
Terus dituduh oleh Raden Bakintal, Jaga Saksena akhirnya hanya garuk-garuk kepala, tak lagi menyahuti. Namun ternyata diam pun malah makin disalahkan,
"Sekarang kau diam. Pertanda kau mengakui telah membunuh putraku!!"
Jaga Saksena masih menggaruk kepala yang tidak gatal hingga akhirnya berkata,
"Ya sudah, aku minta maaf padamu, Raden Bakintal. Meski—"
"Andai semua perkara bisa selesai hanya dengan minta maaf!" bentak Raden Bakintal.
"Lalu apa, kau mau menuntutku di depan raja?" celetuk Jaga Saksena.
"Hah ha ha ha!" Kendati tertawa, wajah Raden Bakintal tetiba berubah dingin. "Darah harus dibalas darah! Nyawa dibalas nyawa!"
"Hah ha ha! Jika begitu, aku bebas. Karena aku tidak pernah membunuh putramu. Aku pergi dulu ...!" Dengan kalemnya Jaga Saksena melambaikan tangan lalu melesat di atas sungai.
"Dalit tidak punya tata krama! Mampuslah kau!"
Raden Bakintal melakukan gerakan tangan rumit sebelum dorongkan ke depan.
Swooong!
Bayangan ular raksasa hitam, utuh dari ekor hingga kepala melesat memburu Jaga Saksena.
'Ajian perewangan?!' Jaga Saksena cukup kaget hingga masih dalam lajunya di atas air ia membaca Asma Sembilan untuk digabung dengan serangan jarak jauh Rasaning rasa,
"Ya Hayyu, Ya 'Aliyyu ...."
Masih dalam posisi melaju, Jaga Saksena putar tubuh ke belakang untuk dorongkan dua telapak tangan.
Wusss!
Energi terang melejit menyongsong bayangan hitam ular raksasa,
Krewowwooss!
Bayangan ular raksasa hitam terhenti sesaat sebelum terbakar sebagaimana bulu ayam terlahap api.
Bersamaan dengan terbakarnya serangan lawan, Jaga Saksena telah mendarat di seberang sungai.
'Sebaiknya aku tidak membawa masalah ini ke istana agar tidak semakin runyam. Apalagi Raden Bakintal yang sekarang bukanlah yang dulu lagi. Serangannya akan membahayakan orang ramai!'
Berpikir demikian, Jaga Saksena melesat menjauhi sungai mencari tempat terbuka.
Ketika Jaga menemukan tempat terbuka yang cukup luas, ia berhenti di sana menunggu.
Tep!
Raden Bakintal yang bersalto di udara mendarat lima tombak di depan Jaga Saksena.
"Perbuatan yang bijak, karena kabur dariku adalah kesia-siaan belaka!" desis Raden Bakintal seperti perpaduan suara manusia dan ular. Serangan jarak jauh yang ia lancarkan mengalami kegagalan tak menyurutkan kepercayaan dirinya, malahan makin menggelorakan dendam kesumat dalam hatinya.
"Aku sudah katakan padamu yang sebenarnya, tetapi kau tetap memaksa. Maka, mari kita selesaikan perkara ini!"
"Jika begitu, bersiaplah menuju kematianmu, Dalit!!"
Usai membentak, Raden Bakintal membaca mantra dengan cepat.
"Woseswoskwjejajgagaduhauajsgsisj!"
Pagi yang tenang tiba-tiba dikejutkan oleh hembusan angin. Angin yang datang dari segala arah menuju dan masuk ke tubuh Raden Bakintal. Dan,
"Amukan Seribu Ular!"
Raden Bakintal teriakkan jurusnya sebelum lenyap menyisakan bayangan lurik berkelabatan menyerang. Tangannya seolah berubah menjadi seribu ular yang mengepung Jaga Saksena dari segala penjuru.
Jaga Saksena yang cukup terkesiap sejak awal oleh kecepatan lawan tak tinggal diam. Pemuda itu gunakan kekuatan ruh untuk ringankan tubuh, dipadukan jurus tangan kosong,
"Tujuh Tapak Tujuh Tinju!"
Tanpa pemanasan, pertarungan tangan kosong jarak dekat seketika berlangsung sengit sebab dua pihak lekas kerahkan jurus tingkat tingginya masing-masing.
Suara benturan-benturan beradunya dua tangan pun mengusir sepinya pagi.
Puluhan kali beradu tulang lengan dan tinju, Jaga Saksena merasakan tangannya bergetar dan mulai sedikit kesemutan.
'Kuat sekali tangannya!'
Membatin cepat, Jaga Saksena tingkatkan tenaga dalamnya untuk melindungi seluruh tubuh terutama bagian tangan.
"Hiaa ya ya ya ya ya!"
Pekik dan bentakan pertarungan meningkahi bunyi beradunya dua tangan berlambar tenaga dalam tinggi.
Sampai hingga matahari telah terbit di langit timur, pertarungan dua pendekar itu masih berkobar. Belum ada tanda dari keduanya untuk mundur.
*
Matahari telah terbit untuk mulai menyinari permukaan bumi serta penghuninya. Meski terkena paparan cahaya matahari, kedigdayaan Raden Bakintal tidak terpengaruh sama sekali. Malahan ia terus berusaha mendesak Jaga Saksena. Itu dikarenakan kekuatan perewangan yang ia miliki telah menyatu lebur dalam tubuhnya.
Bukan hanya itu, Raden Bakintal bahkan bisa menambah tenaga dalam dengan cara menyerap energi halus dari jin merkayangan di sekitarnya.
'Hari sudah pagi, padahal aku kudu menyusul Putri Anesha Sari. Aku harus—'
Duosh!
Pikiran Jaga Saksena yang bercabang mengakibatkan sebuah serangan menggedor dadanya.
Jaga Saksena terdorong beberapa tombak ke belakang. Saat yang sama, Raden Bakintal tak sia-siakan kesempatan ini. Ia mengejar untuk kembali menyusulkan serangan bertubi-tubi.
Susah payah, Jaga Saksena menangkis semua serangan Raden Bakintal dan berhasil hingga akhirnya ia mampu mengambil jarak sejenak untuk mengembalikan kosentrasinya. Namun, bukan kosentrasi yang ia dapat, justru kini dadanya terasa sesak dan tangan terasa nyeri.
Ketika Jaga Saksena secepat kilat melirik tangannya,
'Tanganku kenapa membiru? Racun?!'
Pertanyaan hati Jaga Saksena harus terputus saat itu juga sebab Raden Bakintal telah datang dengan tinju yang siap menghajar kepala Jaga Saksena.
Tap! Wusss!
Jaga Saksena pancalkan kaki ke tanah untuk dorong tubuh ke belakang serta hantamkan tinju ke depan,
"Rasaning Rasa!"
Wuuts!
Cahaya terang membentuk kepalan meluncur kencang.
"Bedebah!"
Bakintal memaki sembari putar tubuh cepat memancal udara guna berkelit menghindar ke samping. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Jaga Saksena untuk melesat dengan kecepatan penuh agar semakin menjauh.
Saat itulah, Jaga Saksena bisa mengamati tangan dan dadanya.
'Inna lillah, dia menggunakan racun. Aku harus mengobati diri terlebih dahulu!'
Membatin demikian, Jaga kerahkan kemampuan lari terbaiknya untuk kabur.
Melihat musuh melarikan diri ke selatan dengan sangat cepat, Raden Bakintal pompa tenaga dalam ke kaki.
Wusss!
Bagai anak panah lepas, Raden Bakintal mengejar. Namun,
Wusssssh! Wusssssh! Wusssssh!
Jaga Saksena melepaskan pukulan jarak jauh bertubi-tubi. Energi pukulannya menyambar pepohonan dan memaksa Raden Bakintal buang diri ke samping dengan terus memaki-maki.
"Dalit Pecundang!"
Glarrtt! Glarrtt! Glarrtt!
Makian Raden Bakintal lenyap oleh suara ledakan pohon di belakang yang terhantam telak oleh energi serangan Jaga Saksena.
Tatkala Raden Bakintal memandang lagi ke arah selatan, Jaga Saksena telah hilang ditelan rimbunnya pepohonan hutan.
"Bedebah Hina!"
Kembali Raden Bakintal lesatkan tubuh mengejar ke arah di mana diperkirakan Jaga menghilang. Akan tetapi setelah cukup lama mengejar, Raden Bakintal hanya mendapati usahanya itu hanyalah sia-sia. Jaga Saksena seperti raib ditelan bumi.
"Dalit Hinaaaaa! Heaaaaa ...!"
Swooong ...!
Brassss!
Swooong ...!
Brassss!
Raden Bakintal mengamuk, ia melapas pukulan jarak jauh beracun ke segala arah. Pohon-pohon yang terkena pukulannya pun layu dan mati seketika.
"Pecundang Hinaaaaaa ...! Keluar kauuuuu ...!"
Saat yang sama ketika Raden Bakintal bagai orang gila, mengamuk dan berteriak-teriak. Cukup jauh di utara, di bawah akar pepohonan yang membentuk seperti gua kecil, Jaga Saksena tengah duduk bersila pejamkan mata.
***⁰0⁰***