
Pagi harinya, Senopati Sundul Mega kembali dibuat sibuk oleh penemuan beberapa mayat lagi.
Usai memeriksa semua korban yang betebaran di beberapa lokasi, Senopati Sundul Mega mengambil kesimpulan ini adalah sebuah pembalasan dendam ngawur yang dilakukan pihak Kelompok Pemburu Budak Gunung. Sebab semua korban adalah pendekar pengguna pisau
Mengantisipasi ini, Sang senopati segera menyebar warta agar para pendekar pengguna pisau berhati-hati.
Sontak saja ini membuat kegemparan di seluruh kerajaan Saindara Gumilang.
Percakapan di pasar, di jalanan hingga di kedai, semuanya membicarakan seputar pembunuhan di Balai Kelompok Pemburu Budak Gunung dan pembunuhan para pendekar pengguna pisau.
Jaga Saksena dan Sungsang yang tengah memasang telinga demi mencari Ketua Kelompok Pemburu Budak Gunung pun sumringah. Ada secercah harapan untuk menemukan sang ketua, yakni dengan jalan memancing pembunuh ini untuk memburu Sungsang.
Maka siang menjelang sore ini, Sungsang telah berganti pakaian dengan memasang dua pisau di masing-masing paha kanan dan kiri. Tak hanya itu, Sungsang juga memakai rompi dalam yang biasanya dipakai oleh pendekar pengguna pisau terbang dengan hanya merangkapi baju tipis berwarna putih. Tentu saja baju putih tersebut tidak bisa menutupi keberadaan pisau di baliknya.
Sungsang melangkah sendirian menyusuri jalanan kerajaan, sementara Jaga Saksena mengikuti dari jarak cukup jauh untuk memantau situasi.
Tak ayal, tingkah Sungsang mengundang perhatian orang-orang. Hanya saja kebanyakan dari mereka mencemooh,
"Kecerobohan sejati!"
"Bisa jadi mayatnya akan ditemukan besok pagi!"
"Kebodohan yang dikangkangi sendirian, seharusnya dia mengambil pelajaran dari kematian para pendekar pengguna pisau!"
Mendengar cibiran dari orang-orang, Sungsang malah tersenyum lebar. Tidak setelah seorang perwira di bawah Senopati Sundul Mega dan beberapa bawahannya menghadang Sungsang dan membentaknya,
"Hai kau!"
Sungsang celingukan. Ini membuat salah satu perwira mendekat dan menepuk pundaknya seraya berkata tegas,
"Kau yang kupanggil! Apa kau tidak mendengar peringatan dari Senopati Sundul Mega, hah?!"
"Peringatan apa?!" tanya Sungsang nyengir.
"Kau pekak ya?!" bentak perwira.
"Tidak juga!" jawab enteng Sungsang.
"Sebaiknya kau simpan pisau-pisaumu itu! Karena tadi malam telah terjadi pembunuhan para pendekar pengguna pisau!!"
"Bukankah aku sudah menyimpan pisau di tempatnya. Aku tidak menaruh di sembarang tempat." Sungsang tersenyum.
"Terserah kau sajalah!" ketus si perwira lalu pergi dengan muka masam.
Seolah tak pernah ditegur, Sungsang pun kembali berjalan dengan santainya.
Sesuai rencana, setelah lama berjalan menyusuri jalanan ramai, Sungsang kini membelok arah ke jalanan sepi menuju tembok kerajaan.
'Aku merasa dibuntuti beberapa orang. Pancinganku mungkin berhasil!' batin Sungsang tetap mencoba tenang, tidak melakukan gerakan mencurigakan.
Meski begitu, Sungsang telah memutar tenaga dalam, bersiap menghadapi segala serangan dari belakang maupun depan.
Beberapa lama kemudian, ketika keadaan benar-benar sepi Sungsang merasakan udara di belakangnya terdorong oleh kecepatan gerakan seseorang.
Menyambar dua pisau terbang, Sungsang membalik badan.
Benar saja, sesosok lelaki melenting di udara dengan posisi menekuk tubuh memegang pedang dengan dua tangan hendak menebas belah kepala Sungsang.
Cepat Sungsang lemparkan dua pisau terbang.
Wuus! Wuus!
Trang! Trang!
Dengan mudah, penyerang yang memakai penutup wajah itu menangkis dua pisau Sungsang ke kanan dan ke kiri sebelum bersalto lalu mendarat ringan.
Saat itulah, satu sosok penyerang lagi memburu Sungsang. Sosok ini juga menggunakan kain penutup wajah.
Tap!
Wuss!
Sungsang pancalkan kakinya kuat, melontarkan tubuh menjauh sembari kembali melemparkan pisau terbang dua kali berturut-turut.
Wuss! Wuss!
Trang! Trang!
Namun sia-sia. Tanpa mengurangi kecepatannya sang penyerang menangkis pisau terbang dengan sangat mudah.
"Hiaaa ...!"
Bisa menangkis dua pisau, lelaki bercadar terus melaju seraya tebaskan pedang mendatar.
Wuut!
Sungsang Tekuk tubuh ke belakang, pedang lewat di atas dadanya sejarak satu jengkal. Secepat bangkit saat serangan telah lewat, Sungsang cabut pisau untuk balas menyerang.
Pertarungan sengit pun terjadi.
Di saat yang sama, ketika penyerang pertama hendak ikut menyerang Sungsang, Jaga Saksena mencegatnya.
"Biarkan mereka bertarung, tanpa perlu kau recoki."
Seassh!
Lelaki bercadar tebaskan pedang sebagai balasan ucapan Jaga Saksena.
"Oh kau seorang pendiam rupanya!" seru Jaga Saksena menghindar, kecepatan serangan lawan tidak membuatnya keteteran.
Hanya dalam waktu singkat, seratus serangan pedang telah dilancarkan. Namun begitu, tak ada satu pun serangan yang mampu membeset pakaian Jaga Saksena. Seolah Jaga Saksena tahu ke mana arah pedang bergerak.
"Angin Kesepian!"
Tetiba lelaki bercadar menggembor teriakkan jurus pedang andalannya.
Bagai ditelan udara sore bilah pedang di tangan lelaki bercadar hilang. Ini membuat Jaga Saksena tidak mau ambil risiko. Pemuda itu mencelat ke belakang.
Melihat lawan menjauh, lelaki bercadar merasa di atas angin. Ia lajukan tubuhnya dengan hentakkan kaki kuat untuk memburu. Bagai alap-alap menyambar tubuh lelaki bercadar melesat ke depan. Namun, ia harus terkejut ketika mendadak,
"Menyemaikan Rintik Hujan!"
Jaga Saksena jentikkan sepuluh jari ke depan, mendesingkan ratusan titik-titik udara padat bagai rintik hujan yang melesat sangat cepat.
Sebuah jurus ajian yang Jaga Saksena kembangkan dari teknik totokan jarak jauh pemberian sang guru. Kala itu Jaga Saksena berpikir, jika hanya satu lesatan udara padat maka kemungkinan ditangkis atau dihindari akan mudah. Maka Jaga berlatih untuk memecahnya menjadi banyak udara padat yang sangat kecil. Tentu ini membutuhkan lebih banyak tenaga dalam.
Tik!Tik!Tik!
Sambil terus melaju, lelaki bercadar memutar pedang di tangannya membentuk perisai untuk menghalau semua rintik udara padat.
Jaga Saksena harus melebarkan mata akibat serangannya dengan mudah ditangkal oleh lawan tanpa terkecuali. Bahkan lawan terus merangsek memperpendek jarak.
'Aku tak bisa berlama-lama karena bisa saja pihak kerajaan akan segera datang!'
Membatin demikian, Jaga hantamkan telapak tangannya, kerahkan Rasaning Rasa untuk menyusuli serangan Menyemaikan Rintik Hujan.
Dartt!
Pedang yang membentuk perisai di tangan lelaki bercadar bagai dihantam palu raksasa hingga pedang terdorong menghantam dada tuannya sendiri. Masih beruntung, sisi lebar bilah yang mengenai dada, andai sisi tajamnya, tamat sudah riwayat lelaki bercadar.
"Huaghk!"
Terpental sepuluh tombak ke belakang, darah segah menyembur dari mulut lelaki bercadar hingga menyingkap kain penutup wajah yang ia kenakan.
Tak ingin melewatkan kesempatan emas, saat lawan tengah terdorong kuat, Jaga Saksena jentikkan jari kanan.
Wuss!
Stakk!
Udara padat menghantam pangkal leher lelaki bercadar. Membuat lelaki itu jatuh menghempas tanah dalam keadaan kaku.
Sementara itu pertarungan Sungsang melawan lelaki bercadar satunya lagi masih berjalan sengit. Hingga Jaga harus meneriaki,
"Merah! Kenapa kau masih bermain-main?"
Disela-sela pertarungan, Sungsang menjawab,
"Sialan kau! Aku tengah bertarung bukan bermain!"
Wajar saja Sungsang belum berhasil mengalahkan lawannya, karena secara teknik bertarung dan kecepatan gerakan, lawan Sungsang lebih kuat dibanding lawan Jaga Saksena.
Bahkan sepertinya lelaki musuh Sungsang belum mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Sebab,
"Kidung Pedang Menghasut Jiwa!"
Lelaki bercadar itu teriakkan jurus pedang tingkat tingginya. Tak mau kalah Sungsang kebutkan tangan kanan,
"Petak Halimun Abang!"
Bushh!
Dari tangan Sungsang Gumilang mengepul serbuk sangat halus berwarna merah yang menyebar ke segala arah bagai kabut pekat.