
Di deretan peserta sayembara, Rawal dan SuPekok berdiri gelisah, sesekali keduanya duduk lalu berdiri kembali.
Bagi keduanya, pertarungan hidup dan mati antara dua peserta sayembara di atas panggung tidak menarik lagi.
Sebelumnya, Rawal dan SuPekok menyelidiki kejadian yang menimpa Takil anak Raden Bakintal.
Ternyata kematian Takil bukan karena dibunuh, tetapi akibat jatuh dari pohon. Hanya saja, dua kawan Takil menuduh bocah yang membawa kapak batulah yang menjadi penyebab jatuhnya Takil.
Akhirnya, Pekok dan Rawal ikut mencari Jaga Saksena di tempat-tempat yang sekira bisa untuk bersembunyi yang masih berada di sekitar alun-alun. Tetapi nihil, keduanya tidak berhasil.
Hingga ketika orang-orang datang dari barat untuk menyaksikan pertarungan sayembara tiba membawa warta bahwa bocah dalit menghilang di sekitar sungai hutan perburuan para pangeran, Rawal dan SuPekok bimbang, mau mencari Jaga ataukah menghadiri sayembara.
Karena sudah di dekat alun-alun, keduanya memutuskan menghadiri sayembara terlebih dahulu, baru kemudian akan cabut untuk mencari Jaga Saksena. Karena menilik jalannya pertarungan kemarin, pastinya akan berlangsung lama.
Akan tetapi, akibat adanya lembaran perburuan bocah dalit berhadiah dua ribu keping emas, Patih Sepuh Labda Lawana mengambil keputusan tegas. Patih itu mengumumkan, siapa saja dari peserta yang tidak datang hari ini maka dianggap telah kalah.
"Pertarungan ini pasti akan berlangsung lama seperti kemarin, Kakang Rawal. Besok atau besok lusa bahkan besoknya lagi, belum tentu kita naik panggung, Kakang!" ujar Pekok lirih.
"Bisa jadi, apa sebaiknya kita keluar diam-diam, Adi?"
"Jika ketahuan kita akan dianggap kalah, Kakang!"
"Tapi kita harus memeriksa hutan perburuan para pangeran! Siapa tahu Jaga benar-benar di sana!"
"Aku terserah padamu saja, Kakang Rawal."
"Baiklah, ikuti aku, Adi!"
Rawal mundur perlahan mendekat ke pagar batang bambu utuh yang memisahkan peserta dan penonton. Ketika pertarungan tengah seru-serunya ia mbrobos (menerobos lewat bawah_pen) ke dalam barisan para penonton yang bersorak-sorai mendukung jagoannya.
Gerakan cepat Rawal dan SuPekok mampu menipu para prajurit berjaga yang berusaha menahan para penonton untuk tidak merangsek maju.
Rawal diikuti SuPekok terus mundur ke selatan.
Keluar dari alun-alun, mereka berdua berlari cepat menuju ke arah hutan perburuan para pangeran.
Tiba di hutan, mereka berdua terus berlari hingga menemukan sungai.
Berhenti, Rawal berkata,
"Pastilah ini sungai yang dimaksud orang-orang!"
"Benar, Kakang!"
"Kita menyeberang sungai, Adi! Aku yakin Jaga menyeberang ke barat!"
Sederhana pemikiran Rawal. Jaga Saksena pastinya memilih menyeberang sebab orang-orang akan menduga dirinya menelusuri sungai.
Wuuss!
Dengan ilmu meringankan tubuh, keduanya menyeberang sungai dengan sekali lompat.
Mereka terus bergerak ke arah barat, hingga,
"Lihat Adi!"
Rawal menunjuk semak yang terbelah. Tidak lurus ke barat terapi menyerong.
"Kita ikuti jejak ini, cepat!"
***
Di bagian barat dekat tembok kotaraja.
Jaga Saksena telah dikepung dari tiga arah oleh sepuluh orang. Dari selatan, utara dan timur. Sedangkan di belakangnya ada tembok tinggi.
Meski demikian sepuluh pendekar itu tidak terburu-buru untuk membunuhnya.
Selain itu mereka ingin memberikan teror ketakutan pada si bocah.
Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Alih-alih takut, bocah tersebut malah sunggingkan senyuman.
"Bocah Dalit dari zaman batu! Kenapa kau tersenyum hah?" bentak Wilantaka. "Padahal kau tahu kami akan membunuhmu!"
"Sudah kukatakan, jika tujuan kalian hanya untuk membunuhku aku tidak takut bahkan senang. He he he!"
Entah mengapa suara tawa si bocah cukup membuat sepuluh pendekar berasa aneh. Baru kali ini ada seorang bocah yang tertawa dalam menyambut kematiannya.
Sebenarnya, tertawa ketika ajal hampir menjemput bukan hal yang aneh. Banyak tokoh gaek dunia persilatan yang tertawa bersama kematiannya. Tetapi ini, hanyalah seorang bocah.
"Mungkin dia sudah bosan hidup karena hanya menjadi dalit!" terka yang lain.
"Seharusnya kau jangan bosan hidup hanya karena menjadi dalit, Bocah. Kedudukan dalit bisa kau singkirkan jika kau menjadi seorang yang kuat—"
"Kau ngomong apa, Lurd Yakatan! Dia sebentar lagi akan mati, tidak perlu kau kasih tahu cara keluar dari kedalitan!" sergah Kipala Sanga.
Melihat para orang dewasa yang mulai berdebat, Jaga Saksena geleng kepala pelan lalu berkata lantang,
"Whoiii whoii, hentikan! Sebenarnya aku tidak tahu apa itu dolat dalit. Namaku Jaga Saksena! Bukan dalit!"
"Jadi kau tidak tahu arti dalit?!" heran Wilantaka.
"Sudahlah, Pendekar Tombak Angin Dua Musim. Sebaiknya kita bunuh sekarang juga dan bawa kepalanya ke Raden Bakintal!" sergah Kipala Sanga, dia tidak ingin Wilantaka menerangkan arti kata dalit karena akan makin panjang lebar jadinya.
"Baiklah, aku tidak keberatan. Siapa yang akan membunuhnya?"
"Biar aku saja!"
Seorang mengajukan diri. Ia berpenampilan sangar, pakaiannya, mulai dari celana komprang hingga ikat kepala berwarna hitam. Kumisnya tebal kasar ditambah mata bulat hampir mencelat. Di tangannya tergenggam sebuah celurit perak.
Orang-orang mengenalnya dengan gelar, Pendekar Celurit Perak.
Pendekar Clurit Perak cabut senjata dari warangkanya lalu melangkah maju. Wajah lelaki sangar itu tampak datar tak ada ekspresi.
"Aku Sakawala, Pendekar Celurit Perak, akan memberimu kematian tercepat! Kau tidak akan merasakan kesakitan, Bocah!"
Wuuts!
Celurit berwarna perak berkiblat menyambar datar mengarah tepat leher Jaga Saksena.
Baru kali ini menghadapi pertarungan langsung, tidak membuat si bocah gugup meski tak dipungkiri jantungnya berdetak lebih kencang.
Sett!
Jaga Saksena tekuk tubuh ke belakang. "Yihaaa aku berhasil!" serunya senang, bukan karena berhasil menghindari tebasan tetapi berhasil melakukan gerakan kayang sebelum bersalto ke belakang.
"Oh kau mau bermain-main rupanya! Hiaat!"
Pendekar Celurit Perak mencelat ke depan. Jelas kalo ini ia tak ingin gagal untuk memotong tubuh kecil Jaga Saksena.
Bukan hanya serangan senjata biasa. Celurit perak juga keluarkan cahaya bening, pertanda Sakawala melancarkan dua serangan sekaligus. Serangan jarak dekat dan jauh untuk mengantisipasi si bocah kembali menghindar ke samping.
Mendapat serangan susulan yang begitu cepat, Jaga Saksena tak urung gelagapan. Bingung, hendak melontarkan diri ke kanan atau ke kiri karena jelas akan sama saja, terkena sambaran energi celurit. Untuk kembali salto ke belakang ada tembok kerajaan.
Bocah itu hanya bisa membeliak mata, menunggu kematian.
Namun ..., sekejap lagi tubuh Jaga Saksena benar-benar terpotong oleh serangan Pendekar Celurit Perak, sesosok tubuh yang melompati kepungan para pendekar menyambar tubuh Jaga Saksena dan membawanya melesat naik ke atas tembok kerajaan yang menjulang.
Wusss!
Trakk!
Tebasan energi celurit menggores dalam pada tembok kerajaan. Andai tembok itu tidak tebal dan memanjang, bisa dipastikan tembok roboh.