
"Begini Sanak Jaga ...."
Setelah semuanya duduk, Begawan Teja Surendra mulai menceritakan keluhan Yoga Mandala. Lebih tepatnya keluhan para selir dan permaisuri.
"Menurut Sanak Jaga, apa yang harus para selir dan permaisuri lakukan untuk mengatasi ini?!" pungkas Begawan Teja Surendra.
Jaga Saksena terdiam, membatin, 'Masalah begini, ruwet dibawa ke sini. Aku, satu istri pun belum punya.'
"Oh ya, para budak itu didapat dari mana, Pangeran Yoga?" tanya Jaga Saksena sebab teringat akan para budak wanita di Balai Kelompok Pemburu Budak.
"Aku tidak tahu pasti, tetapi yang kudengar ...." Yoga Mandala menjawab dengan perinci bahwa para budak diperoleh dari istana kesenopatian mendiang Asta Brajadaka yang asalnya dari Balai Kelompok Pemburu Budak.
'Alhamdulillah ... jika begitu, aku harus berusaha menolong mereka, bukan menolong permaisuri dan para selir.'
Membatin demikian akhirnya Jaga Saksena berkata,
"Baiklah, Pangeran Yoga Mandala. Sampaikan pada Yang Mulia Permaisuri dan Yang Mulia Para Selir untuk tenangkan hati dan pikir. Besok aku akan berusaha membantu menyelesaikan masalah ini dengan menemui Yang Mulia Raja Basukamba."
Mendengar kesanggupan Jaga Saksena untuk membantu, Yoga Mandala tak yakin. Malah-malah dengan menghadap pada sang raja, bisa jadi permaisuri dan para selir bakalan kena damprat raja.
Khawatir Jaga akan gagal dan kemungkinan besar akan menambah masalah, Yoga Mandala berkata dengan penuh kesungguhan,
"Tapi mohon Pangeran Jaga jangan bawa-bawa nama Byungda Permaisuri dan Byungda Selir. Karena mereka menginginkan ini seolah bukan dari mereka,"
"Tentu, jangan khawatirkan itu."
Yoga Mandala sekilas tersenyum kecut lalu mengucapkan terimakasih pada Begawan Teja Surendra dan Jaga Saksena kemudian melirik ke arah Sungsang yang tidur ayam.
"Kami undur diri dulu, Begawan, Pangeran ...!"
Sebelum keluar pintu Yoga Mandala berhenti sesaat lalu kembali meminta, "Mohon pembicaraan ini jangan sampai bocor keluar, Begawan, Pangeran."
Begawan Teja Surendra hanya mengangguk, sementara Jaga Saksena menjawab,
"Insya Allah."
Jawaban yang membuat Yoga Mandala mengerut dahi.
"Iya, maksudku," Jaga Saksena menyusuli kata, "akan kami jaga kerahasiaan masalah ini."
Sepeninggal Pangeran Yoga Mandala dan ajudannya,
"Jaga!" Sungsang meloncat bangun dari tidurannya lalu mendekat. "Para budak itu sudah ditemukan?! Lalu bagaimana kau akan membebaskan mereka dari cengkraman raja?! Apa yang akan kau lakukan?! Ini bukan masalah ringan, ini berhubungan dengan raja. Dan ingat, jika kau salah langkah bisa jadi malah akan membuat dirimu gagal jadi menantu!"
Mendapat pertanyaan dan saran bertubi-tubi, Jaga Saksena hanya tersenyum lalu berkata enteng,
"Pikirkan itu nanti, sekarang waktunya belajar."
***
Dini hari, badai hujan petir masih berlangsung. Jaga Saksena sengaja bangun untuk melaksanakan empat rokaat sembahyang hajat. Usai salam, Jaga tidak bergerak dari duduknya, bahkan jari kaki kanan masih memancal pada lantai.
Menggunakan ruas jari-jari tangan kanan dan kiri sebagai alat penghitung, Jaga mulai mengucapkan kalimat,
"Ya Hayyu Ya Qoyyum birohmatika astaghitsu."
Pemuda itu menyebut dua asma. Asma yang pertama bermakna Gusti Alloh Yang Maha Hidup, Kekal Abadi. Tidak berawal dan tidak pula berakhir. Gusti Alloh berbeda dari makhlukNya. Sedangkan asma kedua yakni Alqoyyum bermakna Gusti Alloh Maha Berdiri Sendiri, tidak butuh pertolongan, justru manusia dan seluruh mahluk lain'lah yang membutuhkan pertolonganNya.
Adapun kalimat birohmatika astaghitsu artinya; dengan kasih sayangMu aku memohon pertolongan.
Dengan tenang serta menghadirkan hati, Jaga Saksena terus mengucapkan kalimat ini hingga subuh tiba.
***
Pagi hari yang masih hujan dibarengi petir yang menyambar-nyambar. Andai tidak tertutup awan matahari oastinya telah terlihat meninggi di langit timur.
Berbekal keyakinan bahwa Gusti Alloh akan menolongnya, Jaga Saksena berencana menghadap Sang Raja sekarang juga, sebab hujan sepertinya masih akan lama.
"Mana mungkin raja akan mengabulkan permohonanmu, Jaga?!" ujar Sungsang kala Jaga pamitan padanya untuk pergi menghadap raja dengan tujuan meminta budak-budak wanita dibebaskan.
"Tidak ada kehendak kecuali kehendak Gusti Alloh semata." Jaga Saksena menjawab enteng sebelum membuka pintu.
"Aku ikut denganmu! Bukankah kau pangeran yang harus kukawal?!"
"Kebohongan akan menuntut pada kebohongan yang lain. Janganlah kau menebar kebohongan, Sungsang."
"Siapa yang bohong?!"
"Kau, memanggilku pangeran dan kau mengaku sebagai penjagaku. Apa itu bukan kebohongan?!"
"Ya gini saja, kau kuangkat jadi pangeran. Dan kau mengangkatku jadi penderek (ajudan_pen)!"
"Hemmm ... sepertinya kecurigaan Anesha Sari ada benarnya," gumam Jaga Saksena lalu melesat keluar rumah menembus lebatnya hujan tak pedulikan Sungsang.
Kemarin Anesha Sari sempat mempertanyakan apakah Sungsang terkadang gila. Tentu itu sebuah kecurigaan berdasar tanda-tanda yang tampak jelas oleh mata.
"Woii Pangeran! Aku ikut!!" Sungsang ikut melesat menyusul Jaga Saksena menembus lebatnya hujan petir berangin.
***
Tiba di istana raja, Jaga Saksena diikuti Sungsang segera minta menghadap.
Sebagai pahlawan sekaligus tamu kehormatan, permintaan Jaga Saksena segera disampaikan pada Raja Basukamba.
"Suruh Jaga Saksena menghadapku di ruang pasowanan agung (ruang pertemuan besar_pen)!" titah Raja pada perwira yang melapor.
Hari sudah siang ketika Jaga Saksena berhasil menghadap sang raja.
Di hadapan sang raja, Jaga Saksena segera mengutarakan tujuannya dengan lugas dan tanpa tedeng aling-aling karena ia yakin Gusti Alloh akan menolongnya sebab semalam Jaga telah meminta ribuan kali pertolongan pada-Nya.
Mendengar permintaan Jaga Saksena, Sang Raja bangkit dari singgasananya lalu berjalan perlahan mendekat.
"Tidak Yang Mulia Raja."
"Mereka budak pilihan. Satu wanita setidaknya seharga dua ratus keping emas. Itu artinya harga mereka tidak kurang dari sepuluh ribu keping emas!"
Mendengar Raja Basukamba menghitung harga para budak wanita tersebut, Sungsang Gumilang melotot kejut.
Tetapi tidak dengan Jaga Saksena, tanpa berubah ekspresi, Jaga berkata,
"Aku akan membayarnya satu saat nanti, Yang Mulia Raja. Anggap ini hutangku pada Yang Mulia Raja."
"Ha ha ha ha!" Raja Basukamba tertawa bergelak lalu mendekat, menempelkan tangan kanan pada kening si pemuda.
"Kau sedang tidak sakit atau demam bukan, Jaga Saksena?!" tanya Raja masih menempelkan telapak tangan kanannya.
"Dalem waras bedigas jiwa dan raga, Yang Mulia Raja."
Menarik tangannya, Raja Basukamba bertanya,
"Lalu kenapa kau ingin memerdekakan mereka?! Jika kau meminta mereka untuk jadi budakmu, memuaskan darah mudamu, aku malah mengerti. Tapi ini?!"
Raja Basukamba tidak mengerti akan jalan pikiran pemuda di hadapannya. Sungguh tak mengerti.
"Membebaskan budak adalah anjuran dari Gusti Alloh."
"Gusti Alloh?! Siapa Dia?!"
"Dia lah yang menciptakan langit bumi seisinya. Dia lah Yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi seluruh manusia dan ciptaanNya."
"Oh, Trimurti?"
"Alloh tidak ada sekutu bagiNya. Dia Maha Satu, Maha Tunggal."
Mendapat jawaban Jaga Saksena yang penuh keyakinan dan kemantapan, Raja Basukamba tertarik.
Namun, ketika sang raja hendak kembali bertanya, Patih Sepuh Labda Lawana meminta menghadap.
"Hamba ingin melapor Yang Mulia Raja." Patih Sepuh Labda Lawana meminta ijin.
"Silahkan Patih Sepuh!"
"Hujan badai petir dan angin ...."
Patih Sepuh Labda Lawana melaporkan hujan petir dan angin telah merusak sebagian bangunan dan menumbangkan pohon-pohon tinggi. Di luar tembok keraton telah terjadi banjir bahkan air mulai menggenangi kawasan dalam tembok ke keraton. Ini disebabkan tanah dalam tembok keraton lebih daripada tanah di luar tembok keraton.
"Jika hujan ini berlangsung lebih lama, bisa-bisa bukan hanya banjir tetapi bencana besar akan terjadi, Yang Mulia Raja!" pungkas Patih Sepuh Labda Lawana.
"Apa kau sudah suruh pawang hujan istana untuk memindah hujan ini, Patih Sepuh?!"
"Bukan hanya pawang istana, Yang mulia Raja. Akan tetapi semua pawang. Dan tidak ada hasil apa pun!"
"Walah Biyuuung! Apa lagi ini!"
Raja Basukamba berjalan ke singgasananya lalu duduk menekan kepalanya yang mulai terasa berdenyut sakit. Baru lolos dari serangan Suku Lembah Kenabala dan pemberontakan Sundara Watu kini malah kerajaan diserang bencana.
Melihat sang raja menekan kepalanya, Patih Sepuh Labda Lawana berkata pada Jaga Saksena.
"Den Jaga, apakah kau bisa menolong kami kali ini?!"
Pertanyaan yang cukup keras hingga terdengar oleh telinga Raja Basukamba.
"Kau benar Patih Sepuh!" seru Raja Basukamba kembali bangkit dari singgasananya mendekat ke Jaga Saksena lalu berkata,
"Begini saja, Jaga Saksena. Permintaanmu akan kukabulkan. Tetapi kau singkirkan dulu badai hujan petir dan angin sialan itu!"
"Mohon maaf, Yang Mulia Raja. Kerusakan yang diakibatkan oleh hujan badai petir dan angin, menurut hitunganku setidaknya akan menimbulkan kerugian di atas seratus ribu keping emas."
"Kau—"
Tenggorokan Raja Basukamba tercekat oleh kepandaian Jaga Saksena.
"Bukankah Yang Mulia Raja yang mengajariku menghitung?!" Jaga Saksena tersenyum tipis.
Raja Basukamba kembali ke singgasananya dengan perasaan dongkol, ia mulai menyesal sebab tadi menghitung harga para budak wanita. Andai ia langsung mengabulkan permintaan Jaga, bisa dipastikan permintaannya pada pemuda itu pun akan langsung disetujui oleh si pemuda.
Saat yang sama, Sungsang Gumilang harus menahan napas. Tak menyangka Jaga Saksena akan berani tawar menawar dengan sang raja. Sementara Patih Sepuh Labda Lawana harus lebih banyak mendengarkan sebab tidak mengerti arah pembicaraan Jaga Saksena dan Raja Basukamba.
"Baiklah, kita lakukan jual beli!" seru Raja Basukamba dari atas singgasana tak kalah menggelegar dari petir di angkasa.
"Begini ...."
Raja Basukamba melanjutkan dengan menghitung kerusakan yang sudah terjadi untuk dikurangkan kepada seratus ribu keping. Maka ketemu angka lima puluh ribu keping.
Lima puluh ribu keping dikurangi harga para budak wanita maka sisa empat puluh ribu keping.
"Empat puluh ribu keping emas bisa membeli apapun termasuk kepala manusia! Maka, hentikan bencana bedebah ini, kau akan kuberikan 40.000 keping. Akan tetapi jika kau gagal, maka kupinta kepalamu untuk kupenggal!"
Glaarrr!
Bersamaan dengan berakhirnya titah Sang Raja, terdengar ledakan di puncak atap, rupanya petir besar telah menyambarnya.
"Jaga, kau jangan main-main!" bisik Sungsang Gumilang sebelum Jaga mengiyakan titah Raja Basukamba. "Masalah para budak wanita bisa kita carikan jalan keluarnya lagi kapan-kapan hari!!" lanjut Sungsang berharap Jaga tidak menyetujui jual beli gila dari sang raja.
Namun,
"Sendiko dawuh, Yang Mulia Raja!"
Dengan penuh kemantapan, Jaga Saksena menerima tawaran Raja Basukamba.
***⁰0⁰***