
Ketika Jaga Saksena kembali bersama Patih Sepuh Labda Lawana serta Begawan Teja Surendra, dan disambut meriah oleh ribuan orang yang sedang gotong royong,
"Di-dia?!" gagap lelaki tersebut sebelum memastikan apa yang dilihat mata tidak salah kemudian membalik badan dan segera pergi.
Lelaki kekar bertelanjang dada itu dikenal dengan nama Jakala. Ia bergegas pergi dari kerumunan ketika melihat sosok pemuda yang dielu-elukan sebagai pahlawan ternyata adalah seseorang yang ia kenali tujuh tahun yang lalu. Seorang yang telah membunuh anak majikannya.
Jakala memasuki rumah besar yang terlihat mewah.
"Dimana Ndoro Raden Bakintal, Bi Iyek?!" tanya Jakala pada seorang wanita setengah tua yang tengah menyapu lantai.
Wanita itu segera menjawab, "Ndoro ada di rumah pengawetan!"
Tergopoh, Jakala menuju ke samping rumah lalu berjalan ke belakang di mana di sana ada bangunan tersendiri yang tak kalah megah. Rumah itulah yang dinamakan rumah pengawetan oleh Bi Iyek.
Disebut demikian sebab di sana disimpan jasad putra Raden Bakintal yang telah diawetkan.
Jakala hendak mengetuk pintu rumah pengawetan ketika tiba-tiba telinganya mendengar teriakan dari dalam,
"Huakhhhh ...! Sudah tujuh tahun berlalu tetapi orang-orang suruhanku tidak pernah kembali! Mereka memang tidak berguna! Bangsat keparat bedebah hina! Tetapi ... tenanglah anakku, dendammu pasti akan kubalas! Pasti!"
Mendengar teriakan itu, Jakala menarik napas panjang, lalu memberanikan diri mengetuk pintu.
"Masuk!!" kasar suara jawaban dari dalam.
Dipersilahkan, Jakala membuka pintu perlahan lalu jongkok kemudian beringsut memasuki ruangan. Ruangan yang sangat luas. Di tengah ruangan terdapat peti mati dari galih kayu terbaik.
Peti mati itu dibiarkan terbuka, di sanalah terlihat sesosok mayat terbaring kaku akan tetapi tidak menebar bau busuk.
Jakala yang beringsut berhenti di belakang Raden Bakintal sejarak satu tombak. Kaki kanannya berlutut sementara kaki kiri jongkok.
Jakala menangkupkan dua telapak tangan di depan hidung, menyembah dengan berkata penuh kesopanan,
"Ndoro Raden, mohon maaf mengganggu."
"Kau memang selalu menggangguku, Bangsat! Ada apa?! Cepat katakan!!"
"Tujuh tahun berlalu, tapi hamba tak kan pernah lupa sosok pembunuh Raden Takil. Dan hamba baru saja melihatnya."
"Apa?!"
Raden Bakintal melotot, ada kemarahan sekaligus senang dalam raut mukanya.
"Tidak salah lagi, Ndoro!"
"Lalu kenapa kau malah ke sini?! Kenapa kau tidak membunuhnya, hah?!"
"Ampun, Ndoro ...."
Jakala menerangkan bahwa pembunuh Raden Takil bernama Jaga Saksena.
Jaga Saksena telah menjelma menjadi pendekar tanpa tanding yang menurut orang-orang telah berhasil menjadi pahlawan Kerajaan Saindara Gumilang dengan memenangkan pertarungan melawan musuh utama kerajaan.
"Bedebah!"
Plak!
Raden Bakintal memukulkan tinju kanannya ke telapak tangan kiri, menimbulkan suara keras. Perbuatan yang membuat ngilu Jakala, karena bisa saja tangan itu memukuli kepalanya.
"Kau cari lima pendekar yang telah menerima bayaran dariku. Suruh mereka membunuh dalit itu!"
"Ampun, Ndoro." Masih dalam posisi jongkok dengan kaki kanan berlutut, Jakala kembali menangkupkan dua telapak tangannya di depan hidung. "Mereka telah lama keluar dari kerajaan dan belum kembali hingga kini. Ke mana hamba harus mencarinya?"
Raden Bakintal terdiam, 'Iya juga, mencari mereka hanya akan buang-buang waktu saja!'
Menyadari pencarian lima pendekar hanya akan membuang waktu, Raden Bakintal memikirkan cara lain untuk membunuh Jaga Saksena. Cara yang sangkil dan mankus, jika bisa tanpa harus membuat gaduh.
'Dalit biadab itu telah menjadi pahlawan Kerajaan Saindara Gumilang. Aku harus membunuhnya dengan senyap, jika tidak maka akan menimbulkan kegaduhan ... dan aku tidak mau ada masalah dengan raja!'
Cukup lama Raden Bakintal terdiam, berjalan ke kanan dan ke kiri beberapa kali. Sementara Jakala hanya bisa terdiam mematung. Menunggu titah dari Sang Ndoro. Hingga akhirnya,
"Kau persiapkan bekal. Ajak juga Tirta dan Umbara. Kita akan bepergian jauh."
"Sendiko dawuh, Ndoro!"
Tidak butuh lama bagi Jakala untuk persiapkan bekal dan menghubungi dua pendekar bayaran yang sudah langganan menjadi pengawal ketika Raden Bakintal berpergian jauh.
"Heaaa!!"
Raden Bakintal memimpin rombongan kecilnya melaju ke arah utara.
Sanca Hitam merupakan perguruan tempat menimba ilmu kanuragan yang berhaluan kiri alias beraliran hitam. Bukan hanya karena mereka mengandalkan racun dan menebar ketakutan pada setiap orang. Akan tetapi mereka juga _dikabarkan_ menjalin sekutu dengan jin merkayangan penguasa laut utara.
Untuk menghidupi padepokan, selain sang ketua memperbolehkan pada anggotanya untuk merampok dan membegal, mereka juga menjadi pembunuh bayaran dengan imbalan yang sepadan. Bergantung pada tingkat kesukaran.
***⁰0⁰***
Jamuan makan diakhiri. Sebab belum bertemu Raja Basukamba, Jaga Saksena dan Sungsang menjadi tamu kehormatan dan akan tinggal di sebuah rumah khusus.
"Tidak usah Paman, biar aku yang akan mengantar mereka," cegah Putri Anesha Sari pada abdi dalem yang hendak mengantar Jaga Saksena dan Sungsang.
Anesha Sari berjalan beriringan dengan Jaga sementara Sungsang harus mengaruk kepala mengikuti di belakang.
Di sisi lain.
"Untuk sementara bolehkah aku tinggal di istana juga Patih Sepuh Labda Lawana?" ujar Begawan Teja Surendra.
"Dengan senang hati, mari kuantar. Aku tahu yang kau mau."
Patih Sepuh Labda Lawana bisa menebak, Begawan Teja Surendra pasti masih ingin belajar banyak dari Jaga Saksena demikian juga dirinya.
"Hahaha!" Begawan Teja Surendra terkekeh, "Ternyata punya kawan ada gunanya juga, ya?!"
"Tak perlu sungkan, aku malah senang kau mau tinggal. Bukankah aku sudah memintamu dari dulu?"
Dua lelaki tua itu berjalan sembari terus mengobrol hingga akhirnya tiba di sebuah rumah panggung yang besar. Dan ternyata rumah ini bersebelahan dengan rumah yang disediakan untuk Jaga Saksena dan Pendekar Merah.
"Begawan, Patih Sepuh," sapa Jaga Saksena yang tengah berdiri di halaman bersama Putri Anesha Sari dan Sungsang Gumilang.
"Sanak Jaga, aku sengaja meminta jadi tamu juga. Karena masih banyak yang harus kupelajari darimu."
Jaga Saksena tersenyum senang. Melihat orang tua itu semangat, dirinya ikut bersemangat.
"Dengan senang hati, Begawan. Kapan pun selagi aku ada waktu jangan sungkan, Begawan."
"Bagaimana kalau setelah ...." Begawan Teja Surendra berpikir sesaat sebelum melanjutkan, "Setelah 'Isya? Karena si tua ini perlu membaca ulang apa yang telah ia catat!"
"Tentu, Begawan, tentu! Silahkan ...." Jaga Saksena mempersilahkan.
"Mari ...." pamit Begawan Teja Surendra.
Patih Sepuh Labda Lawana ikut berpamitan dengan membungkuk hormat, terutama pada Jaga Saksena.
Sepeninggal dua lelaki tua, Sungsang mendekati Jaga untuk bertanya,
"Bukankah itu begawan? Bagaimana dia akan belajar darimu, Jaga?"
"Oh, Begawan Teja Surendra seorang cendekiawan yang luar biasa."
"Itu yang kutanyakan! Mengapa seorang cendekiawan akan belajar padamu?"
"Oh itu. Alhamdulillah, dia dan Patih Sepuh telah masuk islam dan ingin memperdalam."
Melebar bola mata Sungsang, seakan ingin bertanya, "Bagaimana bisa?!"
"Masuk islam?! Apa itu Jaga?"
Yang bertanya adalah Putri Andara Anesha Sari, sebab baru pertama ini ia mendengar kata tersebut.
"Kita duduk di sana."
Jaga Saksena mengajak ke emper rumah di mana ada meja dan kursi di sana.
Duduk, Jaga Saksena terdiam sesaat guna memilih ungkapan yang tepat untuk menggambarkan apa itu islam.
"Ketika hatimu merasakan bahwa Sang Maha Pencipta hanya satu, maka islam adalah sebuah ajaran yang memberitahukanmu tata-cara bagaimana menyembahNya."
Jaga Saksena langsung masuk ke tahap kedua, sebab dirinya yakin bahwa jika nurani seseorang masih murni maka akan bisa merasakan atau menyadari adanya Sang Pencipta Yang Maha Tunggal, Maha Satu tidak ada yang lain karena jika ada yang lain pasti terjadi kekacauan.
Mendapat jawaban itu, Putri Anesha Sari tersenyum lalu berkata, "Satu saat ketika kita telah hidup dalam satu atap, kau harus mengajarkan itu padaku, Jaga."
"Dengan senang hati, aku—"
TePlok! TePlok!
Ucapan Jaga Saksena terhenti oleh tingkah Sungsang Gumilang yang berdiri di halaman akan tetapi tidak terlalu jauh dari Jaga dan Anesha Sari. Sungsang menepuk udara keras-keras seperti ada banyak nyamuk yang harus ia bunuh.
"Apa kawanmu itu memang terkadang gila, Jaga?!" tanya Anesha Sari dengan wajah serius.