Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 126. Kakek Misterius Itu



Klang! Klang! Klang!


Kakek itu masih menempa, membuat Senopati Ragnala Raksa akhirnya mundur menjauh sebab pertarungan bergeser ke selatan dan semakin dekat.


"Kakek! Aku sudah memperingatkanmu. Jangan salahkan aku jika kau terkena serangan nyasar!"


Ragnala Raksa bukan seorang yang suka memaksa sehingga ia membiarkan kakek itu menentukan pilihannya. Lagi, Ragnala Raksa bisa melihat kakek itu seorang pendekar mengingat bunyi tempaan yang cukup keras sedang dari tubuhnya terlihat dia berusia 70 an tahun.


Sementara itu, tarung antara Jaga Saksena melawan Kama Kumara masih berlangsung sengit. Belum ada tanda-tanda akan segera usai.


Blartt!


Keduanya beradu dua tapak mengakibatkan masing-masing tubuh terdorong dua puluh tombak. Kama Kumara ke utara dan Jaga Saksena ke selatan.


"Hyaaaaaa!"


Tak mau ada jeda, Kama Kumara langsung melesat memburu Jaga Saksena sembari semburkan api besar berkobar-kobar.


Sudah tak terhitung berapa kali lelaki gundul yang mahkotanya telah hilang entah ke mana itu menyerang dengan kobaran api. Akan tetapi tetap sama, Jaga Saksena tak tersentuh. Bagai ada tabir tak kasat mata yang menghalangi sejarak satu jengkal dari tubuhnya.


Meski Kama Kumara tahu serangan apinya tak akan melukai Jaga Saksena, tetapi itu cukup untuk menutup pandangannya sehingga Kama Kumara bisa menyarangkan serangan. Dan ini selalu berhasil meski lagi-lagi sama, serangannya tak mampu melukai Jaga Saksena.


Wuutt!


Tendangan terbang Kama Kumara meluncur dasyat mengarah dada Jaga Saksena.


Spontan, Jaga Saksena menyilangkan dua lengan untuk menahan tendangan terbang Kama Kumara. Tak ayal,


Duoshhh!


Wuuss!


Jaga Saksena harus terpental jauh ke selatan mengarah ke batu besar di mana kakek penempa masih tampak mengayunkan pemukulnya.


Lima jengkal lagi tubuh Jaga Saksena menghempas batu besar,


Debh!


Kakek penempa hentikan pekerjaannya dan menahan laju tubuh Jaga Saksena dengan tapak tangan kanan.


Jaga Saksena terkejut, ia merasakan sesuatu yang menahan punggungnya begitu empuk.


"Nger, berikan kapakmu."


"Terimakasih telah menolongku, Kek," ucap Jaga Saksena sembari mengambil kapak yang menggantung di pinggang lalu memberikan pada sang kakek.


Kendati tak digunakan, gagang kapak tampak patah dan rusak parah. Gagang yang hanya terbuat dari dahan pohon tak mampu menahan benturan-benturan selama dalam pertarungan.


Keanehan terjadi, Kama Kumara yang sejak awal pertarungan tak pernah memberi jeda tiba-tiba terhenti. Ia tak kunjung kembali menyerang. Akan tetapi Jaga Saksena tidak menyadarinya karena ia begitu tertarik dengan sosok sang kakek.


'Untuk apa kakek ini meminta kapak?' Jaga Saksena memperhatikan dengan seksama.


"Kau lihat saja, Ngger." Sang kakek menjawab pertanyaan hati Jaga Saksena, membuat pemuda itu terdiam sepenuhnya karena tahu bahwa sang kakek mampu membaca ucapan batinnya.


Kakek itu mencopot gagang kapak dengan sekali betot, lalu menggantikan dengan benda berbentuk seperti tongkat sepanjang satu setengah jengkal yang tadi ia tempa. Tongkat yang pas di genggaman lelaki dewasa dan membentuk seperti gagang.


Jaga Saksena mengerti, sang kakek tengah membuatkannya gagang kapak. Meski penempaannya tidak rapi, penyok di sepanjang permukaan tetapi Jaga Saksena tersenyum senang.


'Subhanalloh ... Bagus sekali!' puji hati Jaga Saksena.


"He he he!" Sang kakek terkekeh, karena ia tahu buatannya tidak sebagus itu. Jaga Saksena memuji bagus karena selama ini gagang tongkatnya sangat buruk dan hanya dari bahan kayu.


Klang! Klang! Klang!


Sang Kakek menempa di bagian pertemuan pangkal mata kapak dan gagang. Dan kembali keanehan terjadi, gagang itu menyatu dengan pangkal mata kapak.


"Sudah selesai, ini untukmu!" Sang kakek ulurkan kapak yang kini telah bergagang.


"Terimakasih, Kek. Alhamdulillah ...."


Jaga Saksena tidak menutupi wajah senangnya. Ia menerima pemberian dengan dua tangan, kepala menunduk mata memperhatikan kapak dengan seksama.


'Ma sya Alloh, apa ini?!' kaget Jaga Saksena merasakan ada aliran energi begitu kuat memasuki tubuhnya.


Perlahan tapi pasti, Jaga Saksena merasakan tenaga dalam yang sebelumnya telah habis terisi kembali. Demikian juga energi petirnya.


"I-ini ...." Jaga Saksena mengangkat pandangan hendak kembali mengucap terimakasih kepada sang kakek. Namun,


"Kakek?"


Jaga Saksena tidak menemukan siapa-siapa di depannya.


"Sejak kapan?" gumam Jaga Saksena tak merasakan kepergian sang kakek. Ia hendak mengedarkan pandangan, ketika tiba-tiba,


"Hiaaaaa ...!" Kama Kumara datang menerjang dengan sebuah tendangan melayang dari arah samping belakang.


Bughh!


Blammm!


Tubuh Jaga Saksena terhempas menghantam batu besar hingga batu itu hancur berkeping-keping.


Cepat, Jaga Saksena bangkit berkelebat untuk mengambil jarak sembari mengernyit dahi heran. Bukan heran karena tubuhnya tidak terasa sakit tetapi karena Jaga Saksena baru sadar bahwa Kama Kumara baru datang menyerang, padahal Jaga Saksena cukup lama bersama sang kakek.


'Ini aneh, khowariqul 'adah!' seru hati Jaga Saksena.


"Tak akan kubiarkan kau kabur!" Kama Kumara berteriak mengejar.


Jaga Saksena hentikan lajunya lalu membalik badan menghadap lawan, "Tak ada yang ingin kabur!"


"Jika begitu, rasakan keprukanku!"


Kama Kumara melesat ke depan atas sembari mengangkat tinggi dua genggaman tangan yang disatukan dengan cara menjalin jari-jari.


Mengayunkan tangannya keras, Kama Kumara hendak menghantam kepala Jaga Saksena.


"Pertahananmu terbuka!" seru Jaga Saksena menghindar dengan cara merunduk cepat sembari babatkan kapak di tangan kanan.


Kama Kumara tak ambil peduli pada serangan lawan sebab dirinya merasa kebal.


Dan,


Slashh!


Posisi Kama Kumara yang berada di atas membuat kapak tepat menebas batang kema-luannya. Tebasan tipis tetapi ternyata mampu membuat barang itu terputus, juga meninggalkan sayatan cukup dalam di pinggul kanan.


"Auurrgggg ...!"


Raungan keras Kama Kumara mengiringi tubuhnya yang ambruk menghempas bebatuan sisi sungai. Sedangkan Jaga Saksena cukup terkejut melihat senjata di tangannya mampu menebas tubuh kebal lawan dengan sangat mudah.


Untuk sesaat Jaga Saksena tertegun, mengamati senjata di tangannya, sementara hatinya panjatkan pujian ke hadirat Sang Maha Kuasa.


Saat yang sama, Kama Kumara bangkit, lukanya yang menganga meneteskan cairan terbakar seperti tetesan lahar. Wajahnya makin mengelam.


"Keparat! Aku akan mengadu nyawa denganmu, meski aku harus mati bersamamu!" Suara Kama Kumara berubah berat dan sedikit serak.


Usai berkata, tiba-tiba dari seluruh rekahan di tubuh Kama Kumara mengeluarkan api biru yang berkobar-kobar.


"Hyaa!" Kama Kumara berkelebat dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Kali ini ia benar-benar harus bertarung dengan sungguh-sungguh, tidak lagi mengandalkan kekebalan.


Jaga Saksena tak tinggal diam, tenaga dalam dan kekuatan petir dalam tubuhnya yang telah pulih ia kerahkan sepenuhnya untuk meringankan tubuh. Sementara kekuatan ruh ia salurkan ke tangan kanan. Sungguh diluar dugaan, aliran energi besar membuat kapak sekonyong-konyong keluarkan cahaya angker.


Swooong ...!


Dengungan halus mengiringi kelebatan kapak.


Pertarungan babak baru pun dimulai!


***⁰0⁰***