Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 50. Pertarungan Sesungguhnya



"Bersiaplah, Bocah!"


Berteriak, Werkadal bergerak menyerang dengan hanya mengeluarkan tenaga dalam sedikit saja ke tongkat bambunya. Rupanya ia masih pemanasan, belum ingin menjatuhkan lawan.


Set!


Mudah saja Jaga Saksena menghindari gebukan tongkat bambu.


"Satu!" seru Gumbala menghitung serangan.


Wuut!


Kembali Werkadal menyerang, kali ini sabetan mengarah ke tulang kering kaki Jaga. Dan ketika serangan itu juga bisa dihindari, Werkadal melakukan tendangan memutar.


"Dua!"


"Tiga!"


Gumbala terus menghitung, pertarungan pun terus berlangsung. Dan Jaga Saksena masih saja menghindar tanpa membalas serangan. Tetapi kala hitungan Gumbala telah mencapai lima puluh, Jaga Saksena merasakan kejanggalan.


'Kenapa dia tidak menyerangku sepenuh hati? Sepertinya dia terlalu meremehkan kemampuanku!'


Berpikir demikian, Jaga Saksena mempercepat gerakan. Kali ini bukan hanya menghindar dengan cara bersalto ke udara melompati lawan, tetapi juga sembari menyentilkan jari telunjuk kanan.


Wuss!


Gumpalan udara padat berdesing mengarah ke pangkal leher Werkadal.


Thakk!


Werkadal kaku, mematung tak bisa bergerak sama sekali.


Bersama kakunya tubuh Werkadal, seketika semua teriakan pemberi semangat terhenti.


Hening.


Semua orang terbengong, sibuk dengan decak hati masing-masing,


'B-bagaimana bisa?!'


'**-tidak mungkin!'


Termasuk Gumbala, wajahnya mengelam. 'Sungguh memalukan!' bentaknya dalam hati.


Hanya satu orang yang tersenyum lebar, si lelaki gendut berpakaian bagus. Karena baginya kemenangan sudah di depan mata. Bagaimana tidak? Hitungan sudah 51 dan Werkadal terkena totokan. Artinya, si pemuda bukan orang sembarangan.


Kini si lelaki gendut yakin sepenuhnya bahwa meski Gumbala mengeluarkan segenap kemampuannya belum tentu sanggup menjatuhkan si pemuda dalam 49 serangan lagi.


"Be-debah Bia-dab kau, Bocah! Berbuat curang dengan melepas totokan dari belakang!" Gumbala mengumpat sembari mendekat ke Werkadal.


Thak! Thak!


Mengalirkan tenaga dalamnya, Gumbala berusaha membuyarkan totokan di pangkal leher Werkadal.


Namun, perbuatan Gumbala hanya menambah rasa malu. Sebab dia tak berhasil membebaskan kawannya itu dari totokan lawan.


Saat yang sama ketika telah berhasil menotok lawan, Jaga Saksena hanya berdiam diri. Jika ia mau menyusuli serangan, tamatlah riwayat Werkadal. Dan ketika Jaga dituduh berlaku curang, ia hanya nyengir lalu membalas,


"Jadi menurutmu, aku harus diam agar kau bisa sesuka hati menggebuki tubuhku dengan bambu usangmu itu?!"


"Bang-sat Ke-parat! Ini bukan bambu seperti yang kau sangka, Anjiiiing!"


Wet!


Sring!


Gumbala sentak bambu di tangan kanan. Sekarang tampaklah sebuah pedang kecil panjang di genggaman tangan. Kemarahan telah membuat lelaki itu tidak lagi memikirkan kesepakatan rahasia dengan si gendut berpakaian bagus.


Melihat Gumbala mencabut pedangnya, orang-orang tentu saja terkejut. Karena mereka baru tahu, ternyata bambu yang selalu dibawa oleh Gumbala itu bukan sekedar tongkat akan tetapi sebuah pedang.


Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi kegirangan karena mereka yakin, hanya dalam beberapa kali tebasana, si pemuda itu pasti akan tumbang. Dan kemrnangan puj di tangan!


"Hiaaa ...! Pedang Bambu Mengoyak Malam!"


Gumbala yang tidak bisa membebaskan totokan di tubuh Werkadal akhirnya menyerang seorang diri dengan mengerahkan jurus tingkat tingginya. Lelaki itu berkelebat sembari serukan nama jurusnya.


"Jangan terlalu banyak mabuk, Ki Sanak! Karena itu akan membuat kepalamu dungu! Ini bukan malam tapi siang!" sambut Jaga Saksena sembari menghindari serangan bertubi-tubi Gumbala yang menyasar titik kematian.


"Lima puluh dua, lima puluh tiga, lima puluh empat, lima puluh lima, lima puluh enam, lima puluh tujuh ... Tujuh puluh!"


Si lelaki gendut berpakaian bagus mengambil alih untuk menghitung. Dari suaranya jelas ada rasa semangat kemenangan.


Hingga hitungan ke tujuh puluh, tak satu pun serangan Gumbala mengenai tubuh Jaga Saksena. Bahkan hanya menyerempet pakaiannya saja tidak.


Tak berhasil mendesak lawan, Gumbala keluarkan jurus pamungkas.


Pedang di tangan Gumbala laksana menjadi puluhan. Mengepung tiga sisi, hanya menyisakan bagian belakang untuk mundur.


Tetapi tidak, tubuh Jaga Saksena meliuk ke sana kemari atau melompat ke atas depan. Tak ada kata mundur.


Hingga ketika hitungan sembilan puluh sembilan diserukan. Jaga Saksena merangsek maju, ayunan pedang lawan tak ia hiraukan. Teknik yang berbahaya, tetapi tidak bagi Jaga sebab ia memiliki kecepatan yang belum ia tunjukkan.


Tep!


Whuuut!


Hugh!


Dengan cepat, Jaga Saksena menangkap pergelangan tangan Gumbala dengan tangan kiri. Saat yang sama, tapak tangan kanan menghantam dada.


Tubuh Gumbala terlempar empat tombak. Andai orang-orang tak berlarian menghindar, niscaya akan tertimpa tubuh Gumbala.


Brugh!


Tubuh Gumbala menghempas tanah berumput. Dari sudut bibirnya meleleh cairan merah, darah.


"Aku menaaaaang! Hahahaha!" teriak lelaki gendut berpakaian bagus. "Ayo bayar taruhanmu!"


Tentu saja, kekalahan begitu banyak orang itu membuat kegaduhan. Mereka mulai memaki-maki,


"Dua Pendekar Bambu lemah!"


"Dua pendekar besar mulut!"


"Dua pendekar tak ada guna!"


Makian-makian inilah yang membuat darah Gumbala mendidih.


Perlahan lelaki itu bangun. Matanya merah, wajahnya semakin kelam membesi.


Menggemeretak geraham, Gumbala berkata,


"Aku akan mengadu nyawa denganmu!"


"Duh ... kalian ini mengapa senang sekali mengadu. Tadi mengadu ayam jago, sekarang mau mengadu nyawa!" tanggap Jaga Saksena menggaruk pipinya pelan. "Sebaiknya kau hentikan ini, dan mari kita perbaiki hubungan ini. Hapuskan segala permusuhan dan dendam," lanjut Jaga Saksena mencoba menawarkan perdamaian.


"Tidak bisa!" bentak Gumbala tangkupkan dua tangan di depan dada dengan posisi berdiri sempurna.


Mulut Gumbala komat-kamit cepat pertanda akan mengeluarkan ajian andalannya. Ketika itulah, orang-orang bersemburatan lari menjauh bahkan tak sedikit yang jatuh bangun demi menyelamatkan diri.


Mendadak kaki Gumbala melebar membentuk kuda-kuda, lalu geser dua tangan ke samping pinggang, kemudian dengan kuat mendorong dua tapak ke depan,


"Terima kematianmu! Braajaaaa Geeeeniii!"


Gelombang panas keluar dari dua tapak rangan Gumbala, membakar udara, menggebubu mengarah tubuh Jaga Saksena.


Tak tinggal diam, Jaga Saksena geser tubuh ke samping belakang sebelum turut dorongkan tapak tangan kanan ke depan.


"Rasaning Rasa!"


Sebuah tapak raksasa dari energi bening melesat menyongsong gelombang panas.


Semua mata penonton tak bisa berkedip, bulu kuduk merinding, nyali menciut. Dan ....


BLAAAAAARRDDSSS!


Ledakan tumbukan dua energi tak imbang terjadi.


Gelombang panas terdorong mundur oleh tapak raksasa dari energi bening dan terus bablas menyambar tubuh Gumbala.


Terdengar bunyi hangus kala gelombang panas ditambah tapak menyapu terbang tubuh Gumbala.


Lelaki itu berteriak sesaat sebelum nyawanya melayang bersama tubuhnya yang gosong.


***⁰***


Dukung penulis di karyak*rsa dot com/kangjey bisa buka di apk bisa juga dibrowser croome dan browser lainnya.


***⁰***


"Ki Lurah! Katiwasan, Ki!"


"Ada apa Plongo!?"


"Gumbala tewas, Ki!"


"Apa?!"


Lurah Pasar Beringkiwa, Ki Berut Tunggul bangkit dari tempat duduknya dengan kasar hingga kursi yang ia duduki terpental ke belakang.