
"Allâhumma shalli ‘alâ muḫammadin bi ‘adadi man shalla ‘alaih. Wa shalli ‘alâ muḫammadin bi ‘adadi man lam yushalli ‘alaih."
Suara dendang nyanyian itu makin jelas, membuat dua pihak yang saling berhadapan menoleh ke arah sumber suara, arah timur.
Dari arah timur, datang berjalan santai seorang pemuda berambut panjang. Wajahnya _meski hanya di bawah cahaya obor_ tampak jelas, tampan. Pakaiannya sedikit lusuh dengan sebuah benda aneh menggantung di pinggang kanan, kapak batu!
Pemuda itu berhenti di ujung kedua barisan orang-orang yang telah saling berhadapan menghunus senjata, lalu mengangguk sembari menangkupkan dua telapak tangan di depan dada, memberi hormat pada semua orang. Kemudian,
"Permisi Kisanak semua ... Boleh numpang tanya, apakah benar arah ini menuju Kerajaan Saindara Gumilang?" Pemuda itu bertanya dengan sopan.
"Whoi Bocah!" bentak lelaki berambut keriting acak-acakan berkulit legam. "MA TA MU tidak melihat kami mau berperang, hah!"
Dibentak dengan suara keras sedemikian rupa, si pemuda nyengir bersalah. Tetapi sedetik kemudian ia menghitung dengan menggunakan telunjuknya lalu bertanya,
"Berperang? Kalian hanya bersepuluh dan di sebelah sini hanya berenam. Bukannya berperang itu harus lebih banyak lagi?"
"Grrtkkkk!"
Bergemeletakan gigi geraham para anggota Kelompok Gobed Hitam oleh tingkah si pemuda.
Pada saat itulah, Bekel Anom Dwijaya berkata,
"Ki Sanak Muda, mereka orang-orang berbahaya. Jika kau hendak pergi ke Kerajaan Saindara Gumilang, arahmu sudah benar. Pergilah selagi masih ada kesempatan."
"Terimakasih, Paman. Kau orang yang baik, semoga Paman diberi keselamatan. Aku pergi dulu, Paman. Permisi semua ...!"
Si pemuda mengucap terima kasih sebelum berjalan hendak melewati tengah-tengah dua pihak yang saling berhadapan.
Meski si pemuda mengucap permisi dengan sopan, hal ini tidak membuat para anggota Gobed Hitam lega untuk memberi jalan.
"Bocah Sialan! Kau boleh pergi asal tinggalkan kepalamu di sini! Heaaa!"
Si rambut keriting acak-acakan melompat babatkan gobed di tangan kanan. Jelas tujuannya adalah membabat putus leher si pemuda dari depan.
Gobed yang telah banyak memakan korban itu berkelebat cepat. Namun, si pemuda tampaknya tidak siap sehingga dia tetap melangkah tanpa ada tanda-tanda akan menghindari serangan.
Melihat hal buruk akan terjadi pada si pemuda, Bekel Anom Dwijaya segera bertindak. Ia bergerak cepat menghadangkan golok membendung serangan.
Trangg!
Dua senjata beradu di depan wajah si pemuda, memercikkan kembang api, tetapi mata pemuda itu tak berkedip sama sakali.
"Mundur, Ki Sanak Muda, biar kuhadapi penjahat ini! Hiaa!" Menyuruh si pemuda mundur, Bekel Anom Dwijaya lancarkan tendangan kaki kiri ke lambung lawan.
Mau tak mau, si rambut keriting acak-acakan mundur untuk menghindar sembari tarik gobednya sebelum kembali lakukan serangan.
Pertarungan tak bisa dihindari. Meski begitu, para anggota Kelompok Gobed Hitam masih menahan diri untuk tidak menyerang pihak desa Debogsari. Mereka mundur untu memberi ruang gerak pertarungan lebih leluasa.
Pun para pemuda peronda juga tidak mau gegabah menyerang mengingat pihak lawan jelas lebih banyak. Lagi, Surata tengah meminta bantuan. Diam-diam mereka berharap semua akan baik-baik saja dan bisa teratasi tanpa jatuh korban dari pihak desa.
Tak butuh lama, pertarungan antara Bekel Anom Dwijaya melawan salah satu anggota Kelompok Gobed Hitam telah melewati dua jurus.
Ketika si rambut keriting meneriakkan jurus ketiga, mulailah Bekel Anom Dwijaya tampak kewalahan.
Bekal Anom Dwijaya hanya mampu bertahan, dan hampir beberapa kali nyawa akan melayang jika dia tidak susah payah melemparkan tubuh menyelamatkan diri.
Saat itulah, Ketua Kelompok Gobed Hitam _Jalada_ memberi arahan,
"Kriwil! Apa kau bermain sampai pagi?! Cepat kau selesaikan!"
"Dengan senang hati, Ketua!" jawab lelaki berambut keriting berkulit hitam legam sebelum meneriakkan jurus tingkat tingginya,
Kali ini permainan gobed Kriwil benar-benar tajam dan lebih cepat dari sebelumnya, mengarah ke titik-titik kematian Bekel Anom.
Hingga dalam satu kesempatan.
"Mampuslah kau!" Kriwil berteriak mengayunkan gobed hitam mengarah leher Bekel Anom Dwijaya yang sudah tidak lagi bisa menghindar usai bergulingan menyelamatkan diri.
Tubuh Bekel itu tertahan oleh sebuah pohon cukup besar sehingga tak bisa lagi berkutik. Satu-satunya cara agar selamat adalah menghadang tebasan gobed dengan goloknya.
Trakk!
Adu kekuatan pun terjadi. Keduanya saling dorong mendorong.
Bekel Anom Dwijaya memegang golok dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menahan ujung golok agar tidak semakin mendekat ke lehernya.
Demikian juga Kriwil, dua tangan ia kerahkan untuk menekan.
Dalam keadaan terdesak ini, Bekel Anom Dwijaya tendangkan kaki kanan sembari sedikit menekuk tubuh, mengarah pada lambung kanan Kriwil. Berharap lawan akan menggulingkan diri atau menarik serangan. Namun,
Tagkk!
Kriwil tak tinggal diam, dia hadangkan kaki kanan. Dua tulang kering pun beradu. Dan jelas, tenaga dalam Kriwil masih di atas Bekel Anom Dwijaya. Membuat bekel itu meringis kesakitan.
Parahnya lagi, membagi tenaga untuk menendang membuat pertahanan tangan Bekel Anom Dwijaya menurun. Kini, golok yang sedianya ia gunakan untuk pertahanan malah mulai menghimpit lehernya sendiri akibat tekanan gobed lawan.
Melihat Bekel Anom Dwijaya bagai telur di ujung tanduk, lima pemuda peronda hendak membantu. Tetapi para anggota Kelompok Gobed Hitam tak tonggal diam, mereka menghadang dengan gobed terhunus.
"Biarkan duel mereka terselesaikan, setelah itu giliran kalian!" desis salah satu anggota Kelompok Gobed Hitam, membuat lima pemuda peronda bimbang apakah mau menyerang atau menunggu bantuan datang.
Bekel Anom Dwijaya akhirnya hanya bisa pasrah, napasnya mulai sesak akibat leher tertekan goloknya sendiri. Saat yang sama, Kriwil tersenyum dengan penuh kemenangan. Sebab hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi lawan akan meregang nyawa.
Senyuman Kriwil belum pudar kala tiba-tiba,
Ctakk!
Sebuah kerikil menghantam kepalanya. Sakit berdenyut merambati kepala Kriwil hingga ke ubun-ubun bagai tersengat tawon ndas (rajanya tawon).
Bukan hanya itu saja, Kriwil merasa ada cairan yang meleleh hingga membasahi tengkuknya. Bersamaan dengan itu, bukan saja sakit berdenyut yang ia rasakan, tetapi juga berkunang-kunang. Lalu, bumi terasa mulai berputar miring dan ....
Brugh!
Kriwil jatuh menggelimpang ke kiri oleh daya dorong Bekel Anom Dwijaya.
Menyikapi keadaan lawan, Bekel Anom Dwijaya tak menyia-nyiakan kesempatan. Masih dari tempatnya Bekel Anom Dwijaya iringkan tubuh sembari ayunkan golok.
Crakk!
Sorrr!
Darah mengalir deras dari leher Kriwil yang terbacok tepat di bawah jakun.
Ghhorrr! Ghhorrr!
Suara dengkur leher tersembelih mengiringi darah yang mengalir deras. Tubuh Kriwil mengejang beberapa sebelum nyawanya benar-benar melayang.
Melihat anak buahnya tewas, Jalada mengelam wajah, menggembu perut pria itu berteriak keras memberi perintah,
"Bantai merekaaaaaa ...!"