Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 14. Masalah Pelik Mulai Muncul



Rawal mendudukkan Jaga Saksena lalu turut duduk di belakang si bocah.


Menempelkan kedua telapak tangan, Rawal mengalirkan hawa murni hangat untuk membantu Jaga Saksena mengatasi rasa sesak akibat hantaman kaki kuda yang tepat menghajar dadanya.


Jaga Saksena sendiri meringis kesakitan sembari menunjukkan mimik seorang yang tengah kesulitan bernapas. Tetapi itu tidak lama. Setelah dibantu oleh Rawal, Jaga Saksena mulai kembali bernapas normal.


"Telentang kembali, biar kuperiksa tulang dadamu!"


Rawal membaringkan si bocah, membuka pakaian di bagian dada. Ada memar tapal kuda di sana.


Perlahan Rawal mengurut, bukan sekedar urut sebab lelaki itu menggunakan air liur bagian langit-langit mulut sebagai pelumas. Sesuatu yang membuat Jaga Saksena harus pandai mencuri napas!


"Tulang-tulangmu, luar biasa! Kuat, tidak ada yang patah!" Rawal berkata sembari terus mengurut, ada kekaguman di dalam ucapannya.


"Benarkah?!" Pekok yang sudah ikut berjongkok di samping Rawal sedikit terkejut. "Jika begitu, kau memiliki bakat menjadi seorang pendekar, Jaga!"


"Betul. Tapi itu bisa dibicarakan nanti. Untuk sekarang yang harus dilakukan adalah mengurut di bagian ini. Jika tidak, urat-urat dada akan menggumpal bagai tambang kusut!"


"Lakukanlah, kau yang terbaik dalam hal ini, Kakang Rawal!" timpal Pekok.


Beberapa lama kemudian, Rawal telah selesai.


"Bagaimana Jaga?" tanya Rawal.


"Terimakasih, Paman. Paman sangat baik, sudi menolongku padahal aku bukan siapa-siapa paman."


"Sesama manusia harus saling tolong menolong. Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Bahagia, Paman. Ada orang yang peduli padaku." jawab Jaga Saksena polos.


"Maksudku, bagaimana rasa akibat lukamu."


"Oh ini, masih sedikit nyeri, Paman. Tapi tidak apa-apa. Kata Byung, rasa sakit itu tanda kita masih diberi anugerah oleh Yang Maha Kuasa."


"Anugerah?" heran Rawal sebab sakit menurut pemahamannya adalah musibah.


"Jika kita merasa sakit, maka kita akan terjauhkan dari rasa sombong kepada Yang Maha Kuasa. Sang Maha Pencipta yang tidak pernah terkena rasa sakit, tidak pernah mengantuk apalagi tidur."


"Hahahahaha!" Rawal dan Pekok tertawa bersama.


"Kenapa kalian tertawa, Paman?!" tanya Jaga setelah keduanya usai.


"Kau sepertinya juga punya bakat menjadi seorang pembicara, pemilihan kata-katamu sederhana sehingga aku dengan mudah memahaminya." Rawal menjawab sebelum menatap Pekok untuk bertanya,


"Bagaimana menurutmu, Adi Pekok?!"


"Apanya?!"


"Apakah kau paham apa yang Jaga sampaikan?"


"Sedikit."


"Lalu kenapa kau tertawa, Adi Pekok?!"


"Aku tertawa, karena kau tertawa, Kakang!" jawab Pekok polos sembari menggaruk rambut panjangnya.


"Sekarang kau tahu kenapa dia dipanggil Pekok!" ujar Rawal pada Jaga tanpa bermaksud meminta tanggapan. "Mari kita cari kedai yang dulu pernah buka di sana," lanjutnya mengajak Jaga dan Pekok.


Ketiganya bangkit. Sebelum berjalan, Pekok mengajarkan cara mendekati kuda.


"Usaplah kuda pada bagian samping, jangan belakang. Karena sebagian kuda tidak senang diusap atau dipegang dari belakang." Pekok berjalan menuju kuda Jaga Saksena. "Dan tuntun kuda seperti ini."


"Terimakasih atas pembelajarannya, Paman."


Jaga Saksena mempraktikkan apa yang baru saja diajarkan. Mengusap bagian samping kuda lalu menuntunnya. Tak ada rasa kapok ia temukan di dalam hatinya.


Tak berapa lama berjalan,


"Itu kedainya!"


Pekok menunjuk sebuah bangunan yang memiliki halaman cukup luas. Bangunannya sendiri tidak tampak jelas, gelap. Bukan sebab malam yang larut, tetapi pepohonan yang rindang di kiri kanan membuat suasana samun (suram, angker_pen).


"Ada apa dengan desa ini?! Baru juga matahari tenggelam tetapi sudah begitu sunyi." Sedikit menggerutu, Rawal menambatkan kuda pada tempat yang telah disediakan lalu melangkah menuju kedai.


"Apakah ada orang di dalam?! Kami perlu sedikit makanan dan minuman!" teriak Rawal saat telah di dalam kedai.


Kedai ini memang tidak memiliki pintu luar. Hanya bagian dalam kedai ada pintu menuju ruangan dalam.


"Permisiiiiii ...! Adakah manusia bernapas di dalam sanaaa ...?!" Pekok ikut berteriak sebab tak terdengar jawaban. "Kami dalam perjalanan jauh, dan masih jauh perjalanan kami! Tolong sambut kami!"


Tak sia-sia teriakan Pekok, sebab kini terdengar langkah-langkah kaki mendekati pintu.


Krieett ...!


Daun pintu terbuka sedikit, seorang mengintip dari baliknya.


"Ohh manusia! Silahkan ... silahkan ...!"


Terdengar sosok di balik pintu berkata lega lalu mempersilahkan masuk seraya membuka daun pintu lebih lebar.


Rupanya, pembuka pintu adalah seorang lelaki tua yang masih terlihat tegap sehat.


Setelah semua masuk, si kakek kembali menutup pintu rapat.


"Tentu saja kami ini manusia tulen, Ki. Ada apa kenapa kedai tutup, Ki? Rumah-rumah yang kami lewati juga sunyi."


Lelaki tua pemilik kedai tidak langsung menjawab. Ia mempersilahkan ketiga tamunya untuk duduk lalu menuju dinding untuk memperbesar pelita penerang ruangan.


Setelah ikut duduk, barulah pemilik kedai mulai bercerita tentang apa yang menimpa desanya.


Sepanjang mendengarkan cerita, tampak Rawal dan Pekok saling pandang beberapa kali, juga mengerutkan dahi. Sama halnya dengan Jaga, bocah itu baru tahu jika banaspati bisa menculik manusia bahkan mencelakai.


Yang Jaga ketahui, banaspati hanya menakut-nakuti saja. Beberapa kali melihat penampakan banaspati saat masih berusia 5 atau 6 tahun, membuat Jaga menanyakan hal tersebut pada Byungnya.


"Itu disebut banaspati. Makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia. Maka dia tidak akan membahayakanmu!" demikian kata Byung sehingga Jaga santai saja jika melihat penampakannya.


"Menurut penuturanmu, yang diculik hanya para wanita muda bukan? Lalu kenapa kau takut membuka kedai, Ki?!" tanya Rawal usai pemilik kedai menyelesaikan ceritanya.


"Kan tadi sudah kukatakan, Lur. Ada satu warga, seorang lelaki separuh baya yang telah menjadi korban banaspati. Dia tewas terbakar!"


"Oh ... iya juga ya ...."


Rawal terdiam sebentar,


"Gini aja, Ki. Kau sediakan makanan seadanya untuk kami, jika tidak ada, kau bisa memasak bukan?" Rawal meminta kantong selempang loreng milik Jaga Saksena lalu menunjukkan isinya pada pemilik kedai.


"Oh tentu saja, selama kalian tidak meminta sesuatu yang membuatku keluar rumah, akan kusediakan."


Pemilik kedai bangkit membawa kantong loreng Jaga Saksena ke ruangan belakang.


Terdengar lelaki tua itu mengajak istrinya untuk memasak di pawon (dapur jaman dulu_pen).


Sepeninggal pemilik kedai,


"Baiklah, Jaga! Sepertinya kau memang anak yang mempunyai keberuntungan!" Rawal berkata dengan semangat.


"Maksud Paman?"


"Kau akan tahu apa itu nasi!"


"Benarkah?!"


"Ya, karena di kedai ini, nasi sudah menjadi hidangan pokok!"


"Wow luar biasa, Paman!"


"Bener-bener bocah dari jaman batu, bagaimana bisa dia segirang itu hanya karena akan makan nasi?!" gerendeng mulut Pekok sambil menggeleng kepala pelan.


Saat itulah,


"Ada yang mendekat ke sini!" Jaga Saksena sedikit berseru membuat Rawal dan Pekok ikut memasang telinga.


"Jangan-jangan ...!" Rawal bangkit menuju daun pintu untuk mengintip.