Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 39. Turun Gunung



Sebulan berlalu.


Di pagi hari yang cerah di halaman gua.


"Jaga, Guru akan pergi ke pasar untuk membeli persediaan makanan. Kau berlatihlah dengan sungguh-sungguh dan makanlah tanpa menunggu Guru kembali. Bulan depan kau yang harus membeli persediaan makanan."


"Baik, Guru!"


"Oh ya, karena sudah satu bulan qomariyah, latihan gerakmu akan kutambahkan beban."


Selain ilmu agama, Jaga juga diajarkan ilmu falak. Sehingga Jaga tahu dalam satu tahun ada dua belas bulan, dalam satu bulan ada 29 atau 30 hari. Dalam satu hari ada 24 jam. Dalam satu jam ada 60 menit. Dalam satu menit ada 60 detik.


Sang guru mengambil kain panjang lalu mengikatkan batu pada dua lengan serta dua kaki Jaga Saksena. Demikian juga di bagian perut depan dan belakang.


"Mulailah berlatih, Guru pergi dulu. Assalamualaikum!"


"Wa'alakumussalam warahmatullahi wa barokatuh!"


Tak memperhatikan gurunya lagi, Jaga mulai memasang kuda-kuda dan melakukan gerakan dasar.


'Berat!'


Kendati terasa berat, Jaga terap melakukan gerakan.


Awalnya pukulan Jaga seperti melenceng ke bawah akibat beban batu. Tetapi lama-kelamaan Jaga mulai terbiasa.


Sejak saat itulah, latihan gerakan dasar dan jurus Kayuku Kayumu dilakukan oleh Jaga Saksena dengan membawa beban batu.


Hingga tak terasa sebulan pun berlalu kembali.


"Jaga, seperti kata guru sebulan yang lalu, sekarang giliranmu turun gunung. Apa yang telah kau dapatkan dari guru, terapkanlah dengan baik dan jagalah akhlakmu."


"Baik Guru! Murid berangkat."


Dengan riang Jaga Saksena pamit.


Berbekal satu kantong kecil keping emas pemberian gurunya, Jaga mengucapkan salam lalu berlari kecil menuruni lereng. Tak lupa, kapak batu yang selama ini ia letakkan di dalam gua, kini ia selipkan kembali di pinggang.


Dengan lincah, Jaga Saksena menuruni lereng. Meloncat dari batu ke batu lain tanpa takut terpeleset.


Latihan diberi pemberat batu selama satu bulan sangat membantu meningkatkan kekuatan tubuh Jaga Saksena. Maka ketika tanpa pemberat batu, tubuh terasa ringan.


Lama menempuh perjalanan, sampailah Jaga Saksena di hutan yang tanahnya mulai datar.


Jaga melirik ke arah matahari yang telah bergeser dari puncak tertingginya.


'Ternyata gua tempat tinggal kami tinggi sekali! Ini sudah waktu dhuhur, tapi aku baru sampai di hutan ini!"


Ini adalah hutan yang masih panjang. Jaga tahu sebab bisa melihatnya beberapa waktu yang lalu dari atas sana.


Masih memiliki wudhu, Jaga Saksena langsung mendirikan sembahyang sholat dhuhur. Di atas tanah bersemek dedaunan kering yang jatuh ke bumi.


"Assalamu'alaikum warahmatullooh ....!"


"Grrrrr ...!"


Saat Jaga Saksena uluk salam kedua, di sisi kirinya sejarak dua tombak, telah berdiri harimau loreng dengan kaki depan sedikit maju dan tubuh sedikit mundur, siap menerkam.


"Grrrrr ...!"


"Mau memangsaku?" Jaga Saksena menyeringai.


"Ghoaarrr ...!"


Harimau meloncat melakukan terkaman dengan mulut terbuka lebar.


Saat yang sama, Jaga berguling ke samping sebelum bangkit berlari sembari berteriak,


"Tangkap aku jika kau bisa! Ha hai ha ha!"


Kejar-kejaran pun terjadi, tetapi jelas Jaga Saksena hendak bersenang-senang sebab tak henti-hentinya ia tertawa.


Apalagi hutan tidak terlalu banyak ditumbuhi tumbuhan yang merambat, Jaga bisa lari dengan tanpa khawatir terbelit kaki.


Ketika harimau tertinggal, anak lelaki itu memelankan laju larinya agar sang harimau kembali bersemangat mengejar.


Hingga, sekitar satu jam melakukan pengejaran, harimau tampak tidak lagi berminat melanjutkan. Hewan buas itu menghentikan larinya lalu duduk dengan mulut terbuka. Ya, harimau juga hewan yang merasa lelah apalagi perutnya tengah lapar.


Tahu tak lagi dikejar, Jaga berhenti membalik badan.


"Ha ha ha! Tidak sia-sia aku latihan siang malam!" gumam Jaga Saksena senang lalu kembali berteriak,


"Hwoii Harimauuu ...! Apa kau bosan menemanikuuu!?"


Jelas saja tak ada jawaban kecuali gema lirih suara Jaga yang dipantulkan oleh pepohonan.


Jaga Saksena membalik badan untuk kembali berlari.


Untung saja hutan ini tidak ada orang, jika ada orang, mungkin Jaga Saksena akan disangka medi (hantu_pen) penunggu hutan.


Matahari hampir tenggelam ketika Jaga Saksena keluar dari hutan.


Memelankan laju larinya hingga kini tinggal berjalan, Jaga Saksena melihat ke arah langit di sebelah barat sambil garuk-garuk kepala.


"Ternyata pasar yang dimaksud guru jauh sekali, bahkan aku terus berlari dan hanya istirahat kala waktu sembahyang. Tetapi ini, sudah hampir maghrib aku baru keluar dari hutan. Aku tak bisa bayangkan kecepatan guru. Atau jangan-jangan guru benar-benar terbang. Tapi ... mana ada manusia terbang?!"


Meski dulu Jaga serasa dibawa terbang oleh sang guru tetapi ketika mata kepala tidak melihat sendiri, ia belumlah yakin.


Jaga terus berjalan pelan, mencari tempat yang pas untuk menunggu maghrib tiba.


Usai menjalankan ritual menyembah Sang Maha Pencipta di waktu maghrib, Jaga memakan seiris daging dibumbui madu.


'Untung saja guru memberikan bekal daging kering, hehehe!'


Jaga terkekeh dalam hati, menertawakan kebodohan dirinya sendiri yang sempat tidak mau membawa bekal.


*⁰0⁰*


Malam menyelimuti mayapada.


Desa Kumalungkung terlihat sangat sepi. Tak ada seorang pun yang tampak di luar rumah.


Pos ronda yang didirikan di dekat gerbang desa juga kosong mlompong. Meninggalkan kentongan bambu bergantung kesepian dalam kesendirian.


Ini bermula dari terjadinya pembunuhan seorang maling oleh masyarakat desa beberapa hari yang lalu di dekat pos ronda.


Maling tersebut sebenarnya tertangkap di tengah desa tetapi diseret dan dipukuli hingga ke luar desa. Mayatnya lalu dikebumikan begitu saja di sana.


Sejak hari itu, tiap malam terdengar suara orang merintih lagi minta tolong. Padahal kembang tujuh rupa telah ditaburkan di sepanjang perbatasan desa. Kemenyan juga telah dibakar. Bermacam sesaji juga telah dipersembahkan.


Namun, suara-suara itu tetap saja terdengar. Membuat para warga ketakutan apalagi yang merasa ikut menggebugi si maling.


Asap sisa pembakaran sampah di sore hari menambah suasana malam semakin menakutkan. Saat itulah terlihat seorang anak lelaki berusia sepuluhan tahun memasuki gerbang desa dengan santainya. Sebuah kapak batu terselip di pinggang kirinya.


"Sepi sekali? Assalamu 'alaina wa'ala 'ibadillahissolihin," seru si anak lelaki yang tak lain adalah Jaga Saksena.


Baru beberapa langkah memasuki desa, Jaga di sambut bangunan pos ronda di pinggir jalan yang dibangun seperti rumah panggung kecil.


'Ada rumah kecil tidak memiliki pintu dan dinding. Eh apa itu?'


Meski gelap, dibantu cahaya rembulan samar-samar Jaga Saksena melihat potongan bambu yang menggantung.


Jaga mendekat lalu meraih pemukul yang terselip di lubang bambu.


"Sepertinya ini bisa ditabuh."


Tong! Tong! Tong!


"Bagus juga nih!"


Tak!Tong! Tong!Tong! Tak!Tong! Tak!Tong!


Mendengar suara kentongan, warga yang rumahnya tidak jauh dari pos ronda segera bangkit dari pembaringan,


"Ada kentongan raja pati! Bagaimana ini?!"


Tetapi sesaat kemudian,


"Lho kentongan apa ini?! Kok berganti?!"


Para warga pun dibuat bingung.


"Gila! Ada yang berani main-main di pos ronda. Apa dia tidak takut? Atau jangan-jangan ...."


Suara kentongan terus terdengar membuat para warga makin bertanya-tanya. Apakah itu perbuatan manusia atau malah jangan-jangan perbuatan medi (hantu_pen).


Namun, tetiba suara kentongan berhenti. Itu karena Jaga Saksena teringat pesan gurunya untuk menjaga akhlak.


"Suara benda yang kutabuh ini bisa mengganggu orang lain. Maaf Guru ...! Murid lupa!" teriak Jaga Saksena.


Mengembalikan pemukul ke tempatnya, Jaga Saksena duduk di pos ronda dengan kaki ongkang-ongkang.


Berencana akan melanjutkan perjalanan esok hari, mulut anak itu mulai membaca sesuatu dengan keras.


"Bismillahirrahmanirrahim ...."


Ya, Jaga Saksena mengulang kembali hapalan-hapalannya. Dalam satu hari, Jaga diwajibkan oleh sang guru untuk mengulang hapalan selama tiga jam. Hari ini, sebab berlari Jaga baru memiliki kesempatan.


Tenangnya suasana malam, hanya diselingi oleh suara jlekitet (jangkrik kerdil_pen), membuat suara Jaga Saksena terdengar cukup jauh.