
JS Bab 15. Keributan Di Kedai
"Siapa, Paman?" tanya Jaga Saksena lalu ikut mengintip penasaran.
"Itu kereta Pendekar Lebur Guntur! Ingat kata-kataku, Jaga. Usahakan jangan pernah menyinggung pendekar itu!"
"Baik, Paman!"
Benar. Di luar, kereta kuda tengah memasuki halaman. Rembulan yang mulai menyembul di arah timur cukup membantu mata untuk melihat rupa kereta.
"Kita istirahat di kedai ini! Besok baru lanjutkan perjalanan!" seru Ki Mertayuda alias Pendekar Lebur Guntur.
Tak ada jawaban, Ki Mertayuda turun dari tempat duduknya lalu melenggang menuju kedai.
Sampai di depan pintu menuju ruangan di mana Rawal, Pekok dan Jaga berada, lelaki berudeng kepala itu berkata lantang,
"Aku tahu ada pengunjung di dalam! Aku Mertayuda juga ingin berkunjung!"
Tak menunggu lama, pintu terbuka.
"Silahkan Pendekar Lebur Guntur."
Rawal membukakan pintu sekaligus mempersilahkan masuk. Sementara Balkhi Supekok dan Jaga ikut berdiri memberi hormat dengan menganggukkan kepala.
"Rupanya kalian para pencuri kuda-kuda putri urakan itu!" ujar Ki Mertayuda berjalan menuju rusban (tempat duduk panjang dari bambu yang memiliki sandaran_pen) yang menghadap ke meja besar.
Dag!Dug!Dag!Dug!
Rawal, Balkhi dan Jaga Saksena terkejut oleh perkataan Pendekar Lebur Guntur. Membuat jantung mereka berdebar.
"Silahkan duduk, Pendekar Lebur Guntur." Rawal mempersilahkan sekaligus berusaha mencairkan suasana.
Setelah Ki Mertayuda duduk, Rawal kembali bicara,
"Kuda-kuda itu, kami hanya meminjam atau bisa dikatakan membawakan. Sama sekali tidak terbersit keinginan untuk memiliki apa lagi mencurinya. Jadi ... kami harap—"
Brakk! Daun pintu terhempas keras.
"Meminjam ya ...? Oh membawakan ...?" bentak seorang gadis cantik _berkaki jenjang dengan rambut cokelat panjang tebal indah mengombak, matanya lebar dengan alis tebal panjang dipadu hidung bangir_ berjalan ayu melempar pantat padatnya ke kanan dan ke kiri.
Sungguh pemandangan yang indah.
Tetapi, itu semua musnah oleh nada suara galak nan sinis menyindir yang keluar dari bibir tipis merahnya.
Hening.
Hingga,
"Aku Lembayung Adiningrum putri Raja Prabaswara dari Kerajaan Langkumitir pantang untuk dibohongi apalagi ditipu!"
"Maaf, Putri bukankah dibohongi dan ditipu sama saja?"
Yang bertanya adalah Jaga Saksena, membuat Rawal dan Balkhi ingin tertawa tetapi mereka tahan.
Ingin tertawa karena perbawa yang tengah ditunjukkan oleh sang putri tidak memberi efek apapun pada Jaga Saksena. Juga karena keluguan Jaga Saksena yang tidak tahu perbedaan dibohongi dan ditipu.
Yang ditanya memicing mata sesaat, menatap seksama sebelum membuang muka.
"Bocah bulukan! Lancang bertanya pada seorang putri?! Kau bisa menularkan kekumuhanmu padaku. Ih ... jauh ... menjauh dariku!"
"Putri, aku sudah jauh darimu!" Jaga Saksena membela diri.
"Ki Mertayuda, apakah tidak ada tempat lain? Gubuk ini terlalu kumuh untuk seorang putri sepertiku! Apalagi ada tikus sebesar bocah itu. Jijik aku!"
Yang ditanya, alih-alih menjawab malah berteriak, "Ki Panduuu! Kau masak apa hari ini?!"
"Ki Pandu?" cemlong Balkhi tak kuasa menahan keheranannya.
Sebenarnya bukan hanya Balkhi, Rawal, Jaga dan Putri Lembayung Adiningrum pun heran.
Namun, keheranan mereka segera terjawab ketika lelaki tua pemilik kedai tergopoh keluar.
"Ada Ki Mertayuda rupanya, lama tidak singgah?" sapa Ki Pandu dengan wajah senang.
"Ditanya apa jawabnya apa."
"Biasa Ki, nasi kukus bumbu rempah. Lauk, maaf Ki, anak itu tadi yang bawa ikan gabus. Sedang kami pepes."
"Hemmm .... Kelihatannya nikmat, lanjutkan pekerjaanmu, Ki Pandu."
"Baik, Ki. Silahkan menunggu akan kubuatkan minuman terlebih dahulu."
Ki Pandu _pemilik kedai_ kembali ke belakang.
"Nasi kukus bumbu rempah, Paman!? Luar biasa! Apa itu, Paman?!"
Jaga Saksena yang masih berdiri di samping Balkhi dan Rawal bertanya lirih. Akan tetapi sebab terlalu bersemangat, suaranya terdengar hingga ke telinga Putri Lembayung Adiningrum yang masih berdiri.
"Sulit kuterangkan jika kau belum pernah melihat nasi!" jawab Balkhi tak ingin repot.
"Maaf Ki, anak ini memang dari pedalaman sehingga tidak banyak tahu," sambung Rawal.
Rawal menggaruk kepala, ingin rasanya diri mengikuti jejak Ki Mertayuda yang menganggap Putri Lembayung Adiningrum tidak ada. Tetapi jelas dirinya tidak berani.
"Putri, sudah kukatakan. Kami tidak mencuri. Kami hanya membawa kuda-kuda tersebut, jika Putri mau, ambillah kembali."
"Alasan!"
"Tetapi itu yang terjadi." Balkhi ikut bersuara.
"Diam kau, Jelek!"
"Benar, Putri! Itulah yang terjadi!" Jaga Saksena juga berusaha meyakinkan.
"Tutup mulutmu tikus busuk! Sekali lagi kau bicara, aku tak segan-segan memukulimu!"
"Upss!" Jaga Saksena menutup mulut dengan tangan kanan membatin, 'Ternyata manusia jenis betina sungguh galak!'
"Tenangkan hatimu, Jaga. Sesungguhnya seorang lelaki itu harus kuat dalam menghadapi cobaan wanita." Balkhi Supekok menghibur sembari mengusap rambut Jaga Saksena yang berdiri di sampingnya.
Blegh!
"Arghhh ...! Kakiku ...!"
"Diam kau, Adi Balkhi!"
Usai menginjak kaki Pekok, Rawal menyuruhnya diam.
"Apa salahku kenapa, Kakang injak kakiku?!"
"Wejanganmu tidak tepat!"
"Iyakah?!" Balkhi terdiam.
Saat itulah tetiba Putri Lembayung Adiningrum berkata kencang,
"Hukuman karena kalian telah membawa kuda-kuda milikku adalah potong tangan!"
"Apa?!"
"Apss!"
Rawal dan Balkhi melotot mata berseru kaget. Sama halnya Jaga Saksena, meski masih dengan menutup mulut.
"Lebih baik mengadu nyawa, Kakang Rawal."
"Benar, adi!"
Dua Pendekar Golok Buntung memutar tenaga dalam, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Mati dalam pertarungan jauh lebih terhormat dari pada hidup cacat. Setidaknya itu yang mereka yakini saat ini.
"Mengadu nyawa denganku?" cibir sinis Putri Lembayung Adiningrum. "Nyawa kalian tidak sepadan bahkan dengan sehelai rambutku!"
"Jika seremeh itu nyawa kami bertiga, seharusnya Putri lepaskan kami!" Jaga menyela.
"Tikus Burik! Sudah kukatakan, sekali lagi kau bicara, aku tak segan-segan memukulimu!"
"Opss!" Jaga Saksena menutup mulut dengan tangan. Meski begitu ia masih bicara dari balik tangannya,
"Gimana ini, Paman? Aku keceplosan bicara!"
"Sesuai peribahasa, mulutmu adalah harimaumu," jawab Balkhi.
"Kalau cuma harimau, aku bisa lari, Paman!"
"Whoii!" teriak Putri Lembayung Adiningrum. "Kalian malah bicara sendiri. Sini kau bocah! Cepat!"
Melotot ganas, Lembayung Adiningrum menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Jaga Saksena maju mendekat.
"Dia hanya seorang bocah, usianya baru 10 tahun, Putri!" Rawal membela Jaga Saksena, membuat hati bocah itu terharu sebelum, "Mohon beri keringanan pukulan!"
'Hass ... kukira Paman Rawal akan membelaku ternyata cuma minta keringanan ....' gerutu hati Jaga Saksena sembari maju mendekat ke hadapan sang putri.
"Perempuan aneh, kau tadi menyuruhku menjauh. Sekarang kau menyuruhku mendekat," ucap Jaga di depan Lembayung Adiningrum.
"Apa yang kau bawa?"
"Ini? Kapak batu!"
"Hihihihi!" Lembayung Adiningrum tertawa bergelak.
"Ada yang salah dengan senjata kapakku ini?!"
"Sepertinya kau memang manusia dari pedalaman atau bahkan dari peradaban kuno zaman batu. Aku jadi makin menggebu-gebu untuk menggebukmu! Heaa!"
Lembayung Adiningrum mencelat. Tidak terlalu tinggi, tapi jelas itu akan menambah daya hantam tinjunya yang di arahkan ke kepala si bocah.
"Celaka! Dia benar-benar ingin membunuhnya!" kejut Rawal tetapi tidak bergerak. Sama halnya, Balkhi malah hanya melotot.