Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 41. Hantu Kepala Tengleng



"Itu suara medi?!" tanya Jaga Saksena.


"I-iya!"


"Hoii kau medi jelek! Tunjukkan dirimu! Aku Jaga Saksena tidak takut!"


Awan segera memeluk membenamkan wajah pada punggung ramandanya _Tukeja_ dengan kaki gemetaran. Sementara yang lain semakin merapat ke Mowo Damar. Sebab hanya dialah yang terlihat masih berani.


Mowo Damar adalah jawara Desa Kumalungkung. Dalam adu gelut tahunan, tiga tahun ini dia selalu juara satu.


Meski begitu, jantung Mowo Damar berdegup kencang. Demikian juga pegangan tangan kanan pada pentungan bambu kuning.


"Ki-ki Sanak Kecil, kau jangan main-main!" suara Mowo Damar setengah berbisik.


"Kalian tidak boleh takut pada medi!" sahut Jaga Saksena. "Dan jika itu medi sungguhan biar aku yang hadapi!"


Jaga Saksena melompat ke tengah jalan agar sedikit lebih leluasa untuk memutar pandangan ke segala arah.


"Keluar kau, aku Jaga Saksena tidak takut padamu!"


"Erghh ... to-loong ... to-looong ...!"


Suara itu makin jelas terdengar dari arah luar desa.


"L-lihat!"


"Mm-mediii ...!"


Salah satu warga menunjuk ke arah gerbang desa di mana tampak sesosok manusia bergerak lambat berjalan ke arah mereka.


Jalan sosok itu terseok-seok, bahkan salah satu kakinya diseret. Sementara kepalanya tengleng jatuh ke kanan.


"Kk-ki Sanak Kecil, k-kau yakin mampu meng-menghadapinya?"


Mowo Damar bertanya sembari bergetar kaki, dan itu sudah yang terbaik. Sebab lelaki di belakang Mowo malah ada yang telah pingsan, tergeletak begitu saja tanpa ada yang menolong, sebab yang lain juga tengah terpusatkan perhatiannya dalam rasa takut.


Sama halnya Tukeja, meski rencana awal ia ingin menunjukkan keberanian pada Awan putranya, nyatanya ketakutan yang meraja membuat tubuh Tukeja tidak bisa bergerak sama sekali. Sedangkan jantung berdebar begitu hebat. Rasanya ia ingin pingsan saja.


"Serahkan padaku, Paman."


Tanpa rasa takut sedikit pun, Jaga Saksena menunggu sosok terseok-seok itu agar semakin mendekat.


Waktu bagi warga yang ketakutan seakan berhenti. Lama. Sangat lama sosok itu berjalan mendekat. Mereka ingin berlari tetapi seluruh tubuh kaku tak bisa bergerak. Hanya Mowo Damar yang masih bisa melihat suasana meski kaki bergetar.


Namun, ketika melihat keberanian Jaga Saksena, Mowo Damar berusaha menekan rasa takutnya.


Kaki Mowo Damar mulai bisa ia kendalikan.


Saat itulah, di bawah terangnya obor, sosok medi peminta tolong terlihat jelas.


Dua bola matanya bergantungan, keluar dari rongga. Wajahnya hancur penuh darah, demikian juga mulutnya.


Dua tangan sosok itu menggantung patah. Pakaian yang ia kenakan sobek di mana-mana mengeluarkan bau anyir busuk darah. Satu kakinya yakni kaki kanan terbalik ke belakang hingga ia seret sedemikian rupa.


Melihat penampilan si medi, Jaga Saksena cukup kaget. Baginya sosok di hadapannya sekarang adalah penampakan medi paling seram selama ini.


"Berhenti!" Jaga Saksena menghentikan jalan si medi karena sudah berada satu tombak di hadapannya.


Medi itu berhenti, entah karena memahami ucapan Jaga Saksena ataukah si medi memang ingin berhadapan dengannya.


"Kuperingatkan kau baik-baik! Jangan pernah lagi mengganggu warga desa ini atau aku terpaksa menghajarmu!" Jaga Saksena berkata seraya meperbaiki posisi kakinya, memasang kuda-kuda tinggi, siap menyerang.


Diperingatkan sedemikian rupa, si medi malah kembali berjalan.


Sret! Sret!


"To-loong ...! To-looooong ...!"


"Maafkan jika aku kasar padamu!"


Wuutt!


Jaga Saksena melaju ke depan lalu meloncat bagai terbang untuk menyarangkan serangan dengkul (lutut_pen) pada dada si medi.


Bughh!


Whess!


Sosok medi itu terhantam telak di bagian dada.


Daya dorong hantaman lutut Jaga Saksena mampu membuat si medi terpental beberapa tombak.


Namun anehnya, medi itu tidak terjatuh sama sekali.


Mendapati lawan kembali maju, Jaga Saksena semakin bersemangat.


Seg!Seg!


Cepat Jaga Saksena melaju ke depan, menyongsong langkah medi kepala tengleng yang berjalan lambat.


Bugh! Bugh! Bugh!


Wuut!


Tetiba tangan medi kepala tengleng membabat setengah putaran ke depan.


Bukan hal yang sulit bagi Jaga0 menghindarinya. Akan tetapi, qkllllllql udara serangan si medi cukup membuat Jaga kaget.


'Kuat sekali! Aku harus berhati-hati!'


Jaga Saksena bersalto ke belakang mengambil jarak. Salto yang sempurna dilakukan oleh seorang anak yang sangat pemberani membuat Jawara Desa Kumalungkung _Mowo Damar_ makin terkagum-kagum.


Mowo Damar makin yakin jika anak kecil yang sekarang telah mencabut pusaka kapaknya itu adalah dukun sakti pemburu medi.


"Hiaa!"


Kembali Jaga Saksena menerjang, kali ini dengan kapak batu.


Crak! Crak! Crak!


Kalah gesit, hantaman kapak batu bertubi-tubi menghajar medi kepala tengleng.


Akan tetapi, semakin banyak terhantam kapak, medi kepala tengleng semakin beringas menyerang balik.


Pertarungan pun makin sengit. Jaga mengarahkan pertarungan menjauh ke luar desa.


Saat itulah, Mowo Damar benar-benar bisa mengambil kendali diri sepenuhnya. Ia menyambar pemukul kentong lalu dengan keras memukulkannya.


Cukup lama Mowo Damar memukuli kentong hingga hampir pecah, akan tetapi tak kunjung ada warga yang datang.


Akhirnya, bukan hanya menghajar kentongan, Mowo Damar pun berteriak-teriak.


Bersamaan dengan itu Tukeja dan yang lain pun tersadar sepenuhnya. Mereka segera menggotong salah satu warga yang pingsan untuk dibaringkan di pos ronda.


Usaha Mowo Damar tak sia-sia. Warga yang semula takut, akhirnya keluar rumah dan bergerombol datang ke pos ronda.


"Ada apa, Mowo?" tanya dukun desa yang datang bersama warga lain. Di tangan mereka ada obor dan senjata pentungan juga sabit maupun parang.


"Di sana Ki Dukun Saptajati! Seorang dukun kecil sakti tengah bertarung melawan medi mayat hidup!"


"Ah, kau jangan bercanda!"


"Mana aku becanda dengan seorang tua sepertimu, Ki Saptajati!" Suara Mowo Damar meninggi.


"Kita lihat ayo!"


"Silahkan Ki, ke sana! Aku di sini saja, Bajul butuh pertolongan."


Mowo Damar menggunakan salah satu warga yang pingsan sebagai alasan untuk tidak mendekati pertarungan. Masih ada kengerian di hatinya pada sosok medi menyeramkan itu.


"Heleh! Kau pasti takut'kan?!" cibir Ki Saptajati sang dukun desa.


"Sedikit, Ki!" jawab Mowo Damar mulai menekan celah antara jempol kaki dan jari kaki si Bajul yang pingsan.


"Mari kita lihat!" ajak Ki Saptajati pada para warga di belakangnya lalu melangkah dengan gagah berani ke arah barat.


Sesuai pepatah kuno, "Bersama kita berani, bersendiri kita terkebiri."


Begitulah, di bawah pimpinan dukun desa, para warga dengan langkah mantap terus berjalan menuju luar desa di mana terdengar seruan-seruan pertarungan.


Benar saja, sampai di tempat terbuka yang tak jauh di barat laut gerbang desa, mereka melihat dua sosok makhluk tengah baku hantam dengan sengitnya.


"Kita mendekat!" perintah Ki Saptajati ingin lebih jelas melihat siapa gerangan yang bertarung.


Namun, ketika jarak hanya tinggal sepuluh tombak,


"I-itu ...."


"Mmm-medi ...!"


Baik Ki Saptajati maupun warga yang mengikutinya tergagap gemetaran kala melihat perwujudan sosok yang bertarung begitu sangat mengerikan.


Itu karena saat ini tubuh medi kepala tengleng telah tercabik-cabik oleh kapak Jaga Saksena. Pakaian lusuh juga dagingnya bertanggalan. Bahkan kepala si medi juga sudah terbacok kapak sehingga menganga. Akan tetapi medi itu terus menyerang, tidak ada tanda-tanda akan segera tumbang.


'Jika begini terus, aku akan kehabisan tenaga!' seru Jaga Saksena dalam hati lalu melontarkan tubuh ke barat, menjauhi para warga yang baru saja datang.


Namun,


"Grhhh ...!"


Bukan mengejar Jaga, sosok mayat hidup itu malah berjalan terseok-seok ke arah para warga.


"K-ki Saptajati! Ce-cepat lakukan sesuatu!"


"Ce-cepat Ki! Bukankah kau dukunnya!"


Para warga di belakang Ki Saptajati mendesak lelaki tua itu untuk melakukan sesuatu sebab medi mayat hidup itu semakin dekat.


Di desak sedemikian rupa, Saptajati terpaksa maju. Mengayunkan obor bermaksud hendak menumpahkan minyak kelapa di dalamnya agar medi kepala tengleng terbakar.


Wuudd!