
Kabar kembalinya Jaga Saksena segera menyebar ke seluruh istana. Maka, tumenggung dan para senopati serta para perwira pun segera berdatangan ke kediaman Putri Anesha Sari. Mereka semua berbahagia apalagi setelah diberitahu oleh Patih Sepuh Labda Lawana bahwa pernikahan Jaga Saksena dan Anesha Sari akan dipercepat.
Pendekar Merah dan Begawan Teja Surendra _yang mendengar kabar sedikit terlambat_ datang belakangan. Serempak keduanya memeluk Jaga Saksena seperti saudara yang sangat lama tak jumpa.
Melepas pelukannya, Pendekar Merah berkata dengan suara lantang, "Sudah kukatakan! Jaga Saksena belum meninggal!"
"Sepertinya lain kali kami harus percaya padamu Pendekar Merah!" timpal Aswangga. Dan ....
Gerrrr ...!
Semua orang tertawa bahagia.
Kedatangan berikutnya setelah Pendekar Merah dan Begawan Teja Surendra adalah keluarga Anesha Sari yang dipimpin Pangeran Trengginas.
"Assalamualaikum wa rohmatullahi wabarokatuh!" seru Trengginas lantang di depan pintu masuk.
Jaga Saksena langsung berdiri sembari menjawab salam. Tidak jauh beda sebagaimana ia menyambut pembesar lain, hanya saja kali ini wajah pemuda itu lebih riang dan tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, Pangeran sudah menjadi saudaraku seiman?!" tanya Jaga Saksena ketika Trengginas juga memeluknya.
Melepas pelukannya, Trengginas menjawab,
"Alhamdulillah, Jaga! Aku sudah resmi menjadi murid begawan. Aku akan menjadi pertapa mengikuti jejak guru. Aku tidak mau seperti Kakangda Kama Kumara, haus akan kekuasaan sehingga tega membunuh ramanda juga dua adi kandungnya! Aku sangat senang kau kembali, maaf jika aku tadi berlebihan memelukmu."
Jaga Saksena mengangguk. Bukan karena permontaan maaf Trengginas akan tetapi karena baru mulai paham mengapa putri Anesha Sari yang akan diangkat menjadi penguasa. Sebenarnya Jaga Saksena ingin bertanya hal itu dari awal pada Patih Sepuh Labda Lawana atau pada punggawa kerajaan, hanya saja setelah dipikir rasanya tidak elok karena Jaga merasa bukan siapa-siapa maka tidaklah patut mencampuri urusan kerajaan.
"Kita saudara seiman seislam, sudah semestinya akrab, Pangeran. Alhamdulillah, aku sudah mandi dan memakai pakaian layak ini, hehehe!" Jaga Saksena terkekeh pelan.
"Aku tidak memandang seseorang pada penampilannya, Jaga. Dan terimakasih karena kau telah memusnahkan belis itu. Juga terimakasih karena kau telah membawa cahaya yang menerangi hati guruku dan kini juga hatiku. Sejak aku masuk islam, hatiku lebih tenang dan lebih bisa menerima semua keadaan ini."
Ucapan Pangeran Trengginas yang keras mampu menarik perhatian semua punggawa kerajaan yang hadir dan juga keluarganya. Mereka ingin bertanya apa yang dibawa Jaga Saksena sehingga bisa menerangi hati Begawan Teja Surendra dan Pangeran Trengginas, lalu apa itu masuk islam. Akan tetapi anggah-ungguh mencegah mereka untuk tidak berlaku sembrono, sehingga lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.
*
Hari pernikahan sekaligus pelantikan tiba. Sejak matahari belum terbit, alun-alun telah dipenuhi oleh warga.
Para prajurit tampak berjaga di luar alun-alun dan di depan panggung di mana ritual pernikahan akan dilakukan. Mereka juga membuat jalur untuk dilewati rombongan calon mempelai menuju panggung nantinya.
Tak ketinggalan, para pendekar pun ikut datang. Mereka terlihat bertongkrongan di atap bangunan sekitar alun sembari menikmati minuman.
Saking antusias dan ramainya rakyat yang datang, jamuan makan yang sedianya akan diadakan di alun-alun dialihkan ke depan istana. Secara bergilir mereka makan sekenyang perut dengan mengambil sendiri atau biasa disebut peresmanan.
"Kenapa tidak ada tuak?"
"Katanya pesta rakyat?! Tak ada tuak tak ada pesta!"
Beberapa orang berwajah sangar mengeluh, tetapi tak berani berbuat lebih jauh. Kesaktian Sang Putri Anesha Sari yang mampu melempar Kama Kumara ke langit dan menarik meteor membuat mereka keder hati. Siapa yang ingin dilempar ke langit? Jatuh ke bumi bisa jadi bergedel basi.
Matahari naik sepenggalah ketika iring-iringan calon mempelai dari kaputren memasuki panggung. Dua orang wanita berparas cantik memayungi di kanan dan kiri.
Sementara para keluarga dan punggawa utama serta teman-teman dekat mengiringi di belakang.
Pendekar Merah yang berada di iring-iringan paling belakang tampak tak henti tebarkan senyuman seakan dirinyalah yang menjadi pusat perhatian.
Tetapi sebenarnya semua orang menatap Putri Anesha Sari yang berpenampilan sangat berbeda. Rambut panjang yang biasanya tergerai kini digantikan oleh kain putih panjang yang menutupi kepala hingga ujung rambut. Pakaian putihnya yang tampak kebesaran hingga menyentuh tanah panggung sedikit terkibar oleh angin pagi, menambah keanggunannya yang sudah luar biasa.
Saat yang sama, khalayak ramai mulai berbisik ke teman sebelah kanan dan kiri,
"Kira-kira ritual apa yang akan digunakan, Kang?"
"Aku tidak tahu, Adi. Lihatlah tak ada yang membawa dupa apalagi api!"
"Mungkinkah memakai tradisi yang jauh lebih kuno?!"
"Tidak juga, lihat pakaian mereka sungguh belum pernah kulihat dan sangat tertutup!"
Sebelum ke pelaminan, kedua calon mempelai duduk lesehan di lantai panggung. Sementara semua pengiring, mereka duduk membelah di panggung kiri dan kanan membuat dua calon mempelai berada di tengah bersama Pangeran Trengginas, Patih Sepuh Labda Lawana dan Begawan Teja Surendra.
Tumenggung Wiryateja berdiri di bibir panggung. Mengerahkan suaranya, lelaki berwajah garang itu berseru,
"Semuanya, mari kita heningkan suara! Karena ritual akan segera dimulai. Ritual akan di pimpin oleh Pangeran Trengginas, dan selaku dua saksi pokok adalah Patih Sepuh Labda Lawana dan Begawan Teja Surendra sementara yang lain dipersilahkan menyaksikan sebagai tambahan!"
Hening tak ada yang bersuara.
"Sebelum ritual dimulai, mari kita dengarkan lantunan suara calon mempelai pria, Pangeran Jaga Saksena," lanjut Tumenggung Wiryateja kemudian mundur dan duduk.
"A'udzubillaahi minasysyaithoonirrojiiiim. Bismillaahirrahmaanirrahiiiim ...."
Suara Jaga Saksena yang padat tetapi juga merdu sontak membuat semua orang melebarkan mata dan telinga. Mereka mulai berkomentar dalam hati,
'Indah sekali, bacaan apa ini?!'
'Mantra yang belum pernah kudengar! Kenapa hatiku berasa disentuh sesuatu ....'
'Merdu bagai semilir angin di teriknya siang!'
Tak lama kemudian,
"Shodaqolloohul'adhiiiim."
Jaga Saksena hanya melantunkan beberapa ayat suci Al-Qur'an, tetapi dengan mengalirkan kekuatan ruh, suara Jaga terdengar oleh telinga semua orang, bahkan hingga para pendekar yang jauh di atas atap sana, untuk kemudian membawa mereka larut dalam syahdu jiwa.
Tumenggung Wiryateja kembali berdiri dan berseru,
"Acara selanjutnya adalah ritual yang akan di bawakan oleh Pangeran Trengginas!"
Pangeran Trengginas mengangguk lalu mulai membuka dengan khutbah nikah,
"Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuh. Alhamdulillah ...."
Kembali seluruh rakyat yang hadir di alun-alun harus tercenung, karena mereka belum pernah mendengar apa yang diucapkan sang pangeran.
Pangeran Trengginas mengisi khutbah dengan wejangan singkat lalu melanjutkan acara ijab qobul dengan menjabat tangan Jaga Saksena.
Di awali dengan dua kalimat syahadat, Pangeran Trengginas kemudian berucap,
"Saudara Jaga Saksena. Aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan adindaku yang bernama Andara Anesha Sari dengan maskawin berupa seratus keping emas, tunai!"
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Andara Anesha Sari dengan maskawin yang telah disebut, tunai." Jaga Saksena menjawab qobul dengan lancar.
"Bagaimana saksi? Apakah sah?!"
"Sah!" jawab kompak Patih Sepuh Labda Lawana dan Begawan Teja Surendra.
Acara dilanjut dengan doa singkat yang juga dipimpin oleh Pangeran Trengginas.
Pangeran Trengginas, dua mempelai dan dua saksi mengangkat kedua tangan, semua orang pun turut mengangkat tangan serta mengikuti apa yang mereka ucapkan.
"Amin ...! Amin ...! Amin ...!"
Suara amin menggema mengisi udara.
Usai doa, acara dilanjut serah terima mas kawin berupa 100 keping emas. Jumlah yang sangat kecil bagi seorang putri tetapi besar bagi Jaga Saksena.
Sekarang semua orang di atas panggung tersenyum lega, apalagi Pangeran Trengginas yang harus menghapal rangkaian apa yang harus ia ucapkan. Bahkan ia tidak tidur selama sehari semalam guna menghapal dan melancarkan ucapannya.
Sama halnya, Jaga Saksena begitu lega karena semua berjalan lancar. Kemarin Jaga berencana akan memberi mas kawin berupa mengajar membaca Alqur'an kepada sang putri tetapi Pendekar Merah tidak setuju dengan berkata, "Mungkin dalam islam itu boleh, tapi ini dilihat oleh rakyat. Dan kau sepertinya lupa bahwa ada kawanmu yang kaya raya. Ini 100 keping emas aku berikan untukmu dengan hati tulus dan rela. Jadikanlah mas kawinmu, Jaga!"
***