Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 108. Musuh Lama, Raden Bakintal



Tepat dini hari di malam ketika Raja Basukamba dan Permaisuri Mahiswari dibunuh.


"Ramandaaaa! Byungdaaaa!"


Anesha Sari yang tidur beratapkan langit di dekat api unggun terbangun duduk. Keringat hampir sebesar butiran jagung menetes di wajahnya.


"Alloohu Akbar!" Jaga Saksena yang tengah menjalankan sholat tahajud mengeraskan takbir untuk memberi tahu bahwa dirinya tengah sembahyang.


"Ada apa, Tuan Putri?!" Aswangga yang berjaga di atas atap gerobak langsung terjun mendekat demikian juga Perwira Bentar Buana.


Putri Anesha Sari tidak menjawab, napasnya masih terdengar memburu tak beraturan.


"Minumlah Putri, sepertinya kau bermimpi buruk." Begawan Teja Surendra yang tengah berdzikir bangun membawakan air minum dalam bumbung. Orang tua itu memang lebih suka duduk berdzikir hingga subuh datang, seperti tidak pernah tidur.


Ketika Anesha Sari berteriak, dua puluh wanita juga terbangun, tetapi mereka tidak berani mendekat, hanya duduk menguping dari tempatnya masing-masing. Hanya Sungsang yang masih lelap dalam tidurnya.


Glek! Glek! Glek!


Tiga kali meneguk air, Anesha Sari kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Saat yang sama, Jaga Saksena menyelesaikan sembahyangnya lalu mendekat.


Anesha Sari yang sudah sepenuhnya menguasai diri berkata,


"Begawan benar, aku bermimpi Ramanda Raja dan Byungda menjadi pengantin di singgasana. Semua orang datang memberi restu. Tetapi tiba-tiba, bumi tempat mereka berdua amblas membentuk lubang persegi empat yang sangat dalam sehingga ramanda dan byungda terperosok masuk ke sana. Aku ingin menolong mereka berdua, tetapi Kakang Kama Kumara mencegatku, lalu mendorong tubuhku jatuh terjengkang ke belakang. Sehingga aku hanya bisa berteriak karena kehilangan kesempatan untuk menolong mereka berdua."


Mendengar cerita itu, Jaga Saksena dan Begawan Teja Surendra saling pandang. Sementara Perwira Aswangga dan Bentar Buana hanya terdiam karena tidak tahu ilmu permimpian.


Sesaat kemudian, sang begawan berkata lirih,


"Sanak Jaga, sebaiknya tenangkan Putri Anesha terlebih dahulu."


Sebuah kode untuk tidak mengungkap arti mimpi Anesha Sari, setidaknya untuk saat ini. Namun tiba-tiba Anesha Sari berkata keras,


"Begawan, kau orang yang cerdik cendekiawan. Tolong katakan apa arti mimpiku!"


"Sanak Jaga lebih tahu, Tuan Putri."


"Jaga, jika kau benar-benar calon suamiku, cepat katakan arti mimpiku sekarang juga!!"


Suara Anesha Sari yang meninggi tidak membuat Jaga Saksena segera menurutinya. Pemuda itu berkata dengan halus,


"Putri, tenanglah. Bagaimana aku akan mengatakan arti mimpimu jika kau tidak bisa menguasai dirimu sendiri?"


Mendapat teguran, kembali Anesha Sari mengatur napasnya. Hingga akhirnya ia benar-benar tenang.


"Sekarang aku sudah tenang Jaga, apa pun itu aku akan mendengarkan dengan dingin kepala," ucap Anesha Sari sudah kembali menjadi dirinya seperti sedia kala.


"Sesuatu yang paling jauh di dunia ini adalah masa yang telah berlalu. Meski baru saja terjadi, kau tidak akan pernah bisa kembali padanya."


"Lalu apa hubungannya dengan mimpiku, Jaga?!" Anesha Sari tidak mengerti.


"Tenangkan hatimu, ketahuilah bahwa Ramanda dan Byungdamu telah meninggal dunia."


"A-apa—"


Saking terkejutnya, untuk sesaat Anesha Sari tidak bisa meneruskan perkataannya. Sementara Perwira Aswangga dan Bentar Buana tak kalah kaget.


"Pangeran Jaga, kau sungguh-sungguh atas apa yang kau ucapkan?" tanya Aswangga.


"Sepenuhnya, Perwira."


Tiba-tiba, Anesha Sari bangkit berdiri.


"Paman Aswangga! Paman Bentar! Kita kembali sekarang juga!"


Wusss!


Putri Anesha Sari melesat pergi.


"Pangeran Jaga, Begawan, Semuanya maafkan kami harus segera menyusul Tuan Putri!" ucap Aswangga lalu mengejar Putri Anesha Sari.


"Pamit dulu, Pangeran Jaga, Begawan Semuanya!" Bentar Buana turut melesat pergi.


***


Jaga Saksena menghembus napas panjang. Ia tidak mengatakan semua arti mimpi Anesha Sari karena berharap gadis itu bisa menahan diri. Namun ternyata yang terjadi tidak sesuai harapannya. Justru Anesha Sari malah langsung pergi.


"Sanak Jaga, kau harus mengejarnya. Anesha Sari akan dalam bahaya besar jika tidak didampingi."


"Tapi Begawan, bagaimana dengan tugas mengantar mereka?" Jaga memaksud 20 wanita muda yang harus di antarkan kembali kepada keluarga masing-masing.


"Biar aku dan Sungsang yang melanjutkannya. Untuk kusir, itu masalah gampang, aku bisa mengajari tiga orang di antara mereka untuk menjadi kusir, atau mencari kusir bayaran di desa depan sana."


"Sungguh aku merepotkanmu, Begawan."


"Tidak Sanak Jaga, bukankah kau yang mengajariku bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi manusia lain?!" Begawan Teja Surendra tersenyum tulus.


"Jika begitu, terima ini Begawan." Jaga Saksena mengangsurkan kantong keping emasnya.


"Tidak perlu, Sanak Jaga."


Begawan Teja Surendra mendorong kembali tangan Jaga Saksena. Akan tetapi tidak setelah Jaga berkata,


"Jika kau tidak memerlukannya, gunakan untuk kepentingan orang yang membutuhkannya, Begawan,"


"Baiklah, Sanak Jaga. Akan kujalankan amanahmu semampuku, In sya Alloh."


Jaga Saksena bangkit, lalu mengucap salam sebelum berkelebat pergi.


Kerahkan segenap kemampuan lari cepatnya, Jaga Saksena bagai terbang di atas tanah. Dan ketika memasuki daerah yang ditumbuhi pepohonan lebat Jaga Saksena melesat di pucuk dedaunan bagai burung terbang.


'Sebelum subuh, aku harus menyusul Anesha Sari!' pikir Jaga Saksena.


Terang cahaya bulan purnama tak utuh sudah sangat cukup membantu penglihatan mata mereka.


"Paman Perwira, aku duluan!"


Wusss!


Jaga Saksena membalap tanpa menoleh.


'Gila cepat sekali larinya!' seru hati Bentar Buana.


Berbeda dengan Aswangga ketika disalip, perwira itu membatin lega sekaligus khawatir apa sebenarnya yang terjadi sehingga Jaga Saksena ikut menyusul pulang.


Tak lama kemudian, Jaga Saksena sudah berada di samping Anesha Sari. Gadis ini memang benar-benar bisa bergerak bagai menaiki angin.


Tidak berkata apa pun, Jaga terus mengiringinya hingga,


"Kenapa kau ikut kembali?!" tanya Anesha Sari dengan suara cukup kencang untuk mengimbangi terpaan angin.


"Bukankah aku benar-benar calon suamimu?!"


Jawaban Jaga Saksena mampu membuat Anesha Sari merasa lebih baik. Setidaknya calon suaminya ada ketika ia sendirian dan butuh seorang yang menemaninya saat hati gundah gulana seperti ini.


Sebenarnya, Anesha Sari tidak percaya sepenuhnya pada ucapan Jaga Saksena yang mengatakan kedua orang tuanya telah meninggal. Tetapi tetap saja hatinya galau dan harus cepat kembali sembari terus berharap perkataan Jaga Saksena tidaklah benar.


***


Fajar Sodiq tanda waktu subuh telah muncul di ufuk timur, tepat ketika Jaga Saksena melihat ada sungai melintang di depan sana.


"Putri, kau teruskan perjalanan. Aku akan sembahyang subuh di sungai depan sana!"


"Baiklah, segeralah menyusul jika sudah selesai, Jaga!"


Jaga Saksena mendarat di pinggir sungai, sementara Anesha Sari terus melesat ke arah kerajaan Saindara Gumilang.


Melompat ke batu yang menyembul di air pinggiran sungai, Jaga Saksena mengambil air wudhu dengan sempurna.


Usai berdoa, Jaga mengedarkan pandangan mencari batu besar yang cukup rata.


'Di sana, cocok sekali!'


Jaga melompat dan mendarat di atas batu besar. Tanpa mengawasi keadaan sekitar, pemuda itu segera memulai ritual sholatnya.


Andai Jaga Saksena lebih peka dan waspada, mungkin ia akan tahu ada seseorang yang selalu mengawasinya dari jauh menggunakan sebuah teropong tunggal. Dialah Raden Bakintal.


"Waktu yang kutunggu-tunggu akan segera tiba. Tinggal menunggu dua perwira itu melewatinya. He he he!"


Raden Bakintal yang membuntuti Jaga Saksena dan rombongannya bertindak hati-hati. Ia tidak ingin ada masalah dengan Raja Basukamba, sehingga berencana membunuh Jaga Saksena tanpa sepengetahuan Anesha Sari dan dua perwira.


Ada tiga cara yang dipertimbangkan Raden Bakintal. Satu, memakai topeng dan langsung melabrak Jaga Saksena di hadapan Anesha Sari. Tetapi membunuh Jaga Saksena tanpa dia tahu siapa dirinya sangat tidak memuaskan. Yang Raden Bakintal inginkan, Jaga Saksena tahu pasti siapa yang membunuhnya.


Cara kedua, Raden Bakintal akan menyewa pembunuh bayaran di kerajaan yang akan dilalui oleh rombongan Jaga Saksena. Pembunuh bayaran akan disuruh oleh Raden Bakintal hanya untuk melumpuhkan dan membawa Jaga Saksena kepadanya. Selanjutnya, Raden Bakintal sendiri yang akan membunuhnya.


Cara ketiga, menunggu Jaga Saksena terpisah dari Anesha Sari. Maka inilah saat yang tepat. Karena dari pengintainya selama ini, Raden Bakintal tahu ritual Jaga Saksena di kala menjelang matahari terbit memakan waktu cukup lama.


Jaga Saksena baru saja hampir selesai sholat ketika dua perwira berkelebat menyeberangi sungai.


"Kami duluan, Pangeran!" teriak Aswangga.


Tentu saja Jaga Saksena tidak menjawab, ia tetap khusu' membaca sholawat dalam tahiyat akhir, lalu membaca doa sebelum mengucap salam ke kanan dan ke kiri.


Jaga Saksena mengubah posisi duduknya dengan bersila. Kini ia mulai membaca wirid yang selalu rutin ia baca di selepas sholat.


Tak lama kemudian, tatkala Jaga Saksena sengaja meringkas wirid dan hampir selesai ....


Renggunuk ...!


Sebuah bayangan hitam besar menyerupai kepala ular tiba-tiba muncul hendak mencaplok tubuhnya dari arah samping.


'Inna lillah!'


Spontan, Jaga Saksena mencelat menyelamatkan diri.


Grasss!


Bayangan hitam itu mencaplok batu besar di mana tadi Jaga Saksena duduk di sana. Caplokan yang dasyat, hingga merubah benda keras tersebut menjadi remahan rengginang!


Sekejap kemudian,


"Ha ha ha ha!"


Sebuah tawa meledak disusul munculnya sosok lelaki berpakaian lurik hitam.


'Sepertinya aku mengenal orang ini,' batin Jaga Saksena merasa tidak asing dengan wajah dan suara tertawanya.


"Kau pangling padaku yang sekarang tampak berotot dan lebih muda, Dalit?!" cibir sosok tersebut ketika Jaga memperhatikannya dengan seksama.


Dipanggil dalit, Jaga Saksena segera ingat peristiwa 7 tahun yang lalu. Tersenyum, Jaga Saksena berkata,


"Raden Bakintal. Ya, aku mengingatmu. Bukankah sudah kukatakan, aku tidak membunuh putramu."


"Dalit pandai bersilat lidah! Sebanyak perkataanmu untuk menutupi keburukanmu, maka sebanyak itu pula bertambah keyakinanku bahwa kaulah yang telah membunuh putraku!"


"Wes angel ... Angel! (Sulit dikasih tahu!)"


"Kau yang angel! Jika saja kau serahkan nyawamu 7 tahun yang lalu, maka kau tidak perlu merasa bersalah berkepanjangan!"


"Lho Lho ...! Siapa yang merasa bersalah? Aku tidak membunuh putramu!"


"Semakin kau menyangkal, semakin kau merasa bersalah!"