
'Celaka! Mereka tahu keberadaanku!'
Jaga Saksena mencabut kapak batu dari pinggang untuk berjaga-jaga lalu melangkah lebih cepat, merambat menyusuri tembok.
'Ada cahaya! Sepertinya itu ujung rumah belakang!'
Jaga Saksena melihat ada sedikit cahaya masuk melalui lubang di bagian bawah tembok. Lubang yang ia perkirakan cukup untuk ia lewati guna keluar.
Jaga melangkah dengan cepat bahkan mulai berlari, dan ....
Gabrukk!
Kembali kaki Jaga Saksena menyandung sesuatu, sepertinya sebuah kayu atau reruntuhan penyangga atap yang mulai lapuk.
'Kapakku!'
Jaga meraba-raba kapak yang terlontar saat tadi ia terjatuh.
Ketika itulah dua pengejar tiba di ruangan panjang tersebut.
"Itu bocahnya! Cepat!"
Dari bantuan cahaya obor yang di bawa oleh dua pengejar, Jaga bisa melihat kapaknya. Bocah itu pun menyambar kapak dan langsung berlari sekuat tenaga.
"Hai jangan lari kau!!"
Wuuut!
Satu lelaki pengejar melempar parang di tangannya, mengarah ke punggung Jaga Saksena.
Bersamaan dengan itu, Jaga merendahkan tubuhnya karena harus melewati lubang kecil seukuran tubuhnya yang berada pada bagian bawah tembok.
Prangg!
Parang hanya mengenai tembok batu sebelum jatuh. Sementara Jaga Saksena telah menerobos masuk lubang kecil tersebut.
"Siall!" maki lelaki berpakaian serba hitam memungut kembali parangnya. "Cepat cari jalan keluar lain!"
Sebab lubang terlalu kecil bagi tubuh orang dewasa, dua orang pengejar itu harus mencari jalan lain untuk keluar.
Berhasil keluar di belakang rumah kosong, Jaga Saksena tidak lagi menoleh ke belakang. Bocah itu terus berlari dan berlari menerobos semak tinggi.
Dua orang pengejar yang sempat memergoki Jaga Saksena memanggil delapan teman mereka untuk mengejar Jaga Saksena.
Meski Jaga Saksena telah hilang di kegelapan malam, mereka masih bisa melacak jejaknya.
Namun, di tepi sungai yang tidak begitu lebar, mereka kehilangan jejak.
Sungai itu hanya selebar empat tombak, akan tetapi airnya cukup dalam, mengalir dari utara ke selatan. Membelah hutan kecil di bagian barat kerajaan. Sebuah hutan yang sengaja dipelihara untuk digunakan latihan berburu oleh para pangeran.
"Bangsat! Dalit keparat! Kenapa larinya cepat sekali!"
"Bagai tikus! Hilang di kegelapan!"
"Bangkai! Andai lubang di rumah itu sedikit lebih besar aku tidak akan kehilangan jejak si dalit!"
"Whoi ada apa dengan kalian?!" tanya seorang lelaki dari kelompok pemburu lain yang tengah menyusuri hutan.
"Kami hampir menangkap bocah dalit itu, tetapi kami kehilangan jejak di sini!" jawab lelaki berpakaian serba hitam bersenjata parang.
Segera saja, kelompok pemburu lain tersebut antusias untuk ikut mencari di sekitar sungai.
"Bagaimana?!" tanya lelaki bersenjata parang pada kelompoknya.
"Sebaiknya kita telusuri sungai!"
"Aku tidak setuju! Menurut perkiraanku bocah itu menyeberang!"
"Baiklah jika begitu, kita bagi kelompok. Lima menelusuri sungai, lima menyeberang!" Lelaki bersenjata parang memutuskan.
Keputusan lelaki pembawa parang ternyata diikuti oleh kelompok pemburu lain tersebut.
Akhirnya, sepuluh orang menyusuri sungai, sepuluh lainnya menyeberang untuk menelusuri hutan ke arah barat.
**⁰0⁰**
Penginapan Rembulan Nanggal Sapisan malam ini makin gaduh.
Keributan di kamar paling selatan penginapan tersebut memicu semua tamu dan penyedia layanan pemuas nafsu keluar dari kamar masing-masing untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Melangkah masuk kembali ke dalam kamar, Balakuna langsung menuding lelaki berjubah putih, tepat ke wajahnya.
"Kau seorang sesat pengguna sihir! Kau harus dibunuh! Jika tidak maka kau akan membahayakan masyarakat kami!"
Yang dituding terdiam tak menanggapi, mata lelaki itu malah seperti melihat menembus dinding dan jauh lagi.
"Qirthos itu?!" gumamnya pelan sebelum tetiba berkata sopan,
"Mohon maaf Ki Sanak dan Ni Sanak semua, aku ijin pamit ada sesuatu yang lebih penting."
"Bedebah Bajingan! Kau mau selak lari dari tanggung jawab, hah?!!" bentak Balakuna bersiap kembali melakukan serangan dengan senjatanya. Namun,
Wett! Sekali pria berjubah putih hentakkan tangan, lima orang yang memeganginya seketika terpental. Dan,
Wuus!
Bruall!
Lelaki berjubah melesat terbang ke atas, menjebol atap sirap bagai menjebol atap daun talas.
Klumpring!
"Itu untuk memperbaiki kerusakan kamar!"
Terdengar suara yang tertinggal ketika sebuah keping emas jatuh.
"Bedebah Keparat Bangsat! ...."
Segala makian keluar dari mulut Balakuna, akan tetapi hanya itu yang bisa ia lakukan sebab lelaki berjubah tak lagi ada di hadapannya. Sedangkan untuk mengejar, Balakuna jelas tak mampu melakukan seperti apa yang lelaki berjubah itu lakukan.
*
Pagi datang, desas-desus kejadian semalam di Penginapan Rembulan Nanggal Sapisan segera merembet bagai api menyambar hutan.
Kisah lelaki berjubah putih pun dibicarakan di mana-mana hingga mencapai pasar dan ....
Buummmm!
Kisah lelaki berjubah meledak, viral! Banyak yang mencemoohnya, tetapi banyak juga yang mengidolakannya.
Para pengidola ini datang dari kalangan yang tidak suka dengan keberadaan penginapan Rembulan Nanggal Sapisan dan tempat-tempat hiburan sejenisnya.
Keberadaan lelaki berjubah putih pun dicari-cari oleh semua orang. Yang benci ingin membunuhnya dan yang suka ingin sekedar mengenal bahkan ingin berguru kepadanya.
Tetapi tak ada satu pun yang berhasil menemukannya. Pria berjubah putih bagai hilang ditelan langit malam.
***
Di sungai tengah hutan kecil bagian selatan Kerajaan Saindara Gumilang. Sebelum matahari terbit.
"Akhirnya mereka pergi juga!" ucap lirih Jaga Saksena yang baru saja memunculkan kepalanya dari dalam air sungai di bawah akar-akar pohon.
"Untung aku sempat meraih rumput ini!"
Jaga Saksena memegang rumput sebesar jari kelingking orang dewasa. Bagian dalam rumput tersebut memiliki lubang mirip pipa sehingga bisa digunakan untuk membantu bernapas dalam air.
Hingga matahari terbit, bocah itu tetap di dalam air. Berpikir akan keluar setelah keadaan benar-benar aman.
Tetapi apa yang ia tunggu malah sebaliknya. Ketika hari telah terang, banyak sekali kelompok-kelompok yang melewati tempat persembunyiannya sambil berteriak-teriak.
Rupanya warta menghilangnya si bocah dalit di hutan kecil tempat para pangeran berburu telah menyebar luas. Sehingga orang-orang berbondong-bondong mencarinya di sana.
'Jika begini terus, aku bisa mati kelaparan dan kedinginan!' batin Jaga Saksena sebab merasakan perutnya mulai lapar dan badan merasa dingin.
Waktu terus berjalan, matahari pun kini semakin naik hingga ke titik tertingginya.
"Sudah kita lanjutkan pencarian nanti tengah malam! Atau esok hari, karena sayembara sebentar lagi dimulai!" teriak seorang pemimpin kelompok pemburu.
"Baiklah! Ayo kita kembali!"
Jaga Saksena yang saat itu hendak kembali menyelam pun sempat mendengar teriakan tersebut. Bocah itu tersenyum, membatin,
'Akhirnya kesempatanku untuk keluar akan segera tiba!'
Jaga Saksena tidak tahu, ajakan untuk kembali sengaja diteriakkan kencang agar seisi hutan bisa mendengar. Padahal tidak semua orang kembali. Sepuluh pendekar yang bukan peserta sayembara berpencar, naik ke atas pohon untuk menunggu. Mereka memutuskan tidak melihat sayembara yang penting bisa menangkap Jaga Saksena!