
Narini, perempuan yang baru berusia dua puluh tahun, tubuhnya setinggi para pria dewasa kebanyakan, langsing tetapi tidak kerempeng. Bibirnya merah merekah dengan mata sedikit lebar dipandu hidung mbangir menggemaskan. Rambutnya tergerai panjang mengombak, hitam legam dan selalu semerbak harum mewangi.
Maka tak berlebihan jik Narini dikatakan sebagai penerima tamu tercantik yang dimiliki oleh penginapan Rembulan Nanggal Sapisan.
Sedikit berjingkat agar suaranya tak terdengar, Narini menyelinap masuk ke dalam kamar paling ujung selatan dengan cara menjungkit palang kunci melalui celah pintu.
Ketika berhasil masuk dan menutup pintu kembali, di bawah sinar lampu teplak di sudut ruangan, Narini melihat lelaki berjubah tengah duduk bersila membelakangi pintu, menghadap ke barat tetapi sedikit serong ke utara.
'Sedang apa dia? Sudah hampir tengah malam kenapa belum tidur?!' tanya Narini dalam hati lalu mendekat perlahan.
'Aku akan memeluk dan menciuminya dari belakang! Pasti dia tak akan sanggup menolakku!'
Berpikir tak akan ada seorang lelaki pun yang akan menolak dirinya, apalagi hawa udara malam cukup dingin terasa, Narini memutuskan untuk langsung memeluk lelaki berjubah putih dari belakang dan akan menciumi lehernya dari samping. Rencana yang sempurna untuk membangkitkan libido seorang pria!
Namun,
"Hegh!"
Saat hanya tinggal memeluk, Narini tertahan oleh tabir energi tak kasat mata. Sungguh mengherankan bagi seorang Narini.
'Apa ini?!'
Semakin Narini memaksakan diri, semakin tabir energi tak kasat mata itu semakin mendorongnya mundur.
'Gila! Apa sebenarnya yang menghalangiku ini!'
Kesal, Narini mundur hingga mendekati dinding di samping pintu. Dan,
Wet!
Narini nekat berlari menghambur ke arah lelaki berjubah putih yang masih duduk bergeming bagai sebuah batu. Dan ....
Wuudd!
Bragh!
Narini terpental terbang ke belakang hingga menabrak dinding.
"Argh ... Patah ... Punggungku ...!"
Narini menggaduh, merasakan punggungnya sakit bukan main, serasa patah.
Sekarang Narini terdiam setelah cukup lama mengusap-usap punggungnya. Ia tengah memikirkan bagaimana cara agar bisa menyentuh sang lelaki berjubah putih.
Bukannya jera akibat terlontar hingga menabrak dinding, Narini malah merasa makin tertantang.
'Ah, aku akan menggodanya dari depan!' pikir Narini yang tiba-tiba mendapatkan gagasan cemerlang.
Perempuan muda cantik menawan itu mendekat, maju di hadapan lelaki berjubah lalu menurunkan pakaian atasnya hingga dua buah payudara putih kencang padatnya menyembul.
Kemudian, Narini menaikkan pakaian bawah hingga paha mulusnya tersingkap lebar. Kaki jenjang mulus tanpa cela bagai bersinar di susasan yang temaram.
Belum berhenti sampai di situ saja, Narini mulai menggoyang pinggulnya memutar sembari mendesah manja.
Meski Narini tahu lelaki berjubah memejam mata, tetapi ia berharap dengan ******* manjanya, lelaki tersebut mau membuka mata untuk melihatnya hingga terangsang oleh kemolekan tubuh aduhainya.
Tetapi harapan tinggal harapan. Hingga Narini hampir benar-benar telanjang sepenuhnya, sang lelaki berjubah putih tetap bergeming membatu dalam diam.
Kesal bukan alang kepalang, Narini tetiba menyobek pakaiannya sendiri lalu menjerit sekuat tenaga,
"Tolooong ...! Toloooong ...! Ada yang mau memperkosakuuu ...! Toloooooong ...!"
Suara teriakan keras Narini memecah kesunyian malam.
Seketika kegaduhan pun terjadi. Orang-orang berlarian menuju sumber suara. Terutama para tukang pukul penginapan.
Saat yang sama, lelaki berjubah putih buka matanya sebab mendengar ada yang minta tolong.
Dan, lelaki berjubah putih itu cukup terkejut ketika ternyata yang meminta tolong adalah seorang perempuan yang menggelepar-gelepar di hadapannya dengan baju robek sana sini, hanya bagian *********** saja yang tertutupi selembar kain.
Reflek, lelaki berjubah putih itu mencelat bangkit sembari buang pandangan ke arah lain.
Berbarengan dengan itu, beberapa orang sampai di depan kamar dan ....
Brakkkk!
Daun pintu menghempas lantai kamar akibat didobrak dari luar.
Empat lelaki masuk, menuding tepat pada muka lelaki berjubah putih.
"Aku tidak melakukan apa pun!"
"Bohong! Dia mau memperkosaku! Lihatlah bajuku!" sahut Narini sembari berusaha menutupi dua buah dadanya dengan sobekan pakaian.
"Lelaki biadab! Berani-beraninya kau!!"
"Bukankah sudah ada yang disediakan untuk kau sewa, tetapi kau malah main paksa!!"
"Sudah gebuki saja! Tuman!"
Empat lelaki itu membentak silih berganti. Tetapi, baru saja bentakan terakhir terdengar, para tukang pukul penginapan berhamburan masuk. Mereka berjumlah enam orang.
"Ada apa Narini?!" tanya lelaki bertubuh kekar besar dengan pakaian tanpa lengan. Di pinggangnya menggantung sabit panjang berwarangka kulit kerbau. Tampaknya dialah pemimpin para tukang pukul penginapan.
"Lelaki ini mau memperkosaku, Kakang Balakuna!"
"Kenapa kalian diam saja! Seret lelaki ini cepat!" teriak Balakuna pada lima anak buahnya.
"Tunggu, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu!" ucap Lelaki berjubah putih mencoba ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Namun, ucapan pria berjubah itu malah hanya membuat semua orang tambah marah.
Lima tukang pukul merangsek maju mencekal dua lengan lelaki berjubah putih bermaksud menyeret keluar untuk mereka hajar.
Namun, ketika mereka menyeretnya,
"Hegkh!"
Terdengar keluhan tertahan dari mulut lima tukang pukul, sebab mereka seperti hendak menyeret gunung, sangat kokoh! Bahkan proa berjubah putih itu tidak bergerak sedikit pun!
"Keparat! Orang ini ingin pamer kekuatan kepada kita!" seru salah seorang tukang pukul.
"Hajar!"
"Bunuh saja!"
"Cincang!"
"Bakar!"
"Minggir!" bentak Balakuna sembari mencabut sabit dari pinggangnya lalu mengayunkan dengan cepat membacok ke arah mata Lelaki berjubah putih.
Tentu saja hal ini membuat Narini yang kini berada di pojok ruangan terkesiap. Tidak mengira sandiwaranya akan membuat orang terbunuh.
Wuut!
Ujung sabit membelah udara dengan cepat. Dan ....
"Arghh ...!"
Brughh!
Bukan lelaki berjubah yang terkapar, tetapi Balakuna. Lelaki berbadan besar itu terlontar hingga menjebol dinding kayu kamar.
Semua pasang mata membelalak. Sebab untuk melemparkan seorang Balakuna diperlukan tenaga dalam cukup tinggi disertai gerakan tangan yang kuat. Tetapi, lelaki berjubah tidak menyentuh Balakuna sama sekali, bahkan tidak menggerakkan tubuhnya sedikit pun!
"Para Ki Sanak semua, aku tidak hendak memperkosa wanita di sana, jadi kalian salah menuduh orang."
Lelaki berjubah berkata dengan sopan, bahkan kepalanya sedikit menunduk demi memberi hormat.
"Lelaki biadab memang begitu! Dia mengelak seolah dirinya makhluk paling suci sejagat padahal telah membuatku begini!" teriak Narini membuat semua orang harus percaya bahwa dia memang hendak diperkosa oleh pria berjubah putih.
Narini sebelumnya memang sempat terkesiap, tidak menduga lelaki berjubah akan dibunuh oleh Balakuna. Akan tetapi ketika ternyata lelaki berjubah malah mempecundangi Balakuna dengan sangat mudah, pikiran Narini berubah,
'Lelaki berjubah itu harus dibunuh! Jika tidak, maka mereka akan tahu bahwa aku hanya berpura-pura!'
"Sungguh, aku tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh perempuan ini. Aku membuka mata dan dia sudah ada di depanku dalam keadaan seperti itu."
Kembali pria berjubah putih berusaha menerangkan.
"Tidak akan ada maling mengaku maling!" teriak Narini membuat suasana makin gaduh saja.