Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 121. Rencana Pembelotan



Cukup jauh menyingkir dari medan pertarungan, Wiryateja mengumpulkan sembilan perwiranya.


"Aku tidak mengerti bagaimana Raja Kama Kumara mendadak begitu sakti!" Tumenggung Wiryateja membuka pertemuan, "Akan tetapi bukan itu yang akan kita bahas, melainkan pertarungan mereka berdua yang bukan sedang adu tanding. Aku sudah mendengar Pangeran Tama Wijaya dan Taha Tusta dibunuh oleh Raja."


"Betul Tumenggung, kami juga telah mendengarnya," jawab salah satu perwira.


"Apa kita akan membantu Putri Anesha Sari, Tumenggung?!" tanya perwira lain.


"Itulah kenapa kalian kukumpulkan di sini. Kita telah disumpah untuk setia melindungi raja dan keluarganya. Sesuai undang-undang, kita harus mengutamakan raja dari keluarganya. Maka dari itu, kita tidak boleh menolong Putri Anesha Sari."


Mendengar itu, beberapa perwira tampak menghela napas berat.


"Aku tahu ini pilihan sulit bagi kalian, tetapi setidaknya kita tidak ikut terlibat. Tarik mundur semua prajurit lingkar istana di bawah perintah kalian!"


"Putri Anesha Sari bisa terbunuh, Tumenggung. Apakah tidak sebaiknya kita bantu dia. Karena tidak mungkin kita punya raja cabul!"


"Perwira Katuranggan! Aku juga setuju dengan dirimu! Tetapi kita terikat sumpah. Ikuti perintahku! Tarik semua prajurit di bawahmu untuk tidak ikut campur!"


Perwira Katuranggan menunduk diam. Demikian juga 8 perwira lain, mereka ingin berontak tetapi inilah resiko menjadi perwira yang harus patuh pada atasan.


"Kalian panjatkanlah harap, semoga Sang Hyang Maha Kuasa mengirimkan keajaiban. Karena entah mengapa aku merasa malam ini akan menjadi malam yang panjang. Sekarang, laksanakan perintahku!"


"Sendiko dawuh, Tumenggung!"


9 perwira bergerak cepat kembali ke sekitar medan pertarungan untuk menarik semua prajurit mereka masing-masing.


"Aku tidak mungkin melibatkan kalian, biarlah jika terjadi apa-apa aku yang akan menanggungnya!" gumam lirih Tumenggung Wiryateja sebelum berkelebat pulang untuk mengambil keris pusakanya.


Ditariknya 300 pasukan lingkar istana dari sekitar kaputren tidak mempengaruhi ramainya penonton pertarungan. Karena kini empat senopati, para perwira serta prajurit kesenopatian juga sudah berada di sekitar kaputren. Tampak juga Patih Sepuh Labda Lawana yang berdiri di sebuah atap bangunan seberang kaputren.


Sementara itu, Perwira Aswangga, Perwira Sadajiwa dan Perwira Bentar Buana berkumpul di titik di mana mereka bersiap menolong Putri Anesha Sari kapan pun diperlukan.


"Pangeran Jaga Saksena cepatlah datang, sungguh malam ini adalah penentuan. Jika kau tak datang kami khawatir kau akan menyesal selamanya!" Aswangga berkata atau mungkin memanjat harap, yang jelas ucapannya membuat Sadajiwa dan Bentar Buana seketika memalingkan pandangan dari pertarungan ke wajahnya.


"Perwira, tetaplah berharap yang terbaik. Kau yang tertua di antara kita, maka jadilah panutan."


"Benar, Perwira! Aku yang termuda selalu menjadikanmu panutanku!" Sadajiwa ikut berkata.


"Tuan Putri menggunakan kemampuan yang memerlukan kekuatan besar terus menerus. Kekuatannya akan terkuras, pada saat yang sama kita bisa melihat Kama Kumara menunggu itu terjadi. Aku menduga Kama Kumara belum mengeluarkan kekuatan dirinya yang sebenarnya!" Panjang lebar Aswangga menerangkan.


"Jika begitu kita harus susun strategi. Jika kegentingan terjadi, Perwira Aswangga meyelamatkan Tuan Putri, sementara aku dan Perwira Sadajiwa menahan Raja Kama Kumara!"


"Setuju!" cletuk Sadajiwa menyetujui usulan Bentar Buana.


"Kalian berdua bukan tandingannya!" sergah Aswangga.


"Tidak ada jalan lain! Kita belum berhasil menghasut kawan-kawan perwira, bahkan aku yakin Perwira Perjaka Sadajiwa ini belum menghasut satu perwira satu pun!"


Sadajiwa nyengir sebelum berkata pasrah,


Di sisi lain, Patih Sepuh Labda Lawana yang berdiri di atap bangunan sebelah kaputren tampak murung. Seharian ia sudah dipusingkan oleh laporan tingkah raja di omah kajaliran padahal rasa sedih akibat kematian raja belumlah sirna. Lalu malamnya malah ditambah, laporan kembali masuk yakni raja membunuh dua adiknya. Semua laporan benar-benar membuat pundak Patih Sepuh Labda Lawana serasa ditimpa gunung Jamurdipa. Ia merasa hari ini adalah hari terberat sepanjang karirnya.


Dan rasa berat itu makin menjadi-jadi ketika seorang prajurit melapor tentang pertarungan Kama Kumara dan Anesha Sari. Labda Lawana berharap laporan prajurit itu tidak nyata. Tapi sungguh lelaki tua itu harus menengadah kepala menghirup napas panjang ketika tiba di kaputren, karena pertarungan Kama Kumara melawan Anesha Sari benar adanya.


"Duh Gusti Allooh ... Berikanlah petunjukMu padaku. Apa yang harus kulakukan?"


Jelas secara peraturan tata negara, Patih Sepuh Labda Lawana harus setia pada raja akan tetapi hati nuraninya tidak bisa berbohong, bahwa dirinya tidak menginginkan seorang raja yang bejat. Apalagi, Anesha Sari adalah adalah calon istri dari Jaga Saksena, pemuda yang menunjukkan jalan kesejatian hidup padanya.


Ketika mengingat Jaga Saksena dan apa yang telah pemuda itu tunjukkan padanya, tiba-tiba Patih Sepuh Labda Lawana seakan mendapat pencerahan dalam hati. Jaga Saksena pernah berkata,


"Lepaskan beban dan serahkan semua pada Ilahi Sang Penguasa Jagat Raya ini. Kita, hanyalah manusia yang numpang hidup sesaat untuk mencari bekal, mencari ridho Ilahi untuk bekal mati. Dan kehidupan yang sebenarnya adalah di akhirat nanti."


Pada akhirnya, Patih Sepuh Labda Lawana memutuskan,


'Ya, inilah waktunya mencari bekal. Kuharap perbuatanku akan mendatangkan ridho Gusti Alloh padaku.'


Patih Sepuh Labda Lawana membulatkan tekad untuk berpihak pada Putri Anesha Sari, menghancurkan raja yang bejat. Maka lelaki tua itu pun berkelebat pergi ke atap bangunan di belakang sang putri. Siap membantu kapan pun diperlukan.


Di halaman kaputren, Kama Kumara terus merangsek maju. Satu persatu benda-benda yang menyerangnya ia hancurkan menjadi abu. Karena kini kedua tangannya telah berkobar-kobar siap membakar hancur apa pun yang ia tinju.


Kama Kumara hanyut dalam keasyikan dan pujian. 'Aku tak mengira kekuatanku begitu hebat! Dan mereka terus mengagumiku! Hahahaha!'


Kama Kumara memang baru tahu, ternyata tinjunya hingga pergelangan mampu mengeluarkan kobaran api merah kekuningan. Dan anehnya tangan dan tubuhnya tidak merasa kepanasan sedikit pun kecuali hawa hangat yang mengalir dari pusar.


Di atas atap sirap kaputren, Anesha Sari mulai tampak khawatir. Pertarungan telah berlangsung lama, membuat tubuhnya perlahan tapi pasti berangsur lemas.


'Jika tidak cepat kuakhiri, tenagaku akan habis!'


Berpikir demikian, Anesha Sari pejamkan mata lalu angkat dua tangan, kepala mendongak, kemudian menghirup udara sangat panjang seolah ingin menghabiskan seluruh cadangan udara di sekitar kaputren.


Saat yang sama, mendadak awan putih yang menutupi bulan separuh di atas sana tersingkir bersama datangnya angin semilir.


"Pengendali Raga! Pengendali Lintaaaang! Hiaaaaaa ...!"


Anesha Sari gerakkan tangannya ke depan sembari menggembor panjang. Dugaan orang-orang ternyata salah, Anesha Sari tidak menggunakan bangunan kaputren untuk menyerang tetapi justru menggunakan kekuatannya untuk menyergap tubuh Raja Kama Kumara.


"A-apa ini!"


Kama Kumara tiba-tiba merasakan kekuatan dasyat mencengkram seluruh tubuhnya. Dan, sebelum dirinya menyadari apa yang terjadi,


Wusstt!


Tubuh Kama Kumara terlempar jauh ke angkasa tinggi. Sangat tinggi hingga semua orang tak lagi bisa melihat sosoknya lagi!


***