Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 20. Jaga Ditemukan



Tergesa-gesa Pekok dan Barla diikuti beberapa warga bergegas menuju tempat yang dimaksudkan.


Oleh karena Pekok harus menyesuaikan diri dengan kecepatan si bocah Barla, perjalanan menuju tempat ditemukannya mayat terasa lama baginya.


Hingga ketika telah dekat,


"Jaga!!"


Pekok berteriak memanggil sembari menghambur menuju tubuh seorang anak kecil yang tak lain memang Jaga Saksena.


Tergeletak di bawah pohon. Rupanya semalam Jaga Saksena berusaha beringsut minggir agar tidak berada di tengah jalan. Tetapi akibat luka yang diderita, Jaga langsung pingsan.


Jalan yang sangat sepi, karena jalan ini menuju ke dua sisi pegunungan yang tandus. Makanya jalan mentok, membelah ke kanan dan kiri.


"Entah kenapa pagi tadi aku ingin ke pegunungan tandus itu, tak menyangka malah menemukan mayat!" cerita Barla pada ramandanya.


Sampai di sisi Jaga Saksena, Pekok segera mengulurkan ujung jari ke lubang hidung si bocah untuk memastikan apakah dia telah benar-benar mati.


"Dia masih hidup!" teriak Pekok saking senangnya dan segera membopong Jaga Saksena lalu berlari, mengerahkan ilmu meringankan tubuh menuju kedai.


Sampai di kedai, Pekok membaringkan Jaga Saksena di atas rusban sembari berteriak,


"Kakang Rawaaal! Jaga masih hidup!!"


"Benarkah?!"


Rawal segera keluar, matanya bersinar kala melihat Jaga Saksena terbaring di rusban. Tetapi sinar mata itu segera berubah redup akibat kasihan pada keadaan si bocah.


"Cepat dudukkan dia, aku akan membantu mengalirkan hawa murniku!"


Rawal segera duduk di belakang Jaga Saksena, menempelkan dua telapak tangan dan mulai mengalirkan hawa murni.


Bersamaan dengan itu, Ki Pandu keluar dari ruang belakang. Mendekat ke rusban untuk mengamati tubuh Jaga Saksena sesaat sebelum berkata,


"Di desa ini tidak ada tabib, tetapi sepertinya aku tahu dedaunan yang bisa membantu mengobati lukanya."


"Jika begitu, cepat ambilkan, Ki!" sahut Pekok cepat.


Ki Pandu lekas balik badan, menuju dapur dan keluar lewat pintu geser di sana.


Cukup lama lelaki tua itu baru kembali, tetapi kini di tangannya telah membawa wadah berisi tumbukan dedaunan.


"Jika kalian sudah selesai, bubuhkan ramuan ini ke dada, perut juga dahinya."


Sesuai perkataan Ki Pandu, usai menyalurkan hawa murninya, Rawal membuka baju Jaga Saksena untuk membubuhkan ramuan.


'Ramuan ini berasa hangat di tangan, sedangkan ramuan yang dibalurkan ke tubuh Ki Mertayuda terasa dingin. Siapa sebenarnya Ki Pandu? Sepertinya dia bukan orang biasa!'


Rawal merasakan ada keanehan dalam ramuan Ki Pandu ini. Terasa hangat, bertolak belakang dengan ramuan yang digunakan untuk Ki Mertayuda yang berasa dingin. Mau tak mau, Rawal menaruh curiga siapa sebenarnya Ki Pandu.


Ingatan Rawal mulai menampilkan keanehan-keanehan pada Ki Pandu. Bermula dari pemilik kedai itu berani membukakan pintu. Lalu Ki Mertayuda yang mengenal Ki Pandu dengan baik.


Lalu, saat Ki Pandu berpelukan dengan istrinya. Lelaki tua itu tidak tampak ketakutan. Berbeda dengan istrinya yang sampai gemetaran.


Kemudian Ki Pandu juga yang memberikan ramuan pada luka bakar di tubuh Ki Mertayuda dan sekarang membuatkan ramuan untuk Jaga Saksena.


**⁰0⁰**


Jaga Saksena membuka mata. Langit-langit kedai adalah benda pertama yang menyambut pemandangannya, kemudian meja di sebelah kanan dan sandaran rusban di sebelah kiri.


'Aku masih hidup? Bukankah ini kedai?!'


Jaga memutar pandangan.


Sepi.


Tetapi sayup telinganya mendengar seseorang bicara di ruang belakang, mungkin dari dapur.


"Akhh ...!"


Terasa sedikit pegal tubuh ketika Jaga berusaha bangkit duduk.


Kruukkk ...!


Perut Jaga Saksena memanggil meminta di isi.


'Lapar sekali ...! Ah apakah tadi malam mereka jadi makan nasi? Semoga masih ada sisa. Hehehe!' Jaga berharap dalam hati.


'Bukankah aku semalam di jalan? Lalu siapa yang membawaku ke sini.'


Jaga Saksena masih tertegun dalam tanya ketika tetiba,


"Hehehe! Kau sudah siuman, Jaga?!"


Ki Pandu keluar menemui Jaga, lelaki tua itu tidak membawa apa-apa pertanda keluar memang hanya untuk melihat Jaga Saksena.


"Oh, Rawal dan Pekok? Mereka sudah berangkat dua hari yang lalu."


"Dua hari yang lalu?!" tanya Jaga. Lalu membatin, 'Pantas aku lapar sekali!!'


"Kau tidak sadar selama 3 hari tiga malam, Jaga. Awalnya kau ditemukan pingsan oleh warga, Pekok membawamu kemari. Dia dan Rawal ingin menungguimu, akan tetapi ...."


Duduk di sebelah Jaga Saksena, Ki Pandu menerangkan kepergian Dua Pendekar Golok Buntung. Rawal yang keceplosan berucap akan menolong sesama disudutkan oleh Lembayung Adiningrum untuk mengantarkan dirinya bersama Ki Mertayuda.


Terpaksa Rawal setuju dengan mengajukan syarat yang segera diiyakan oleh Lembayung.


Meski masih belum pulih, Ki Mertayuda tidak merasa keberatan untuk melanjutkan perjalanan.


"Selain itu," lanjut Ki Pandu. "Ada sayembara yang akan mereka berdua ikuti. Mereka menitip pesan padamu, jika mau menyusullah ke Kerajaan Saindara Gumilang. Kau pasti mudah menemukannya di sayembara tersebut."


"Sayembara apa, Kek?"


"Pertarungan terbuka, juaranya akan diangkat menjadi senopati ing ngalaga."


"Apa itu senopati ing ngalaga, Kek?"


"Sebuah jabatan seperti pemimpin pasukan perang. Oh, ya kau pasti lapar akan kuambilkan makanan."


"Nasi, Kek?" Mata Jaga membeliak.


"Ya, nasi tentu saja. Tunggu sebentar!"


Ki Pandu bergegas ke belakang, tak lama ia kembali membawa sepiring nasi putih. Piring dari tanah liat yang dipadatkan lalu dibentuk cekung secara halus kemudian dibakar hingga merah. Nasi yang dialasi daun pisang itu tampak mengepulkan asap tipis.


"Baru matang, jadi masih hangat. Lauknya belum matang. Sebenarnya nenek lagi mepes ikan, jika kau mau menunggu akan segera matang."


Jaga yang terus memandangi nasi segera menjawab,


"Tidak perlu, Kek. Setiap hari aku sudah makan ikan."


"Jika begitu, silahkan."


Ki Pandu meletakkan nasi di meja tepat di hadapan Jaga Saksena. Dari kepulan uap tipisnya, Jaga bisa membayangkan kegurihan rasanya.


'Byung ...!' Jaga Saksena mendongak. 'Akhirnya aku makan nasiii!!'


Memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut,


'Hangat!'


Ketika Jaga mengunyah,


'Lembut! Gurih! I-ini enak sekaliii!'


Ki Pandu yang melihat Jaga Saksena memejamkan mata kala mengunyah nasi hanya bisa menggeleng kepala pelan, 'Sepertinya benar apa kata Rawal dan Pekok, anak ini belum pernah makan nasi sebelumnya!'


Jaga terus menikmati sesuap demi sesuap nasi, dan matanya terus saja terpejam. Rasa terimakasih pada Yang Maha Pencipta ia panjatkan berulang kali dalam hati sebab telah diberi kesempatan makan nasi.


"Ketika kau berterimakasih dengan setulus rasa pada Yang Maha Kuasa, maka kenikmatan yang diberikan akan bertambah dan ditambah." Demikian yang diajarkan Byung.


'Kau benar Byung, semakin kumenikmati dan berterimakasih, nasi ini makin terasa nikmat!'


Saking syahdu (khusyu'_pen) nya Jaga Saksena makan, bocah itu tidak tahu Ki Pandu telah pergi untuk mengambil minum. Hingga ketika Ki Pandu membawakan cangkir dan meletakkan di depan Jaga, bocah itu terkejut membuka mata.


"Eh Kakek, sakti sekali kau, Kek. Bisa mengeluarkan minuman secara tiba-tiba!"


"Bukan aku sakti, Jaga. Tapi kau yang tidak tahu, aku tadi pergi ambil air minum!"


"Terimakasih, Kek ... sungguh aku merepotkan Kakek," ujar Jaga sambil meraih cangkir.


Seruput!


"Manis, seperti madu tapi beda. Apa ini, Kek?"


"Kau tahu gula?"


"Ya, sesuatu yang manis kata Byung."


"Nah minuman itu terbuat dari dedaunan tertentu, ditambah kulit kayu manis dan gula kelapa kemudian diseduh air panas. Tapi kebetulan sudah dingin karena dari pagi-pagi benar menyeduhnya."


Jaga Saksena manggut-manggut meski tidak tahu apa itu kayu manis.


"Selesai makan, bersihkan dirimu, Jaga. Aku juga telah menyiapkan pakaian untukmu."


Mata Jaga Saksena membeliak senang, "Siap, Kek!!"


***⁰0⁰***