya tampak tidak berisi, cenderung kurus.
Satu langkah di depan Jaga,
"Matilah kau, Bocah!"
Wuut!
Werkadal menghantamkan kepalan tangan kanannya ke dalam, hendak memecahkan kepala Jaga bagian kiri.
Namun, betapa terkejut Werkadal ketika pukulannya hanya mengenai udara kosong. Kepercayaan dirinya mulai memudar.
"Coba lagi, Paman. Kau belum beruntung!" Jaga Saksena yang telah undurkan diri ke belakang berkata sembari tersenyum.
"Oh ...! Rupanya kau mau pamer kepandaian di hadapanku ya?!"
Seg!Seg!Seg!
Werkadal melakukan gerakan tangan, memamerkan gerakan kembangan silat sebelum melangkah cepat memperpendek jarak.
Tak tinggal diam, Jaga Saksena letakkan buntalan di punggungnya, lalu menyongsong serangan dengan senang hati. Bagi Jaga, ini merupakan kesempatan untuk mengasah kemampuan.
Pertarungan dua orang beda ukuran pun dimulai.
Tahap awal pertarungan hingga puluhan pertukaran serangan, Jaga hanya menggunakan gerakan dasar. Tetapi ketika Werkadal mulai memakai jurus simpanannya, Jaga menerapkan jurus Kayuku Kayumu.
"Memalukan!" seru Gumbala ketika Werkadal belum juga bisa menjatuhkan si bocah.
"Hiaaa!"
Malu pada Gumbala, Werkadal cabut pisau dari pinggang kemudian menyerang lawan bertubi-tubi.
Masih melayani dengan tangan kosong, Jaga Saksena terus menghindar. Hingga, dalam satu kesempatan dengan apik Jaga memasukkan pukulan ke pergelangan tangan Werkadal.
Stak!
Tangan Werkadal terhentak hingga pisau terjatuh. Pula, Werkadal merasakan tangannya kesemutan.
Saat singkat itulah Jaga Saksena kembali menghantamkan tinjunya, kali ini ke pangkal paha lawan kiri kanan.
Bugh! Bugh!
Arghh!
Werkadal terhuyung, dan ...
Duosh!
Telapak kaki Jaga Saksena masuk menghajar dada Werkadal, hingga lelaki itu terjengkang tak bisa bangkit lagi akibat kepalanya menghantam pangkal sebuah pohon.
"Ternyata bertarung dengan manusia lebih menyenangkan!" desis Jaga Saksena berpaling dari Werkadal untuk memandang Gumbala.
"Ayo majulah, beri bocah kecil ini pengalaman!" tantang Jaga Saksena pada Gumbala.
Meski Gumbala telah menyaksikan ketangguhan Jaga, tetapi melihat Werkadal hanya dibuat pingsan, Gumbala tak berpikir ulang untuk langsung menyerang. Apalagi tempat ini sepi tidak ada orang yang lewat sehingga jika kalah ia pun tak kan merasa malu.
"Mampuslah kau Bocah! Heaat!"
Gumbala menerjang dengan pancalan kaki. Sebuah langkah yang gegabah mengingat sebelumnya Jaga mampu menghadapi serangan senjata Werkadal. Gumbala tidak mempertimbangkan tubuh lawan yang lebih kecil dan lebih pendek darinya.
Mendapat serangan atas, Jaga menghindar ke samping, hantamkan tangan pada dua buah ***** lawan.
Pukk!
"Arghhhh ...!"
Gumbala terbanting ke tanah akibat tidak mampu kendalikan tubuhnya sendiri untuk mendarat. Serangan pada kantong menjan bukan hanya membuat keseimbanganya hilang tetapi rasa sakitnya merambat dari pangkal ************ hingga ke ubun-ubun!
Memegangi testisnya dalam posisi meringkuk di tanah, Gumbala bersumpah,
"A-aku argh ...!" ucapan Gumbala terhenti oleh keluhannya sendiri. "A-ku bersumpah akan membunuhmu!"
"Janganlah mudah mengumbar sumpah, Paman! Lebih baik kau katakan di mana penjual nasi itu! Jika tidak ...."
Jaga memposisikan diri seperti hendak menendang ******** Gumbala.
"Di sana! Di dalam pasar!"
"Sontoloyo! Orang tua gak jelas!" gerutu Jaga Saksena sembari melangkah mengambil buntalan daging dan madu kemudian pergi tanpa menoleh lagi.
***
Kedai Pokokwareg terkenal akan nasi tege iga sapi (sop iga sapi_pen). Sangat terkenal seantero pasar. Kedai ini berdiri persis menghadap jalan besar yang membelah pasar.
Bersemboyan "Gurih Enak Kenyang" kedai ini selalu memuaskan para pelanggan sampai *******.
Usai sembahyang dhuhur, ke sanalah Jaga Saksena melangkahkan kaki berdasar petunjuk orang-orang.
Hanya tersisa satu meja di pojok kedai bagian dalam, ke meja itulah Jaga diarahkan oleh pelayan.
Pelayan yang ramah, apalagi melihat Jaga membawa buntalan cukup besar pertanda baru saja belanja.
"Apakah ada nasi terenak, Paman?" tanya Jaga Saksena saat telah duduk.
"Tentu, Den. Sajian andalan kami, sop iga sapi! Tuak legen tersimpan lama, hampir satu tahun!"
"Tolong sediakan nasi terenak, Paman!"
"Sesuatu yang tidak memabukkan. Apa saja boleh."
"Ditunggu ya, Den!"
Meski baru hitungan bulan berguru, Jaga telah tahu apa saja yang tidak boleh dilakukan. Salah satunya dilarang minum minuman yang memabukkan meski hanya sedikit saja.
Bagi Jaga larangan ini tidak masalah, sebab dirinya juga belum pernah meminum minuman tersebut.
Jaga Saksena mengedarkan pandangan sembari menunggu makanan datang.
'Air dalam bumbung itu. Ah ... sepertinya akan sulit melarang mereka untuk meninggalkan minuman yang memabukkan. Sudah menjadi kearifan-lokal!'
Jaga melihat hampir setiap orang dalam kedai menyanding bumbung. Bahkan, tiga orang wanita di pojok sana yang tampaknya para pendekar juga menyanding bumbung yang sama, wadah tuak.
Pesanan datang.
Jaga Saksena mengamati nasi putih di atas daun pisang beralas piring tanah liat merah yang baru saja dihidangkan oleh pelayan.
Mata bocah itu tertuju pada sebuah mangkuk besar berisi kuah pekat yang tampak mengapung dedaunan hijau. Ketika Jaga mengaduknya, ada tulang dan daging di sana.
Uap panas mengepul tipis dari kuah, menebarkan bau harum menggugah.
"Aku tidak memesan ini, aku memesan nasi terenak!" ucap Jaga pada pelayan pembawa hidangan yang hendak pergi kembali ke belakang.
"Ya inilah nasi ter-enak, Den. Silahkan! Silahkan dinikmati. Sesuai semboyan kedai kami, Gurih Enak Kenyang! Aden pasti akan ketagihan!" jawab pelayan usai menurunkan cangkir minuman.
"Paman bisa saja. Terimakasih!"
Jaga Saksena sudah mengamati cara orang-orang makan, meski begitu ia masih penasaran dengan rasa nasi kedai yang kata pelayan merupakan nasi terenak.
Usai berdoa, Jaga memuluk nasi dengan tiga jarinya, lalu memasukkan benda putih agak kenyal itu ke mulut.
'Hemmm ... rasanya sedikit manis. Kenapa beda dengan nasi Ki Pandu ya?!' batin Jaga Saksena lalu menuangkan nasi ke dalam mangkuk mengikuti cara makan orang-orang.
Menggunakan sendok dari batok kelapa, Jaga Saksena mulai memasukkan nasi tege iga sapi.
'Apa ini?? Enak sekali!'
Mata Jaga membelalak lebar sebelum kembali memasukkan lagi dan lagi.
Di jalan, luar kedai.
"Minggir-minggir! Beri kami jalan!"
Rombongan beberapa kereta yang memasuki pasar menyita perhatian semua orang. Orang-orang segera memberi jalan.
Melihat keramaian itu, para pengunjung kedai Pokokwareg turut memalingkan wajah ke arah jalan. Kedai yang hanya berdinding setinggi 4 jengkal memungkinkan pengunjung melihat ke luar kedai.
"Akhirnya! Yang kita tunggu datang!" seru salah satu pengunjung berpakaian mewah.
"Penghangat malamku telah tiba!" seru pengunjung di meja lain.
"Mainan baru segera kudapatkan!"
"Kita bisa menambah pekerja!"
Mendengar komentar-komentar pengunjung kedai, Jaga ikut melihat ke arah jalan.
Betapa kaget Jaga hingga menghentikan makannya. Gerobak-gerobak berdinding kayu hitam dan memiliki jendela berjeruji besi di bagian pinggir serta belakang itu ternyata membawa manusia.
Setiap satu gerobak mengangkut sekitar lima sampai sepuluh orang.
Jaga menghitung jumlah gerobak, 'Gila! Ada sepuluh gerobak!"
Pedagang budak yang Jaga lihat memang bukan kelompok kecil. Mereka merupakan gerombolan spesialis pemburu budak. Orang-orang mengenal mereka dengan Kawanan Pemburu Budak Gunung.
"Bocah Cilik! Lanjutkan makanmu! Kau belum pantas membeli budak, tidak perlu ikut-ikutan!"
Jaga mencari sumber suara yang menegurnya. Ternyata, suara itu dari seorang pemuda yang duduk di meja sebelah kiri. Ia duduk bersama orang-orang yang mungkin saja kawan atau kenalannya.
Pemuda ini berpenampilan pendekar. Meski terlihat sedikit aneh, sebab seluruh pakaiannya berwarna merah, bahkan sabuk di perut dan ikat kepalanya.
Jaga tidak melihat pemuda tersebut membawa senjata.
Menggeser tubuhnya ke ujung bangku panjang yang ia duduki agar lebih dekat ke si pemuda, Jaga Saksena bertanya lirih,
"Budak, Paman?"
"Hmmmm ...!" jawab si pemuda acuh bahkan ia tidak melirik sedikit pun, tetap asyik mengunyah makanan di mulutnya.
"Kau seorang pendekar, Paman?" tetiba Jaga bertanya dengan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan budak.
"Hmmmm ...!" Pemuda berpakaian serba merah mengangguk.
"Lalu kenapa kau biarkan kesemena-menaan di depan matamu, Paman?"
Tak menjawab, pemuda berpakaian serba merah tetiba bangkit lalu pindah ke meja di mana Jaga berada. Ia membawa wadah makanan serta bumbung minumannya.
"Ngerti apa kau dengan kesemena-menaan, Bocil? Jadi manusia itu yang penting tidak mengganggu orang lain. Dan tidak merasa terganggu jika diganggu orang lain."
Tahulah Jaga sekarang bahwa kemungkinan besar pemuda ini sendirian. Lalu datanglah orang-orang ke mejanya tetapi si pemuda tetap menikmati pesanannya, dan tidak terganggu sama sekali.
"Jika kau ditangkap kemudian dijual, apa itu tidak mengganggumu?" tanya Jaga.
"Itu tidak mengganggu, tetapi menjajahmu. Jadilah manusia merdeka meski kau harus menebusnya dengan kematian!"
Jaga Saksena terdiam. Ia sadar dirinya hanya seorang bocah kecil yang tak'kan bisa mempengaruhi orang dewasa.
'Jika aku tidak bisa merubah pendirian orang lain, maka kelak akulah yang akan merubah orang lain!'