
"Jaga, ada yang ingin menemuimu." Anesha Sari membawa Lembayung Adiningrum menemui Jaga Saksena yang tengah sibuk menata perbekalan di dalam gerobak.
Jaga Saksena menghentikan pekerjaannya lalu keluar.
"Siapa?!"
"Kau masih mengingatku, Jaga?!" Lembayung Adiningrum menatap Jaga Saksena sembari tersenyum. Senyum yang sangat ayu dan menggoda, mampu meruntuhkan iman seorang pemuda.
Namun, sungguh di luar dugaan, jangankan memperhatikan senyumannya, Jaga Saksena malah tak mau melihat wajah perempuan cantik itu kecuali sekelebat mata saja, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Oh maaf, aku lupa."
Jaga Saksena menjawab polos, membuat Lembayung Adiningrum sangat kecewa hingga terlihat jelas di wajahnya.
Lembayung Adiningrum tidak tahu harus berkata apa, untuk mengingatkan pemuda tampan di hadapannya. Untung saja, Jaga Saksena melanjutkan ucapannya,
"Tetapi tidak banyak perempuan yang kukenal. Jadi kemungkinan kau Putri Lembayung Adiningrum."
Lembayung Adiningrum hampir melonjak saking gembiranya. Andai tidak ada Anesha Sari, sudah dipeluknya Jaga Saksena. Banyak yang ingin Adiningrum katakan, terutama curahan hatinya yang selama ini ia tahan. Dari tersiksanya menjadi istri selir seorang Kama Kumara padahal dia belum punya permaisuri, hingga ketika dirinya sudah bisa menerima, ternyata belum juga dikaruniai momongan.
Bisa kendalikan kegembiraannya, akhirnya Lembayung Adiningrum berkata,
"Maafkan aku Jaga, waktu itu tujuh tahun yang lalu aku masih sangat baru di kerajaan ini sehingga tidak bisa menolongmu. Dan ketika aku bisa melakukan itu, kau sudah menghilang!"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, jika pun ada maka sudah kumaafkan. Terimakasih Putri, karena lantaran dirimu aku bisa sampai di kerajaan ini dan akhirnya bertemu Putri Anesha Sari. Kami akan menjadi suami istri dalam 3 purnama lagi, Insya Alloh."
Mendengar perkataan Jaga, Lembayung tercenung. Tiba-tiba hatinya hampa. Kekecewaan menelusupi relung hatinya yang terdalam. Sementara Anesha Sari tersenyum bahagia sekaligus bangga.
Tak banyak yang bisa dibicarakan Jaga Saksena karena ia harus kembali berkemas. Maka Lembayung Adiningrum pun pamit dengan sendi-sendi yang berasa lemas.
Sampai di kediamannya, Lembayung Adiningrum dikejutkan oleh Raja Basukamba yang datang berkunjung.
"Di mana Kama Kumara, beberapa hari ini aku tidak melihatnya, Ningrum?" tanya Raja Basukamba.
"Maaf Yang Mulia Raja, Pangeran Kama Kumara pergi."
"Ke mana? Kenapa dia tidak pamit padaku?!"
"Mohon ampun Yang Mulia Raja, Pangeran tidak mau bilang pada hamba hendak ke mana."
"Hasss ...! Bocah Tengik itu! Benar-benar!" Raja Basukamba hanya bergumam kesal sebelum pergi begitu saja sembari berkata, "Jika dia sudah kembali, cepat suruh dia menghadap!"
Bagaimanapun Raja Basukamba tidak menyalahkan sikap Kama Kumara yang tidak memberi tahu tujuan kepergiannya pada Lembayung Adiningrum, karena dia hanya seorang selir. Yang ia sayangkan adalah jika hendak pergi lama mengapa Kama Kumara tidak pamit pada dirinya selaku ramanda sekaligus raja.
Setiba di kediamannya, ketika Raja Basukamba berbincang hal ini pada permaisurinya,
"Yang Mulia Raja Suamiku, perasaanku tidak enak apakah tidak sebaiknya Yang Mulia perintahkan para perwira untuk mencarinya?"
"Dia sudah dewasa, Permaisuriku."
"Tetapi dia sudah pergi lama, aku khawatir terjadi hal buruk padanya."
"Bukankah dia pernah pergi lebih lama?!"
"Iya, tetapi sebelum dinobatkan menjadi Putra Mahkota."
Menarik napas panjang akhirnya Raja Basukamba menuruti permintaan permaisurinya. Ia segera memanggil dua perwira dari kesatuan prajurit lingkar istana untuk mencari keberadaan Sang Putra Mahkota.
***
Lima gerobak yang lebih mirip kereta sebab memiliki penutup dan beratap itu melaju pelan meninggalkan istana kepatihan.
Putri Anesha Sari memang ngotot untuk ikut. Semalam ia telah meminta ijin ramandanya. Raja Basukamba tidak bisa berkata apa-apa untuk mencegahnya kecuali berpesan agar Anesha Sari hati-hati dan segera kembali. Selain itu sang raja mengutus dua perwira terbaik untuk menjaganya. Siapa lagi kalau bukan Aswangga yang kembali dipanggil, tidak jadi purnakarya dan satu perwira lagi bernama Bentar Buana.
Aswangga menjadi kusir di gerobak ke 4, sedangkan Bentar Buana menjadi kusir gerobak ke 5.
"Ini adalah kali pertama aku akan keluar kerajaan!" ujar Anesha Sari riang ketika iring-iringan lima gerobak telah mendekati gerbang tembok kerajaan.
"Di luar sana akan banyak rintangan, kau harus bersiap pada apa pun yang terjadi nanti." Jaga Saksena menyahuti.
"Asal bersamamu, aku tidak perlu khawatir!" balas Anesha Sari dengan suara riang gembira.
Jaga Saksena tidak menimpali, ia lebih memilih mengangguk menjawab sikap hormat para penjaga gerbang padanya.
Setelah meninggalkan gerbang, Jaga Saksena menerangkan untuk meminta pertimbangan Anesha Sari,
"Aku sudah membawa dan melihat peta perjalanan menuju Pegunungan Parigi, buatan juru pemetaan istana. Di ujung sana kita bisa ambil jalan lurus dan juga bisa ambil yang serong ke kanan. Jika ke kanan lebih cepat dua hari, hanya saja rintangannya lebih banyak."
"Kita ambil lurus saja!" dengan cepat Anesha Sari menyambar perkataan karena ingin lebih lama dalam perjalanan bersama Jaga Saksena dan tentunya karena lebih aman sebab mereka membawa para wanita.
"Seperti apa kata Begawan, ternyata kau memiliki pemikiran seperti seorang Cendekiawan."
"Jelas, siapa dulu? Andara Anesha Sari!" Putri itu mendongakkan kepalanya menunjukkan leher jenjang putih bening nan mulus tak bercela, sempurna!
"Hehehe!" Jaga Saksena hanya terkekeh dengan tetap menjaga pandangan mata untuk melihat ke depan.
*
Matahari tepat di puncak ketinggiannya ketika rombongan Jaga Saksena berhenti untuk mengistirahatkan kuda.
Kuda-kuda dilepas ke rerumputan agar mencari makan. Sementara lima gerobak terparkir di tepi jalan agar pengguna jalan lain bisa lewat dengan leluasa. Jalan ini memang jalur utama sehingga cukup ramai. Setengah hari ini saja mereka telah dua kali berpapasan dengan rombongan pedagang antar kerajaan.
Jaga dan lima lainnya tampak tengah bercakap-cakap, ketika tetiba dua penunggang kuda lewat dan berseru,
"Hati-hati Kisanak, di sana ada para pemalak jalan!"
"Ya, terimakasih!" Sungsang yang menyahuti.
"Pemalak jalan, apa itu Jaga?" tanya Anesha Sari.
"Sekumpulan orang yang mengganggu perjalanan. Tidak mengapa, paling satu keping emas cukup untuk membuat mereka tenang."
"Apa?!" kaget Anesha Sari, "Sepertinya mereka harus diberi pelajaran!"
"Diberi pelajaran juga akan tumbuh lagi, Putri. Hilang satu tumbuh beberapa."
Yang menimpali adalah Begawan Teja Surendra.
"Lalu harus didiamkan saja, Begawan?"
"Ya, karena percuma juga mereka ditumpas, Ujung-ujungnya ada lagi yang menggantikan. Lagi siapa yang mau menumpas. Biasanya mereka beraksi di wilayah tanpa penguasa. Maka merekalah penguasanya."
Mendengar jawaban Begawan Teja Surendra, Anesha Sari termangu. Saat itulah ada sebuah pemikiran terbersit di benaknya,
'Andai Saindara Gumilang bisa meluaskan kekuasaan, bukan hanya di dalam tembok semata.'
Tatkala mereka telah melanjutkan perjalanan, Anesha Sari mengajukan pertanyaan pada Jaga Saksena,
"Jaga, andai kau jadi raja, apakah kau ingin meluaskan wilayah?!"