
Di rumah terdekat dari pos ronda, di mana tinggal keluarga kecil; sepasang suami istri, putra dan putrinya.
Mereka tengah berkumpul di satu kamar, hendak tidur bersama tetapi dikagetkan oleh suara kentongan. Dan sekarang, sayup-sayup mereka mendengar suara orang.
"Rama ... apakah suara medi telah berubah karena tadi sore diberi sesajen daging bakar ayam putih utuh?" tanya si anak lelaki pada ramandanya. Mungkin usianya empat atau lima belas tahun.
Setiap malam mendengar suara-suara aneh membuat remaja itu mulai sedikit terbiasa. Padahal ketika awal-awal, ia begitu sangat takut sehingga bukan hanya harus tidur bersama kedua orang tua serta adiknya tetapi juga kaku sulit bicara.
"Iya! Coba dengarkan secara seksama. Itu sepertinya bukan suara medi, tapi suara anak lelaki membaca mantra!" timpal anak perempuan.
"Rama tidak tahu. Tentang sesajen, sejujurnya rama tidak begitu yakin sesajen itu berguna. Bukankah tubuh maling itu sudah hancur setelah mati digebuki dan dipendam di dalam tanah oleh orang banyak? Apa gunanya diberi sesajen makanan enak?"
"Suamiku Tukeja, jika kau tidak yakin mengapa ikut ritual memberikan sesajen tadi sore?!" sergah si istri yang berada di samping Tukeja persis.
"Dukun desa bersama sesepuh desa yang mengajakku, tidak enak jika aku tidak ikut."
"Ooo." Si istri memanyunkan bibir sedikit tebalnya membuat si suami menggerutu dalam hati,
'Gegara medi bedebah itu aku jadi harus menahan gejolak rasa!'
Sejak dua anaknya ikut tidur satu kamar, Tukeja harus menahan hasrat kelelakiannya. Jika tak ada dua anaknya, bisa dipastikan Tukeja sudah menyerang ******* bibir si istri yang menurutnya begitu seksoi.
Semakin malam, suara Jaga Saksena semakin jelas terdengar.
Jaga memang diperintahkan untuk mengencangkan suara kala merawat hapalan. Karena dengan suara keras, bukan hanya hapalan yang terpelihara tetapi juga akan melatih tiga anggota tubuh sekaligus. Mulut, agar tidak kaku. Telinga, agar mendengar sehingga hapalan makin kuat, dan hati agar tidak bosan sekaligus melepas beban.
"Sepertinya benar apa katamu, Wengi." Tukeja menghadapkan wajahnya pada si anak perempuan. "Itu suara seorang anak lelaki, bukan medi!" lanjutnya.
"Bisa jadi, Ki Lurah yang mendatangkan dukun kecil! Dan dia sedang meruwat desa!" sambar istri Tukeja menduga-duga.
"Oh, pantas tadi sore Ki Lurah tidak datang di ritual pemberian sesajen."
Berkata demikian, otak Tukeja menemukan jalan keluar agar dua anaknya menjadi pemberani dan tidak lagi menjadi penghalang kala malam hari.
"Awan, Wengi. Kalian berdua harus mencontoh keberanian dukun kecil itu. Jadilah anak-anak yang pemberani. Membanggakan dua orang tua!"
"Rama juga takut, bukankah kata rama buah takkan jatuh jauh dari pohonnya?" debat Wengi si anak perempuan yang baru berusia sebelas atau dua belasan tahun.
"Sepertinya kau lebih dekat dari pohon perempuan, suka madoni (mendebat_pen)," dengus Tukeja.
"Makanya, beri bukti pada mereka bahwa kau seorang pemberani, Suamiku!"
"Siapa takut?!"
Tukeja berdiri mengencangkan celana kolornya lalu mengambil obor di sudut ruangan.
"Rama, kau mau ke mana?" tanya Awan.
Awan artinya siang, Tukeja memberikan nama Awan karena putranya tersebut lahir siang hari kala terik-teriknya. Sementara si adik sebaliknya, lahir kala malam pekat. Makanya diberi nama Wengi yang artinya malam hari.
Begitulah, rakyat biasa tidak mau pusing untuk sekedar memberi nama pada anak-anak mereka.
"Aku ingin buktikan, bahwa rama kalian ini seorang pemberani. Dan kalian berdua juga harus menjadi anak yang pemberani. Apalagi kau, Awan. Seribu-an hari lagi kau sudah waktunya beristri!"
"Jika begitu, aku ikut Rama!"
"Nah! Keberanian tidak akan muncul begitu saja tanpa dilatih. Mari ikut, dan kau Wengi temani byungmu."
Tukeja keluar bersama putranya sembari membawa obor di tangan kiri. Sementara tangan kanan membawa sabit panjang.
Ketika Awan bertanya kenapa membawa sabit, Tukeja menjawab singkat, "Untuk berjaga-jaga saja."
Tak diduga, di jalan, mereka berdua bertemu dengan beberapa orang.
Ternyata orang-orang ini juga tengah berjalan menuju pos ronda untuk memastikan siapa sebenarnya yang membaca mantra malam-malam. Mereka pula hendak bertanya mantra apa yang dibaca, sehingga medi yang biasanya sudah memperdengarkan suara, malam ini belum terdengar sama sekali.
"Lihat!" Tukeja berseru pada Awan dan juga beberapa warga yang berjalan bersamanya.
"Seorang anak lelaki. Pasti itu dukun mumpuni nan sakti yang didatangkan oleh Ki Lurah!" lanjut Tukeja dengan suara penuh keyakinan.
"Kita akan segera tahu kebenarannya!" sahut lelaki berkumis tipis yang memegang obor di tangan kiri, dan tangan kanan menggenggam pentungan bambu kuning.
Bambu kuning dipercaya mampu melumpuhkan medi, sehingga beberapa jawara desa mempersiapkan senjata ini untuk berjaga-jaga.
*
Jaga Saksena menghentikan hapalannya ketika melihat sekelompok orang mendatangi dengan membawa obor serta senjata.
'Ada apa dengan orang-orang itu, apakah mereka terganggu dengan suaraku?'
Jaga Saksena berdiri, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
"Ki Sanak Kecil," sapa lelaki berkumis tipis kala telah berada di depan pos ronda. "Apakah kau dukun sakti yang didatangkan oleh Ki Lurah?"
"Dukun sakti?"
"Ya, bukankah kau yang membaca mantra sedari tadi dengan suara keras?"
Jaga Saksena terdiam, hapalan pelajaran, dzikir, hisib dan bacaan Al-Qur'an yang ia lantunkan dikatai sebagai mantra membuat dirinya sedikit tersinggung, akan tetapi Jaga segera teringat pada pesan gurunya untuk menjaga akhlak.
"Maaf, Paman Semua. Itu bukan mantra—"
"Tapi bagaimana bisa kau tidak diganggu oleh medi maling itu?" sergah Tukeja.
Belum pun Jaga Saksena menjawab karena tidak tahu harus menjawab apa, seorang lelaki lain menyanggah,
"Bisa jadi karena ritual sesajen tadi sore yang menggunakan ayam khusus!"
"Mana bisa?! Harusnya medi itu malah muncul lagi karena ketagihan makan daging ayam enak!" debat lelaki keempat.
"Sudah! Sudah! Kalian ini malah berdebat gak jelas!" bentak lelaki berkumis tipis membuat semua terdiam.
"Kita buktikan saja! Ki Sanak Kecil, harap kau berdiam dirilah bersama kami di sini!" lanjutnya.
"Kakang Mowo Damar! Kau ini, kalau medi itu benar-benar dat—"
"Akhhhh ... to-loooong ...!"
Suara salah satu warga itu terputus oleh suara keluhan disertai minta tolong yang memilukan.
Sontak, tanpa disadari, orang-orang yang tak kurang dari sepuluh lelaki itu merapatkan posisi berdiri mereka masing-masing.
"Ada yang minta tolong!" Jaga Saksena hendak berlalu mencari sumber suara, tetapi segera dicegah oleh lelaki berkumis tipis, Mowo Damar.
"Ki Sanak Kecil, tunggu!"
"Ada apa, Paman? Bukankah kita harus menolong seseorang yang meminta pertolongan?!"
"Itu ...."
Dengan cepat Mowo Damar menerangkan bahwa itu adalah suara hantu 👻 maling yang barusan dikatakan oleh Tukeja.