
"Rasakan celuritku ini!!"
Anggota Perampok Celurit Lidah Ular itu berlari memperpendek jarak sebelum ayunkan senjata di tangan dengan mantap. Andai ia tahu akhir buruk bagi seorang yang ringan membentak orang tak akan ia segegabah ini.
Wuut!
Celurit menderu membelah udara.
Mendapat serangan sedemikian rupa, entah mengapa Kama Kumara merasakan dirinya sangat yakin untuk tidak mengelak. Maka tak ayal, ujung celurit menghantam telah kepala plontosnya.
Ctakk!
Kama Kumara tersenyum, meski terdengar suara benturan keras tetapi ia tidak merasakan apa pun. Berbeda dengan sang penyerang yang merasa kaget bukan alang-kepalang sebab pemuda plontos yang ia serang ternyata kebal.
"Hiat!"
Anggota Perampok Celurit Lidah Ular mencelat mundur lalu hunjamkan celurit ke tanah. Para pendekar meyakini dengan menghunjamkan senjata ke tanah tiga kali maka akan bisa menghilangkan ilmu kebal musuh.
"Perbuatan tolol!" ejek Kama Kumara lalu tendangkan kaki kanan.
Wusst!
Seberkas energi meluncur dari kaki Kama Kumara, melabrak lurus ke arah lawan yang baru saja menghunjamkan celurit ke tanah sebanyak dua kali.
Duarrtz!
"Arkhh ...!"
Tubuh lelaki bersenjata celurit itu terlempar empat tombak ke belakang dengan dada gosong, tewas.
Mendengar ledakan, kawanan Perampok Celurit Lidah Ular segera berhamburan keluar dari gerobak memeriksa apa yang terjadi. Dan betapa murka mereka ketika melihat satu kawan telah tewas di tangan pemuda plontos, sementara si plontos malah tersenyum bangga sekaligus senang dengan memasang sikap angkuh.
Kama Kumara memang tengah asik mengagumi dirinya sendiri. Sebab kini dirinya telah memiliki kekuatan yang dasyat sekaligus naluri bertarung yang mengiringi. Dulu dirinya hanya berlatih ogah-ogahan sehingga hanya menguasai silat jurus dasar. Tetapi kini, ia mampu melepas tendangan jarak jauh.
'Aku penasaran seberapa kuat diriku yang sekarang! Akan kubantai mereka semua untuk mencari tahu kekuatanku! He he he!'
"Belis Alas!" bentak Pemimpin Perampok Celurit Lidah Ular menuding lurus ke arah Kama Kunara. "Kau telah cari mampus dengan membunuh anak buahku!"
"Siapa sudi cari mampus!? Justru kalian semua yang akan ku-bu-nuh!" Kama Kumara menuding semua orang dan sengaja memenggal-menggal ucapannya untuk memberi penekanan.
"Hanya dalam mimpimu!! Cincaaaaang ...!"
Belasan celurit berkelebat ke arah tubuh Kama Kumara, mereka benar-benar hendak mencincang pemuda plontos tersebut.
Tak tinggal diam, Kama Kumara berseru sembari menyongsong serangan.
"Kalian yang takkan lagi bisa bermimpi!"
Wuuts!
Telah memiliki kekuatan, kecepatan dan kekebalan, maka Kama Kumara tak lagi pedulikan senjata lawan meski mereka banyak. Pemuda plontos itu fokus menyerang. Dan hanya sekali gebrak ....
Prakk!
Satu kepala lawan pecah berhamburan ke segala arah. Saat yang sama, beberapa ujung clurit menghajar tubuhnya.
Jdug!Jdag!
'Tak mempan!!' kejut hati penyerang.
"Ha ha ha!" Kama Kumara tertawa. Memanfaatkan keterkejutan lawan ia kembali layangkan tinjunya.
Broll!
Tinju itu menjebol dada salah satu anggota Perampok Celurit Lidah Ular, membuatnya mati seketika akibat jantung hancur.
Melihat betapa mengerikan kekuatan lawan, seketika, para anggota lain mundur.
Dan inilah yang ditunggu Kama Kumara yang ingin menjajal kekuatan barunya.
"Hiaaas!"
Pukulkan tinju, Kama Kumara melepas serangan jarak jauh.
Wuss!
Duartt!
"Heaaa!"
Menggembor keras mengalirkan energi panas yang tiba-tiba muncul di dalam pusarnya, Kama Kumara kembali melepas pukulan jarak jauh.
Wuuutss!
Cahaya merah kekuningan melesat keluar dari tinju Kama Kumara.
"Awaa—"
GLLLAAAARRDDD ...!
Teriakan salah satu mereka tidak pernah selesai akibat kecepatan serangan Kama Kumara yang lebih dulu mencabut nyawanya.
***
Semua anggota Perampok Celurit Lidah Ular tewas oleh serangan dasyat Kama Kumara. Hanya menyisakan sang pemimpin yang kini gemetaran kaki.
"Ampun ... Ampuni hamba Tuan ...!"
Lelaki berpenampilan garang itu tiba-tiba memelas muka sembari berlutut menyembahkan dua telapak tangan di depan keningnya. Sebenarnya ia ingin kabur tetapi ia merasa itu akan sia-sia belakan, sebab sang pemuda bisa menyerangnya dari jarak jauh.
Kama Kumara tak pedulikan omongan orang, ia tengah memandangi tangannya yang begitu hebat telah mengeluarkan energi dasyat.
'Padahal aku hanya menggunakan hawa panas sedikit saja dari pusarku, tetapi sudah sekuat ini ... Aku benar-benar telah menjadi orang paling sakti di muka bumi! Luar biasa! Aku akan menaklukkan seluruh pendekar dan seluruh kerajaan di dunia. Semua orang harus takluk mencium telapak kakiku!'
"Ha ha ha ha ha ha!" Pecahlah tawa Kama Kumara.
Kama Kumara tidak menyadari satu hal yang sebelumnya telah sangat mengganggunya yakni suara tanpa rupa. Pemuda yang kini plontos itu terlalu asyik dengan sesuatu yang baru sehingga lupa segalanya. Yang tidak ia lupakan adalah ambisi dan dendam.
Puas tertawa, Kama Kumara melihat ke arah pemimpin perampok yang tengah ketakutan. Ia pun membentak,
"Hwoi kau! Bukan begitu cara menyembah! Jilat dan cium telapak kakiku!" Kama Kumara yang menyadari suaranya belum pulih memberi isyarat tangan dan lidah.
Kagetlah sang pemimpin perampok, seumur hidupnya belum pernah ia melakukan sesuatu sehina yang diperintahkan pemuda plontos. Tetapi keinginan untuk mendapat ampunan menekan harga dirinya hingga ke titik minus.
"B-baik Tuan ...."
Beringsut, pemimpin Perampok Celurit Lidah Ular mendekat dan benar-benar menjilat lalu mencium telapak kaki Kama Kumara yang terbalut welulang (kulit yangvtelah disamak) kerbau. Rasa mual yang mengaduk-aduk perut akibat bau busuk alas kaki Kama Kumara ia tahan demi mendapat pengampunan.
"Ha-ha-ha!" Kama Kumara tertawa bergelak lalu berkata dengan menggerakkan tangannya, "Mulai sekarang kau jadi budakku! Mengerti?!"
"M-mengerti, Tuan!"
Lega hati pemimpin Perampok Celurit Lidah Ular sebab nyawanya telah selamat. Karena yang penting dalam hidup ini adalah nyawa. Selamat dulu nyawa. Sedangkan perkara membebaskan diri dari cengekraman tuannya, itu bisa dipikirkan nanti.
"Siapa namamu?!" Kama Kumara menunjuk dada lelaki yang masih menungging menghadap dirinya lalu menunjuk mulut.
"Damodar, Tuan!"
"Damodar!" Kama Kumara membungkuk lalu membisikkan kalimat dengan suara lirih,
"Jika kau tidak ingin modar, panggil aku Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"
Sangkil! Dengan berbisik ucapan Kama Kumara bisa didengar cukup jelas. Itu bisa dilihat dari jawaban Damodar,
"B-baik, Yang Mulia Maha Raja Kama Kumara!"
"Sekarang ikuti aku!" bisik Kama Kumara kemudian melesat pergi diikuti oleh Damodar.
Di sepanjang perjalanan Damodar menggerutu di dalam hati,
'Nahas sekali hari ini, padahal secara hitungan hari, ini hari terbaik untuk merampok. Tetapi ... ah apes! Sial berlapis-lapis!'
Betapa tidak! Bukan hanya sekarang Damodar kehilangan seluruh anak buah, tetapi juga dirinya dijadikan budak oleh orang gila, mengaku sebagai maha raja. Belum lagi, harta yang telah ia rampas malah ditinggalkan begitu saja. Sungguh nahas yang bertumpuk-tumpuk!
'Aku tidak akan lagi percaya pada hitungan hari! Keparaaaaat ...!' Damodar menyalahkan ilmu hitung harinya.
Sudah bukan rahasia, para penjahat dan bromocorah ketika akan beraksi akan menghitung hari untuk mencari tahu apakah hari ini baik, baik sekali atau buruk. Mereka akan memilih berlibur pada hitungan hari buruk dan akan beraksi di hari selainnya. Dan hari ini, menurut hitungan Damodar adalah hari baik sekali.
Kama Kumara terus melesat lurus, menerabas lebatnya pepohonan, tak pedulikan untuk memilih jalan. Karena yang ada di benak Kama Kumara adalah segera sampai di Kerajaan Saindara Gumilang.
***