Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg

Jaga Saksena Pendekar Peniup Bledeg
Bab 10. Dua Pendekar Golok Buntung



"Siapa di sana?!"


"Gara-gara mulutmu, Adi Balkhi! Kita ketahuan!" semprot lelaki berkumis lebat melintang.


"Ya sudah Kakang Rawal, kepalang basah, lagi tidak ada orang lain, kita tangkap dia sekarang saja!"


Yang dipanggil Balkhi melompat ke atas batu besar di mana tadinya digunakan sebagai tempat bersembunyi. Tangannya masih mengusap bekas kemplangan yang diterimanya. Sementara lelaki bernama Rawal hanya menggeleng kepala.


"Kami, Dua Pendekar Golok Buntung!" Balkhi langsung menyebut gelar kependekaran.


Saat yang sama, Rawal turut melompat ke atas batu besar, berdiri di samping Balkhi.


"Dua Pendekar Golok Buntung?!" Jaga Saksena mengulangi sembari mengorek ingatan dalam benaknya. 'Pendekar adalah orang yang menguasai cara berkelahi, orang sakti. Byung sangat sedikit menyebutkan kata ini.'


Jaga memperhatikan pakaian dua lelaki di atas batu di seberang sungai.


'Pakaian yang menutup badan atas dan bawah. Bahasa yang bisa kupahami meski sedikit beda pengucapan. Tidak seperti suku tak jelas itu, sepertinya aku sudah menjamah daerah manusia pemakan nasi.'


"Whoi! Kenapa kau memandang kami aneh seperti itu?! Kami bukan orang jahat!" seru Balkhi.


Menangkap seseorang lemah lalu menjual sebagai budak bagi sebagian pendekar bukan suatu kejahatan. Sehingga Balkhi mengaku bukan orang jahat.


"Oh tidak, Paman."


"Tidak apa?! Cepatlah kemari!" Balkhi menggerakkan tangan menyuruh Jaga mendekat.


"Ada apa, Paman?"


"Sudah! Kemari! Ini masih di hutan, anak kecil bahaya main-main di sini!"


Di katakan hutan sebenarnya tidak tepat, sebab sungai ini adalah pembatas hutan. Sementara bagian utara sungai menghampar area terbuka berbatu besar-besar yang di sela-sela batu tumbuh rumput liar.


Di utara area berbatu, ada jalur membentang dari timur ke barat. Dua Pendekar Golok Buntung tengah melewati jalur ini ketika mereka tetiba ingin membersihkan diri setelah sekian lama tidak mandi.


"Terimakasih perhatianmu, Paman. Tapi aku masih ingin berendam."


Mendengar jawaban Jaga, Rawal berkata lirih,


"Sebaiknya kita membersihkan diri saja dulu sembari menunggu dia selesai. Baru kita tangkap dia."


"Ah iya! Bukankah kita ke sini juga bertujuan itu."


Membuka bajunya Balkhi langsung salto di udara beberapa kali sebelum mendekap kakinya hingga tubuh membulat.


Byurr!!


Air sungai muncrat cukup tinggi.


"Hebat, Paman!" Jaga Saksena yang melihat aksi Balkhi memuji.


"Kau lihat gayaku!" Rawal berseru ingin menunjukkan kehebatannya sembari mencopot pakaian.


Tap!


Menumpu dua kaki ke batu Rawal melenting tinggi ke udara. Bersalto beberapa kali lalu,


Slup!


Rawal masuk ke dalam air tanpa memercikkannya padahal loncatannya begitu tinggi ke udara.


Sungai besar dan dalam memungkinkan Rawal melakukan teknik lompatan yang menghujam dalam ke air.


'Luar biasa, bagaimana bisa dua paman ini melompat ke udara begitu tinggi? Apakah karena itulah mereka disebut pendekar?'


Sesaat kemudian,


"Bagaimana lompatanku, Bocah?"


"Luar biasa, Paman!"


"Hahahaha! Yang dilakukan oleh Adi-ku Balkhi tadi namanya gaya batu. Yang kulakukan namanya gaya jarum." Rawal menerangkan.


"Keduanya sama-sama bagus paman!"


Berawal dari sini, perbincangan teriak-teriak mereka terus berlangsung.


Dua Pendekar Golok Buntung menanyakan nama asal dan juga tujuan Jaga Saksena.


Dengan polos selayaknya anak usia 10 tahunan Jaga Saksena menjawab apa adanya. Yang tentu saja membuat Rewal dan Balkhi saling berpandangan lalu berbincang lirih,


"Apakah di tengah hutan sana ada pulau?"


"Mana aku tahu, Kakang!"


"Mungkin anak ini sedikit mengalami gangguan jiwa sehingga lupa asal-usulnya makanya dia menjawab sekenanya saja. Lagi, tujuannya sungguh aneh. Untuk menemukan manusia-manusia pemakan nasi." Balkhi berusaha menganalisa yang tentu hasilnya ngawur sebab Jaga Saksena selalu menjawab sesuai pertanyaan, tidak ada tanda-tanda gangguan jiwa.


"Selalu saja, kau menerka terlalu berlebihan! Justru, itu menunjukkan dia pengalaman!" ketus Rawal kemudian menyelam ke dalam air untuk membersihkan rambut panjangnya.


Rawal keluar dari dalam air untuk melanjutkan ucapannya. "Lagi, dari wajah dan suara, dia mungkin berusia 10 atau 11, tetapi dari cara dia bicara seperti anak usia 17."


Plakk!


"Aughh!"


"Kepalamu harus sering ditampar agar sedikit lebih pintar! Dikit-dikit demit!" omel Rawal.


"Hihihi!" Balkhi nyengir tak bersalah lalu menyelam ke dalam air.


"Jaga!" Rawal berteriak.


"Iya, Paman!"


"Aku tidak begitu tahu tujuan pastimu. Akan tetapi tempat di mana _bisa dikatakan_ semua orang memakan nasi adalah di Kerajaan Saindara Gumilang!"


"Kerajaan Saindara Gumilang?!"


"Ya! Kami dalam perjalanan ke sana. Jika kau mau ikutlah bersama kami!"


Jaga terdiam sebentar sebelum menjawab,


"Baiklah, Paman. Aku akan ikut kalian berdua."


*


Usai mandi.


"Pakaianmu begitu lusuh dan compang-camping. Seharusnya kau membeli pakaian baru, Jaga!" Rawal memperhatikan pakain Jaga Saksena yang basah dan tetap dipakai.


Pakain itu telah sobek di sana sini, dan sangat lusuh bahkan masih menghitam kotor meski sudah dicuci.


"Hehehe! Aku tidak punya sesuatu untuk membeli pakaian, Paman."


"Oh ..., dan itu apa?!" Rawal menunjuk kapak batu yang terselip di pinggang Jaga Saksena.


"Ini kapak, Paman."


Mengernyit dahi, Rawal saling tatap mata dengan Balkhi. Dan ....


"Hahahahahaha!"


"Senjataku ini memang tidak sebagus senjata Paman berdua!" Jaga Saksena melirik ke arah golok pendek Rawal dan Pekok.


Tertawa hingga perutnya sakit, Rawal akhirnya terdiam. Dari mimik wajah, kelihatannya lelaki berkumis lebat melintang itu tengah berpikir.


Benar saja, sesaat kemudian dia berkata panjang lebar,


"Tentang senjata kami lebih bagus, itu memang kenyataanya. Tapi sungguh lucu, ternyata masih ada anak zaman batu di masa ini. Jangan-jangan kau anak seorang raja dari zaman batu yang melintasi waktu ke zaman ini!"


"Hass! Jika itu perkataanku, sudah dikemplang kepala ini," timpal Balkhi setengah bergumam tidak jelas sembari membuang pandangan ke arah lain.


"Lho, Adi Balkhi! Bukankah terkaanku sangat masuk akal?!" Rawal ternyata mendengar grendengan Balkhi sehingga membela analisanya.


"Iya, masuk akal ...!"


Mendapat pengakuan Balkhi, Rawal tersenyum senang lalu kembali mengamati Jaga Saksena.


"Dan itu di dalam kantong besar di punggungmu apa, Jaga?"


"Bukan apa-apa, Paman."


"Coba kulihat!"


"Ini, Paman."


"I-ini?! Kapan kau menangkapnya??"


Rawal yang membuka kantong loreng sedikit terkejut sebab isinya lima ekor ikan bersisik halus sebesar lengan Jaga Saksena. Ikan-ikan tersebut sudah mati tanpa luka. Bisa dipastikan Jaga telah membunuhnya dengan cara mematahkan leher ikan. Tak mau ketinggalan, Balkhi turut melongok apa yang ada di kantong.


"Iya, kapan kau menangkapnya, Jaga?!" Balkhi ikit bertanya.


"Saat di sungai, Paman."


"Tapi, kenapa kau membunuh mereka semua?!"


"Tempat mereka di air, Paman. Aku hanya membantu agar mereka tidak menderita lebih lama dan juga membantu mengantar jiwa mereka ke tempat yang lebih baik." Jaga Saksena menjawab lugu.


Jawaban yang sekali lagi membuat Rawal dan Balkhi saling pandang seolah ingin berkata, "Ada sesuatu yang aneh pada bocah ini! Dan cara dia berkata ...."


"Usiamu berapa, Jaga?!" Rawal tidak ingin dirinya dibuat penasaran makin lama.


"Aku tidak tahu Paman. Mungkin sekitar tiga ribu—"


"A-apa?!" Balkhi tersurut mundur, ada raut takut di wajahnya.


Saat yang sama, Rawal juga tergagap, "**-tidak mungkin!"